Category: whatever

Sama2 Berdoa Yuk! Semoga Wabah Corona Segera Berakhir, Amin!

Sudah lebih 3 bulan wabah virus Corona melanda Dunia, termasuk Indonesia, dan sampai saat ini belum juga ada obat/vaksin yang efektif untuk melawan virus tersebut. Benar2 gak pernah saya menyangka bahwa dalam hidup ini akan mengalami wabah global yang cukup serius seperti ini..

Jika kita pantau dari berita2, maka efek sosio-ekonomi yang ditimbulkan tampaknya sudah benar2 semakin nyata dan meluas. Terutama golongan masyarakat ekonomi lemah yang bekerja di sektor informal mulai benar2 kesulitan untuk mencari nafkah.. mau makan nasi aja susah.. beberapa ada yang sudah putus asa dan melakukan tindakan kriminal karena perut lapar demi sekedar untuk makan..

Mereka yang punya cadangan tabungan mungkin masih bisa agak bertahan, tapi bagaimana dengan mereka yang benar2 tabungan pun tidak punya..? Banyak lho orang2 seperti ini.. Bagaimana mereka bisa makan? Apa yang akan terjadi jika orang2 lapar tsb sudah benar2 putus asa..?

Semoga saja tatanan sosio-ekonomi masyarakat bisa bertahan sampai wabah ini berakhir.. tanpa terjadinya hal2 yang diluar kendali..

Nah pertanyaannya lagi adalah, bagaimana dan kapan wabah ini akan berakhir? Lockdown, PSBB, dll sesungguhnya hanya sekedar memperlambat penyebaran wabah, dan tidak akan mengakhirinya.

Wabah ini akan berakhir hanya jika para ilmuan sudah berhasil menemukan obat/vaksin yang efektif melawan virus Corona.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang2 seperti kita, orang2 yang awam tentang ilmu virus? Ya sudah jelas kita2 yang tidak punya skill dan pengetahuan ilmu virus tidak bisa membantu riset2 antivirus.. jadi yang bisa kita semua lakukan bersama ya BERDOA, yes BERDOA, apalagi sekarang kan lagi bulan suci Ramadhan, kita sama2 memohon dengan sungguh2 kepada Allah SWT agar obat/vaksin bisa segera ditemukan oleh para ilmuan, dan wabah ini segera berakhir, dan kehidupan bisa kembali normal lagi.. Amiin YRA…

https://wp.me/p61TQ-19i

Wabah Virus Corona: Bagaimanakah Akhirnya?

Saya ingat kampus ITB mulai lockdown hari Selasa 17 Maret 2020, dan hari ini adalah Jumat 17 April 2020, jadi per hari ini tepat sebulan lockdown. Waktu itu sehari sebelumnya (Senin 16 Maret) saya datang ke kantor sy di kampus ITB untuk beres2 barang2 di ruangan, karena sudah mendengar desas-desus bahwa akan ada lockdown Corona. Jadi sudah sebulan ini saya kerja dari rumah, atau work from home (WFH) istilah kerennya sih. 1-2 minggu pertama lockdown di rumah sih terus terang masih terasa agak joyful, saya juga melaksanakan tugas2 ke-kampus-an dengan cukup baik dari rumah. Nah ini setelah sebulan lockdown barulah sy mulai merasakan sesuatu yg berbeda.. sesuatu yang tidak joyful..

Salah satu yang mulai sering menyergap pikiran saya adalah pertanyaan ini: Apakah wabah virus Corona ini akan berakhir? Apakah kehidupan akan kembali normal?

Kita dengar ada orang2 yang pada bilang misalnya, “Nanti setelah Corona kita lanjutkan ini.. kita kerjakan itu..” dlsb.. tapi tunggu dulu.. siapa yang jamin bahwa Corona ini akan berakhir? Dan bagaimana berakhirnya?

Dalam sejarahnya, umat manusia memang pernah beberapa kali dilanda wabah virus, dimana wabah2 tsb bisa berakhir dengan baik hanya setelah ilmuan berhasil menemukan vaksin/antivirus yang efektif. Nah apa ada jaminan vaksin Corona akhirnya bisa dibuat? Apakah semua virus ada antivirusnya? Sayangnya menurut saya jawabannya adalah tidak ada jaminan.. contohnya lihatlah virus HIV/AIDS yang sampai hari ini tidak juga ada penawarnya..

Saya bukan ahli virus (saya ahli nuklir), jadi sy memang tidak tahu persis kenapa ada virus2 yang tidak bisa dibuat antivirus nya.. tapi intinya bahwa tidak ada jaminan bahwa virus ini selalu bisa dikalahkan..

Saat ini yang dilakukan pemerintah/masyarakat adalah lockdown, social/physical distancing, semprot desinfektan, dll.. tapi ini cuma sekedar mencegah/memperlambat penyebaran wabah sj lho.. dan tidak menyelesaikan inti masalahnya. Untuk kondisi saat ini, penyembuhan Corona hanya mengandalkan antibodi alami dari si pasien, faktanya ada yang bisa sembuh, tp ada jg yg tidak bisa bertahan akibat kerusakan organ paru2nya…

Hanya ada satu solusi final: harus ditemukan antivirus/vaksin Corona yang efektif.

Salah satu implikasi utama dari wabah Corona ini adalah terhambatnya (bahkan mungkin sampai berhenti) kegiatan perekonomian masyarakat, alias orang2 jadi tidak bisa cari nafkah/rezeki. Kalau saya sih PNS dosen dengan fixed income dari negara, dan bisa kerja di rumah juga, jadi belum/tidak terlalu terdampak. Tapi bagaimana dengan orang2 yang tidak bisa kerja dari rumah? Seperti, sopir angkot, sopir gojek/grab, tukang jualan jajanan, pegawai mall/toko2, buruh pabrik, dll dll masih banyak lagi. Beberapa hari lalu saya keluar malam hari untuk belanja sembako, di sepanjang jalan saya perhatikan memang ada orang yang berjualan (mie baso, nasi goreng, nasi ayam, dll) tapi sepi tidak ada pembelinya. Untuk 1-2 bulan sih mungkin mereka masih bisa bertahan dengan uang tabungan atau bahkan dengan hutang sana sini, nah lalu setelah itu bagaimana?

Dengan skenario bahwa dalam 1-2 bulan kedepan wabah Corona ini belum bisa diselesaikan (belum ada vaksin yang efektif), nah ini kita mulai perlu berfikir lebih serius.. Sejarah sudah berulang kali mencatat dan membuktikan bahwa kaum ekonomi lemah yang dalam kondisi lapar, merasa diperlakukan tidak adil, dan juga putus asa, bisa bergerak menjelma menjadi kekuatan yang dahsyat..

Saat ini sudah sebulan wabah Corona melanda negeri, kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai sangat terdampak dan bahkan ada kegiatan2 ekonomi yang bergelimpangan, dan belum juga ada tanda2 bahwa vaksin Corona yang efektif akan segera ditemukan. Kita punya 1-2 bulan lagi untuk memikirkan cara yang baik untuk menjaga dan mempertahankan the fabric of society, menjamin pangan bagi masyarakat ekonomi lemah, meredam potensi gejolak sosial, dan menghindarkan social unrest..

Satu pertanyaan tetap mengganggu pikiran saya: bagaimana kalau vaksin virus ini ternyata tetap tidak berhasil ditemukan oleh para ilmuan..? Apa yang akan terjadi pada kehidupan kita..?

Yaa Allah.. kami mohon segera akhirilah wabah global Corona ini.. kami mohon kembalikanlah kehidupan normal seperti dulu lagi.. izinkanlah para ilmuan untuk dapat menemukan vaksin atas virus Corona ini.. amiin YRA…

Dasar Lidah Desa

Jadi ceritanya tadi malam kami diajak Boss utk welcoming dinner dgn seorang prof Jepang. Dipilihlah sebuah resto rada elit di daerah Dago, dimulai jam 7 malam. Sampai sana kami langsung pilih2 menu. Ada sih menu2 “biasa” seperti nasgor, nasi ayam, iga bakar, sop, dll, tp tentu dgn harga yg tak biasa. Tp ko kynya orang2 ga ada yg pesen menu2 “biasa” tsb, waduw jd gengsi mau pesen nasi dah wkwk. Ah drpd bingung sy cari aj makanan yg paling mahal, entah namanya apa sy lupa, pokonya harga 180rb before tax. Minumnya blueberry smoothies.

Daaan akhirnya datanglah makanan termahal itu.. jreng jreengg taunya ky begini dongs:

Ga kuat nahan ktawa wkwkwk.. jd isinya ada gorengan ky bala2, atasnya ada daging seuprit ky steak tp kering tanpa saus tanpa rasa, ikan dan udang yg ky stengah mateng, tanpa rasa jg, buncis n ubi parut.. ya Tuhan ga ada rasa ga ada enak2nya sama skalii wkwkwk, akhirnya sy kasih sambel aj yg buanyak dan paksain kunyah n telen krn gengsii wkwk. Next time sy pesen nasgor telor ceplok sm es jeruk aj dah, dasar lidah desa ga paham western food elit wkwkwk

Lebaran, Marginalized :-)

“Lebaran Online”, mungkin itu terminologi yang cukup pas untuk menggambarkan fenomena saling mengucap selamat lebaran via WA, email, facebook, instagram, dan semacamnya. Di hari pertama lebaran, WA saya berdering terus-menerus. Saya perhatikan ada 2 metode yang paling umum digunakan pengguna WA untuk mengucap selamat lebaran:

  1. Mengucap lebaran via grup
  2. Mengucap lebaran dgn broadcast

Ada yang dengan kalimat simpel, ada yg dengan pantun dan puisi, ada yg dgn tulisan dan bahasa Arab, ada yang mengirim gambar, bahkan juga video.

Mengirim ucapan selamat via grup atau broadcast memang sangat efisien, tapi sama sekali tidak efektif. Malah kalau saya pikir2, halĀ  tsb cukup aneh lho. Ucapan selamat via grup atau broadcast itu seperti ngomong sendiri di lapangan, tdk ditujukan spesifik ke siapapun itu kan. Jadinya ya jarang yang menanggapi juga, paling2 ada yg lain kemudian mengirimkan ucapan serupa juga, jadinya grupnya terasa ramai tapi sebenarnya tdk ada komunikasi real itu lho. Jadinya hanya seperti formalitas saja, apalagi dibumbui dgn pantun/puisi yg panjang2.. hadeuh…

Makanya judul artikel ini “Lebaran, Marginalized”, karena berasa jadi marginalized people..

Saya sendiri tidak pernah merespon ucapan selamat yang seperti itu, saya hanya respon msg yang memang ditujukan untuk saya, cirinya adalah dengan menyebut nama saya.

Saya mengirim ucapan selamat lebaran juga ga banyak2 amat, hanya ke beberapa orang saja, tapi spesifik dan tentu saja dengan menyebut nama mereka. Memang kurang efisien, tapi sangat efektif dan ada komunikasi real.