Hey, what's going on?

Archive for the ‘study & live in japan’ Category

Basic Thermal-Hydraulics Experiments for Nuclear Engineering Students

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 14, 2013

Teaching Assistantship Final Report (2013.03.12).

Posted in nuclear engineering, study & live in japan | Leave a Comment »

Basic Thermal-Hydraulics Experiments for Nuclear Engineering Students

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 28, 2012

During last spring semester, I worked as a teaching assistant (TA) for my department, my job was to teach new Japanese master students about some thermal-hydraulics experiments. I thought them the procedures of doing experiments, how to run some apparatuses, how to use some data acquisition equipments , some practical techniques, and most importantly safety aspect related to each of the experiments.

The activity was conducted once a week, every Wednesday morning from 9.00 to 12.15 noon. So every Tuesday I was also responsible to ensure that all the equipments, tools, and apparatuses were ready for the activity the next day.

There was also a Japanese senior technician (Matsui-san) working with me to prepare some materials such as heater pin samples and orifice for flow measurement.

The monthly salary was not so bad, about 10% of that of an assistant professor here :). Since we the TAs received the money, the department asked us to report about what have we done and how was the activity going. It was just a 10-min presentation plus 10-min Q&A, attended by 7 nuclear engineering professors (Profs. Iio, Igashira, Obara, Yano, Oguri, Matsumoto, Matsuda). The professors asked some questions to me, not so difficult though. Alhamdulillah everything went well. So, below is my presentation material.

Posted in nuclear engineering, study & live in japan | Leave a Comment »

Hari ini satu tahun yang lalu: The SuperQuake I’ll never forget

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 11, 2012

Hari ini tepat satu tahun sejak gempa besar itu mengguncang Jepang.

Hari itu saya baru saja kembali ke lab sehabis melaksanakan shalat Jumat di SRIT Meguro. Saya tiba di lab sekitar jam 2 siang, shalat Jumat di SRIT selesai sekitar jam 1.30pm dan perjalan dengan menggunakan sepeda dari SRIT ke kampus saya (~5 km) memakan waktu sekitar 25 menit. Di ruangan saya sebenarnya ada 5 mahasiswa, Rui, Marco, Yumi-chan, pak Aziz, dan saya; tapi saat itu hanya ada Rui dan Marco di lab. Pak Aziz ada di luar lab, dan Yumi sedang liburan musim semi ke Israel. Sensei kebetulan sedang tidak datang ke lab, beliau sedang berada di rumahnya di kota Mito, jadi di ruangan beliau hanya ada sekertarisnya, Iida-san.

Lab saya berada di lantai 4 gedung North1 (N1) TokyoTech Ookayama campus. Gedung ini lumayan tua, dan beberapa waktu yang lalu baru saja ditambah struktur penahan gempa di bagian depan dan belakangnya (thank God they finished it just in time!).

Saat itu keadaan di lab ya biasa2 saja, sama sekali tidak ada yang spesial, saya dengan santai makan bento saya, and Rui n Marco were busy with whatever they were doing at that time..

Tentu saja tidak seorangpun dari kami pernah membayangkan bahwa the largest earthquake in Japan’s recorded history akan segera terjadi dalam beberapa menit..

Beberapa saat kemudian (tepatnya jam 14.46), tiba2 kami merasakan guncangan, Saya dan Marco terkejut dan hanya saling pandang tanpa berkata apa2, Rui yang kemudian berteriak “Earthquake!!!

Saya lupa siapa yang kemudian berteriak “go to under your desk!!“, dan kami bertiga pun segera berlindung di bawah meja kami masing2…..

….. 1 detik.. 2 detik.. 10 detik … awalnya saya kira gempa ini akan segera berhenti, but it didn’t….. dan semakin lama rasanya guncangannya semakin keras saja…. panik.. takut.. tentu saja….. in fact, for a second all my life flashed before my eyes.. no joke!

Ternyata gempanya memang terjadi cukup lama, sekitar 6 menit.

Ketika akhirnya guncangannya berakhir, kami segera keluar dari lab. Di lorong lantai 4, orang2 juga keluar dari lab nya masing2. Kami mengikuti saja arus orang2 yang turun ke lantai 1 dan keluar dari gedung, akhirnya kami berkumpul/dikumpulkan di depan gedung N1, kemudian seorang profesor memberi pengarahan dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti. Saat itu tepat di depan gedung N1, ternyata ada kereta (metro) yang terhenti, mungkin memang begitu prosedurnya, kereta secara otomatis akan berhenti kalau ada gempa. Beberapa teman mencoba menghubungi keluarganya di rumah, tapi ternyata jaringan telfon tidak berfungsi. Melalui siaran TV yang saya akses dari ponsel saya, tahulah saya bahwa tsunami (akan) menghantam beberapa daerah di pantai timur Honshu..

Beberapa saat kemudian, kamipun kembali ke lab kami masing2. Saya sendiri sebenarnya saat itu sangat enggan untuk kembali ke lantai 4, hawatir akan ada gempa susulan, tapi akhirnya saya ya naik juga ke lantai 4. Saya kembali ke meja saya dan duduk di kursi saya, tapi ya jelas ga bisa back to work, pikiran msh ga keruan, masih coba memahami kondisi yang sedang terjadi..

Ternyata koneksi internet tidak terganggu dan tetap aktif, melalui facebook saya segera mengirim kabar ke kakak saya. Tentu saja, facebook segera dipenuhi dengan live news dari semua orang tentang gempa yang baru saja terjadi. Malam itu rasanya saya tidak pulang ke apato, tp saya lupa dimana saya tidur ya?? hmm.. dimana ya..?

Malam itu gempa Tohoku segera saja menjadi headline di media2 internasional. Barulah saya sadar ttg the true scale of the catastrophe.. portal2 berita dunia segera menayangkan video2 tsunami yang menghantam bbrp daerah di prefektur Miyagi, Iwate, dan Fukushima di sebelah utara pantai timur pulau Honshu. Ngeri saya melihatnya.. mobil2, truk, kapal, dan rumah2 yang dihempas tsunami layaknya mainan plastik, jalan & jembatan2 yang hancur lebur, orang2 yang berlarian berusaha menyelamatkan diri.. alhamdulillah ya Allah.. saya baik2 saja..

Baru besoknya saya ke apato untuk melihat keadaan, apato saya berantakan sekali, ya memang setiap hari juga berantakan hehe.. :D. Apato baik2 saja, hanya ada panci dan beberapa barang yang jatuh.

Setelah gempa utama tanggal 11 Maret, kami di Tokyo juga merasakan beberapa aftershocks. Entah saat itu aftershock memang sering terjadi atau saya saja yang kelewat sensitif, rasanya sering sekali terjadi gempa2 kecil susulan. Di apato, kalau tetangga sebelah membuat sedikit saja suara, rasanya sudah seperti gempa, mungkin karena kejadian 11 Maret masih terbayang2 di benak saya.

Hari2 itu memang menjadi hari2 yang panjang. Berita gempa disusul berita tsunami, dan berita tsunami segera disusul berita lainnya: Fukushima Daiichi. NHK memberitakan bahwa PLTN Fukushima Daiichi mengalami masalah berkaitan dengan decay heat removal, karena backup power system nya tidak aktif akibat dibanjiri air laut ketika tsunami menerjang.

Beberapa hari kemudian (saya lupa tanggal persisnya, mungkin 15 atau 16 Maret), kami anak2 nuklir Tokodai dihubungi Teddy, dia meminta kami untuk berkumpul di KBRI untuk sebisanya membantu kedutaan berkaitan dengan krisis nuklir Fukushima. Kami (Dwi, Topan, Asril, Reynold, Deby, pak Aziz, dan saya), segera berangkat dari kampus menuju KBRI di Meguro.

Sesampainya di KBRI, kami langsung menuju ruang kerja pak Dubes M. Lutfi. Di sana sudah ada mas Kunta dan Teddy, pak Dubes sendiri sedang berdiskusi via Skype dengan pak Liem dan pak Sidik, dua alumni nuklir Tokodai yang (sedang) bekerja di Jepang. Di ruangan itu semua orang terlihat serius sekali.

Keputusan yang harus diambil pak Dubes memang tidak main2: Apakah perlu untuk mengevakuasi seluruh WNI yang yang berada di Jepang?

Kalau jawabannya ‘ya’, maka bisa dibayangkan kerumitan proses mobilisasi ribuan orang dari seantero Jepang. Dan kalau jawabannya ‘tidak/belum’, maka beliau harus menjamin bahwa keadaan memang masih aman terkendali.

Di tengah rapat, tiba2 pak Dubes menyuruh agar salah seorang dari kami untuk mengikuti briefing di MOFA. Ternyata sejak krisis Fukushima mencuat, setiap hari MOFA mengadakan briefing untuk menjelaskan keadaan pada seluruh perwakilan diplomatik negara2 sahabat. Entah bagaimana akhirnya saya yang ditugaskan ke MOFA, bersama beberapa orang dari kedutaan tentu. Karena sebelumnya tidak tahu, saat itu saya jelas tidak memakai pakaian resmi, ya sudah saya pinjam saja atasan jas. Kemeja kotak2 tanpa dasi+atasan jas+celana jeans+sepatu casual, berangkatlah saya untuk mengikuti briefing di Kemenlu Jepang, dengan menggunakan mobil Mercy hitam ber-plat nomor diplomatik :P. Memang aneh rasanya, tapi mau bagaimana lagi.

Di MOFA, briefing dimulai tepat waktu, jam 16.30 kalau tidak salah. Di depan ada 5 atau 6 orang yang akan memberi penjelasan, perwakilan dari beberapa institusi, seperti MOFA, TEPCO, NISA, dll. Tapi sepertinya mereka bukan orang2 teknis, sehingga penjelasannya pun bukan penjelasan teknis, lebih seperti penjelasan politis. Briefing nya tidak terlalu lama juga, paling sekitar 40 menit, intinya mereka bilang keadaan masih terkendali, walaupun ada beberapa aspek yang mereka belum bisa (belum mau?) pastikan statusnya.

Maka mulai hari itu, setiap hari kami membantu kedutaan untuk semampu kami memberi pertimbangan dan masukan2 teknis mengenai status Fukushima. Kami juga menghubungi anak2 nuklir lainnya dari Todai dan Tokai Univ.

Dengan demikian, secara tidak resmi terbentuklah “Tim Nuklir KBRI”.

Pak Dubes mempersilahkan kami untuk menggunakan ruangan di lantai 7 sebagai markas kami, lengkap dengan banyak makanan dan minuman tentu :). Jadilah sejak hari itu, pagi hari kami bekerja di lab kami masing2, dan sore menjelang malam kami bekerja di lantai 7 KBRI. Kalau sudah kemalaman, maka kami menginap saja di ruangan itu, karena ada matras2 yang lumayan nyaman juga.

Bersambung lain waktu, rasanya masih lumayan banyak yang belum sy ceritakan… 🙂

Posted in just a story, study & live in japan | 5 Comments »

Catatan perjalanan: The AJK-SME Conference 2011

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 12, 2011

Bulan kemarin, selama 5 hari (24 – 28 Juli) saya berada di kota Hamamatsu, prefektur Shizuoka (~200 km barat daya Tokyo), untuk menghadiri sebuah konferens, The ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011.

Konferens nya dimulai hari Senin pagi (25 Juli), saya berangkat hari Minggu sore (24 Juli) naik Shinkansen Hikari dari stasiun Shinagawa, perjalanan ke Hamamatsu tidak terlalu lama juga, hanya sekitar 1,5 jam. Saya sampai di stasiun Hamamatsu sekitar jam 4.30 sore, dan langsung menuju tempat konferens untuk registrasi. Tempatnya terletak tepat di sebelah stasiun, namanya ACT City Hamamatsu, sebuah convention center yang megah. Sedangkan Sensei saya katanya akan tiba hari Senin sore.

Stasiun Hamamatsu, tempat konferensnya di kompleks gedung yang tinggi itu

Selesai melakukan registrasi, saya langsung menuju hotel tempat saya akan menginap, namanya Comfort Hotel Hamamatsu, tempatnya hanya sekitar 10 menit on foot dari stasiun, dengan tarif 4500 Yen/malam. Yah namanya juga hotel kelas mahasiswa, kamarnya tidak terlalu besar, tapi lengkap dan nyaman, ada digital TV, kulkas mini, AC, internet connection (ini yang paling penting :)), dan tentu saja kamar mandi yang nyaman dan toilet canggih dengan berbagai tombol. Di hotel saya hanya istirahat sebentar, solat, dan ganti baju, dan sekitar jam 6 sore kembali lagi ke tempat konferens untuk menghadiri welcome reception, alias free dinner :mrgreen:. Lumayan banyak juga yang datang ke welcome reception, beberapa partisipan dari Amerika terlihat hadir juga, saya juga bertemu seorang exchange student dari Teknik Fisika ITB yang kebetulan menjadi panitia, kalau tidak salah namanya Erman.

Hari senin pagi acaranya secara resmi dibuka dengan sebuah opening ceremony oleh beberapa orang penting di bidang fluid engineering, dan kemudian dilanjutkan dengan plenary session oleh 3 pembicara utama. Presentasi yang cukup menarik disampaikan oleh seorang businessman asal Australia, Jayden Harman, ia berbicara mengenai Biomimicry, sebuah konsep yang sepertinya cukup baru tentang nature-inspired technology yang berhubungan dengan fluid. Ia memaparkan bagaimana hardware yang di desain oleh perusahaannya berdasarkan konsep biomimicry dapat beroperasi lebih efektif dan efisien dibanding produk2 sejenis lainnya. Ia bahkan sempat berbicara sedikit mengenai sebuah proyek kerjasama dengan US DOE dan Pentagon mengenai atmospheric engineering.

Suasana Opening Ceremony

Plenary session selesai jam 12 siang, dan kemudian dilanjutkan dengan luncheon lecture: makan siang sambil mendengarkan lecture, hmm.. asik juga :). Makan siang yang disediakan panitia adalah bento khas Jepang, terdiri dari beberapa kotak kecil2 yang isinya hampir semuanya hidangan laut: ikan, udang, cumi2, dll. Juga ada belut (unagi) panggang dengan saus manis, yang katanya memang khas Hamamatsu, beuh.. guriiih banget rasanya :). Kemudian acara dilanjutkan dengan parallel technical sessions sampai jam 6 sore, nah.. ini baru mulai serius.. :mrgreen:.

Saya pergi ke Hamamatsu ini bersama 2 teman lab, Marco dan Rui. Kebetulan former advisor nya Marco di Itali datang juga, namanya Prof. Fabio Inzoli. Mungkin dalam rangka menyambut beliau, malam itu kami dinner bersama, saya, Sensei, Marco, Rui, dan beberapa orang lainnya. Malam itu kami makan sushi, sashimi, dan tempura di sebuah restoran di kompleks stasiun Hamamatsu. Selesai dinner, kami menuju lantai 30 ACT Tower, untuk minum2 sambil menikmati pemandangan malam, tentu saja saya tidak ikut minum alkohol, saya hanya minum Canadian ginger ale.

Saya kebagian presentasi pada hari ketiga, jadilah hari Senin dan Selasa saya menjadi partisipan yang baik, saya selalu hadir dari pagi sampai sore, selain karena pikiran tidak tenang (karena belum presentasi), juga untuk mencuri sebanyak2nya teknik presentasi dari peserta lain :mrgreen:. Beberapa presenter benar2 sangat keren, sempat agak terintimidasi juga, tapi mau bagaimana lagi, life must go on (!). Jadilah hari Senin dan Selasa saya tidak jalan2 kemana2, paling hanya ke kombini beli onigiri dan beberapa makanan kecil untuk light dinner.

Salah satu sudut kota Hamamatsu

Akhirnya tiba juga hari Rabu, saya kebagian presentasi pertama di second morning session, dan hal yang menurut saya lumayan aneh adalah bahwa chairman session nya Sensei saya sendiri (!). Agak dagdigdug juga sih, apalagi chairman itu salah satu tugasnya kan ngasih pertanyaan ke presenter, terutama kalau ga ada pertanyaan dari penonton, lah apa jadinya kalo Sensei sampai nanya2 ttg kerjaan/riset saya?? :mrgreen:, masa pembimbing nanya ke yang dibimbing di depan semua orang? pasti bakalan awkward kan..

Setelah di introduce oleh chairman (yang adalah Sensei saya sendiri), saya malah kelepasan bilang thank you chairman (!), harusnya kan saya bilang thank you professor, beberapa hadirin tampak tersenyum, ya sudah lah.. namanya juga kelepasan..

Saat itu audiens nya tidak terlalu banyak, padahal ruangannya lumayan besar (entah saya harus bersyukur atau menyesal :)), dan beberapa dari mereka memberi pertanyaan pada presentasi saya, jadinya chairman tidak perlu memberi pertanyaan, fiuhh.. lega juga rasanya.. 🙂 Setelah presentasi, pikiran jadi jauh lebih tenang, tapi hari itu saya tetap jadi partisipan yang baik, saya hadiri session2nya sampai sore. Acara kemudian dilanjutkan dengan Conference Banquet, yang berupa standing party, dan diisi hiburan live music oleh “ibu2 pkk” Hamamatsu yang memainkan Koto, alat musik tradisional Jepang yang mirip kecapi. Hmm it was quite entertaining :).

"Ibu2 pkk" Hamamatsu memainkan alat musik Koto

Malamnya saya mulai melihat2 peta wisata Hamamatsu, rencananya besoknya ingin jalan2 juga :). Karena saya suka arkeologi, yang pertama saya cari adalah museum! Ternyata ada museum yang sepertinya cukup menarik di Hamamatsu, namanya Hamamatsu City Museum, menurut brosur, koleksi museum ini adalah benda2 kuno yang ditemukan di sekitar Hamamatsu, termasuk beberapa artefak dari Jomon Culture! Menarik sekali! Cuma museum ini lumayan jauh dari tempat konferens, harus naik bis segala. Saya tidak jadi mengunjungi museum ini, karena rencana saya hanya jalan2 ke tempat2 disekitaran tempat konferens, on foot.

Hari kamis saya check out dari hotel dan langsung menuju stasiun, bukan untuk pulang, tapi untuk menaruh koper saya di stasiun :). Ini salah satu hal yang paling saya suka dari stasiun kereta di negara2 maju: ada coin locker yang aman untuk menyimpan koper kita, cukup dengan 500 Yen, saya tidak usah lagi membawa2 koper besar saya, sesuatu yang sepertinya di Indonesia (lagi2) belum ada. Memang sebenarnya saya bisa saja menitipkan koper saya di hotel atau di tempat konferens, but for some reason, saya lebih suka coin locker, rasanya lebih bebas :).

Kemudian saya datang ke morning technical sessions dan mendengarkan beberapa presentasi. Dan ketika coffee break jam 10.30, saya menyelinap keluar, tujuan saya: Hamamatsu Castle! Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat konferens, hanya sekitar setengah jam berjalan kaki. Ternyata kastil nya relatif kecil, jauh lebih kecil dari Osaka castle, dan harga tiket masuknya 150 Yen.

Hamamatsu Castle

Yang istimewa dari kastil ini adalah bahwa shogun pertama dari keluarga Tokugawa, Tokugawa Ieyasu (memegang jabatan shogun dari 1603-1605), pernah tinggal disini semasa mudanya, karena itu ga heran kalau di sebelah kastil ini ada patung perunggu Tokugawa Ieyasu. Menurut saya patungnya terlalu sederhana untuk seorang figur sejarah besar yang berhasil mendirikan sebuah dinasti/rezim militer yang bertahan selama lebih dari 250 tahun.

Patung Shogun Tokugawa Ieyasu

Kastil ini terdiri dari 3 lantai dan sebuah ruangan bawah tanah kecil, dimana terdapat sebuah sumur. Lantai satu dan dua berisi beberapa benda2 bersejarah, terutama yang berhubungan dengan sang shogun, seperti baju besi, senjata2, patung, dll. Ada juga beberapa lukisan dan foto2. Sedangkan lantai tiga hanya berfungsi sebagai menara pengamat.

Rekonstruksi pakaian perang sang Shogun

Setelah selesai dengan Hamamatsu castle, saya kemudian jalan2 mengelilingi castle park. Taman ini lumayan luas juga, dan seperti biasa, amat sangat bersih dan asri. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan taman2 di Tokyo: para lansia yang sedang kongkow dan ibu2 yang bermain2 dengan anak2 balitanya. Hari itu di taman kebetulan ada anak2 sekolah yang sepertinya sedang bersiap2 mau olah raga. Dari taman saya kembali ke tempat konferens untuk makan siang, lumayan lapar juga setelah lebih dari 2 jam berjalan kaki :).

Setelah makan siang, saya datang ke plenary session terakhir, sampai sekitar jam 3 sore. Setelah itu saya langsung menuju tujuan jalan2 kedua: The Hamamatsu Museum of Musical Instruments. Saya mengunjungi tempat ini lebih karena lokasinya yang dekat dengan stasiun, maklum hari sudah sore juga. Bangunan museum nya bergaya modern, dan ruang eksebisinya hanya terdiri dari dua lantai, tiket masuknya seharga 400 Yen.

Alat2 musik asal India, suaranya lumayan unik juga

Sesuai namanya, museum ini isinya alat2 musik dari hampir seluruh dunia, termasuk dari Indonesia! Yang mewakili Indonesia adalah gamelan Jawa dan Bali, yang menempati space luas di tengah museum. Yang menarik dari tempat ini adalah kita bukan hanya bisa melihat alat2 musik tersebut, tapi juga bisa mendengarkan suaranya melalui headphone yang tersedia di depan setiap instrumen yang dipajang.

Salah satu sudut museum, tersedia headphone untuk setiap alat musik

Selesai dari museum musik, saya langsung menuju stasiun Hamamatsu untuk pulang ke Tokyo, saya kembali naik Shinkansen Hikari dan berangkat jam 5.10 sore. Alhamdulillah perjalanan lancar dan saya tiba kembali di rumah sekitar jam 8 malam. Fiuhh.. lumayan lelah juga.. anyway it was a quite interesting trip, alhamdulillah, although the place is just 200 km from Tokyo! :mrgreen:

Fin

*Beberapa foto bisa dilihat di album2 berikut:

ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011
Hamamatsu Castle
Hamamatsu Museum of Musical Instruments

Posted in study & live in japan | Tagged: , , , , , , , , | 1 Comment »

My 2010 summer internship

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 20, 2010

Hari ini saya akhirnya menyelesaikan summer internship saya selama 3 bulan di sebuah lembaga penelitian di central Tokyo, Jepang.

Kantor saya terletak di lantai 8 gedung dengan kaca warna hijau itu

Internship selama 3 sampai 6 bulan ini wajib diambil oleh mahasiswa2 Tokodai yang enrolled in the so-called integrated program. Perihal internship ini sempat bikin pusing juga, masalahnya kampus mewajibkan kami untuk mengambil internship somewhere outside campus, tapi Tokodai tidak memfasilitasi tempat internship-nya, dengan kata lain kami harus berusaha mencari sendiri. Memang saya sempat beberapa kali mendapat email dari kantor jurusan tentang tawaran internship (インターンシップ) dari beberapa perusahaan Jepang, tapi email2 itu 100% berbahasa Jepang, jadi memang sepertinya bukan ditujukan untuk kami para gaijin. Kami biasanya mengandalkan Sensei untuk menemukan tempat internship ini, yang memang biasanya memiliki jaringan yang kuat di lingkungan korporasi2 maupun research institute di luar kampus.

Sensei sepertinya sempat dibuat repot juga dengan hal ini, dan sempat meminta saya untuk mencoba berusaha mencari sendiri, maklumlah para profesor memang biasanya selalu super sibuk. Jadilah sekitar bulan April kemarin saya mencoba mencari peluang iternship.

Karena aturan tidak menyebutkan bahwa tempat internship harus berada di Jepang, wah saya pikir ini kesempatan untuk berpetualang ke luar Jepang, lalu kemana dong? kemana lagi, tentu ke my favorite continent: Europe!

Di Eropa terdapat beberapa nuclear-related organizations, terutama di Jerman, Prancis, Benelux, dan Austria. Waktu itu saya desperately 🙂 mengirim ke hampir semuanya, menanyakan tentang peluang internship.

Dari sekian banyak email yang saya kirim, mayoritas ditolak secara sopan dan halus =), hanya 2 yang mendapat respon positif.

Yang pertama dari kantor ENEN di Prancis, dibalas sekitar awal April. Tapi balasan emailnya kurang jelas juga maksudnya, orang yang membalas email saya ini menjelaskan tentang program2 internship bidang nuklir di Eropa, ia juga bilang akan berusaha membantu saya, orang yang baik =).

Dan yang kedua dari SCK-CEN di Belgia, dibalas sekitar pertengahan Mei. Yang ini isinya jauh lebih jelas, dari seseorang yang tampaknya senior researcher di tempat ini. Ia menawarkan internship yang akan dimulai  sekitar Agustus-September. Ia bahkan langsung menyebutkan proyek internship nya secara spesifik, yaitu design of spent fuel storage pond. Ia menjelaskan bahwa intern akan mendapat fasilitas asrama dan juga monthly allowance, tapi mereka tidak menaggung biaya pesawat.

Waduh.. sempet deg2an juga dapet email dari Belgia ini.. apa bener saya akhirnya akan ke Eropa..??? selama 3 bulan pula!! Waw.. waaaw… 🙂

Tapi saya berfikir lagi tentang beberapa hal, seperti masalah keuangan (always! :mrgreen:), administrasi, tema proyek, dll dll.. hmm.. kalau saya ke Eropa selama 3 bulan sepertinya urusan2 di Tokyo bakal jadi lumayan ribet.. belum lagi tentang ongkos pesawat PP dari-dan-ke Belgia.. hmpff.. =(

Jadi gimana dong..?

Akhirnya untuk kedua kalinya, saya tidak jadi lagi ke Eropa.. mungkin memang belum saatnya..

Ternyata Sensei juga selama ini berusaha mencarikan internship untuk saya, beliau bilang di sebuah lembaga penelitian bernama The Institute of Applied Energy (IAE), yang berlokasi tidak terlalu jauh dari kampus Tokodai.

Kantornya terletak di Minato-ku, sebuah ku yang menurut saya sangat elit, letaknya bersebelahan dengan Chiyoda-ku, ku yang bisa dibilang merupakan pusat pemerintahan Jepang. Kantor ini lumayan dekat dengan Tokyo Imperial Palace, National Diet Building of Japan, dan Hibiya park (tempat makan siang yang asyik :)). Stasiun subway terdekatnya bernama Uchisaiwaicho.

Suasana jam makan siang di Hibiya park

Saya memulai internship ini pada hari Senin tanggal 24 Mei. Hari itu saya berkenalan dengan orang2 di divisi energi nuklir IAE, anggotanya tidak terlalu banyak, kurang dari 10 orang (seluruhnya bergelar Ph.D) plus seorang sekertaris bernama Harasawa-san. Saya juga berkenalan dengan  2 orang dari divisi lain yang ternyata lumayan bisa berbahasa Indonesia, yang seorang bercerita bahwa 25 tahun yang lalu ia pernah studi selama setahun di UI.

Yang menjadi tutor saya di IAE ini adalah teman lama Sensei, seorang Ph.D paruh baya bernama Dr. Noriyuki Shirakawa, ia bilang panggil saja “Shirakawa-san”. Hari itu ia menjelaskan hal2 daily life di kantor itu, seperti letak mesin minuman, microwave, letak kantor pos, bank, restoran, dll. Ia juga meminta saya menyiapkan sebuah presentasi untuk orang2 divisi nuklir IAE, tentang apa2 yang sudah saya kerjakan di Tokodai.

The National Diet Building of Japan

Karena pada dasarnya IAE tidak memiliki program internship, maka yang saya kerjakan di kantor itu bisa dibilang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka, saya tetap mengerjakan riset saya seperti biasa, atau dengan kata lain saya hanya memindahkan kursi dan meja saya dari Tokodai ke IAE, aneh memang.. :mrgreen:

Tutor saya orangnya baik, setiap saya punya pertanyaan2 yang berhubungan dengan riset, ia selalu berusaha untuk menjelaskan dan membantu saya. Jam kerja saya adalah mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore, dan setiap hari Jumat saya meminta izin untuk melaksanakan solat Jumat di SRIT, hanya 15 menit naik subway dari IAE, tapi plus 20 menit jalan kaki dari stasiun Meguro :).

Tidak terasa 3 bulan akhirnya berlalu, kemarin tutor saya memberi omiyage berupa sebuah wind bell keramik khas Jepang berwarna merah. Terima kasih Shirakawa-san, hope to see you again soon! =)

Beberapa foto bisa dilihat di link berikut:

Minato and Chiyoda area, Tokyo

Short URL: http://wp.me/p61TQ-uV

Posted in study & live in japan | 1 Comment »

Gadis peniup seruling

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 16, 2010

Senzoku-ike shopping street

Kemarin siang saya pergi ke toko Daiso di daerah Senzoku-ike  untuk membeli sesuatu. Sepulang dari toko itu saya melewati sebuah danau kecil, karena matahari sedang bersinar cerah dan kebetulan ada bangku yang kosong, saya pikir asyik juga duduk2 melepas lelah sejenak.

Sebenarnya saya cukup sering melewati danau kecil itu, dan sesekali berhenti sejenak untuk sekedar menikmati pemandangan. Tapi ternyata hari itu ada yang berbeda, sesaat setelah saya duduk di bangku pinggir danau, sayup2 saya mendengar suara seruling.

Santai sejenak di pinggir danau..

“Suara seruling dari mana?” pikir saya dalam hati..

Ketika saya menoleh, ternyata di bangku paling kiri, dibawah sebuah pohon, seorang gadis Jepang sedang memainkan serulingnya.. ia duduk seorang diri di bangku pojok itu..

Gadis di bangku pojok itu yang memainkan seruling

Ia memainkan lagu yang terdengar tradisional, saat itu ia tidak terlihat seperti orang yang sedang berlatih, sepertinya ia memainkan seruling itu dengan hatinya.. perasaan saya pun jadi ikut terhanyut..

Hmm.. apa yang sedang kau pikirkan wahai gadis peniup seruling..?


Short URL: http://wp.me/p61TQ-ui

Posted in just a story, study & live in japan | 2 Comments »

Halal foods at Tokyo Institute of Technology restaurants

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 10, 2010

Although the menu are still very limited, and the prices are relatively a bit more expensive, started from June 2010, halal foods are now available at TokyoTech restaurants, alhamdulillah 🙂

Hope they will add more menu in the future :mrgreen:

Posted in study & live in japan | 1 Comment »

Spring break at TokyoTech (video)

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Gallery on Picasa

TokyoTech, March/April 2010

Posted in study & live in japan | Leave a Comment »

Jemuran siapa ini??

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Komentar seorang teman jepang tentang tagihan ‘rumah tangga’ saya cukup mengganggu saya selama beberapa hari kemarin. Saya cerita padanya bahwa tagihan listrik, air, dan gas bbrp bulan ini lumayan mahal, masing2 hampir mencapai 4000 yen, atau kalau ditotal lebih dari 10000 yen, dia bilang “loe tinggal sendiri kan?” saya bilang iya, dia jawab kynya itu trlu mahal, harusnya sekitar 2000an. Hmm.. penasaran sy tanya seorang teman Indonesia yg tinggal tidak jauh dari tempat saya dan juga tinggal di single room, dia jg bilang masing2 sekitar 2000 yen! hmm.. seems something is wrong…

Nah pagi ini, ketika saya membuka jendela, saya mendapati pemandangan ini: (!)

celana kolor, kaos kaki, dll.. d balkon gw

Seingat saya, saya tidak mencuci baju tadi malam.. saya amati lagi ternyata jemuran di balkon kamar saya itu bukan jemuran saya! Celana kolor, kaos kaki, dll itu 100% bukan punya saya! lah what’s goin on?!?

Prasangka buruk segera menyergap, “ooo.. jd selama ini tetangga2 kamar sebelah suka pake mesin cuci saya untuk nyuci baju mereka too!! kan mesin cuci ada d luar n klo siang sy seharian ngampus!! pantesan tagihan2 gw bengkak!! pasti mereka nyucinya pake air panas pula!! HHHH!!!! kurang uajjjiaaarrrr!!!!”

Saya pun segera mengontak calo kos2an sy utk komplain, dan dia pun segera menghubungi si empunya kos2an, kata dia si owner menjelaskan bahwa kemarin bagian luar kamar di sebelah kamar saya di reparasi oleh tukang, karena itu sementara jemuran si tetangga sebelah dititipkan dulu di balkon jemuran saya, nah si tukang lupa mengembalikan jemuran2 itu ke tempat semula.. simpel toh..

Fiuhh.. jadi tenang deh.. ternyata tetangga2 sebelah gw emang seperti yg gw duga, orang2 baek.. =)

*hmm.. tp pertanyaan gw blm terjawab, knapa tagihan2 gw mahal..?

Posted in just a story, study & live in japan | 3 Comments »

SMSan gratis pake YM

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 21, 2010

Hmm.. kynya udah pd tau sih.. tp gpp deh iseng2 sy tulis aja, kali aja ada yg blm tau..

SMSan dari Jepang ke Indonesia bisa dilakukan dengan gratis pake Yahoo Messenger, ya kaya chatting biasa aja, n reply dari Indonesia bakal masuk ke YM kita.

Caranya..? gampang bos.. d YM klik aja Actions > Send an SMS Message

Actions > Send an SMS Message

Kemudian akan ada 2 pilihan utk mengirim sms:

  1. Mengirim ke nomor yg sebelumnya sudah disimpan di Contact Details
  2. Menulis nomor HP secara langsung, jangan lupa selalu pake kode negara +62, contoh-> +62812xxxxxx

Mengirim ke nomor yg sdh tersimpan di Contact Details

Menulis nomor HP secara langsung (+62812xxxxxx)

Setau saya kita hanya bisa ngirim SMS ke nomor GSM di Indonesia (Telkomsel in my case), sy pernah coba kirim ke bbrp nomor CDMA tp ga pernah nyampe.

Tagihan HP di Indonesia nya gimana? udah setaun lebih sy pake fitur ini utk SMSan sm keluarga di Bandung, n kata mereka sih tagihan HP mereka biasa2 aja (bener ga yah??), jd kynya tarif SMS biasa aja, tp kurang tau juga sih pastinya gimana.. ada yg punya info?

Semoga bermanfaat :mrgreen:

Posted in study & live in japan | Tagged: | 2 Comments »

Umegaoka to Higashitamagawa

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 15, 2009

Yeap.. akhirnya malam ini datang juga, ini malam terakhir saya di Umegaoka dorm, besok siang saya resmi move out from here and start a new life in a new place. I have been staying here since September 25 last year, and will officially move out tomorrow on September 16 this year, 357 exciting days have passed. Ya, 357 hari (or 356 malam) sudah saya habiskan di asrama ini.

Saya pindah ke tempat kost baru di deket kampus, di daerah Higashitamagawa, paling 20 menit-an jalan kaki dari kampus.

Selamat tinggal Umegaoka, n selamat datang Higashitamagawa!

New place, new spirit! O yeah! :mrgreen:

Posted in just a story, study & live in japan | Tagged: , | 2 Comments »

My second homesick…

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 30, 2009

The Sakura Boulevard

Astaghfirullah ya Allah…

Hmmh.. ga disangka sy kena sindrom homesick lagi.. dulu pertama kena pas awal bulan Januari.. 3 bulan setelah sy sampai di Jepang, brarti 8 bulan yg lalu ya. Now one year has passed.. hhhhh.. rasanya bener2 sama persis ky wkt  itu.. kehilangan semangat.. gelisah ga keruan.. takut ga tau kenapa.. ngerasa waktu ko cepet sekali berlalu, rindu masa lalu, dll.. jadi ga bisa ngapa2in deh.. padahal tanggal 1 besok deadline submit report.. jumat depan kebagian presentasi lab lagi… hhh.. bener2 gawat klo gini nih.. T_T

Kayanya sih karena pengaruh suasana lingkungan juga.. ini kan akhir semester, banyak anak2 asrama yg move out, ada yg pindah ke tempat lain, n ada jg yang pulang ke negaranya. Kita disini emang hanya dikasih jatah setaun utk tinggal d asrama, makanya mereka pada pindah, sy juga insya Allah pindah bulan depan.

Di blok saya awalnya ada 6 orang, skrg yg satu udah pindah tempat, n yg tiga udah pulang ke negaranya, jadi skrg d blok sy cuma ada 2 orang, tp kemarin ngobrol ma dia katanya dia bakal move out hari senin depan.. yah.. minggu depan bnr2 sendirian deh.. 😦 sy makin gelisah lagi pas sadar klo ntar d tmp kost baru juga kan sy sendirian! hhh… emang enak kesepian ky gini di negri orang.. 😦

Emang udah saatnya cari pasangan hidup neh! :mrgreen:

.. yg bisa mendorong ketika sy jatuh.. n bisa ikut senang ketika sy senang .. iiihh romanteeeezzzz!! :mrgreen:

hhh.. ya gini jadinya klo orang lg error berat.. harap maklum deh ya..

Posted in just a story, study & live in japan | Tagged: , | 2 Comments »

Catatan Perjalanan: Kyoto University Research Reactor Institute (KURRI)

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 26, 2009

Osaka Castle

Osaka Castle

Alhamdulillah.. udah di asrama lagi, 5 hari kemarin nginep di Osaka, dari hari Senin (20 Juli) sampe haris Jumat (24 Juli). Saya ke Osaka sebagai partisipan Nuclear Engineering Experiment di Kyoto University Research Reactor Institute (KURRI), or tepatnya pake fasilitas riset yg namanya Kyoto University Critical Assembly (KUCA). KURRI ini salah satu badan riset nuklir univ Kyoto, tp lokasinya bukan di Kyoto, melainkan di Kumatori, Osaka. Cuma sayang banget, karena kegiatannya super padat, jd ga sempat jalan2.. hff.. padahal pengen banget liat Osaka Castle n Universal Studio.. hmm maybe next time… 😦

Saya berangkat dari asrama hari Senin pagi jam 5.45, bareng satu temen dari Mongolia (Byambajav Munkhbat), terus kami ketemuan sama satu temen lagi dari Jepang (Masahiko Nakase) di stasiun Shin Yokohama. Terus kita naik Shinkansen, perjalanan klo ga salah sekitar 2 or 3 jam, trus di di stasiun Shin Osaka kita naik lagi kereta lokal sampe stasiun Kumatori.

Sebelum ke KUCA kami makan siang dulu di restoran kecil deket stasiun, kami makan okonomiyaki (mirip martabak telor bang solihin di monas, hehe..), ternyata lumayan mahal, sekitar 800 yen, tp gapapa namanya jg pengalaman. Setelah itu kami langsung menuju KUCA naik bis dengan ongkos 160 yen.

Okonomiyaki

Okonomiyaki

Akhirnya kami sampai di KUCA Dormitory, tempat tinggal kami selama di Osaka. Hmm.. gedung asramanya punya 2 lantai, n keliatan udah tua, padahal sewanya lumayan mahal, semalem sekitar 1000 yen, asrama sy d Yokohama kan cuma sekitar 500-600 Yen. Kemudian kami check in, ternyata saya sekamar dengan Teaching Assistant kami, orang Indonesia, namanya M. Kunta Biddinika or mas Kunta, siip deh. Kami dapat kamar di lantai 2, kamarnya lumayan, yaa standar kamar di Jepang lah, ada TV, AC, westafel, bed, n yg paling penting: koneksi internet.

Hari Senin itu sebenernya libur, itu hari laut (marine day) di Jepang, makanya hari itu ya sbenernya ga ada kegiatan. Setelah menyimpan barang2 di kamar, kami berangkat ke gedung KUCA, deket banget dr asrama, cuma 5 menit jalan kaki. Kesan pertama saya begitu masuk kompleks fasilitas risetnya: “hmm.. ko ga kliatan so hi-tech ya..“, lagi2 gedung2 disana kliatan udah tua.

My KUCA ID Card

My KURRI ID Card

Hari itu acaranya cuma semacam acara pembukaan sederhana, ternyata pesertanya bukan hanya anak2 Tokodai, bbrp teman berasal dr univ Tohoku. Saat itu kami baru tau kalau ternyata seluruh penjelasannya akan diberikan dalam bahasa Jepang, waah sayang sekali.. mungkin krn mayoritas peserta adalah mahasiswa Jepang.  Padahal orang2 KUCA sbnernya bisa bhs Inggris juga, n tmn Jepang sy pun bilang sbnernya mereka pun ngerti klo penjelasannya pake English.

Sorenya kami pergi ke warung makan kecil di depan KUCA, pilihan makanannya ga banyak, saya cuma makan nasi pake ikan doang, n minum sugarless ice tea, pelayannya ramah, tau bahwa kami ga bs bhs Jepang dia pun berusaha pake bhs Inggris, walaupun agak susah.

@KUCA Dormitory

@KUCA Dormitory

Malamnya pas mau mandi, baru saya tau ada satu masalah besar! ruang mandinya ternyata hanya ada satu n model ofuro! alias mandi bareng2! hiiih.. serem.. jadi saya pikir mending mandinya ntar aja di waktu2 yg kira2 ga ada orang mandi. Besoknya (Selasa subuh) sktar jam 4 subuh sy bangun n langsung mandi, “wah pasti ga ada orang yang cukup gila ampe mandi subuh2 gini” pikir saya. At first, everything went well, ga ada orang disana, eehh.. pas lagi asik2nya mandi, ada suara pintu dibuka! n tiba2 ada om2 gendut masuk!! bugil!!! yahhh.. sial bener.. akhirnya sy cpt2 kluar, kaburrr!!!

Di KUCA ini ada salah satu teman saya sedang kuliah S3, namanya M. Nurul Subkhi, dia ini sama2 dari Fisika ITB. Nah selama di KUCA ini saya pesan bento yg dimasak oleh istrinya Nurul ini, hmm.. sedaap hehe.. maklum dah lama juga ga makan masakan Indonesia.

Experimen “beneran”-nya dimulai hari Selasa. Jam kerja kami disana mulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Ada 3 macam eksperimen yang akan kami lakukan disana:

  1. Approach to Criticality, untuk memprediksi jumlah nuclear fuel plate yg diperlukan to achieve criticality
  2. Control rod calibration, untuk tau control rod worth
  3. Measurement of Reaction Rate Distribution, untuk tau distribusi fluks neutron

KUCA C-Core

KUCA C-Core

Jadi “mainan” utama di KUCA ini adalah nuclear critical assembly, ga terlalu besar juga sih, yg kami pakai waktu itu adalah C-Core, assembly bermoderator H2O. Bagian utamanya terdiri dari 12 fuel frame yg tiap frame bisa diisi sampai maksimal 40 fuel plate. Ukuran fuel framenya 14 x 7 cm, jadi ukuran total assembly nya sekitar 28.4 x 42.3 cm, ga trlu besar.

Ternyata 2 profesor di KUCA ini orang Korea n mereka bnr2 fasih bgt bhs Jepang-nya, hmm.. kapan ya orang Indonesia ada yg jadi profesor nuklir di Jepang???

Hampir semua kegiatan intinya dilakukan hari Selasa n Rabu. Most of the time kami duduk d kelas dengerin penjelasan n di control room, doing data mining from there. Kami juga sempat dibawa masuk ke dalam reaktornya utk melihat secara langsung. Satu hal yg agak menarik adalah mereka menggunakan jemuran baju (yg plastik warna-warni itu lo) sbg penjepit pelat almunium utk menjaga constant gap witdth between fuel frames, ko bisa ya alat sederhana gt dipake di nuclear critical assembly???

Kami juga diberi kesempatan untuk mencoba melakukan fuel loading, masukin fuel plate ke dalam fuel frame. Setelah itu kami diminta menghitung jumlah fuel plate di dlm fuel frame, weh2 trnyata ga gampang loh. Orang2 KUCA ketawa aja liat kami kerepotan ngitung tu fuel plate, akhirnya kami disuruh pake ANFPNC alias Advanced Nuclear Fuel Plate Number Counter. Eehh.. taunya tu barang cuma sedotan biasa doang! weh2.. tu orang2 KUCA ketawa2 lagi, mereka bilang it’s just a joke. Saya surprise juga ko mereka bisa pake barang2 sederhana gt di fasilitas nuklir ky gt ya???

Munkhbat, me, and Sicheng @ control room

Munkhbat, me, and Sicheng @ control room

Hari kamis pagi acaranya experiencing reactor control. Jadi tiap student diberi kesempatan sebentar utk ngendaliin tu reaktor dengan cara control rod adjustment. Ada yg kebagian naikin n nurunin daya reaktor, sy kebagian nurunin daya dari 80% ke 40%. Ternyata ga gampang juga ngendaliin control rod, harus pake feeling. Siangnya acaranya group presentation, saya sekelompok dengan Munkhbat (Mongolia), Liu Sicheng (RRC), dan Kim Seon Tae (South Korea), tugas kami membahas mengapa data dari eksperimen ko beda dengan data dari perhitungan teoritis.

Experimental vs Theoretical

Experimental vs Theoretical

Setelah sesi presentasi, kami diminta untuk menyiapkan laporan eksperimen yang harus dikumpulkan besoknya (Jumat) jam 10 pagi, weh2 gilee.. kami cuma punya waktu semalam utk ngerjain laporan segitu banyak. Kelompok kami pun bagi2 tugas, saya kebagian ngerjain laporan chapter 1, fiuhh.. lumayan cape juga, malam itu kami lumayan ganbatte, walaupun sambil bercanda n ketawa2 keras semalaman, emang pada gila tu temen mongol n RRC hehe..  Munkhbat ngomel2 krn rencananya utk mabok2an pake bir Osaka malam itu jadi berantakan, n Sicheng malah ngeloyor santai n mau tidur aja katanya.. weh2.. saya baru tidur sktr jam 4 pagi n bangun sekitar jam 7 pagi.

Kemudian kami semua check out dari asrama dan menuju KUCA utk ngeprint n ngumpulin laporan. Hari itu acaranya cuma site visit, kami mengunjungi Kyoto University Reactor (KUR), yg trletak persis disebelah gedung KUCA, saat itu KUR sedang tdk beroperasi. Kami dibawa masuk ke dalam KUR dan diberi berbagai penjelasan, salah satunya adalah bahwa di KUR ini mereka punya fasilitas utk cancer treatment dengan metode BNCT.

And finally, KUCA experiment has come to the end, kami pun pulang hari jumat siang. Kami pulang bareng seorang profesor Tokodai, Prof. Yoshihisa Matsumoto. Di stasiun Shin Osaka kami makan siang okonomiyaki lagi, kami ditraktir Prof. Matsumoto, asiiik.. hehe..

Saya sampai d asrama Yokohama sktr jam 6 sore.. huff cape juga..

FIN

Posted in just a story, nuclear engineering, study & live in japan | Tagged: , , , , , | 10 Comments »

Akhir pekan yang sungguh indah!

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 10, 2009

syeilendra_prof.ninokatahuff.. cape juga.. gila banget weekend kali ini, hari jumat kmarin sensei bilang klo sy hrs submit report, sy bilang “iya sensei, sy submit deh, tp minggu depan ya..” eh sensei malah bilang “wah hari senin sy ga ke lab, tp sy bsk sabtu ke lab, kamu ke lab kaga?” waduh.. masa sy mau bilang engga, jadilah sy bilang “i.. iya sensei, sy k lab deh besok..” hmpff pdhal hrsnya sabtu kan libur.. jadilah besoknya sy k lab, sepii.. but wait, trnyata sensei udah dtg duluan! buset dah, jd ga enak.. ^_^’ jadilah sy bertapa d lab dan saling beradu pandang mesra dengan layar LCD 17 inci.. hikz.. T_T

akhirnya malam pun tiba.. n sy tunggu biar sensei pulang duluan, biar sopan maksudnya.. n akhirnya sampailah jam 9 mlm, n sensei blum menunjukan tanda mau pulang!! and then I gave up.. sy pulang duluan aja dah.. gudbay sensei..

n sampailah sy d dorm, trus dinner, liat berita d metro tv n sctv, dll dll.. n then jam 12 malam datanglah email itu, email dr sensei! beliau br pulang jam 12 mlm! masalahnya itu kan mlm minggu! senseiku yg hebat.. luar biasa… beliau bilang klo beliau mau ngasih sebuah dokumen utk sy, n nanya mau dtg ga hari minggu bsk, buset lg.. brarti sensei hr minggu pun ke lab dong yah….. hhh.. sy bilang “kaga deh sensei.. punten yah..”

krn hrs kejar setoran, jadilah hr ini sy mahasiswa yg rajin.. seharian ngerjain tugas.. sampe ga sempet mandi.. hiiihh jijay… ngapain siy yg gt aja diceritain ke seluruh dunia coba…

Alhamdulillah.. tugasnya bisa selesai “on time”, dgn hati masih dagdigdug sy tekan tombol send d browser sy tepat jam 21.55, only 5 minutes to the deadline…  hasilnya?? i don’t know.. smoga aja sensei cukup hepi dgn report sy…. huff.. ngantuk…

what.. a.. beautiful.. week.. endhh……….

FIN

Posted in study & live in japan | Tagged: , | 7 Comments »

Suka duka tinggal di asrama (Umegaoka Dormitory)…

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 18, 2009

Umegaoka Dormitory

SUKA

  • Super duper murah, cuma sekitar 18,000 – 20,000 yen sebulan
  • Deket dari stasiun, cuma 1 km, paling 15 menit kalo jalan kaki
  • Internet gratis, highspeed via LAN cable
  • Ada kulkas mini di dalem kamar
  • Ada westafel di dalem kamar
  • Air keran bisa langsung diminum
  • Ada AC/heater
  • Deket dari FeedCare Depot n HyakuEng Shop, tempat2 belanja yg terkenal murah, cuma sekitar 1 km doang
  • and.. guess what guys.. ini tu satu2nya asrama TokyoTech yg cowo n cewe digabung lho.. maksud loe??? (ehem.. cihuy! hihihi.. ;P)

BIASA AJA

  • Luas kamar 12.5 sq.m, yaa pas lah
  • Tempat tidur, meja belajar, lemari baju, lemari rupa2, n lemari sepatu udah disediain

DUKA

  • Tetangga di kamar sebelah GILA (dari negeri gajah putih), suka nelfon tengah malem keras2, pernah beberapa kali dia nelfon dari jam 11 malem sampe jam 6 pagi nonstop, sambil ketawa2 keras banget, GILA pokonya..
  • Tetangga di kamar atas (kamar saya lantai 1) kadang2 tengah malem suka rese, di atas ada suara “bum.. bum.. bum.. …”, kayanya dia lagi main spintrong (lompat tali), jadi susah tidur..
  • Ga ada dapur di kamar, adanya public kitchen: 1 kulkas, 1 kompor (2 api), 1 microwave, 1 termos, 1 toaster, 1 tmpt cuci piring. Kadang2 kalo pas lagi laper n pengen masak, eh public kitchen nya lagi dipake sama grup anak2 RRC yang lagi masak, makan, n ngobrol2 berjam2, kan kagok juga kalo kita masuk situ sendirian, nunggu dalam ketidakpastian deh.. kruyuk kruyuk.. bunyi perutku.. belum lagi klo mlm minggu anak2 RRC ini suka ngadain party di dapur smp tengah malem.. mentang2 mayoritas jd ngerasa berkuasa..
  • Anak2 yang lain kalo nyuci baju suka ga tau diri, kadang2 baju mereka ada di mesin cuci atau mesin pengering, sampe seharian penuh, padahal itu baju sebenernya udah beres, cuma yang punyanya males ngambil, dikiranya itu ruang cuci punya nenek moyang nya kali..
  • Ga ada WC di kamar, adanya public toilet. Kadang2 kalo pas lagi kebelet, eh WC nya lagi dibersihin sama the cleaning lady, en dia bilang “sana keluar dulu, lagi dibersiin ni!!“, yah jadi “hasrat terpendam” deh..
  • Ga ada kamar mandi di dalem kamar, adanya public bathroom. Modelnya tanpa pintu, ada 3 ruang mandi yang hanya ditutup pake kain (horden) doang, kena angin dikit juga kebuka tu kain, ga bisa konsen deh mandinya..

First floor residents (September 2008 – September 2009):

  1. Room 106: Zhuang Dongtian (Tsinghua University, China)
  2. Room 107: Cai Wupeng (Tsinghua University, China)
  3. Room 108: Syeilendra Pramuditya (Bandung Kogyo Daigaku/BAKODAI :mrgreen:)
  4. Room 109: Chativit Prayoonsri (Thailand)
  5. Room 110: Li Jialin (Tsinghua University, China)
  6. Room 111: Liu Sicheng (Shanghai University, China)

Image gallery on Picasa:

TokyoTech Umegaoka Dormitory

Posted in study & live in japan | Tagged: , , | 26 Comments »