Category: study & live in japan

Basic Thermal-Hydraulics Experiments for Nuclear Engineering Students

During last spring semester, I worked as a teaching assistant (TA) for my department, my job was to teach new Japanese master students about some thermal-hydraulics experiments. I thought them the procedures of doing experiments, how to run some apparatuses, how to use some data acquisition equipments , some practical techniques, and most importantly safety aspect related to each of the experiments.

The activity was conducted once a week, every Wednesday morning from 9.00 to 12.15 noon. So every Tuesday I was also responsible to ensure that all the equipments, tools, and apparatuses were ready for the activity the next day.

There was also a Japanese senior technician (Matsui-san) working with me to prepare some materials such as heater pin samples and orifice for flow measurement.

The monthly salary was not so bad, about 10% of that of an assistant professor here :). Since we the TAs received the money, the department asked us to report about what have we done and how was the activity going. It was just a 10-min presentation plus 10-min Q&A, attended by 7 nuclear engineering professors (Profs. Iio, Igashira, Obara, Yano, Oguri, Matsumoto, Matsuda). The professors asked some questions to me, not so difficult though. Alhamdulillah everything went well. So, below is my presentation material.

Hari ini satu tahun yang lalu: The SuperQuake I’ll never forget

Hari ini tepat satu tahun sejak gempa besar itu mengguncang Jepang.

Hari itu saya baru saja kembali ke lab sehabis melaksanakan shalat Jumat di SRIT Meguro. Saya tiba di lab sekitar jam 2 siang, shalat Jumat di SRIT selesai sekitar jam 1.30pm dan perjalan dengan menggunakan sepeda dari SRIT ke kampus saya (~5 km) memakan waktu sekitar 25 menit. Di ruangan saya sebenarnya ada 5 mahasiswa, Rui, Marco, Yumi-chan, pak Aziz, dan saya; tapi saat itu hanya ada Rui dan Marco di lab. Pak Aziz ada di luar lab, dan Yumi sedang liburan musim semi ke Israel. Sensei kebetulan sedang tidak datang ke lab, beliau sedang berada di rumahnya di kota Mito, jadi di ruangan beliau hanya ada sekertarisnya, Iida-san.

Lab saya berada di lantai 4 gedung North1 (N1) TokyoTech Ookayama campus. Gedung ini lumayan tua, dan beberapa waktu yang lalu baru saja ditambah struktur penahan gempa di bagian depan dan belakangnya (thank God they finished it just in time!).

Saat itu keadaan di lab ya biasa2 saja, sama sekali tidak ada yang spesial, saya dengan santai makan bento saya, and Rui n Marco were busy with whatever they were doing at that time..

Tentu saja tidak seorangpun dari kami pernah membayangkan bahwa the largest earthquake in Japan’s recorded history akan segera terjadi dalam beberapa menit..

Beberapa saat kemudian (tepatnya jam 14.46), tiba2 kami merasakan guncangan, Saya dan Marco terkejut dan hanya saling pandang tanpa berkata apa2, Rui yang kemudian berteriak “Earthquake!!!

Saya lupa siapa yang kemudian berteriak “go to under your desk!!“, dan kami bertiga pun segera berlindung di bawah meja kami masing2…..

….. 1 detik.. 2 detik.. 10 detik … awalnya saya kira gempa ini akan segera berhenti, but it didn’t….. dan semakin lama rasanya guncangannya semakin keras saja…. panik.. takut.. tentu saja….. in fact, for a second all my life flashed before my eyes.. no joke!

Ternyata gempanya memang terjadi cukup lama, sekitar 6 menit.

Ketika akhirnya guncangannya berakhir, kami segera keluar dari lab. Di lorong lantai 4, orang2 juga keluar dari lab nya masing2. Kami mengikuti saja arus orang2 yang turun ke lantai 1 dan keluar dari gedung, akhirnya kami berkumpul/dikumpulkan di depan gedung N1, kemudian seorang profesor memberi pengarahan dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti. Saat itu tepat di depan gedung N1, ternyata ada kereta (metro) yang terhenti, mungkin memang begitu prosedurnya, kereta secara otomatis akan berhenti kalau ada gempa. Beberapa teman mencoba menghubungi keluarganya di rumah, tapi ternyata jaringan telfon tidak berfungsi. Melalui siaran TV yang saya akses dari ponsel saya, tahulah saya bahwa tsunami (akan) menghantam beberapa daerah di pantai timur Honshu..

Beberapa saat kemudian, kamipun kembali ke lab kami masing2. Saya sendiri sebenarnya saat itu sangat enggan untuk kembali ke lantai 4, hawatir akan ada gempa susulan, tapi akhirnya saya ya naik juga ke lantai 4. Saya kembali ke meja saya dan duduk di kursi saya, tapi ya jelas ga bisa back to work, pikiran msh ga keruan, masih coba memahami kondisi yang sedang terjadi..

Ternyata koneksi internet tidak terganggu dan tetap aktif, melalui facebook saya segera mengirim kabar ke kakak saya. Tentu saja, facebook segera dipenuhi dengan live news dari semua orang tentang gempa yang baru saja terjadi. Malam itu rasanya saya tidak pulang ke apato, tp saya lupa dimana saya tidur ya?? hmm.. dimana ya..?

Malam itu gempa Tohoku segera saja menjadi headline di media2 internasional. Barulah saya sadar ttg the true scale of the catastrophe.. portal2 berita dunia segera menayangkan video2 tsunami yang menghantam bbrp daerah di prefektur Miyagi, Iwate, dan Fukushima di sebelah utara pantai timur pulau Honshu. Ngeri saya melihatnya.. mobil2, truk, kapal, dan rumah2 yang dihempas tsunami layaknya mainan plastik, jalan & jembatan2 yang hancur lebur, orang2 yang berlarian berusaha menyelamatkan diri.. alhamdulillah ya Allah.. saya baik2 saja..

Baru besoknya saya ke apato untuk melihat keadaan, apato saya berantakan sekali, ya memang setiap hari juga berantakan hehe.. :D. Apato baik2 saja, hanya ada panci dan beberapa barang yang jatuh.

Setelah gempa utama tanggal 11 Maret, kami di Tokyo juga merasakan beberapa aftershocks. Entah saat itu aftershock memang sering terjadi atau saya saja yang kelewat sensitif, rasanya sering sekali terjadi gempa2 kecil susulan. Di apato, kalau tetangga sebelah membuat sedikit saja suara, rasanya sudah seperti gempa, mungkin karena kejadian 11 Maret masih terbayang2 di benak saya.

Hari2 itu memang menjadi hari2 yang panjang. Berita gempa disusul berita tsunami, dan berita tsunami segera disusul berita lainnya: Fukushima Daiichi. NHK memberitakan bahwa PLTN Fukushima Daiichi mengalami masalah berkaitan dengan decay heat removal, karena backup power system nya tidak aktif akibat dibanjiri air laut ketika tsunami menerjang.

Beberapa hari kemudian (saya lupa tanggal persisnya, mungkin 15 atau 16 Maret), kami anak2 nuklir Tokodai dihubungi Teddy, dia meminta kami untuk berkumpul di KBRI untuk sebisanya membantu kedutaan berkaitan dengan krisis nuklir Fukushima. Kami (Dwi, Topan, Asril, Reynold, Deby, pak Aziz, dan saya), segera berangkat dari kampus menuju KBRI di Meguro.

Sesampainya di KBRI, kami langsung menuju ruang kerja pak Dubes M. Lutfi. Di sana sudah ada mas Kunta dan Teddy, pak Dubes sendiri sedang berdiskusi via Skype dengan pak Liem dan pak Sidik, dua alumni nuklir Tokodai yang (sedang) bekerja di Jepang. Di ruangan itu semua orang terlihat serius sekali.

Keputusan yang harus diambil pak Dubes memang tidak main2: Apakah perlu untuk mengevakuasi seluruh WNI yang yang berada di Jepang?

Kalau jawabannya ‘ya’, maka bisa dibayangkan kerumitan proses mobilisasi ribuan orang dari seantero Jepang. Dan kalau jawabannya ‘tidak/belum’, maka beliau harus menjamin bahwa keadaan memang masih aman terkendali.

Di tengah rapat, tiba2 pak Dubes menyuruh agar salah seorang dari kami untuk mengikuti briefing di MOFA. Ternyata sejak krisis Fukushima mencuat, setiap hari MOFA mengadakan briefing untuk menjelaskan keadaan pada seluruh perwakilan diplomatik negara2 sahabat. Entah bagaimana akhirnya saya yang ditugaskan ke MOFA, bersama beberapa orang dari kedutaan tentu. Karena sebelumnya tidak tahu, saat itu saya jelas tidak memakai pakaian resmi, ya sudah saya pinjam saja atasan jas. Kemeja kotak2 tanpa dasi+atasan jas+celana jeans+sepatu casual, berangkatlah saya untuk mengikuti briefing di Kemenlu Jepang, dengan menggunakan mobil Mercy hitam ber-plat nomor diplomatik :P. Memang aneh rasanya, tapi mau bagaimana lagi.

Di MOFA, briefing dimulai tepat waktu, jam 16.30 kalau tidak salah. Di depan ada 5 atau 6 orang yang akan memberi penjelasan, perwakilan dari beberapa institusi, seperti MOFA, TEPCO, NISA, dll. Tapi sepertinya mereka bukan orang2 teknis, sehingga penjelasannya pun bukan penjelasan teknis, lebih seperti penjelasan politis. Briefing nya tidak terlalu lama juga, paling sekitar 40 menit, intinya mereka bilang keadaan masih terkendali, walaupun ada beberapa aspek yang mereka belum bisa (belum mau?) pastikan statusnya.

Maka mulai hari itu, setiap hari kami membantu kedutaan untuk semampu kami memberi pertimbangan dan masukan2 teknis mengenai status Fukushima. Kami juga menghubungi anak2 nuklir lainnya dari Todai dan Tokai Univ.

Dengan demikian, secara tidak resmi terbentuklah “Tim Nuklir KBRI”.

Pak Dubes mempersilahkan kami untuk menggunakan ruangan di lantai 7 sebagai markas kami, lengkap dengan banyak makanan dan minuman tentu :). Jadilah sejak hari itu, pagi hari kami bekerja di lab kami masing2, dan sore menjelang malam kami bekerja di lantai 7 KBRI. Kalau sudah kemalaman, maka kami menginap saja di ruangan itu, karena ada matras2 yang lumayan nyaman juga.

Bersambung lain waktu, rasanya masih lumayan banyak yang belum sy ceritakan… 🙂

Catatan perjalanan: The AJK-SME Conference 2011

Bulan kemarin, selama 5 hari (24 – 28 Juli) saya berada di kota Hamamatsu, prefektur Shizuoka (~200 km barat daya Tokyo), untuk menghadiri sebuah konferens, The ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011.

Konferens nya dimulai hari Senin pagi (25 Juli), saya berangkat hari Minggu sore (24 Juli) naik Shinkansen Hikari dari stasiun Shinagawa, perjalanan ke Hamamatsu tidak terlalu lama juga, hanya sekitar 1,5 jam. Saya sampai di stasiun Hamamatsu sekitar jam 4.30 sore, dan langsung menuju tempat konferens untuk registrasi. Tempatnya terletak tepat di sebelah stasiun, namanya ACT City Hamamatsu, sebuah convention center yang megah. Sedangkan Sensei saya katanya akan tiba hari Senin sore.

Stasiun Hamamatsu, tempat konferensnya di kompleks gedung yang tinggi itu

Selesai melakukan registrasi, saya langsung menuju hotel tempat saya akan menginap, namanya Comfort Hotel Hamamatsu, tempatnya hanya sekitar 10 menit on foot dari stasiun, dengan tarif 4500 Yen/malam. Yah namanya juga hotel kelas mahasiswa, kamarnya tidak terlalu besar, tapi lengkap dan nyaman, ada digital TV, kulkas mini, AC, internet connection (ini yang paling penting :)), dan tentu saja kamar mandi yang nyaman dan toilet canggih dengan berbagai tombol. Di hotel saya hanya istirahat sebentar, solat, dan ganti baju, dan sekitar jam 6 sore kembali lagi ke tempat konferens untuk menghadiri welcome reception, alias free dinner :mrgreen:. Lumayan banyak juga yang datang ke welcome reception, beberapa partisipan dari Amerika terlihat hadir juga, saya juga bertemu seorang exchange student dari Teknik Fisika ITB yang kebetulan menjadi panitia, kalau tidak salah namanya Erman.

Hari senin pagi acaranya secara resmi dibuka dengan sebuah opening ceremony oleh beberapa orang penting di bidang fluid engineering, dan kemudian dilanjutkan dengan plenary session oleh 3 pembicara utama. Presentasi yang cukup menarik disampaikan oleh seorang businessman asal Australia, Jayden Harman, ia berbicara mengenai Biomimicry, sebuah konsep yang sepertinya cukup baru tentang nature-inspired technology yang berhubungan dengan fluid. Ia memaparkan bagaimana hardware yang di desain oleh perusahaannya berdasarkan konsep biomimicry dapat beroperasi lebih efektif dan efisien dibanding produk2 sejenis lainnya. Ia bahkan sempat berbicara sedikit mengenai sebuah proyek kerjasama dengan US DOE dan Pentagon mengenai atmospheric engineering.

Suasana Opening Ceremony

Plenary session selesai jam 12 siang, dan kemudian dilanjutkan dengan luncheon lecture: makan siang sambil mendengarkan lecture, hmm.. asik juga :). Makan siang yang disediakan panitia adalah bento khas Jepang, terdiri dari beberapa kotak kecil2 yang isinya hampir semuanya hidangan laut: ikan, udang, cumi2, dll. Juga ada belut (unagi) panggang dengan saus manis, yang katanya memang khas Hamamatsu, beuh.. guriiih banget rasanya :). Kemudian acara dilanjutkan dengan parallel technical sessions sampai jam 6 sore, nah.. ini baru mulai serius.. :mrgreen:.

Saya pergi ke Hamamatsu ini bersama 2 teman lab, Marco dan Rui. Kebetulan former advisor nya Marco di Itali datang juga, namanya Prof. Fabio Inzoli. Mungkin dalam rangka menyambut beliau, malam itu kami dinner bersama, saya, Sensei, Marco, Rui, dan beberapa orang lainnya. Malam itu kami makan sushi, sashimi, dan tempura di sebuah restoran di kompleks stasiun Hamamatsu. Selesai dinner, kami menuju lantai 30 ACT Tower, untuk minum2 sambil menikmati pemandangan malam, tentu saja saya tidak ikut minum alkohol, saya hanya minum Canadian ginger ale.

Saya kebagian presentasi pada hari ketiga, jadilah hari Senin dan Selasa saya menjadi partisipan yang baik, saya selalu hadir dari pagi sampai sore, selain karena pikiran tidak tenang (karena belum presentasi), juga untuk mencuri sebanyak2nya teknik presentasi dari peserta lain :mrgreen:. Beberapa presenter benar2 sangat keren, sempat agak terintimidasi juga, tapi mau bagaimana lagi, life must go on (!). Jadilah hari Senin dan Selasa saya tidak jalan2 kemana2, paling hanya ke kombini beli onigiri dan beberapa makanan kecil untuk light dinner.

Salah satu sudut kota Hamamatsu

Akhirnya tiba juga hari Rabu, saya kebagian presentasi pertama di second morning session, dan hal yang menurut saya lumayan aneh adalah bahwa chairman session nya Sensei saya sendiri (!). Agak dagdigdug juga sih, apalagi chairman itu salah satu tugasnya kan ngasih pertanyaan ke presenter, terutama kalau ga ada pertanyaan dari penonton, lah apa jadinya kalo Sensei sampai nanya2 ttg kerjaan/riset saya?? :mrgreen:, masa pembimbing nanya ke yang dibimbing di depan semua orang? pasti bakalan awkward kan..

Setelah di introduce oleh chairman (yang adalah Sensei saya sendiri), saya malah kelepasan bilang thank you chairman (!), harusnya kan saya bilang thank you professor, beberapa hadirin tampak tersenyum, ya sudah lah.. namanya juga kelepasan..

Saat itu audiens nya tidak terlalu banyak, padahal ruangannya lumayan besar (entah saya harus bersyukur atau menyesal :)), dan beberapa dari mereka memberi pertanyaan pada presentasi saya, jadinya chairman tidak perlu memberi pertanyaan, fiuhh.. lega juga rasanya.. 🙂 Setelah presentasi, pikiran jadi jauh lebih tenang, tapi hari itu saya tetap jadi partisipan yang baik, saya hadiri session2nya sampai sore. Acara kemudian dilanjutkan dengan Conference Banquet, yang berupa standing party, dan diisi hiburan live music oleh “ibu2 pkk” Hamamatsu yang memainkan Koto, alat musik tradisional Jepang yang mirip kecapi. Hmm it was quite entertaining :).

"Ibu2 pkk" Hamamatsu memainkan alat musik Koto

Malamnya saya mulai melihat2 peta wisata Hamamatsu, rencananya besoknya ingin jalan2 juga :). Karena saya suka arkeologi, yang pertama saya cari adalah museum! Ternyata ada museum yang sepertinya cukup menarik di Hamamatsu, namanya Hamamatsu City Museum, menurut brosur, koleksi museum ini adalah benda2 kuno yang ditemukan di sekitar Hamamatsu, termasuk beberapa artefak dari Jomon Culture! Menarik sekali! Cuma museum ini lumayan jauh dari tempat konferens, harus naik bis segala. Saya tidak jadi mengunjungi museum ini, karena rencana saya hanya jalan2 ke tempat2 disekitaran tempat konferens, on foot.

Hari kamis saya check out dari hotel dan langsung menuju stasiun, bukan untuk pulang, tapi untuk menaruh koper saya di stasiun :). Ini salah satu hal yang paling saya suka dari stasiun kereta di negara2 maju: ada coin locker yang aman untuk menyimpan koper kita, cukup dengan 500 Yen, saya tidak usah lagi membawa2 koper besar saya, sesuatu yang sepertinya di Indonesia (lagi2) belum ada. Memang sebenarnya saya bisa saja menitipkan koper saya di hotel atau di tempat konferens, but for some reason, saya lebih suka coin locker, rasanya lebih bebas :).

Kemudian saya datang ke morning technical sessions dan mendengarkan beberapa presentasi. Dan ketika coffee break jam 10.30, saya menyelinap keluar, tujuan saya: Hamamatsu Castle! Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat konferens, hanya sekitar setengah jam berjalan kaki. Ternyata kastil nya relatif kecil, jauh lebih kecil dari Osaka castle, dan harga tiket masuknya 150 Yen.

Hamamatsu Castle

Yang istimewa dari kastil ini adalah bahwa shogun pertama dari keluarga Tokugawa, Tokugawa Ieyasu (memegang jabatan shogun dari 1603-1605), pernah tinggal disini semasa mudanya, karena itu ga heran kalau di sebelah kastil ini ada patung perunggu Tokugawa Ieyasu. Menurut saya patungnya terlalu sederhana untuk seorang figur sejarah besar yang berhasil mendirikan sebuah dinasti/rezim militer yang bertahan selama lebih dari 250 tahun.

Patung Shogun Tokugawa Ieyasu

Kastil ini terdiri dari 3 lantai dan sebuah ruangan bawah tanah kecil, dimana terdapat sebuah sumur. Lantai satu dan dua berisi beberapa benda2 bersejarah, terutama yang berhubungan dengan sang shogun, seperti baju besi, senjata2, patung, dll. Ada juga beberapa lukisan dan foto2. Sedangkan lantai tiga hanya berfungsi sebagai menara pengamat.

Rekonstruksi pakaian perang sang Shogun

Setelah selesai dengan Hamamatsu castle, saya kemudian jalan2 mengelilingi castle park. Taman ini lumayan luas juga, dan seperti biasa, amat sangat bersih dan asri. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan taman2 di Tokyo: para lansia yang sedang kongkow dan ibu2 yang bermain2 dengan anak2 balitanya. Hari itu di taman kebetulan ada anak2 sekolah yang sepertinya sedang bersiap2 mau olah raga. Dari taman saya kembali ke tempat konferens untuk makan siang, lumayan lapar juga setelah lebih dari 2 jam berjalan kaki :).

Setelah makan siang, saya datang ke plenary session terakhir, sampai sekitar jam 3 sore. Setelah itu saya langsung menuju tujuan jalan2 kedua: The Hamamatsu Museum of Musical Instruments. Saya mengunjungi tempat ini lebih karena lokasinya yang dekat dengan stasiun, maklum hari sudah sore juga. Bangunan museum nya bergaya modern, dan ruang eksebisinya hanya terdiri dari dua lantai, tiket masuknya seharga 400 Yen.

Alat2 musik asal India, suaranya lumayan unik juga

Sesuai namanya, museum ini isinya alat2 musik dari hampir seluruh dunia, termasuk dari Indonesia! Yang mewakili Indonesia adalah gamelan Jawa dan Bali, yang menempati space luas di tengah museum. Yang menarik dari tempat ini adalah kita bukan hanya bisa melihat alat2 musik tersebut, tapi juga bisa mendengarkan suaranya melalui headphone yang tersedia di depan setiap instrumen yang dipajang.

Salah satu sudut museum, tersedia headphone untuk setiap alat musik

Selesai dari museum musik, saya langsung menuju stasiun Hamamatsu untuk pulang ke Tokyo, saya kembali naik Shinkansen Hikari dan berangkat jam 5.10 sore. Alhamdulillah perjalanan lancar dan saya tiba kembali di rumah sekitar jam 8 malam. Fiuhh.. lumayan lelah juga.. anyway it was a quite interesting trip, alhamdulillah, although the place is just 200 km from Tokyo! :mrgreen:

Fin

*Beberapa foto bisa dilihat di album2 berikut:

ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011
Hamamatsu Castle
Hamamatsu Museum of Musical Instruments

My 2010 summer internship

Hari ini saya akhirnya menyelesaikan summer internship saya selama 3 bulan di sebuah lembaga penelitian di central Tokyo, Jepang.

Kantor saya terletak di lantai 8 gedung dengan kaca warna hijau itu

Internship selama 3 sampai 6 bulan ini wajib diambil oleh mahasiswa2 Tokodai yang enrolled in the so-called integrated program. Perihal internship ini sempat bikin pusing juga, masalahnya kampus mewajibkan kami untuk mengambil internship somewhere outside campus, tapi Tokodai tidak memfasilitasi tempat internship-nya, dengan kata lain kami harus berusaha mencari sendiri. Memang saya sempat beberapa kali mendapat email dari kantor jurusan tentang tawaran internship (インターンシップ) dari beberapa perusahaan Jepang, tapi email2 itu 100% berbahasa Jepang, jadi memang sepertinya bukan ditujukan untuk kami para gaijin. Kami biasanya mengandalkan Sensei untuk menemukan tempat internship ini, yang memang biasanya memiliki jaringan yang kuat di lingkungan korporasi2 maupun research institute di luar kampus.

Sensei sepertinya sempat dibuat repot juga dengan hal ini, dan sempat meminta saya untuk mencoba berusaha mencari sendiri, maklumlah para profesor memang biasanya selalu super sibuk. Jadilah sekitar bulan April kemarin saya mencoba mencari peluang iternship.

Karena aturan tidak menyebutkan bahwa tempat internship harus berada di Jepang, wah saya pikir ini kesempatan untuk berpetualang ke luar Jepang, lalu kemana dong? kemana lagi, tentu ke my favorite continent: Europe!

Di Eropa terdapat beberapa nuclear-related organizations, terutama di Jerman, Prancis, Benelux, dan Austria. Waktu itu saya desperately 🙂 mengirim ke hampir semuanya, menanyakan tentang peluang internship.

Dari sekian banyak email yang saya kirim, mayoritas ditolak secara sopan dan halus =), hanya 2 yang mendapat respon positif.

Yang pertama dari kantor ENEN di Prancis, dibalas sekitar awal April. Tapi balasan emailnya kurang jelas juga maksudnya, orang yang membalas email saya ini menjelaskan tentang program2 internship bidang nuklir di Eropa, ia juga bilang akan berusaha membantu saya, orang yang baik =).

Dan yang kedua dari SCK-CEN di Belgia, dibalas sekitar pertengahan Mei. Yang ini isinya jauh lebih jelas, dari seseorang yang tampaknya senior researcher di tempat ini. Ia menawarkan internship yang akan dimulai  sekitar Agustus-September. Ia bahkan langsung menyebutkan proyek internship nya secara spesifik, yaitu design of spent fuel storage pond. Ia menjelaskan bahwa intern akan mendapat fasilitas asrama dan juga monthly allowance, tapi mereka tidak menaggung biaya pesawat.

Waduh.. sempet deg2an juga dapet email dari Belgia ini.. apa bener saya akhirnya akan ke Eropa..??? selama 3 bulan pula!! Waw.. waaaw… 🙂

Tapi saya berfikir lagi tentang beberapa hal, seperti masalah keuangan (always! :mrgreen:), administrasi, tema proyek, dll dll.. hmm.. kalau saya ke Eropa selama 3 bulan sepertinya urusan2 di Tokyo bakal jadi lumayan ribet.. belum lagi tentang ongkos pesawat PP dari-dan-ke Belgia.. hmpff.. =(

Jadi gimana dong..?

Akhirnya untuk kedua kalinya, saya tidak jadi lagi ke Eropa.. mungkin memang belum saatnya..

Ternyata Sensei juga selama ini berusaha mencarikan internship untuk saya, beliau bilang di sebuah lembaga penelitian bernama The Institute of Applied Energy (IAE), yang berlokasi tidak terlalu jauh dari kampus Tokodai.

Kantornya terletak di Minato-ku, sebuah ku yang menurut saya sangat elit, letaknya bersebelahan dengan Chiyoda-ku, ku yang bisa dibilang merupakan pusat pemerintahan Jepang. Kantor ini lumayan dekat dengan Tokyo Imperial Palace, National Diet Building of Japan, dan Hibiya park (tempat makan siang yang asyik :)). Stasiun subway terdekatnya bernama Uchisaiwaicho.

Suasana jam makan siang di Hibiya park

Saya memulai internship ini pada hari Senin tanggal 24 Mei. Hari itu saya berkenalan dengan orang2 di divisi energi nuklir IAE, anggotanya tidak terlalu banyak, kurang dari 10 orang (seluruhnya bergelar Ph.D) plus seorang sekertaris bernama Harasawa-san. Saya juga berkenalan dengan  2 orang dari divisi lain yang ternyata lumayan bisa berbahasa Indonesia, yang seorang bercerita bahwa 25 tahun yang lalu ia pernah studi selama setahun di UI.

Yang menjadi tutor saya di IAE ini adalah teman lama Sensei, seorang Ph.D paruh baya bernama Dr. Noriyuki Shirakawa, ia bilang panggil saja “Shirakawa-san”. Hari itu ia menjelaskan hal2 daily life di kantor itu, seperti letak mesin minuman, microwave, letak kantor pos, bank, restoran, dll. Ia juga meminta saya menyiapkan sebuah presentasi untuk orang2 divisi nuklir IAE, tentang apa2 yang sudah saya kerjakan di Tokodai.

The National Diet Building of Japan

Karena pada dasarnya IAE tidak memiliki program internship, maka yang saya kerjakan di kantor itu bisa dibilang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka, saya tetap mengerjakan riset saya seperti biasa, atau dengan kata lain saya hanya memindahkan kursi dan meja saya dari Tokodai ke IAE, aneh memang.. :mrgreen:

Tutor saya orangnya baik, setiap saya punya pertanyaan2 yang berhubungan dengan riset, ia selalu berusaha untuk menjelaskan dan membantu saya. Jam kerja saya adalah mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore, dan setiap hari Jumat saya meminta izin untuk melaksanakan solat Jumat di SRIT, hanya 15 menit naik subway dari IAE, tapi plus 20 menit jalan kaki dari stasiun Meguro :).

Tidak terasa 3 bulan akhirnya berlalu, kemarin tutor saya memberi omiyage berupa sebuah wind bell keramik khas Jepang berwarna merah. Terima kasih Shirakawa-san, hope to see you again soon! =)

Beberapa foto bisa dilihat di link berikut:

Minato and Chiyoda area, Tokyo

Short URL: http://wp.me/p61TQ-uV

Gadis peniup seruling

Senzoku-ike shopping street

Kemarin siang saya pergi ke toko Daiso di daerah Senzoku-ike  untuk membeli sesuatu. Sepulang dari toko itu saya melewati sebuah danau kecil, karena matahari sedang bersinar cerah dan kebetulan ada bangku yang kosong, saya pikir asyik juga duduk2 melepas lelah sejenak.

Sebenarnya saya cukup sering melewati danau kecil itu, dan sesekali berhenti sejenak untuk sekedar menikmati pemandangan. Tapi ternyata hari itu ada yang berbeda, sesaat setelah saya duduk di bangku pinggir danau, sayup2 saya mendengar suara seruling.

Santai sejenak di pinggir danau..

“Suara seruling dari mana?” pikir saya dalam hati..

Ketika saya menoleh, ternyata di bangku paling kiri, dibawah sebuah pohon, seorang gadis Jepang sedang memainkan serulingnya.. ia duduk seorang diri di bangku pojok itu..

Gadis di bangku pojok itu yang memainkan seruling

Ia memainkan lagu yang terdengar tradisional, saat itu ia tidak terlihat seperti orang yang sedang berlatih, sepertinya ia memainkan seruling itu dengan hatinya.. perasaan saya pun jadi ikut terhanyut..

Hmm.. apa yang sedang kau pikirkan wahai gadis peniup seruling..?


Short URL: http://wp.me/p61TQ-ui

Jemuran siapa ini??

Komentar seorang teman jepang tentang tagihan ‘rumah tangga’ saya cukup mengganggu saya selama beberapa hari kemarin. Saya cerita padanya bahwa tagihan listrik, air, dan gas bbrp bulan ini lumayan mahal, masing2 hampir mencapai 4000 yen, atau kalau ditotal lebih dari 10000 yen, dia bilang “loe tinggal sendiri kan?” saya bilang iya, dia jawab kynya itu trlu mahal, harusnya sekitar 2000an. Hmm.. penasaran sy tanya seorang teman Indonesia yg tinggal tidak jauh dari tempat saya dan juga tinggal di single room, dia jg bilang masing2 sekitar 2000 yen! hmm.. seems something is wrong…

Nah pagi ini, ketika saya membuka jendela, saya mendapati pemandangan ini: (!)

celana kolor, kaos kaki, dll.. d balkon gw

Seingat saya, saya tidak mencuci baju tadi malam.. saya amati lagi ternyata jemuran di balkon kamar saya itu bukan jemuran saya! Celana kolor, kaos kaki, dll itu 100% bukan punya saya! lah what’s goin on?!?

Prasangka buruk segera menyergap, “ooo.. jd selama ini tetangga2 kamar sebelah suka pake mesin cuci saya untuk nyuci baju mereka too!! kan mesin cuci ada d luar n klo siang sy seharian ngampus!! pantesan tagihan2 gw bengkak!! pasti mereka nyucinya pake air panas pula!! HHHH!!!! kurang uajjjiaaarrrr!!!!”

Saya pun segera mengontak calo kos2an sy utk komplain, dan dia pun segera menghubungi si empunya kos2an, kata dia si owner menjelaskan bahwa kemarin bagian luar kamar di sebelah kamar saya di reparasi oleh tukang, karena itu sementara jemuran si tetangga sebelah dititipkan dulu di balkon jemuran saya, nah si tukang lupa mengembalikan jemuran2 itu ke tempat semula.. simpel toh..

Fiuhh.. jadi tenang deh.. ternyata tetangga2 sebelah gw emang seperti yg gw duga, orang2 baek.. =)

*hmm.. tp pertanyaan gw blm terjawab, knapa tagihan2 gw mahal..?

SMSan gratis pake YM

Hmm.. kynya udah pd tau sih.. tp gpp deh iseng2 sy tulis aja, kali aja ada yg blm tau..

SMSan dari Jepang ke Indonesia bisa dilakukan dengan gratis pake Yahoo Messenger, ya kaya chatting biasa aja, n reply dari Indonesia bakal masuk ke YM kita.

Caranya..? gampang bos.. d YM klik aja Actions > Send an SMS Message

Actions > Send an SMS Message

Kemudian akan ada 2 pilihan utk mengirim sms:

  1. Mengirim ke nomor yg sebelumnya sudah disimpan di Contact Details
  2. Menulis nomor HP secara langsung, jangan lupa selalu pake kode negara +62, contoh-> +62812xxxxxx

Mengirim ke nomor yg sdh tersimpan di Contact Details
Menulis nomor HP secara langsung (+62812xxxxxx)

Setau saya kita hanya bisa ngirim SMS ke nomor GSM di Indonesia (Telkomsel in my case), sy pernah coba kirim ke bbrp nomor CDMA tp ga pernah nyampe.

Tagihan HP di Indonesia nya gimana? udah setaun lebih sy pake fitur ini utk SMSan sm keluarga di Bandung, n kata mereka sih tagihan HP mereka biasa2 aja (bener ga yah??), jd kynya tarif SMS biasa aja, tp kurang tau juga sih pastinya gimana.. ada yg punya info?

Semoga bermanfaat :mrgreen: