Hey, what's going on?

Archive for the ‘social & politics’ Category

Terimakasih dan hormat saya untuk anda, Pak Ahok

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 24, 2017

Advertisements

Posted in my thought, social & politics | 1 Comment »

“Revolusi Mental” Jokowi

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 4, 2014

http://nasional.kompas.com/read/2014/04/24/2104492/Visi.dan.Misi.Jokowi.Revolusi.Mental

Saya setuju dengan gagasan Jokowi bahwa bangsa ini perlu sebuah revolusi mental.
Baik itu rakyatnya, dan lebih2 para pejabatnya.

Lalu mental macam apa yang perlu di-revolusi?

Mental ingkar janji, contohnya gubernur yang berjanji pada rakyatnya bahwa ia akan bekerja melakukan pembenahan selama 5 tahun dan tidak akan meninggalkan jabatannya, tapi ternyata diingkari setelah ia terpilih. Sekali ingkar janji, akan lebih ringan untuk melakukan ingkar2 berikutnya.

Mental lebih mengutamakan dan mematuhi mandat dari atasan ketimbang mandat langsung dari rakyat. Meskipun berarti mengingkari janji pada rakyat yang memilihnya. Apa jadinya kalau seorang pemimpin terpilih, menganggap enteng mandat rakyat yang memilihnya.

Mental tidak punya pendirian. Contohnya gubernur yang dari dulu kalau ditanya mau nyapres apa tidak, jawabnya muter2 dan tidak pernah memberi jawaban pasti. Ternyata karena ia menyerahkan semuanya ke atasannya, meski ia sudah berjanji pada rakyat yang memilihnya untuk tidak nyapres. Tidak ada pendirian pribadi. Apa jadinya kalau seorang pemimpin harus mengambil keputusan, tapi ternyata malah menyerahkan ke atasannya.

Mental2 seperti ini yang harus di-revolusi. Dan jangan sampai seorang capres memiliki karakteristik mental seperti ini.

Mari kita dukung “revolusi mental Jokowi” 🙂

Link2 yang mungkin saja terkait:
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/07/1629274/Jokowi.Enggan.Tonton.Video.Janji.5.Tahun.Pimpin.Jakarta
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/03/15/n2fxct-maju-capres-jokowi-ingkari-janji-kampanyedi-pilkada-dki
http://nasional.kompas.com/read/2014/03/14/2127336/Dikritik.Ingkari.Janji.Pilgub.DKI.Ini.Komentar.Jokowi

Komentar:

barangkali pak Jokow mikirnya bila dia RI1 kan mimpin rakyat jkt juge…. bahkan > 5 th ……. jd nggak ingkar janji …. hehehehe.

Tanggapan saya:

Pertama2, karakteristik tugas, wewenang, dan tanggungjawab jabatan presiden itu sangat berbeda dengan jabatan gubernur. Presiden itu tugas2nya lebih bersifat makro dan holistik utk seluruh Indonesia. Akan aneh sekali kalau presiden mengurusi banjir dan macet Jakarta.

Kedua, hal itu berbahaya dong, saat ini saja daerah2 lain sudah cemburu dengan ketimpangan pembangunan antara ibu kota dengan daerah, apalagi kalau presiden sampai menunjukan perhatian yg berlebihan utk Jakarta saja, bagaimana dengan daerah lainnya?

Ketiga, dan yang paling mendasar, Jokowi sudah berjanji bahwa ia “Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014.” (http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/03/15/n2h8sz-ingat-inilah-19-janji-jokowi-saat-pilgub-dki-2012). Janji ini yang kita soroti, janji ini yang sudah ia ingkari. Mengingkari janji publik seperti ini, menurut saya terlalu kasar secara etika politik. Apalagi ini karena ia lebih mematuhi mandat satu orang ketimbang mandat jutaan rakyat Jakarta yang sudah memilihnya. Siapa sebenarnya “tuan” yang ia patuhi?

Saya juga dulu sangat mendukung Jokowi di pilgub DKI, saya juga ikut mendoakan beliau agar bisa menang dan membenahi ibu kota kita. Tapi ternyata kenapa Jokowi jadi begini? Saya kaget dan kecewa berat mendapati Jokowi dengan mudahnya mengingkari janji publiknya. Ini terlalu kasar.

🙂

Posted in social & politics | 1 Comment »

PEMILU, Parpol, Capres, Ingkar Janji Politik

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 1, 2014

Pemilu legislatif dan pemilu presiden sudah di depan mata.

Ingat,

jangan pilih partai juara korupsi,

jangan pilih partai yang petingginya hobi menjual BUMN,

jangan pilih partai yang petingginya merelakan hutang2 koruptor BLBI,

jangan pilih partai feodal dan dinasti,

jangan pilih partai yang mengkultuskan individu,

jangan pilih partai yang menyuruh kadernya ingkar janji,

jangan pilih capres yang sudah ingkar janji,

jangan pilih capres yang bertuan tidak pada rakyat,

jangan pilih capres yang bertuan pada nyonya besar,

jangan pilih capres yang mencla-mencle,

jangan pilih capres boneka,

daan, jangan golput ya! 🙂

Salam pemilih cerdas!

Posted in social & politics | Leave a Comment »

Predicting Joko Widodo’s Fate

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 25, 2014

I predict that Joko Widodo will not get elected as the next NKRI president.

He will remain as the governor of Jakarta.

But things will not be the same again

In the aftermath of the presidential election, his popularity will drop significantly.

And from that point on, people will see him somewhat differently.

Bandung, March 25, 2014

Posted in social & politics | Leave a Comment »

Tujuh keheranan saya atas berita merdeka.com tentang PM Israel yang dikatakan merendahkan dunia Islam

Posted by Syeilendra Pramuditya on June 23, 2012

DISCLAIMER: saya sama sekali bukan ingin membahas mengenai konflik Palestina-Israel dan segala kerumitan didalamnya, saya semata2 hanya ingin meng-analisa salah satu berita di merdeka.com.

Barusan kebetulan saya melihat berita di merdeka.com yang judulnya saja sudah cukup menyita perhatian:

Netanyahu: Kaum muslim tak akan mampu saingi Israel

Beritanya bisa dilihat disini.

Entah kenapa ketika sekilas saja saya melihat berita itu, saya merasa seperti ada sesuatu yang salah. Terutama saya heran dengan gaya bahasanya yang terlihat terlalu direct. Gaya bahasa seperti ini sangat tidak biasa digunakan para politisi dunia, apalagi mereka tahu bahwa pernyataannya akan dikutip oleh media2 dunia dan berpotensi berpengaruh terhadap hubungan diplomatik, sentimen publik, political balance, dlsb. Karena itu mereka biasanya lebih suka menggunakan gaya bahasa indirect dan terkadang multitafsir.

Karena penasaran, saya ingin trace ke sumber aslinya. Ada 2 sumber yang disebut merdeka.com: foto berasal dari Reuters, dan beritanya berasal dari Yedioth Ahronot. Di website Yedioth (ynetnews.com), saya menemukan artikel yang hampir pasti merupakan sumber asli yang dikutip merdeka.com, artikelnya bisa dilihat disini.

Ketika membandingkan berita di merdeka.com dengan yang di ynetnews.com, saya malah jadi tambah heran.

Berikut ini hal2 yang membuat saya heran:

Heran pertama

Judul yang dipilih merdeka.com adalah “Netanyahu: Kaum muslim tak akan mampu saingi Israel“. Dalam bahasa Inggris, kalimat ini kira2 akan terdengar seperti:

Netanyahu said: Muslims/Islamic world will not be able/will never rival Israel.”

Saya tidak bisa menemukan pernyataan yang di-klaim dikatakan Netanyahu ini di artikel ynetnews.com, baik tersurat maupun tersirat. Saya mohon bantuan anda semua untuk memeriksanya lagi, dan tolong jelaskan kepada saya kalau anda berhasil menemukannya.

Heran kedua

Di paragraf pertama, merdeka.com menulis “Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kaum muslim sulit menciptakan teknologi mumpuni“. Dalam bahasa Inggris, kalimat ini kira2 akan terdengar seperti:

Israeli prime minister Benjamin Netanyahu said/stated that Muslims/Islamic world will have difficulty/will feel difficult/will find it difficult to invent/create/develop/devise high level/complex technologies.”

Sama seperti heran pertama, lagi2 saya tidak bisa menemukan pernyataan yang di-klaim dikatakan Netanyahu ini di artikel ynetnews.com, baik tersurat maupun tersirat. Saya mohon bantuan anda semua untuk memeriksanya lagi, dan tolong jelaskan kepada saya kalau anda berhasil menemukannya.

Kalimat yang dianggap berkorelasi mungkin saja adalah kalimat ini: Netanyahu addresses Presidential Conference, ponders whether Arabs, Muslims will be able to partake in global progress. Tapi kalimat ini (dan kata2 “ponders”, silahkan cek di kamus2) sangat sulit (if not logically impossible) untuk diartikan menjadi “Netanyahu menyatakan kaum muslim sulit menciptakan teknologi mumpuni“.

Heran ketiga

Masih di paragraf pertama, merdeka.com menulis “Dia pun memperkirakan pemerintahan Zionis bakal berjaya sepenuhnya di akhir abad nanti“. Dalam bahasa Inggris, kalimat ini kira2 akan terdengar seperti:

He predicted/expected/forecasted/believes that his country/Israel will be totally/absolutely victorious by the end of the century.”

Masalahnya sama persis dengan heran pertama dan heran kedua. Kalimat Netanyahu di ynetnews.com yang mungkin dianggap berhubungan adalah sebagai berikut:

I have no doubt that by the end of the century, militant Islam will be defeated. I don’t think you can cloister young minds.

Tapi kalimat ini menurut saya tidak bisa tiba2 ditulis sebagai Netanyahu mengatakan “Zionis bakal berjaya sepenuhnya di akhir abad“.

Heran keempat

Di paragraf kedua, merdeka.com menulis “Setelah memuji perkembangan teknologi bangsa Yahudi, dia tiba-tiba menilai bangsa Arab dan dunia muslim keseluruhan sulit mencapai kemajuan seperti Israel.” Dalam bahasa Inggris, kalimat ini kira2 akan terdengar seperti:

Netanyahu said/thought/believes the Arabs/Arab peoples/Arab nations/Arab world and the entire Islamic/Muslim world/Islamic/Muslim world as a whole will have difficulty/will feel difficult/will find it difficult to achieve such progress/advancement as that of Israel.

Masalahnya sama persis dengan heran pertama, heran kedua, dan heran ketiga.

Heran kelima

Masih di paragraf kedua, merdeka.com menulis “Pertanyaannya, ketika dunia sudah bergerak secepat ini, bisakah dunia Arab dan Islam secara keseluruhan ikut serta dalam kemajuan ini? Saya cukup ragu,” ujar Netanyahu.

Keheranan saya adalah tentang bagian yang saya garis bawahi. Kalimat di ynetnews.com yang hampir pasti merupakan sumber asli dari kalimat diatas adalah saya kutip sebagai berikut:

“The real question in our time is: will the Arab peoples, will the Islamic world, will the Islamic-Arab world and the Islamic-Iranian world all be able to partake in this bounty of progress?,” he said.

Masalahnya di kalimat ini (dan di seluruh artikel beritanya), tidak ada bagian yang bisa diartikan/diterjemahkan/di-interpretasikan (dengan benar dan logis) sebagai keraguan Netanyahu, baik secara tersurat maupun tersirat. Tidak ada kata2 “I doubt”, “I am not sure”, “I don’t believe”, dan sejenisnya.

Kemudian ynetnews.com malah menulis kalimat berikut (yang tidak dikutip oleh merdeka.com):

“The question is: can we get the devices of freedom, that is these technological breakthroughs, literally in the hands of young Muslims and young Arabs. I think the answer is: yes. That will happen. “

Di kalimat ini Netanyahu justru mengatakan yakin bahwa kaum muda Muslim dan Arab akan memiliki akses terhadap technological breakthroughs.

Heran keenam

Di paragraf kelima, merdeka.com menulis “Menanggapi isu nuklir Iran dan Korea Utara, perdana menteri dari Partai Likud ini menganggap gerakan militan merupakan ancaman nyata. Mereka berbahaya karena bodoh namun merasa kuat dengan menciptakan senjata pemusnah massal.

Di artikel ynetnews.com, sama sekali tidak ada kata2 “nuclear“, “weapon of mass destruction (WMD)“, ataupun “North Korea“. Di ynetnews.com saya juga tidak bisa menemukan kalimat yang bisa diartikan/diterjemahkan/di-interpretasikan (dengan benar dan logis) sebagai pernyataan Netanyahu “bodoh namun merasa kuat“, baik secara tersurat maupun tersirat. Terutama sekali kata2 bodoh tsb datang dari mana? sumbernya dari mana?

Heran ketujuh

Di paragraf terakhir, merdeka.com menulis:

“Saya percaya seluruh bangsa di ujung abad akan berpaling kepada demokrasi dan nilai-nilai liberal,” ujar dia. 

Dalam bahasa Inggris, kalimat ini kira2 akan terdengar seperti:

I do believe that by the end of the century, all nations will turn to democracy and liberal values

Masalahnya di ynetnews.com, sama sekali tidak ada kata2 “democracy” ataupun “liberal”, yang ada hanyalah kata2 “freedom”. Di ynetnews.com saya tidak bisa menemukan kalimat yang bisa diartikan/diterjemahkan/di-interpretasikan (dengan benar dan logis) sebagai pernyataan Netanyahu seperti kalimat diatas, baik secara tersurat maupun tersirat.

Sedikit heran tambahan

Hal lain yang membuat saya heran adalah di seluruh artikel yang saya bicarakan ini, merdeka.com menulis kata2 “Arab”, “Israel”, “Yahudi”, dan “Zionis” dengan benar, tapi kenapa merdeka.com selalu menulis kata “Muslim” sebagai “muslim” (huruf pertama bukan huruf besar)? Kata2 “Muslim” merepresentasikan sebuah entitas relijius/sosial/politik yang huruf pertamanya harus ditulis dengan huruf besar, sama seperti kata2 “Arab”, “Zionis”, dlsb. Dan coba anda periksa satupersatu portal2 utama berita dunia (Reuters, CNN, BBC, Aljazeera, Associated Press, dll), mereka selalu menulis kata2 “Muslim” dengan benar, bahkan harian Yahudi Yedioth Ahronot pun selalu menulisnya dengan benar.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan keheranan2 saya ini:

  1. Berita yang barusan saya lihat di website Yedioth Ahronot sudah diubah/diedit, sehingga berita yang saya lihat tidak lagi sama dengan berita yang dilihat oleh penulis berita merdeka.com ketika ia menulis artikelnya. Kalau ini benar, maka merdeka.com pasti bisa dengan mudah menunjukan buktinya, arsip dalam bentuk PDF atau printscreen capture misalnya.
  2. Ada beberapa artikel lain di ynetnews.com yang menjadi sumber beritanya. Tapi saya sudah coba search ynetnews.com dengan keyword Netanyahu (saya juga mencoba keyword Iran dan North Korea) dan saya menemukan hanya ada satu artikel saja yang menurut saya berhubungan dengan berita ini, tidak ada yang lainnya.
  3. Penulis berita merdeka.com menulis beritanya berdasarkan beberapa sumber, bukan hanya ynetnews.com. Kalau ini benar, maka tolong disebutkan sumber2 lainnya tersebut.
  4. Pihak merdeka.com mengirim reporternya langsung ke Israel untuk meliput berita ini, dengan demikian berita yang ditulis adalah first hand account yang bisa dipercaya. Tapi kalau ini benar, kenapa merdeka.com menulis dengan jelas bahwa sumbernya adalah Yedioth Ahronot?
  5. Dan macam2 possible explanations lainnya

Saya bukan ingin membela Israel atau Netanyahu, saya hanya ingin masyarakat Indonesia bisa mendapat berita2 yang fair, benar, dan akurat. Republik kita sudah keruh, jangan dibuat semakin keruh.

Ini adalah opini dan analisa pribadi saya, saya mohon maaf bagi yang tidak berkenan, saya juga mohon maaf bila ternyata saya salah.

Terimakasih.

http://wp.me/p61TQ-Nr

Posted in social & politics | Tagged: , , | 3 Comments »

Polling: Siapa yang akan anda pilih sebagai presiden pada pemilu 2014?

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 3, 2011

Shortlink: http://wp.me/p61TQ-EZ

Siapa yang akan anda pilih sebagai presiden pada pemilu 2014?

Jika anda memiliki calon lain, silahkan tinggalkan komentar terhadap halaman ini.

Terimakasih.

Posted in social & politics | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Opini: Survey tentang pembangunan gedung baru DPR?

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 3, 2011

Baru saja baca berita berkaitan rencana pembangunan gedung baru DPR dari link yg di-share seorang teman di Facebook.

Saya tidak terlalu mendalami ttg polemik n urgensi gedung baru DPR ini, tapi ttg usulan diadakan survey ke masyarakat, kalau maksudnya hanya untuk mengetahui opini rakyat ya boleh2 saja (walaupun kita semua sudah tahu hasilnya: pasti rakyat menolak), tapi kalau hasil survey semacam ini kemudian dijadikan acuan utama utk mengambil keputusan di masa yg akan datang, menurut sy tidak tepat juga.

DPR itu setau saya salah satu tugasnya adalah membuat keputusan2/kebijakan2 on behalf of the people they represent. Kalau membuat keputusan/kebijakan malah dikembalikan kpd masyarakat melalui mekanisme survey umum, maka apa kerja DPR dong? buat apa kita punya sistem perwakilan di DPR? kalau survey2 mulai dibiasakan, sy hawatir kalau akhirnya survey ini malah dijadikan semacam mekanisme standar utk mengambil keputusan.

Kalau memang demikian, DPR dihapus saja, akan jauh lebih cost efficient kalau kita dirikan saja sebuah lembaga survey nasional, dimana kalau ada keputusan yg harus diambil, maka diadakan survey nasional, tapi apa benar sistem seperti ini lebih baik?

Saya membayangkan kalau pertanyaan2 ini suatu hari akan ditanyakan ke masyarakat melalui survey:

  1. Apakah anda setuju kalau DPR membangun gedung baru yang megah?
  2. Apakah anda setuju Freeport menambang emas di Papua?
  3. Apakah anda setuju perusahaan2 minyak Amerika beroperasi di ladang2 gas dan minyak kita?
  4. Apakah anda setuju gubernur BI dan para dirut BUMN digaji sekian ratus juta Rupiah perbulan?
  5. Apakah anda setuju kalau ratusan pejabat diplomatik Republik Indonesia di seluruh dunia diberi fasilitas mobil dinas sekelas Mercy dan Alphard?

Entah apa jawaban rakyat.. entah apa keputusan yg akan diambil.. dan entah pula apa yang akan terjadi di Republik kita..

Sy juga termasuk yg masih kecewa dengan kinerja DPR kita, tapi saya kurang setuju kalau keputusan2 diambil melalui survey umum. Kalau memang kecewa, ya jangan pilih lagi orang2 dan partai2 yg mengecewakan tsb di pemilu parlemen berikutnya, dan pilih (dan promosikan) wakil2 kita dengan sangat selektif..

Intinya, menyalurkan aspirasi konstruktif ke DPR adalah sangat baik, tapi sebaiknya jangan sampai survey dijadikan acuan utama pengambilan2 keputusan, karena ada hal2 yang pemerintah mengetahui dan mengerti, sedangkan kita tidak.

Sekedar opini..

Posted in social & politics | Tagged: , | 1 Comment »

Empat jenis presiden, mana yang anda sukai?

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 3, 2010

Putin and Yudhoyono

Di negara2 “demokrasi” (saya beri tanda petik karena kata2 ini begitu absurd dan tidak mudah utk dipahami), biasanya masa jabatan presiden dibatasi hanya sampai 2 kali masa jabatan berturut-turut, dimana hal ini konon dimaksudkan utk mencegah seseorang utk mendominasi kekuasaan.

Untuk kasus negara2 maju yang demokrasi nya sudah matang, urusan “who is the president” mungkin tidak terlalu menarik, karena SYSTEM telah begitu mendominasi, sehingga sulit bagi seorang INDIVIDUAL untuk melakukan sesuatu yang berbeda, sekalipun si individual ini adalah presiden. Coba deh lihat Amerika, Inggris, Prancis, dll, siapapun presiden (or PM) nya, secara umum keadaan tidak akan banyak berubah, ya gitu2 aja.

Keadaan menjadi lain utk kasus negara2 berkembang, apalagi yang masih berjibaku menghadapi penyakit2 sosial yg bisa dibilang jadul: korupsi, kolusi, nepotisme, kartel bisnis, mafia, neo-kolonialisme, dll. Di tempat2 seperti ini, dimana demokrasi belumlah matang, dan SYSTEM belum terlalu mendominasi, ada kesempatan bagi seorang INDIVIDUAL untuk melakukan sesuatu yang berbeda, to significantly change something! Anda juga pasti punya perasaan seperti ini, menunggu seseorang yang tepat, the chosen one, yang akan mengakhiri zaman kegelapan di negara kita.

Bagi mereka yang beruntung (atau tidak beruntung, tergantung konteks pembicaraan), yaitu para presiden yg terpilih secara “demokratis” utk menjabat selama 2 kali berturut-turut, adalah cukup menarik bagi kita untuk mengamati tingkah polah mereka selama menjalani pekerjaan maha-berat mereka sebagai presiden.

Kalau diamati, mereka itu bisa dikelompokan menjadi 4 jenis:

Jenis 1: Play safe? sure!

Presiden2 jenis ini memang senengnya main aman, prinsipnya jangan sampai kursi jabatan mereka bergoyang terlalu kencang. Tidak harus berarti mereka buruk, beberapa diantara mereka sadar betul akan banyaknya masalah yang harus dibereskan, hanya saja alih2 berusaha melakukan perbaikan secara kilat dengan resiko menghadapi perlawanan yg hebat, mereka percaya bahwa perbaikan harus dilakukan secara pelan2 dan bertahap. Dengan gaya seperti ini, mereka berharap musuh2nya (koruptor, mafia, dll) tidak terlalu gencar melakukan perlawanan, sehingga perbaikan bisa dilakukan secara “lambat tapi pasti”. Mereka juga percaya bahwa dengan tidak terlalu menimbulkan sensasi, kesempatan untuk terpilih lagi menjadi lebih besar. Mungkin salah satu tujuan mereka adalah membangun fondasi yang kokoh dan kuat agar perbaikan bisa diteruskan oleh presiden berikutnya. Baik dimasa jabatan yang pertama maupun yang kedua, gaya mereka kurang lebih sama, selalu main aman.

Jenis 2: Play safe, at the beginning

Presiden2 jenis ini sedari awal sudah punya target untuk menjabat selama dua periode, dan cukup optimis untuk bisa meraihnya. Di masa jabatan mereka yang pertama, mereka mirip dengan jenis 1, tidak terlalu membuat sensasi, tujuannya juga kurang lebih sama, agar perlawanan dari para penjahat negara tidak terlalu kuat. Dengan demikian mereka juga jadi punya kesempatan untuk melakukan konsolidasi sumber daya untuk digunakan kemudian pada masa jabatan yang kedua. Dengan terciptanya rasa aman dan stabilitas sosial, rakyat pun cukup happy dan popularitasnya menjadi naik, mereka pun terpilih lagi untuk kedua kalinya. Dimasa jabatannya yang kedua, barulah ia bergerak secara serius dan progresif, kalau perlu sensasional, satu alasan adalah ia sadar ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk melakukan perbaikan nasional, inilah saatnya memberangus penjahat2 negara semaksimal mungkin.

Jenis 3: Play safe, at the end

Presiden2 jenis  ini awalnya tidak terlalu optimis bahwa ia akan terpilih lagi utk yang kedua kalinya, sehingga ia selalu berpikir bahwa mungkin ini adalah satu2nya kesempatan baginya untuk bergerak. Segera setelah terpilih, mereka sering membuat sensasi, misalnya dengan sering meng-ekspose penangkapan koruptor kelas kakap, mengumumkan diperbaharuinya kontrak2 pertambangan minyak, gas, emas, dll. Mereka mendapat perlawanan yang hebat dari para penjahat negara, tapi somehow mereka berhasil mengatasinya sehingga tidak sampai jatuh dari jabatannya. Sensasi2 yg mereka buat secara otomatis mendongkrak popularitas mereka, sampai akhirnya terpilih lagi untuk kedua kalinya. Dimasa jabatan yg kedua, berdasarkan pengalaman sebelumnya, mereka mulai merasa sedikit hawatir dengan tingkat perlawanan yang mereka hadapi, yah bagaimanapun mereka juga manusia biasa yg bisa merasa cemas. Mereka hawatir para penjahat negara akan melakukan balas dendam habis2an setelah mereka turun dari jabatan presiden. Jadilah performa mereka turun di masa jabatan yg kedua, dan lebih memikirkan tentang soft landing, alias agar bisa turun dari jabatan kepresidenan dengan aman.

Jenis 4: Play safe? no thanks.

Presiden jenis bisa dibilang orang2 istimewa yg punya misi, a man with mission, yang sudah sangat muak dengan keadaan, sedari awal mereka bertekad untuk mendedikasikan dirinya untuk melakukan perbaikan nasional semaksimal mungkin. Jauh2 hari mereka sudah punya target dan strategi yang sistematis tentang apa yang akan dilakukan bila terpilih menjadi presiden. Bisa dibilang gaya kepemimpinan mereka mirip dengan jenis 3 pada masa jabatan yang pertama, dan mirip dengan jenis 2 pada masa jabatan yang kedua. Pada masa jabatan yang pertama, mereka berfikir bahwa mungkin ini adalah satu2nya kesempatan, dan pada masa jabatan yang kedua mereka berfikir bahwa ini adalah kesempatan terakhir, jadilah mereka selalu bergerak secara progresif dan pantang menyerah. Gaya seperti ini tentu menimbulkan sensasi dan perlawanan yang hebat dari para penjahat negara, tapi mereka seolah tak perduli dan terus saja bergerak dengan program2 perbaikan nasionalnya.

– – –

Secara pribadi, saya pikir untuk saat ini Republik Indonesia butuh presiden jenis 4, bagaimana menurut anda?

Posted in social & politics | Tagged: , | 2 Comments »

Kwik Kian Gie: negarawan teladan

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Photo courtesy of kompas.com

Ahh.. tak pernah habis rasa kagumku pada pak Kwik..

Cerdas dan lurus..

Sosok negarawan nasionalis yang benar2 patut diteladani..

Satu prinsipnya: tidak pernah sudi negeri nya dibodohi dan dibuat merugi!

Kwik tidak pernah sudi dibodohi bangsa lain, begitupun memang tidak ada ‘orang luar’ yang mampu membodohinya, tragis ia malah dibodohi orang sebangsanya sendiri..

Kutunggu sosok sepertimu menjadi panglima tertinggi pembenahan ekonomi negeriku tercinta.. orang lurus saja tidak cukup, orang cerdas saja tidak cukup, cerdas dan lurus baru cukup.. ups masih kurang satu hal: kuasa, ya.. siapa pun yang ingin mengubah tentu harus punya kuasa..

Teruslah berjuang pak Kwik.. biar aku, kami, dan mereka terinspirasi olehmu..

Terima kasih Kwik Kian Gie..

*oia satu hal lagi, I like his style, dia itu kalau berbicara tenang, logis, intelek, tajam, ber-substansi, tapi ngga njelimet n mampu bikin orang jadi ngerti, karena dia itu berbicara bukan untuk biar dibilang keren, pinter, dll, but simply biar yang denger jadi ngerti, luar biasa..

Posted in social & politics | Tagged: | Leave a Comment »

Wakil jabatan eksekutif: perlukah?

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Saya baru saja membaca sebuah post di sebuah portal berita, mengenai pernyataan mantan wapres Jusuf Kalla bahwa wapres kalah dari camat (dlm hal wewenang dan kekuasaan). Sebenarnya sudah bbrp lama sy sering bertanya pd diri sendiri tentang keberadaan wakil sebuah jabatan eksekutif, apa benar perlu ada?

Maksud sy dengan istilah wakil eksekutif disini adalah wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati, dlsb. Saya sendiri adalah termasuk orang yang menyukai struktur organisasi yang rigid dan jelas, jelas siapa atasan, jelas siapa bawahan, jelas siapa harus nurut sama siapa, jelas siapa berhak memerintah siapa, intinya struktur komando yang jelas, yeap.. seperti di militer. Saya tidak percaya bahwa dua jabatan yang dipegang dua orang yang berbeda, bisa memiliki wewenang yang benar2 setara. Bahkan dua jenis jabatan dengan hierarki yg -secara de facto– kurang jelas, bisa berbahaya bagi keseluruhan struktur organisasi.

Sekarang ambil contoh kasus wakil presiden: wapres itu apanya presiden ya?

Apa wapres itu bawahan presiden kah? kalau benar bawahan, lalu siapa bawahan wapres? dan bagaimana posisi wapres relatif terhadap para menteri, panglima militer, kapolri, dlsb? apakah diatas mereka? ataukah sejajar? atau bagaimana??? bisakah wapres memerintah menteri?? oke jawabannya jelas bisa, tapi haruskah para menteri nurut apa kata wapres?

Atau wapres itu adalah pemain cadangan terhadap posisi presiden? kalau benar cadangan, lalu apa kerjanya selama presiden baik2 saja? masa seharian main facebook? Jabatan wakil presiden itu 100% dibiayai oleh rakyat lo, dan kita bukan hanya membiayai makan dan tempat tinggal seorang wapres saja lo, tp juga ngebayarin uang bensin, pembantu2, bodyguard, perawatan istana wapres, mobil wapres, dll dll…

Atau wapres itu bertugas memberi masukan kepada presiden? hmm.. lalu apa bedanya dengan jabatan penasihat presiden? kan sama2 ngasih masukan ke presiden?

Dan sebaliknya, presiden itu apanya wapres? apa presiden punya hak utk mengganti wapresnya?

Jaman jenderal Suharto dulu mungkin ga ada masalah ttg jabatan wapres ini, kalau dilihat dari sisi kejelasan struktur komando, istilahnya anak TK juga tau siapa boss nya. Tapi perihal wapres ini jadi sedikit lebih ruwet pas jaman jenderal Yudhoyono, terutama pas Kalla yg jadi wapres.

Pasangan SBY-JK bisa dibilang lahir dari prinsip suka-sama-suka, dimana masing2 saling menyadari kelebihan dan kelemahan masing2, dan kemudian memutuskan untuk ber-kolaborasi. Jadi suka atau tidak, harus diakui bahwa sebagian dukungan yg mengalir utk SBY sebenarnya ditujukan sebagai dukungan untuk JK, atau dengan kata lain JK somehow punya hak utk meng-klaim sebagian kekuasaan presidensial yg secara de jure berada di tangan SBY, kalau sudah begini, lalu siapa boss nya dong???

Lebih dari apapun, setiap organisasi itu harus dibangun berdasarkan kemampuan orang2 didalamnya utk bekerjasama. Dan harus diingat bahwa pada umumnya manusia itu -seperti persamaan transport neutron- adalah fungsi ruang dan waktu, ia berubah seiring berubahnya posisi dan berlalunya waktu. Bayangkan jika suatu saat presiden dan wapres kehilangan kemampuan utk saling bekerjasama, tetapi mereka terpaksa harus bersama, apa jadinya??

Saya harus akui bahwa saya termasuk awam tentang konsep ketatanegaraan, jadi harap maklum kalau tulisan ini terlihat awam. :mrgreen:

Mungkin jawaban atas pertanyaan2 sy sebenarnya ada di buku2 ketatanegaraan sih, sy saja yg blm sempat baca.  Huu.. makanya baca dulu, baru nulis.. :mrgreen:

Related links:

Posted in my thought, social & politics | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Protected: The Yudhoyono Dynasty..? beware o people…

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 12, 2009

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in social & politics | Tagged: , , , , , , , , , | Enter your password to view comments.

Sebuah pelajaran dari Hillary Rodham Clinton

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 25, 2009

Ada yang menarik perhatian saya mengenai pemilu Amerika kemarin, yaitu tentang Hillary Clinton. Seperti kita tahu bahwa Hillary Clinton dan Obama adalah saingan berat selama proses konvensi partai Demokrat, bahkan kalau anda sempat melihat video2 pertarungan debat mereka, anda akan sadar betapa kerasnya persaingan tersebut. Yang menarik, setelah Obama keluar sebagai pemenang, ternyata Hillary Clinton diangkat menjadi U.S Secretary of State (atau di negeri kita dikenal sebagai menlu), Hillary benar2 membuktikan kata2nya untuk membantu Obama’s administration jika ia memang diperlukan.

Young Hillary

Young Hillary

Setidaknya ada 2 implikasi positif dari kasus ini, yaitu:

  1. Hal pertama adalah pendidikan politik melalui keteladanan, tidak ada pendidikan yang lebih efektif dari keteladanan. Ia menunjukan sifat negarawan sejati, dimana ia bergerak di dunia politik bukan karena nafsu kuasa, tapi memang untuk mengabdi kepada negara, bangsa, dan rakyatnya, atau dalam terminologi Islam, mengabdi untuk umat. Tidak masalah ia tidak menjadi presiden, kalau ia memang dibutuhkan untuk posisi lain, fine.. then so be it..
  2. Hal kedua adalah menyatukan (kembali) elemen2 masyarakat, dimana mereka sempat terbagi menjadi berbagai kelompok selama masa2 pemilu. Hal yang paling jelas ya bahwa pendukung Hillary sekarang adalah pendukung Obama juga, karena sekarang Hillary adalah bagian dari sistem, seperti slogan ini: “don’t become a good republican, don’t become a good democrats, just be a good Americans!” (walaupun Hillary & Obama sama2 demokrat sih).
Young Hillary

Young Hillary

Terkait dengan negeri kita tercinta (tapi salah urus), apakah hal serupa bisa terjadi ya? jujur, saat ini saya benar2 tidak bisa membayangkan kalau misalnya di pemerintahan SBY saat ini, Amien Rais jadi menlu/mendagri, Wiranto jadi menkopolkam, megawati jadi.. (ah lupakan saja orang ini! :D), Prabowo jadi menhan, Hamengkubuwono jadi mendiknas.. dst dst.. bayangkan, the whole administration bisa diisi orang2 yg berkualitas! bayangkan kemajuan yang akan dicapai! yah.. tapi itu kan cuma bayangan.. abisnya semua orang hanya ingin jadi presiden.. n kalau kalah ngambek deh.. trus  sengaja membuat kelompok2 anti pemerintah.. bikin the ruling president jd susah n ga bisa konsen mikirin rakyat.. hhhh… 😦

Supporting Obama

Supporting Obama

Tapi bagaimanapun juga ini semua kan hanya interpretasi saya saja, kejadian yg sebenarnya seperti apa ya saya tidak tahu, just remember one thing: everything has its own motive.. think about it…

any comment? please!

Posted in social & politics | Tagged: | 2 Comments »

The Islamic World : The Future Ruler of the World?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 15, 2008

Berikut ini ditampilkan data perbandingan 7 Political & Economic Entities (policonomic) yang terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Saya tidak menggunakan kata “negara”, karena saat ini EU dan MMC* tidak memenuhi definisi negara secara konvensional. Data2 ini saya dapat dari wikipedia, http://www.en.wikipedia.org.

Entity Area
million km2
Population
million
GDP(PPP)
trillion USD
GDP(PPP)/capita
USD
USA 9.83 305 13.84 45417
EU 4.32 499 14.71 29482
Japan 0.38 128 4.29 33595
China 9.64 1322 6.99 5289
India 3.29 1132 2.82 2489
Russia 17.10 142 2.09 14714
MMC* 30.24 1183 5.56 4702

*Muslim Majority Countries (cikal bakal The Re-Born Islamic Caliphate?)

Bersambung…

Posted in social & politics | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Dilema Sang Presiden…

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 15, 2008

Kasus : misalnya saya adalah presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat, agenda utama saya adalah memberangus para koruptor, dengan cara memberlakukan hukuman mati untuk para pelaku tindakan korupsi. Tetapi gerakan saya terhambat akibat berlarut-larutnya pembahasan undang2 di parlemen, saya jelas membutuhkan sebuah undang2 agar vonis mati untuk koruptor tersebut mempunyai dasar hukum yang jelas. Tetapi saya pesimis undang2 tersebut bisa lolos di parlemen, karena kita semua tahu bahwa parlemen adalah salah satu markas koruptor (ingatlah tentang nasib undang2 anti pornografi dan pornoaksi), lalu apa yang harus saya lakukan? apakah saya harus melakukan tindakan inkonstitusional? kalau saya melakukan hal tersebut saya khawatir negara akan mengadopsi hukum rimba dan akan terjadi chaos dan anarki, lagipula saya juga belum yakin benar apakah militer ada di pihak saya. Di luar istana, kekesalan rakyat sudah mencapai puncaknya, anarki sudah di depan mata. Jika saya diam saja, anarki akan meletus dengan sendirinya, jika saya bertindak inkonstitusional, sayalah yang akan menjadi penyebab anarki, lalu apa yang harus saya lakukan..?

Bersambung…

Posted in social & politics | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Indonesia : Land of idiots?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 11, 2008

Richard Nixon, US former president: “(Indonesia is) the richest hoard of natural resources, the greatest prize in south-east Asia..

Fakta-fakta menyedihkan tentang negeri kita berikut ini sebagian besar saya dapatkan dari buku karya salah seorang yang saya kagumi, salah satu negarawan terbaik negeri ini, Prof. Dr. M. Amien Rais, buku beliau berjudul “Agenda Mendesak Bangsa – SELAMATKAN INDONESIA!” , semoga bisa menggugah kita semua untuk memikirkan dan yang paling penting melakukan sesuatu, apa saja yang bisa kita lakukan, sesuai kapasitas dan kemampuan kita masing-masing.

  • Produksi minyak nasional sebesar sekitar satu juta barel per hari saat ini sudah didominasi bahkan dikuasai asing.
  • Sekitar 46.8% kekayaan laut dikuasai kapal-kapal berbendera asing
  • Sekitar 62.5% industri perbankan dikuasai asing.
  • Indosat dimiliki singtel/temasek singapura, 35% saham Telkom dan 98% saham XL adalah milik pihak asing.
  • Berdasarkan perjanjian pertahanan RI-Singapura, maka Singapura berhak mengadakan latihan tempur dengan peluru tajam (!) di wilayah Indonesia sekitar laut cina selatan (Alfa I, Alfa II, Bravo, Baturaja) selama 25 tahun! dan bahkan bebas mengundang pihak ketiga manapun (baca : amerika, israel, belanda, australia, timor leste, dll), alamak!
  • Batas kepemilikan saham oleh pihak asing di industri perbankan China adalah 25%, malaysia 30%, Amerika 30%, India 49%, lalu Indonesia? check this out >> 99%!
  • Kontrak karya pengelolaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia (!) di papua oleh Freeport (yang setiap hari membuang 300 ribu ton limbah tailings!) dimulai pada 1967, dan akan baru berakhir pada 2041! bayangkan, 74 tahun emas kita (akan) dirampok dan kita tenang2 saja, kita pasti sudah GILA!!
  • Blok cepu, minimal menyimpan 600 juta barel minyak dan 2 triliun kaki kubik (TCF) gas. Dengan harga minyak saat ini USD 120/barel, ladang minyak tersebut setidaknya bernilai 72 milyar dolar alias 662.4 trilyun rupiah (kurs Rp 9200), sekitar 2/3 APBN kita! belum lagi natuna (yang kabarnya adalah ladang gas terbesar di dunia!), arun, dan banyak lagi! Secara de facto ladang minyak cepu telah diserahkan pada Exxon Mobil, sampai 2036!! G – I – L – A . . .
  • Porsi bagi hasil ladang gas natuna adalah 100% buat exxon dan 0% buat Indonesia, exxon memasang sistem pipa gas bawah laut dari natuna ke singapura, dengan demikian eksplorasi gas natuna langsung dikirim ke singapura, dimana di sana kapal2 tanker exxon sudah menunggu untuk mengangkut gas tersebut, dan kita dengan bodohnya hanya menjadi penonton dan diam saja melihat semua ketololan itu terjadi!
  • Berdasarkan UU migas, penjualan gas ke dalam negeri dibatasi sampai maksimal hanya 25%, dengan kata lain 75% gas alam kita WAJIB di-ekspor ke luar negeri. Apa implikasinya? industri pupuk kita kekurangan bahan baku, dan banyak yang akhirnya gulung tikar, dengan demikian petani2 kita kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau… buat makan sendiri saja bangsa kita masih keteteran…

External links:

Disclaimer: data2 diatas saya kutip dari buku pak Amien Rais yang saya sebutkan di awal artikel ini, jika anda mendapati bahwa data2 tsb tidak benar, maka silahkan komplain ke sumbernya langsung.

Posted in social & politics | Tagged: , , , | 5 Comments »