Hey, what's going on?

Archive for the ‘just a story’ Category

Kucing Fisika

Posted by Syeilendra Pramuditya on November 30, 2017

Kalau tidak salah hampir setahun lalu (?) ada kucing kecil yang suka mondar-mandir di dekat ruangan saya, entah dr mana asalnya, krn lucu kadang suka sy beri sisa makanan. Lama2 sy beri makanan rutin, malah jadi beli makanan kucing instan yg bungkusan itu. Jadilah dia tiap hari main ke ruangan saya deh, ngeong2 lucu.

Bbrp waktu lalu dia beranak, ada 4 anak kucingnya lucu2 semua. Jadilah kolong lemari tua di depan ruangan sy jd rumah baru mereka.

Kemarin sy dapat kabar bahwa mahluk2 lucu ini (termasuk induknya) akan dibuang keluar kampus pada Sabtu besok (pakai apa? mobil sampah?), entah mau dibuang kemana. Katanya krn kehadiran mereka selama ini sudah “mengganggu” …

Jangankan anak2 kucingnya, induknya aj dr kecil ga pernah keluar dr area gedung fisika, banyak yg suka kasih makan dia. Apa mereka bisa bertahan kalau tiba2 dibuang gt aj di jalanan liar ya.. kasian bgt…

Berarti Senin nanti mereka udh ga akan ada lg di fisika..

Sedih sih, tp mau gmn lagi, sy memang ga berhak jg melihara mereka di situ krn itu area umum…

Bye bye kucing2 lucu…

Advertisements

Posted in just a story | Leave a Comment »

Hati2 membeli susu kotak di Indomaret, menjijikkan di luar kotaknya banyak bilatung hidup!!!

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 6, 2016

Waktu kejadian: 4 Juli 2016 sekitar jam 8.20an malam.

Pengalaman saya ketika bermaksud membeli susu kotak di Indomaret di dekat rumah, yang ternyata bagian bawah kotaknya penuh dengan bilatung hidup!!!

Saya lanngsung komplain ke petugas kasir, tapi responsnya mengecewakan. Si mbaknya hanya mengambil kotak susu yg saya tunjuk dan malah kembali ke kasir, hanya begitu saja. Seolah tidak terjadi apapun, nyantai sekali 😦

Kemudian sy datang ke kasir bilang, “ini gimana mba ga ada penjelasan apapun?” Dia jawab “aduh sy mah da baru disini” , laahh ko gt…

Ya ampun.. masa hanya begitu saja? Apa iya karyawan Indomaret tidak dilatih utk menangani hal2 seperti ini.

Akhirnya ada karyawan yg laki2 menghampiri sy dan sy bilang ttg kotak susu ber bilatung itu. Kami ke raknya dan ternyata bukan hanya 1 kotak, tp ada bbrp kotak susu yg bagian bawahnya berbilatung hidup! Jijik! Mas2nya bilang maaf dan katanya akan menarik kotak2 susu ber bilatung tsb.

Ampun deh.. kenapa di Indomaret sampai bisa ada kotak susu ber bilatung yang dipajang di rak??

Untung sy teliti, bagaimana kalau ada konsumen lain yg tdk teliti? kan akan dirugikan secara materil dan imateril juga.

Post ini saya tulis dengan seakurat mungkin, tanpa menambahi ataupun mengurangi.

Semoga sampai ke manajemen Indomaret dan menjadi bahan perbaikan.

Video sudah sy upload ke Youtube >> https://www.youtube.com/watch?v=JK_SC-eCji8

Posted in just a story | Tagged: , , | Leave a Comment »

Review 2015

Posted by Syeilendra Pramuditya on December 31, 2015

Under Construction πŸ™‚

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Salzburg, Austria

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 22, 2015

Di artikel sebelumnya saya menulis catatan perjalanan saya ke Hallstatt. Dari Hallstatt saya lanjutkan petualangan ke Salzburg, masih di Austria.

Kata Wikipedia: Salzburg is the fourth-largest city in Austria and the capital of the federal state of Salzburg. Salzburg’s “Old Town” (Altstadt) is internationally renowned for its baroque architecture and is one of the best-preserved city centers north of the Alps. It was listed as a UNESCO World Heritage Site in 1997. The city has three universities and a large population of students. Tourists also frequent the city to tour the city’s historic center, many palaces, and the scenic Alpine surroundings. Salzburg was the birthplace of 18th-century composer Wolfgang Amadeus Mozart.

Suasana Kota Bad Ischl

Suasana Kota Bad Ischl

Dari Hallstatt saya naik kereta yang sekitar jam 14.30, dan sampai di kota Bad Ischl sekitar jam 15.30. Saya menyempatkan diri untuk jalan2 sebentar di Bad Ischl, sebuah kota yang tidak terlalu besar. Stasiunnya ternyata dekat sekali dengan downtown nya, paling jalan kaki hanya 10 menit. Saya melewati semacam shopping street yang penuh deretan toko. Suasananya lumayan ramai, banyak orang yang beraktifitas di luar, entah makan atau hanya ngobrol2 saja.

Salzburg Hauptbahnhof

Salzburg Hauptbahnhof

Sekitar satu jam kemudian saya kembali ke stasiun dan naik bis yang jam 16.30an menuju Salzburg. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Salzburg ini ternyata sangat indah dan menarik, bis kami melewati pedesaan Austria lengkap dengan rumah2 khas Austria yang berlantai dua dan besar. Rumah2nya seperti terbuat dari campuran dinding semen (lantai 1) dan kayu (lantai 2), dan di lantai atasnya ada teras besar dari kayu dengan banyak bunga2 berwarna merah di bagian depannya. Setiap rumah punya halaman yang luaaas sekali berupa hamparan rumput hijau bersih seperti karpet lembut. Bis melalui jalan yang berkelok2 melalui bukit dan lembah, pemandangannya dijamin ga akan bikin bosen deh. Tapi di dalam bis saya rasanya ngantuuuk bgt, mungkin karena capek juga seharian jalan kaki.

Hostel Eduard Heinrich Haus

Hostel Eduard Heinrich Haus

Sekitar jam 6 sore saya akhirnya sampai di Salzburg Hauptbahnhof. Stasiun ini besar megah bgt dan super modern, seperti bandara internasional aja. Saya muter2 dulu di sekitar stasiun, cari makanan, laper euy hehehe.. Akhirnya saya beli roti dan minuman aja minimarket di dalam stasiun. Setelah itu saya langsung naik bis nomor 3 menuju hostel yang sudah saya book online, hostel lho ya, bukan hotel :D. Hostelnya namanya Eduard Heinrich Haus, dgn rate 25 euro/night. Bisnya ada tepat di depan stasiun, yang bener ya memang begini, di depan stasiun langsung ada terminal bis. Tiketnya beli langsung ke abang sopirnya, harganya flat 2.5 euro. Saya harus turun di bus stop yang namanya Polizeidirektion, repotnya di bis tidak ada keterangan nama bus stop. Kita harus susah payah melihat namanya di halte, tulisannya keciiil dan susah sekali dibaca, apalagi malem2 ky gt. Mana bisnya hanya berhenti sebentar sekali di tiap halte, ga sampe semenit. Jadinya saya sering tanya ke abang sopirnya aja.

Menyusuri Sungai Salzach

Menyusuri Sungai Salzach

Saya turun di halte Polizeidirektion sekitar jam 7an malam, dan mulai mencari lokasi hostelnya. Hostelnya ada di sisi seberang jalan tapi katanya agak masuk (bukan pinggir jalan). Ternyata harus jalan lumayan jauh, walaupun cukup mudah dicari karena ada cukup petunjuk tanda panah bertuliskan “Eduard Heinrich Haus”. Jalannya gelap, sepi, dan melewati pepohonan segala, jadinya agak tidak nyaman kalau malam2 gini. Akhirnya jam 8.30an saya sampai di hostel, check in dan langsung ke kamarnya. Di dalam kamar ada 6 tempat tidur, set meja kursi, lemari loker, toilet, dan bath room. Tapi sama sekali tidak ada handuk dan sabun mandi! Walah.. yah namanya juga hostel. Secara umum hostelnya rapih dan bersih bgt sih. Malam itu total ada 5 orang yang menginap di kamar itu, 3 sepertinya dari Pakistan/Bangladesh, seorang bule, dan saya, semuanya kelihatannya backpackers.

Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan

Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan

Besok paginya saya bangun sekitar jam 5.30, shalat subuh dan siap2 check out. Jam 7 saya sarapan di cafetaria, menunya ya itu2 lagi, roti, sereal, keju, dll. Kangen bubur ayam or lontong kari euy.. hehehe.. Jam 8an saya check out dari hostel.

Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik

Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik

Saya sudah merencanakan jalur tur dari peta turis yang saya punya. Di Salzburg ada banyak tourist attractions, lebih dari 30. Jalur tur saya dimulai dari Festungs Hohensalzburg (sebuah benteng kuno raksasa berusia hampir 1000 tahun), menyeberangi sungai Salzach yang membelah kota, dan berakhir di Schloss Mirabell & Mirabellgarten (istana dan taman) yang letaknya dekat dengan stasiun Salzburg.

Patung Mozart

Patung Mozart

Jam 8an saya berangkat dari hostel, saya berjalan menyusuri sungai Salzach, pagi hari itu dingin sekali, jalanan juga masih sepi, mungkin karena hari Minggu. Sekitar 20an menit kemudian saya sudah melihat bentengnya merdiri megah diatas bukit. Saya masuk melalui Mozart Square dan ketemu “Mozart” disana. Disekelilingnya berderet restoran dan toko suvenir, tapi semuanya masih tutup. Hari masih agak gelap dan mendung juga, saya duduk dulu saja di salah satu bangku menunggu hari agak terang. Turis2 sudah berdatangan juga, yang saya lihat ada yang dari RRC, Korea, dan Jepang (dari bahasanya).

Fountain yang rumit di depan katedral

Fountain yang rumit di samping katedral

Untuk sampai ke bentengnya bisa pakai kereta bernama “Festungsbahn” dengan biaya 11.3 euro (3.3 euro utk kereta + 8 euro utk masuk benteng). Atau bisa juga jalan kaki ke atas bukit. Mana yang saya pilih? Yang gratisan dong hehehe.. Tangga2nya sangat terjal tapi cukup nyaman dilalui, 10an menit kemudian saya sudah sampai di gerbang bentengnya. Karena waktu terbatas, saya putuskan tidak akan masuk, karena masih banyak sudut kota yang saya ingin lihat.

Deretan kereta kuda yang bisa disewa

Deretan kereta kuda yang bisa disewa

Setelah turun dari benteng, saya menyusuri sudut2 kota lainnya. Di jalan saya lihat ada banyak sekali turis dari Asia, ya memang kota ini salah satu tujuan wisata utama di Austria. Akhirnya hampir jam 4 sore saya menyeberangi sungai dan sampai di Schloss Mirabell, sebuah istana dengan taman bunga yang indah di depannya. Istana yang cukup tua, dibangun tahun 1600an. Melepas lelah saya duduk2 dulu saja di sana. Turisnya ramai sekali. Saya lihat ada beberapa dari Malaysia, tapi tidak ada satupun dari Indonesia.

Sebuah square di sekitar Residenzplatz

Sebuah square di sekitar Residenzplatz

Sekitar jam 6 sore saya sampai di stasiun, dan langsung turun hujan lumayan deras, alhamdulillah saya tidak kehujanan. Tiket bisa dibeli di mesin2 otomatis, tapi saya pilih beli di loket saja. Di ticket office ada dua counter, di sebelah kiri ada Deutsche Bahn (Jerman), dan di kanan ada OBB (Austria). Saya beli tiket dari counter OBB, harganya 57 euro, transfer satu kali di Udine (Salzburg-Udine-Trieste). Masalahnya adalah.. keretanya berangkat jam 1.30 dini hari! Walah… ya sudah mau gimana lagi dong..

Kios Suvenir

Kios Suvenir

Saya jalan2 sebentar di area stasiun, saya lihat banyak sekali polisi yang lalu-lalang, berbaju hitam bertuliskan “Polizei”. Rasanya aneh juga ko stasiun saja sampai harus dijaga banyak sekali polisi. Tapi saya segera mengerti sebabnya: banyaaak sekali pengungsi dari timur tengah yang terus menerus berdatangan pakai kereta. Sebenarnya mereka hanya transit saja di Salzburg, mereka langsung lanjut ke Muenchen (Jerman). Setiap kali rombongan ini datang, mereka selalu “digiring” oleh polisi2 tsb.

Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng

Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng

Di stasiun hanya ada satu waiting room ber-heater, jadinya selalu penuh karena banyak penumpang yang menunggu. Alhamdulillah akhirnya saya bisa dapat satu kursi. Kalau menunggu di luar sangat ga nyaman, dingin bgt!

Gerbang Benteng

Gerbang Benteng

Capek jg lho nunggu berjam2 gt. Akhirnya kereta saya datang sekitar jam 00.30. Saya cari cabin saya, daan.. ternyata penuh dengan pemuda2 berwajah timur tengah/Afrika utara yang sudah nyenyak tidur! Bahkan ada yang tidur di lantai segala! Kabinnya juga bau bgt, ky campuran bau badan dan rokok.. Waduh repot nih…

Suasana Sungai Salzach

Suasana Sungai Salzach

Akhirnya saya pilih cari tempat kosong di kabin lain saja.. ngeri ah kalau harus semaleman dgn mereka di kabin yg bau itu.. hmpff.. Alhamdulillah akhirnya dapat kursi di kabin yg isinya turis RRC dan seorang bule.

Schloss Mirabell

Schloss Mirabell

Kalau saya bandingkan dengan Florence, pesona Salzburg memang berbeda. Gaya arsitektur gedung2nya tidak seglamor dan seheboh Florence. Salzburg bisa dibilang bergaya anggun dan kalem, mungkin secara umum style-nya lebih dekat dengan Eropa timur.

Alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚

-Fin

Posted in just a story | Leave a Comment »

From Trieste to Hallstatt (or Salzburg) by Night Train

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 21, 2015

From Trieste to Attnang-Puchheim

  • Train ticket is around 60 euro (Trieste-Udine-AttnangPuchheim), there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Trieste at around 8.30pm and arrives in Udine at around 10pm
  • In Udine transfer to other train
  • Train departs from Udine at around 11pm and arrives in Attnang-Puchheim at around 5am
  • The train stops in Salzburg at around 4am, so you can get off there also

From Attnang-Puchheim to Hallstatt Station

  • Train ticket is around 12 euro, there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Attnang-Puchheim at around 6am (there is also another one at around 7am)
  • Train arrives in Hallstatt station at around 7.30am

From Hallstatt station to Hallstatt Village

  • Ferry ticket is 2.5 euro
  • First ferry departs at around 8am, and then every 20 minutes
  • Crossing the lake only takes less then 10 minutes

Ask me if you have questions.

Posted in just a story | Tagged: , , | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Hallstatt, Austria

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 19, 2015

Weekend kemarin kami punya 2 hari penuh (Sabtu-Minggu) jika mau jalan2. Kemana pilihan jalan2 saya kali ini? Austria. Tepatnya ke tempat bernama Hallstatt, yang juga dikenal sebagai “The Jewel of Salzkammergut” karena kecantikannya. Salzkammergut adalah sebuah lake district di Austria.

Kata Wikipedia:Β Hallstatt, is a village in the Salzkammergut, a region in Austria. It is located near the HallstΓ€tter See (a lake). At the 2001 census, it had 946 inhabitants. Hallstatt is known for its production of salt, dating back to prehistoric times, and gave its name to the Hallstatt culture, a culture often linked to Celtic, Proto-Celtic, and pre-Illyrian peoples in Early Iron Age Europe, c.800–450 BC. Some of the earliest archaeological evidence for the Celts was found in Hallstatt. Salt was a valuable resource, so the region was historically very wealthy. It is possible to tour the world’s first known salt mine, located above downtown Hallstatt. The village also gave its name to the early Iron Age Hallstatt culture and is a World Heritage Site for Cultural Heritage. Hallstatt is a popular tourist attraction owing to its small-town appeal.

Biar aman, saya beli tiket kereta sehari sebelumnya (Kamis) di stasiun Trieste Centrale. Memang tiket bisa dibeli online di http://www.trenitalia.it, tapi saya beli di loket stasiun saja lah, biar lebih “pasti”. Tiket saya beli seharga 60 euro, dengan tujuan Attnang-Puchhein Bahnhof di Austria, dengan satu kali ganti kereta di Udine (Italia). Ini adalah kereta malam yang dikenal dengan nama Euronight Train. Hari jumat malam saya berangkat dari Adriatico naik bis no. 6 yang jam 19.50 dan sampai stasiun jam 20.10. Saya mampir dulu di minimarket di dalam stasiun untuk beli roti dan minuman, harga roti sekitar 2-3 euro, dan minuman sekitar 1 euro.

Stasiun Hallstatt

Stasiun Hallstatt

Di kereta saya bertemu teman satu course dari Bangladesh, katanya dia mau jalan2 ke Roma. Gerbongnya terdiri dari beberapa kabin berpintu, dimana di masing2 kabin ada 6 kursi (3-3 berhadapan). Sebenarnya saya tidak suka model kursi berhadapan seperti ini karena jadi tidak santai, meluruskan kaki juga jadi repot. Kursinya sebenarnya bisa diatur menjadi tempat tidur, tapi itu kalau kabinnya hanya berisi maksimal 3 orang. Ternyata saya sendirian di kabin itu, sip deh. Kereta berangkat jam 20.40, dan saya sampai di Udine hampir jam 10 malam. Saya turun dan pindah kereta yang berangkat sekitar jam 11 malam.

Kapal Ferry "Stefanie"

Kapal Ferry “Stefanie”

Kalau dari Trieste tadi saya pakai Trenitalia, dari Udine ini saya pakai kereta OBB milik Austria. Di departure board tertulis “Wien Hauptbahnhof”, yup kereta ini adalah jurusan Venice-Vienna via Udine. Lagi2 keretanya tipe kabin 6 kursi. Saya carilah nomor kursi saya, kabin tampak gelap dan pas saya buka pintunya, di dalam ada 2 bule sedang tidur, walah.. Mau gimana lagi, terpaksa saya bangunkan mereka deh, mereka bangun dgn agak kaget dan saya tunjukkan tiket saya. Mereka bilang mungkin saya bisa pakai kabin lain saja, lalu mereka mondar-mandir di gerbong cari kabin yg kosong. Ketemu kabin yang kosong, dan dia bilang “you pakai kabin ini saja, bebas kok ini mah”. Wah kok aneh gini ya, di tiket ada nomor kabin dan kursi, tapi di kereta malah harus milih kabin sendiri. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Ternyata dari Venice kereta ini cukup kosong, saya sendirian di kabin itu, sip bgt karena keenam kursinya bisa saya sulap jadi king size bed! Haha asyik bgt naik kereta malem dan bisa tidur beneran di “tempat tidur”!

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Sekitar jam 5 subuh saya sampai di Attnang-Puchheim, hari masih gelap dan dingin sekali. Di sini saya bertemu 4 anak muda turis dari RRC yang keliatan bingung celingukan, dan salah satu dari mereka tiba2 menyapa saya, “excuse me, are you chinese?” Whaaat.. wajah jelas2 bule gini masa disangka chinese sih πŸ˜€ wkwkwk.. Saya bilang “nope, I’m Indonesian”. Mereka bilang salah naik kereta, tujuan mereka sama dengan saya, Hallstatt. Dan mereka bilang “we follow you!” hee??? lah saya juga kan baru pertama ini ke Austria, ya sudah lah, akhirnya dengan gagah dan penuh wibawa saya bilang aja “follow me!” πŸ˜€ wkwkwk

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Disini saya beli tiket local train ke Hallstatt seharga 12 euro. Mesin tiketnya ada menu English, jadi memudahkan. Kereta berangkat sekitar 6 pagi, dan sampai di Hallstatt sekitar jam 7.30. Matahari baru saja terbit ketika kami sampai di Hallstatt.

Hallstatt Town Square

Hallstatt Town Square

Stasiun terletak di pinggir danau, dan turun dari kereta langsung terhampar pemandangan yang luar biasa indaaah sekali bgt.. Hallstatt ini adalah kota kecil (atau desa?) tradisional Austria yang cantik sekali, terletak di pingir danau, dikelilingi gunung2 dengan puncak putih bersalju.. bener2 indah sekali.. subhanallah…

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Seperti mimpi rasanya saya akhirnya bisa benar2 datang ke kota kecil yang indah ini.. ga pernah nyangka.. alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Saya berjalan2 sebentar menyusuri jalan setapak di tepian danau, sambil menikmati udara pagi yang dingin sekali tapi segar..

Toko Suvenir

Toko Suvenir

Kotanya terletak di seberang danau, sekitar jam 8.15 saya naik kapal ferry menyeberangi danau Hallstatt dengan biaya 2.5 euro (one way). Kapal ferrynya mungkin seukuran bis, dan dia punya nama: Stefanie.Β  Waktu tempuhnya hanya kurang dari 10 menit, tapi pemandangannya luar biasa…

Rumah2 Unik

Rumah2 Unik

Sesampainya diseberang, saya susuri jalan2nya yang kecil dan diapit rumah2 yang unik. Karena kota kecil ini terletak di sisi gunung, maka jalan2nya naik menanjak, bahkan beberapa rumah terlihat tinggi sekali di atas seperti menggantung.

Kota kecil yang cantik sekali...

Kota kecil yang cantik sekali…

Travelling memang perlu stamina yang bagus, karena kita akan jalan kaki lumayan jauh, di Hallstatt saya jalan kaki selama lebih dari 5 jam. Sekitar jam 2 siang saya sudah kembali ke dock ferry, dan sekitar jam 2.30 sore saya naik kereta di stasiun Hallstatt.

Well, that’s all for now πŸ™‚

Posted in just a story | 2 Comments »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (lagi)

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 14, 2015

Ga nyangka juga, setelah awal tahun ini saya dapat funding untuk ke ICTP di Italia, ternyata Oktober ini saya dapat funding lagi dari ICTP untuk berpartisipasi di salah satu workshopnya, alhamdulillah.. πŸ™‚

Workshopnya tentu saja berkaitan dengan nuklir, tepatnya berjudul: β€œEssential Knowledge Workshop on Deterministic Safety Assessment and Engineering Aspects Important to Safety”, yang berlangsung selama 2 minggu mulai 12 Oktober. Instrukturnya hampir semua dari IAEA dan topiknya bener2 fokus ke nuclear safety. Saya mendapat undangan via email dua bulan sebelum acara tsb dimulai (11 Agustus). Setelah ICTP mengirim dokumen2 yang diperlukan, saya segera mengurus VISA ke Kedubes Italia di Jakarta, alhamdulillah kali ini pun prosesnya mudah dan cepat, yaitu hanya seminggu saja dan tanpa wawancara, gratis pula.

Toko Suvenir di Bandara Istanbul

Toko Suvenir di Bandara Istanbul

Kali ini saya mendapatkan rute perjalanan yang berbeda dari sebelumnya, yaitu menggunakan maskapai Turkish Air dan transit di Istanbul. Saya berangkat dari Bandung menggunakan bis Primajasa jam 10.30, dan sampai di Bandara sekitar jam 2 siang. Biasalah konservatif, soalnya hawatir macet kalau terlalu siang. Nunggu agak lama juga di bandara, tapi lumayan lah di Soetta ada wifi gratisan. Sampai akhirnya sekitar jam 6 sore baru bisa check in. Seperti biasa pesawatnya jumbo jet yang kursinya 8 kolom, dan jam 8.30 pm pesawatnya berangkat. Entertainment system nya ga sebagus Etihad, layarnya kadang nyala kadang mati.. duh.. Perjalanan ke Istanbul lamaaa bgt, 12.5 jam, alhamdulillah penerbangan kami relatif smooth. Kami mendarat jam 5 subuh waktu Istambul, waktu transit selama sekitar 3 jam saya gunakan untuk jalan2 aja di duty free shops. Souvenirs nya bagus2, tapi mahal euy.. decorative plates/glasses sekitar 10 euro..

Venice dilihat dari udara

Venice dilihat dari udara

Sekitar jam 8.30 am waktu setempat saya terbang lagi lanjut ke Venice. Kali ini pesawatnya lebih kecil, yang kursinya 6 kolom saja. Menurut info sang pilot, kami akan terbang di ketinggian kurang dari 10.000 feet, jadinya selama perjalanan pesawat sering sekali vibrasi akibat menembus awan, kebetulan saat itu cuaca memang sangat berawan, dari jendela juga sering tidak terlihat apapun. Penerbangan memakan waktu hampir 3 jam, dan kami mendarat di Venice sekitar jam 10an waktu setempat. Perjalanan ke ICTP masih cukup panjang. Dari bandara Venice saya naik bis β€œATVO” ke stasiun kereta Venezia-Mestre, tiketnya dibeli di vending machine seharga 8 euro. Sampai di stasiun sekitar jam 11, kemudian saya beli tiket di vending machine dengan tujuan stasiun Trieste Centrale seharga 13 euro, saya dapat kereta yang jam 1 siang. Sekitar jam 3 sore saya sampai di stasiun Trieste, kemudian saya beli tiket bis ke ICTP di sebuah toko kecil di dalam stasiun. Bis nomor 6 dengan tiket seharga 1.35 euro. Akhirnya saya sampai di ICTP hampir jam 4 sore.. alhamdulillah..

Bandara Venice

Bandara Venice

Perjalanan yang panjang dan melelahkan, door-to-door dari rumah ke ICTP memakan waktu sekitar 34 jam dengan berganti2 moda transportasi bis-pesawat-bis-kereta-bis..

Kalau boleh memilih, sepertinya lebih nyaman mendarat di bandara Ronchi daripada Venice, karena kalau dari Ronchi kita tinggal naik bis sekali saja dan langsung sampai ICTP dalam 45 menit. Dan lagi, di bandara Istanbul dan Venice tidak ada wifi gratisan! Kalau di Abu Dhabi, Rome, dan Ronchi semua ada wifi gratis, bahkan di Soetta aja ada.

Pemandangan dari teras kamar

Pemandangan dari teras kamar

Sampai ICTP saya langsung registrasi, ternyata saya mendapat kamar 502 di Adriatico Guest House, di lantai 5 dan menghadap ke laut! πŸ˜€ Room mate saya berasal dari Nigeria, namanya Akpanowo Mbet Amos dan dia katanya staf di badan nuklir Nigeria.

Di ICTP kami dapat uang saku dan penggantian local transport, total saya mendapat 235 euro (~IDR 3.7jt), lumayan.. alhamdulillah πŸ™‚

Bismillah.. semoga semuanya lancar disini.. amiin

Posted in just a story | Leave a Comment »

Kecelakaan Motor :-(

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 15, 2015

Astaghfirullah…

Hari ini jam 7.30 pagi saya mengalami kecelakaan motor di bunderan Cimahi di perjalanan menuju kampus.

Ada orang yang menerobos lampu merah dan tiba2 menabrak motor yg saya kendarai. Saya sudah coba rem tapi tidak sempat karena orang itu ngebut sekali, dan saya pun jatuh di jalanan. Bodi motor rusak lumayan parah, hampir setengah bagian depan motor hancur/hilang, setang juga sampai agak bengkok. Saya sendiri cedera pada kaki kanan, ada luka dan juga memar, saat ini bengkak dan jadi sulit jalan 😦

Tadi dibantu polisi yang langsung datang dan diselesaikan secara kekeluargaan, saya minta semua kerugian saya diganti, dan saya tahan e-KTP orang yang menabrak saya.

Yah.. semoga kaki saya bisa segera sembuh.. amiinn

Ya Allah sepertinya saya tahu kenapa kejadian ini bisa terjadi tepat pada hari Rabu ini.. saya mengerti.. pelajarannya sudah saya dapat ya Allah.. I learned it the hard way.. saya janji akan berusaha tidak mengulanginya lagi.. saya tahu dan mengerti..

Alhamdulillah saya selamat..

Foto 1

Foto 1

Foto 2

Foto 2

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Firenze, Italia

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 24, 2015

Hari Senin kemarin (23 Feb) saya ber-solotravelling ke ibukota dunia renaissance: Firenze (atau Florence).

Saya sebenarnya ingin ke Firenze pada hari Minggu, cuma ramalan cuaca bilang bahwa akan hujan baik di Trieste maupun di Firenze, jadi saya membatalkan rencana itu. Ramalan cuaca bilang pada hari Senin Firenze akan agak cerah (tidak hujan), jadilah saya berangkat hari Senin. Teman2 yang lain tidak ada yang minat ke Firenze, katanya terlalu jauh, so saya pergi sendirian deh.

I know.. I know.. hari Senin memang bukan hari libur, tapi mau gimana lagi.. masa saya ke Italia tapi ga ke Firenze. Yup, saya skip kelas satu hari, gapapa lah sekali2 agak nakal πŸ˜› pokoknya janji besok2 ga bolos lagi deh hehehe..

Kereta yang saya gunakan

Firenze adalah kota yang sangat istimewa, ia adalah pusat sains dan ekonomi Eropa pada abad pertengahan, ibukota dunia Renaissance, dan bahkan juga disebut “Athens of the Middle Ages”. Intinya, Firenze adalah kota yang sangat penting dan kuat di masa lalu, dan juga punya sejarah yang sangat kaya. A must visit city! πŸ˜€

Florence Tourist Map

Florence Tourist Map

Saya berangkat dari Adriatico pagi2 sekali, naik bus yang jam 5.40 menuju stasiun Trieste Centrale. Sampai stasiun saya beli tiket seharga sekitar eur 55, dan kemudian ke minimarket beli sarapan. Jarak Firenze dari Trieste adalah sekitar 400 km, hampir 3 kali jarak Trieste-Venezia, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Harga tiketnya agak mahal, karena jenis keretanya bukan Regionale seperti ketika ke Venezia, tapi jenis High-speed Train. Keretanya jelas lebih nyaman dari Regionale, bentuknya mirip Shinkansen, di dalamnya ada monitor yang menampilkan peta GPS perjalanan, informasi jalur, dan tentu saja iklan. Bahkan ada wifi juga, tapi harus register menggunakan credit card sih. Berbeda dengan kereta ke Venezia yang tanpa seat number, kali ini di tiket tertulis seat number, jadi hati2 jangan asal pilih tempat duduk karena nanti bisa diusir kondektur. Tergantung waktu keberangkatan dari stasiun Trieste Centrale, ada dua jenis tiket/jalur, yaitu direct menuju Firenze, atau harus ganti kereta di stasiun Venezia Mestre. Kereta yang saya gunakan adalah yang direct dan berangkat jam 6.45. Jangan lupa juga untuk mem-validasi tiket di mesin hijau di stasiun, kalau tidak mau kena denda eur 5 di dalam kereta.

Florence Cathedral (Santa Maria del Fiore)

Florence Cathedral (Santa Maria del Fiore)

Di Firenze ada beberapa stasiun kereta, pilih stasiun Firenze Santa Maria Novella ketika membeli tiket, hati2 jangan sampai salah stasiun. Di perjalanan, kereta berhenti di beberapa stasiun, seperti Venezia Mestre, Padova, dan Bologna. Pemandangan selama perjalanan lumayan menarik, melewati pedesaan2 Italia dan ladang2 pertanian, tapi ini hanya sampai Bologna saja. Perjalanan dari Bologna ke Firenze hampir tidak ada pemandangan, karena kereta melewati banyak terowongan yang panjaaaaang, rasanya seperti naik subway saja.

Trieste-Florence (~400 km, 4 hours)

Trieste-Florence (~400 km, 4 hours)

Sekitar jam 10.30 akhirnya saya sampai di stasiun Firenze Santa Maria Novella. Alhamdulillah cuaca cerah, langit biru dengan matahari bersinar :), tapi suhunya dingin juga, sekitar 6 C menurut info di kereta tadi. Di stasiun Firenze, biar aman saya langsung membeli tiket pulang, karena loket pembelian tiket biasanya selalu ada antrian, takut nanti jadi terlalu buru2. Saya membeli tiket untukΒ keberangkatan jam 15.30 seharga sekitar eur 55, jadi saya hanya punya waktu sekitar 4 jam saja untuk menikmati Firenze, sebenarnya terlalu pendek sih. Di depan stasiun ada Tourism Office, saya membeli peta disana seharga eur 1 (bandingkan dengan peta di Venezia yang harganya eur 3).

Deretan toko perhiasan emas di Ponte Vecchio

Kalau di Venezia hanya ada 2 main tourist attractions, yaitu Basilica di San Marco dan Ponte di Rialto, di Firenze ada banyaaaaak tourist attractions! πŸ˜€ Saya pilih jalur utara-selatan, yaitu start dari stasiun, kemudian menuju:

  • Basilica di Santa Maria Novella
  • lanjut ke Capelle Medicee
  • lanjut ke Piazza dell Unita d’Italia Firenze
  • lanjut ke Basilica di San Lorenzo
  • lanjut ke Cattedrale di Santa Maria del Fiore (Florence Cathedral)
  • lanjut ke Palazzo Vecchio
  • lanjut ke Piazza della Signoria
  • menyeberangi sungai Arno melalui Ponte Vecchio
  • lanjut ke Piazza Michelangelo
  • lanjut ke Galleria degli Uffizi
  • dan akhirnya kembali ke stasiun

Jarak dari stasiun sampai ke Piazza Michelangelo sekitar 3-4 km (tergantung jalur), jadi jarak PP sekitar 6-8 km berjalan kaki πŸ™‚ ga tau juga apa 4 jam cukup ya..

Suasana modern hanya terasa di sekitaran stasiun saja, terutama jalan2 utama yang lebar dan diaspal. Tapi sedikit saja dari stasiun, saya seperti masuk ke mesin waktu ke zaman dahulu, suasana kota abad pertengahan langsung terasa πŸ™‚ luar biasa.. Jalanan sempit yang terbuat dari susunan batu dan diapit gedung2 bergaya klasik setinggi 3-4 lantai, benar2 sangat mengasyikan untuk ditelusuri.. Jalan kaki 6-8 km pasti tidak akan terasa terlalu melelahkan.. πŸ™‚

Palazzo Vecchio (sebelah kanan)

Salah satu sudut kota Florence

Di sana juga ada banyak museum yang pasti menyimpan koleksi yang luar biasa, cuma saya tidak mampir karena terbatasnya waktu. Di jalan lagi2 saya melihat banyak turis group tour dari RRC, saya juga melihat banyak turis dari Jepang. Turis RRC sebagian besar adalah grup besar (30-50 orang) yang terdiri dari banyak keluarga, sedangkan turis Jepang sebagian besar adalah anak2 muda yang pergi dalam grup kecil 2-5 orang.

Di mana2 ada banyak toko fashion, restoran, dan juga kios suvenir. Juga ada banyaaak sekali vespa yang terparkir di pinggiran jalan. Di kota ini juga lagi2 ada banyak pengemis, ibu2 tua yang meminta2 uang ke para turis. Seperti halnya kota2 tua Eropa lainnya, jalanan di Firenze sangat tidak terstruktur, jalannya tidak lurus dan ada banyak sekali perempatan, jadi harus hati2 juga jangan sampai tersesat, untungnya ada cukup banyak peta yang tersebar di penjuru kota.

Kurang dari setengah jam kemudian saya akhirnya sampai di Florence Cathedral, sebenarnya inilah tujuan wisata utama dan paling terkenal di Florence. Mulai dibangun pada 1296, butuh waktu 140 tahun (!) untuk menyelesaikan mahakarya ini (bayangkan total biayanya). Bangunannya memang sangat luar biasa, baik dari segi kemegahan dan tentu saja keindahan. Kompleksnya terdiri dari 3 bangunan utama, yaitu katedralnya, menara di sebelah kirinya, dan St. John Baptistery di depannya. Seluruhnya terbuat dari marmer, paduan harmonis dari marmer putih (sebagian besar), merah, dan hijau. Diatas katedral ada kubah merah yang besaaar sekali, yang memang merupakan kubah bata terbesar di dunia.. wow.. Katedralnya terlihat memang dibuat dengan detail yang luar biasa, ada banyak patung marmer yang menghiasinya, juga relief marmer di sekitaran pintu2 masuknya. Belum lagi ukiran2 hias di bawah kubah yang juga sangat indah. Pintu2nya juga sangat indah, penuh dengan ukiran2 relief. Menaranya juga tak kalah luar biasa, terbuat dari marmer 3-warna juga dan dihiasi patung2 marmer, tingginya sekitar 85 m (!) dan ada sebuah bell di bagian atasnya. Sayangnya saya tak bisa melihatΒ St. John Baptistery karena tampaknya saat itu sedang di renovasi karena seluruhnya ditutupi papan/kain. Cukup lama saya berada di Florence Cathedral ini, saya juga mengelilingi bangunan ini beberapa kali dari dekat, benar2 mahakarya arsitektur yang sangat luar biasa..

Interior Palazzo Vecchio

Interior Palazzo Vecchio

Kemudian saya lanjutkan perjalanan melalui jalan2 sempit lagi. Dan kemudian saya sampai di Piazza della Signoria. Tempat ini semacam public square yang cukup luas, dikelilingi gedung2 bergaya klasik dan juga abad pertengahan. Di satu sudutnya terdapat Palazzo Vecchio, bangunan seperti benteng yang merupakan salah satu landmark kota Firenze. Di sampingnya ada Loggia dei Lanzi, semacam paviliun yang di dalamnya ada cukup banyak patung2 marmer klasik. Di sisi lainnya ada patung Fountain of Neptune, dan beberapa patung lainnya. Di sisi lainnya ada juga beberapa restoran.

Kemudian saya lanjutkan perjalanan menuju Ponte Vecchio, sebuah jembatan tua yang unik. Jembatannya cukup lebar, di sisi kanan dan kirinya penuh dengan toko2, yang ternyata seluruhnya adalah toko perhiasan emas dan batu2 mulia. Perhiasannya bagus2.. pengen beli rasanya, tapi apa daya euro di kantong tak memadai πŸ˜› hehehe

Arno River, Florence

Arno River, Florence

Saat itu sudah sekitar jam 2 lebih ketika saya menyeberangi Ponte Vecchio. Saya berjalan menyusuri sungai Arno menuju Piazza Michelangelo, hmm.. ternyata tempatnya lumayan jauh juga. Setelah jam saya menunjukkan pukul 14.30, saya memutuskan untuk kembali saja ke stasiun, karena khawatir ketinggalan kereta.

Di perjalanan menuju stasiun, saya melewati Galleria degli Uffizi dan melihat patung orang2 terkenal di abad pertengahan, seperti Niccolo Machiavelli, Amerigo Vespucci, Galileo Galilei, Donatello, Lorenzo de Medicee, dan yang lainnya.

saya mampir lagi di Santa Maria del Fiore. Saya kelilingi lagi bangunan indah itu. Sejenak saya pandangi lagi bangunan marmer itu.. kagum.. itu yang saya rasakan.. betapa orang2 700an tahun lalu mampu membuat mahakarya seperti ini.. luar biasa..

Fountain of Neptune, Florence

Fountain of Neptune, Florence

Saya sampai stasiun jam 3 lebih sedikit. Setelah istirahat sejenak, saya naik kereta dan berangkat jam 15.30. Sekitar 2 jam kemudian saya sampai di stasiun Venezia Mestre dan berganti kereta. Sekitar jam 6 sore kereta berangkat menuju Trieste. Di dekat Monfalcone kereta sempat delay 20an menit karena masalah teknis katanya. Sekitar jam 20.15 saya sampai di stasiun Trieste Centrale, mampir sebentar di minimarket untuk membeli makan malam, dan naik bis terakhir menuju Grignano/ICTP jam 20.40. Saya sampai di Adriatico hampir jam 9 malam. Agak lelah memang (iya dong total 8 jam di kereta dan habis jalan ~7 km!), tapi puas bangettt!! Alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚

Foto2 lainnya bisa dilihat di album picasa saya.

Firenze

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Venezia, Italia

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 22, 2015

Kota Trieste terletak di kawasan utara Italia, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Venezia, hanya sekitar 150 km. Jadi Sabtu kemarin saya dan 3 teman jalan2 bersama ke Venezia.

Trieste-Venezia by Train (~150 km, 2 hours)

Trieste-Venezia by Train (~150 km, 2 hours)

Saya pergi dengan Bogdan dari Romania, Okan dari Turki, dan Hai dari Vietnam. Kami berempat pergi pagi2 sekali dari Adriatico, naik bis yang jam 6 pagi dan hari masih gelap karena matahari terbit jam 7. Sampai stasiun Trieste Centrale 20 menit kemudian, beli snack dan minuman di minimarket, dan langsung membeli tiket. Jadwal kereta bisa dilihat di http://www.trenitalia.it , ada versi English nya juga. Sebenarnya tiket bisa dibeli melalui mesin otomatis di dalam stasiun, cuma mesinnya hanya bisa menerima uang pas, jadi saya beli dari loket saja. Tinggal bilang mau ke Venezia Santa Lucia, jangan lupa juga bilang Regionale Train, karena ada dua jenis kereta, dan Regionale adalah yang lebih murah. Kemudian bisa pilih mau 1st Class (~eur 20) atau 2nd Class (~eur 13). Terpaksa kami memilih 2nd Class (karena ga ada 3rd Class :D). Kami dapat yang jam 7.15, dan tidak ada seat number, jadi bisa bebas pilih tempat duduk. PENTING: Jangan lupa untuk memvalidasi tiketnya di mesin berwarna hijau yang ada di platform kereta, nanti mesin itu akan mem-print tanggal di tiket kita. Kalau sampai lupa, kondektur akan mengenakan denda sebesar eur 5 di dalam kereta nanti.

Kereta yang kami gunakan

Pilih tempat duduk di sisi kiri, karena pemandangannya lebih bagus dari sisi kanan :). Juga jangan memakai baju hangat berlebihan, karena di dalam kereta sangat hangat dan cenderung panas, selama perjalanan saya hanya memakai kaos saja tanpa sweater. Keretanya lumayan nyaman, kursinya saling berhadap2an, dan juga ada toilet di tiap gerbong. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, dan sekitar jam 9an kami sampai di stasiun Venezia Santa Lucia. Hati2 jangan sampai salah turun di stasiun Venezia Mastre, yang adalah stasiun sebelum Santa Lucia.

Pagi itu langit agak mendung di Venezia, tapi setidaknya tidak sampai hujan. Di stasiun kami tidak menemukan peta, jadi kami masuk ke Info Point yang terletak di luar stasiun sebelah kanan. Ternyata peta tidak gratis, tapi harus beli seharga 3 euro, aneh juga, biasanya tempat wisata selalu ada peta gratis utk pengunjung. Satu hal lagi, kalau perlu sebaiknya ke toilet dulu di stasiun, karena toilet di Venezia tidaklah gratis (kayak di Bandung aja :P), tapi harus bayar sekitar eur 1-1,5.

Langit mendung di Venezia

Sejak keluar pintu stasiun, pemandangannya sudah luar biasa.. πŸ™‚ Stasiun terletak di area Canal Grande, gedung2 dengan arsitektur unik dan indah berjejer di sekelilingnya, termasuk di seberang kanal. Kami langsung menuju tujuan wisata utama di Venezia: Basilica di San Marco, yang terletak di sisi selatan pulau, sekitar 2 km dari stasiun.

Venice Tourist Map

Venice Tourist Map

Sepanjang perjalanan kami melalui gang2 sempit dan menyebrangi banyak sekali kanal2 kecil. Macam2 toko suvenir dan restoran berjejer sepanjang jalan. Satu hal yang saya perhatikan adalah bahwa sebagian besar penjaga toko tampaknya bukanlah orang Venezia/Italia, mereka mirip orang2 dari Asia selatan seperti Srilangka, Bangladesh, atau Nepal. Saya sempat tanya beberapa dari mereka, mereka bilang berasal dari Bangladesh. Beberapa penjaga toko dan restoran saya lihat ada juga yang berwajah Chinese. Sebagian dari mereka tentu ada juga yang berwajah bule. Polisi dengan seragam khas italia juga terlihat di beberapa sudut kota. Ketika sedang melihat2, beberapa kali para penjual bertanya pada saya, “from Malaysia?” 😦 duh emangnya ga mungkin bgt ya orang Indonesia bisa jalan2 ke Venezia..

Deretan toko suvenir

Di sana saya juga melihat cukup banyak turis dari RRC, berupa tour group sebanyak sekitar mungkin 30an orang tiap grup, lengkap dengan group leader yang membawa bendera, dan memberi penjelasan dalam bahasa Cina dengan suara keras. Ekonomi RRC mungkin memang dalam kondisi baik, jadi banyak warganya bisa jalan2 ke Eropa. Dan sepanjang jalan tentu saja banyak orang2 yang menawarkan untuk naik gondola.

Mau coba naik gondola?

Kami berjalan santai karena sambil melihat2 toko suvenir dan beberapa gereja tua yang kami temui sepanjang jalan. Agar tidak tersesat, pokoknya ikuti saja petunjuk anak panah bertuliskan “St. Marco” yang ada di sepanjang jalan. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di jembatan Rialto yang terkenal itu. Jembatannya cukup lebar, suasananya ramai dan crowded sekali, di bagian tengah berjejer toko2 suvenir, dan di sisi jembatan orang2 berebut ingin berfoto. Oh iya, di sepanjang jalan ada banyak sekali pemuda2 yang menawarkan sewa tongsis (tau dong tongsis? :D), mereka bukan bule, tapi kelihatannya adalah orang2 Gypsi berkulit gelap dari Romania.

Setelah sekitar satu jam berjalan dari Rialto, akhirnya kami sampai di St. Marco, yeay! πŸ˜€

St. Marco Square and St. Marco Basilica

St. Marco Square and St. Marco Basilica

St. Marco.. tempat yang luar biasa.. Basilicanya benar2 sangat indah sekali bgt! hehehe.. Terbuat dari marmer berbagai warna, basilica itu juga dipenuhi dengan mosaic dan patung2 klasik yang benar2 indah.. Bangunannya lebih mirip karya seni ketimbang gedung.. bagus sekali.. Di atas gerbang depan, ada 4 patung kuda yang terbuat dari perunggu, orang2 Venezia membawa (mengambil?) patung2 tsb dari Konstantinople beberapa abad lalu. Tapi patung2 itu hanya replika, yang aslinya tersimpan di gedung museum di Venezia.

Suvenir khas Venezia: Venetian Festival Masks

Di depan basilica ada menara merah yang besar, tinggi, dan tentu saja artistik. Dan di samping basilica ada Palazzo Ducale, atau The Doge’s Palace, bangunan yang tak kalah indah yang merupakan istana penguasa Venezia pada zaman dulu. Dan di sisi Palazzo yang menghadap ke laut, ada sebuah tiang yang diatasnya terdapat lambang kota Venezia: Singa Bersayap. Di sekeliling St. Mark Square, ada gedung berwarna putih yang di dalamnya berjejer banyak sekali toko2 dan restoran. Yang membuat sedikit tidak nyaman adalah ada cukup banyak pengemis di St. Marco yang kerap meminta uang, dan lagi2 mereka tampaknya adalah para Gypsi. Banyak juga yang menawarkan bunga mawar dan sewa tongsis, semuanya terlihat seperti orang2 Gypsi dan bukan bule.

Canal Grande

Hari sudah siang dan kami berkeliling mencari makanan. Harga makanan restoran di sana berkisar eur 7 – 15 per porsi. Karena kami adalah para petualang ekonomis :D, kami memutuskan untuk membeli sepotong pizza saja seharga eur 2,50. Setelah makan pizza, sekitar jam 2 kami berpencar masing2 dan sepakat untuk bertemu di stasiun jam 5 sore. Saya kembali ke basilica untuk menikmati keindahan arsitekturnya, saya duduk di depan basilica dan memandangi dengan kagum bangunan indah itu utk beberapa lama.. Alhamdulillah ya Allah.. rasanya seperti mimpi saja saya bisa berlama2 berada di tempat itu…

Kota yang indah..

Kota yang indah..

Setelah itu saya lanjutkan perjalanan menyusuri lorong2 kota yang penuh dengan orang2 yang berlalu lalang, semuanya terlihat sangat unik dan menarik bagi saya.. sangking asyiknya, saya sampai lupa waktu dan terlambat sampai di stasiun :D. Agar tidak tersesat ketika menuju stasiun, ikuti saja anak panah bertuliskan “Piazzale Roma”. Sampai sore hari pun masih banyak sekali turis yang lalu-lalang. Saya sampai sekitar jam 6 sore dan langsung membeli tiket, haha ternyata di situ saya bertemu Bogdan dan Okan yang juga baru saja sampai. Jadilah akhirnya kami pulang bersama, kami dapat kereta yang jam 18.41. Hai tampaknya sudah pulang duluan. Harus hati2 juga jangan sampai salah naik kereta, karena ada kereta yang langsung menuju Trieste (~2 jam perjalanan), dan ada yang melalui Udine sebelum ke Trieste (~3 jam perjalanan).

Kami sampai di stasiun Trieste Centrale sekitar jam 9 malam, dan naik bis terakhir menuju ICTP. Kami sampai di Adriatico sekitar jam 11 malam. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Foto2 lainnya bisa dilihat di album picasa saya.

Venezia

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (2)

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 17, 2015

Alhandulillah.. hari Minggu siang tanggal 15 Feb saya sudah sampai di ICTP.. πŸ™‚

Dua minggu lalu saya sebenarnya sakit, hari Selasa 3 Feb saya kena panas sampai 39 C. Tiga hari kemudian, Kamis sore 5 Feb, saya periksa darah dan ternyata trombositnya sudah turun ke 166rb.. astaghfirullah.. deg2an juga takut kena demam berdarah atau typhus. Malam itu saya langsung diopname di RS Borromeus..

Kalau demam berdarah, seminggu sejak mulai panas insya Allah bisa pulang dari RS, yang gawat kalau typhus, di RS bisa 2 minggu dan juga harus istirahat di rumah 2 minggu lagi.. wah hawatir juga.. bisa2 ga jadi ke Italia nih..

Setelah hasil lab keluar, ternyata saya kena demam berdarah dan bukan typhus, alhamdulillah.. lho sakit kok alhamdulillah??? πŸ˜€

Hari Senin 9 Feb saya sudah diperbolehkan pulang.. alhamdulillah..

Hari Sabtu 14 Feb saya berangkat ke bandara Soetta menggunakan bis Primajasa, berangkat dari rumah jam 7 pagi dan naik bis yang jam 8.30 pagi. Jam 11 saya sudah sampai di terminal 2 Soetta (hanya 2.5 jam!). Makan siang di Hokben, lalu muter2 di bandara sambil menunggu waktu check in. Sekitar jam 15.30 saya check in, dan jam 16.30 saya boarding. Pesawat berangkat hampir tepat waktu, yaitu sekitar jam 17.30. ICTP sudah mengatur tiket pesawat saya, dan mereka memberi saya maskapai Etihad Airways. Saya transit dua kali dalam perjalanan ini, yaitu di Abu Dhabi dan Roma.

Penerbangan dari Soetta ke Abu Dhabi memakan waktu 8 jam. Pesawatnya jumbo jet besar, deretan kursinya ada 10 kolom (3-4-3). Saya dapat seat number 18J. Sekitar pukul 22.30 waktu setempat (15, Jan, 1.30 WIB) saya alhamdulillah mendarat di Abu Dhabi. Di pesawat yang saya naiki ada banyak sekali jamaah umrah dari Indonesia, demikian juga di bandara Abu Dhabi, saya melihat banyak sekali jamaah umrah dengan seragam yang berbeda2. Bandaranya terlihat bagus dan sangat modern, juga terlihat sangat besar. Seragam polisinya terlihat berbeda, mereka hanya memakai baju khas Arab warna putih yang mirip daster ibu2 itu, kemudian memakai rompi warna candy green bertuliskan Airport Police, tentu lengkap dengan sorban di kepala.

Rombongan Umrah asal Indonesia di Abu Dhabi Airport

Rombongan Umrah asal Indonesia di Abu Dhabi Airport

Setelah menunggu sekitar 4 jam, saya melanjutkan penerbangan jam 3.00 waktu setempat (6.00 WIB). Berangkatnya agak delayed, jadwalnya sebenarnya jam 2.40. Pesawatnya tidak sebesar yang sebelumnya, kursinya ada 8 kolom (2-4-2) dan saya mendapat seat number 26D. Perjalanan memakan waktu sekitar 6.5 jam. Sekitar pukul 6.30 waktu setempat (15 Jan, 12.30 WIB) saya alhamdulillah mendarat di Roma. Bandaranya bagus, bahkan mungkin lebih bagus dari Abu Dhabi. Terutama toiletnya yang terlihat bagus, bersih, rapih, dan modern.

Transit 3 jam di Rome Airport

Transit 3 jam di Rome Airport

Setelah menunggu hampir 3 jam di Roma, saya melanjutkan penerbangan jam 9.20 waktu setempat (15.20 WIB). Pesawatnya lebih kecil lagi, kursinya hanya 6 kolom (3-3) dan saya mendapat seat number 10B. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja. Pukul 10.30 waktu setempat saya alhamdulillah mendarat di Trieste. Bandaranya tidak terlalu besar, tapi bersih, rapih, dan nyaman. Suhu udara di Trieste sedang lumayan dingin, sekitar 10 C.

Information Counter di Trieste Airport

Information Counter di Trieste Airport

Kemudian saya membeli tiket bis di information counter yang terletak di dalam bandara, harganya 3.30 euro. Bis nomor 51 dan berangkat dari depan bandara jam 12.05. Harus agak hati2 jangan sampai salah naik bis, karena bis 51 ini ternyata ada 2 rute, satu ke Trieste dan satu lagi ke Udine, dan waktu datangnya bersamaan juga. Naik bis yang berhenti di tempat parkir bertuliskan “Trieste” (di sebelahnya persis adalah tempat parkir bertuliskan “Udine”). Bis nya datang tepat waktu dan segera berangkat. Perjalanan memakan waktu sekitar 50 menit, dan sekitar jam 1 siang saya sampai di bus stop Grignano-Miramare (tepat sebelum terowongan). Ternyata ada satu orang lagi yang turun di situ, saya tanya ternyata dia juga menuju ICTP. Orang Vietnam, namanya Hai Hong Vo dari Ho Chi Minh University. Kami ternyata akan mengikuti workshop yang sama, dan juga tinggal di asrama yang sama, Adriatico Guest House (AGH). Dari bus stop, jalan menuju AGH agak tidak normal, bukan berupa jalan besar, tapi jalan kecil menurun mirip gang, terdiri dari tangga2 yang lumayan terjal, jadinya agak repot juga harus angkat2 koper gede saya.

Gang ga jelas menuju ICTP Adriatico Guest House

Gang ga jelas menuju ICTP Adriatico Guest House

Kalau dihitung2, saya berangkat dari rumah tanggal 14 Feb jam 7.00 WIB, dan sampai di Adriatico tanggal 15 Feb jam 13.00 (19.00 WIB), total perjalanan memakan waktu 36 jam! Kalau flight+transit nya memakan waktu sekitar 22 jam.. Walah.. pantes rasanya capek bgt pas sampe asrama..

ICTP Adriatico Guest House

ICTP Adriatico Guest House

Kamarnya tipe shared room, saya kebagian sekamar dengan anak Argentina, dia sampai di AGH satu jam sebelum saya, namanya Agustin Baceyro Ferra, katanya pegawai Komisi Nuklir Argentina. Kamarnya lumayan juga, twin bed, twin desk, dan kamar mandi dengan fasilitas lengkap, dan juga air keran siap minum. Window view nya? Wah jangan ditanya dah, mantappp abisss! Pemandangan langsung ke laut Adriatik! ICTP punya dua asrama, Adriatico dan Galileo, kalau Galileo tempatnya agak ke atas, jadi ga bisa liat laut. Alhamdulillah saya dapat di Adriatico.. πŸ™‚

Window view dari kamar saya: laut Adriatik yang mantap abis

Window view dari kamar saya: laut Adriatik yang mantap abis

Walaupun capek bgt, setelah menaruh koper di kamar, saya sempatkan untuk jalan2 sebentar di sekitar AGH. Tepat di sebelah AGH ada taman yang luas dan indah, namanya Parco di Miramare, dan di dalamnya ada sebuah kastil yang juga indah, namanya Castello di Miramare. Lumayan ramai juga di situ, banyak orang2 lokal dan juga turis yang sedang jalan2.

Castello di Miramare

Castello di Miramare

Setelah itu saya kembali ke asrama, capek dan ngantuknya udah bener2 ga ketahan, akhirnya langsung tidur deh sore itu.. hehe..

(Bersambung..)

Posted in just a story, nuclear engineering | 2 Comments »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (1)

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 16, 2015

Kali ini saya insya Allah mengunjungi kota Trieste di Italia. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Saya terpilih sebagai salah satu peserta untuk mengikuti sebuah workshop saintifik di Centro Internazionale di Fisica Teorica Abdus Salam (CIFT), atau juga dikenal sebagai The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP).

Nama kegiatannya adalah “Joint ICTP-IAEA Training Course on Physics and Technology of Water Cooled Reactors through the Use of PC-based Simulators“. Yup, jadi ini adalah kerjasama antara ICTP dan International Atomic Energy Agency (IAEA). Acara akan berlangsung selama 2 minggu full, dari tanggal 16 (Senin) sampai 27 (Jumat) Februari 2015.

The Invitation

The Invitation

Kalau bepergian keluar negeri, apalagi yang harus segera diurus kalau bukan paspor dan visa. Paspor saya kebetulan masih lama masa berlakunya, jadi saya hanya tinggal mengurus visa saja. Setelah saya menerima berbagai e-documents dari ICTP, saya langsung mengurus visa. Visa yang saya ajukan adalah visa Schengen, berjenis Study visa. Sebagai catatan, ada berbagai macam visa Schengen yang bisa diajukan di Kedubes Italia. Untuk visa selain study, visa harus diurus di sebuah agen visa yang bernama VFS Global, dan bukan langsung di Kedubes. Biaya pembuatan visa juga ternyata lumayan mahal, antara 1,2 – 1,5 juta. Nah hanya kalau kita apply Study visa kita bisa datang langsung ke Kedubes Italia. Berapa biayanya? Gratis total! πŸ™‚

Oh iya Kedubes Italia beralamat di Jalan Diponegoro 45, Jakarta (6Β°12’2″SΒ 106Β°50’23″E). Dekat dengan taman Suropati (~1 km). Saya tidak foto gedungnya, karena takut ditangkap polisi yang berjaga di luar.. hehe

Submission time adalah jam 11 – 12 siang, jadi saya naik kereta yang jam 6.35 dari Bandung, dan sampai di Gambir sekitar jam 10. Dari Gambir tinggal naik taksi dan bayar sekitar 25rb. Waktu tempuhnya kurang dari 30mnt. Ketika masuk Kedubes, kita harus meninggalkan KTP dan HP di pos keamanan. Yang antri sedikit sekali, klo ga salah ga sampe 5 orang aja, ga banyak orang kita yang main ke Italia kali ya. Beda banget dengan Kedubes Jepang yang selalu crowded. Dokumen2 yang diperlukan bisa dilihat disini atau disini.

Setelah kita submit dokumen2nya, kita akan diberi sebuah kartu untuk nanti ketika pengambilan visa dan paspor kita. Saya datang ke Kedubes Italia pada hari Selasa (20 Jan), dan diminta datang lagi hari Jumat (23 Jan) untuk pengambilan. Waktu pengambilan adalah jam 12 – 13 siang. Katanya mbak nya ga perlu nelfon dulu, langsung datang aja, optimis bgt mbak nya.

Kartu Pengambilan Visa

Kartu Pengambilan Visa

Oh iya, harus diperhatikan juga detail perjalanan kita. Dari info yang diberikan ICTP, saya akan transit di Abu Dhabi dan Roma. Lalu apa perlu visa transit UAE? Untuk transit sampai dengan 8 jam, tidak perlu visa transit UAE. Jadi saya tidak perlu mengurus visa transit.

Hari Jumat (23 Jan) saya datang lagi ke Kedubes Italia. Saya sampai di Gambir jam 10, dan sampai di Kedubes jam 10.30. Kecepetan sih.. kan katanya loket buka jam 12. Tapi ya sudah saya tunggu aja di dalam. Di dalam cuma ada 1 orang (mba2) yang menunggu, beneran jarang banget orang Indonesia yang ke Italia berarti ya. Mba2 ini juga sama2 apply visa studi, jadi katanya dia udah 3 taun sekolah di Florence, tapi karena sekarang pindah sekolah, harus apply visa lagi katanya. Nah tapi mba2 ini dapet panggilan interview dulu, aneh juga padahal dia udah lama di Italia. Saya yang belum pernah ke Italia malah ga dipanggil interview.

Jam 11 loket dibuka, daaan.. nomor saya yang dipanggil pertama! haha..

Alhamdulillah.. proses permohonan visa saya bisa selesai hanya dalam 3 hari, dan dikabulkan. πŸ™‚

I got my very first Schengen Visa! Terimakasih Pak Federico πŸ™‚

Posted in just a story, nuclear engineering | 3 Comments »

“Ternyata Tuhan memberikan semua yang saya inginkan…”

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 31, 2015

Salah seorang dosen saya memasuki masa pensiun pada tahun ini. Dan tadi hari ini ada acara Appreciation Day untuk beliau, dimana beliau memberikan sebuah speech. Beliau adalah Pak Dr.-Ing Suparno Satira. Saya pertama kali mengenal beliau sebagai dosen pengajar mata kuliah Fisika Moderen ketika saya di tingkat 2. Saya mengingat beliau sebagai dosen yang sabar dan tidak pernah marah.

Beliau memberikan speech yang sangat menarik, yaitu ide beliau mengenai yang namanya “Momentum Field”, konsep yang baru kali ini saya dengar. Beliau menggunakan analogi dari gravity field, electric field, dan magnetic field. Beliau bahkan mem-propose satu set persamaan yang setara dengan persamaan elektromagnetik Maxwell yang indah itu, beliau namakan “Suparno Equations”, lengkap dengan Suparno constant, yang setara dengan konstanta gravitasi, atau konstanta 1/4*pi*e0 di kelistrikan.

Tapi yang tak kalah menarik adalah ketika beliau bercerita mengenai jalan kehidupan beliau sejak masa awal kuliah S1 sampai menjadi dosen senior di jurusan Fisika. Salah satunya beliau bercerita bahwa sebenarnya dulu beneran cita2 ingin sekali masuk jurusan Kimia, pada saat itu, untuk masuk ke suatu jurusan, mahasiswa harus mengikuti semacam tes/wawancara yang harinya berbeda2 untuk tiap jurusan. Saat itu beliau sudah mengikuti tes/wawancara untuk jurusan Fisika, tapi apa mau dikata, ketika besoknya akan mengikuti yang untuk jurusan Kimia, tiba2 beliau harus pulang kampung untuk suatu urusan keluarga yang sangat penting. Jadilah beliau “terpaksa” terdampar di Fisika. Udah beneran cita2 bgt eh kandas, kebayang dong kecewanya kaya apa. Beliau juga cerita beberapa kisah dan pengalaman lainnya yang juga menarik.

Setelah bercerita berbagai hal itu, beliau diam sejenak, dan kemudian berkata kira2 seperti ini, “Setelah saya renungkan dan pikirkan, semua kejadian yang saya alami memang ada hikmahnya… dan… ternyata Tuhan memberikan semua yang saya inginkan…” Kata2 ini yang membuat saya jadi merinding.. beliau kemudian diam lagi agak lama dan terlihat menahan luapan emosinya…

Hal ini sih yang bikin saya jadi agak kepikiran..

Well, morale behind the story? Ya bahwa kita sendiri juga seringkali tidak paham mengenai hal2 yang kita pikir kita inginkan, dan ketika tidak tercapai, merasa kecewa..

Hmm.. terus terang saya juga sering merasa kecewa, bahkan sangat kecewa, ketika tidak bisa mendapatkan hal2 yang saya pikir saya inginkan…

Orang2 tua kita memang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, beruntunglah orang2 tua yang mampu mengerti hikmah dari jalan kehidupan yang dilalui. Dan jauh lebih beruntung lagi orang2 muda yang mampu menyerap dan memahami hikmah dan wisdom dari orang2 yang lebih tua…

Terimakasih Pak Suparno, atas semua ilmu yang telah diberikan, dan juga atas speech nya hari ini.

Selesai.

[Januari 2015, Syeilendra Pramuditya]

Posted in just a story | Leave a Comment »

Biker Me

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 6, 2015

Well, judulnya kynya agak lebay sih.. hehe

Ini ceritanya sebenernya cuma macem2 motor yang pernah saya pakai, tapi saya ga punya foto2 motor2 saya itu, jadi foto2 di post ini saya ambil dari internet aja.

Dulu yang pertama ngajarin naik motor ya Papa, pakai motor yang cukup aneh, mereknya Kawasaki Binter Joy.. wkwkwk belum pernah denger kan?? Motor bebek gitu, klo ga salah mesinnya 100 cc kopling otomatis, warnanya hitam dan penuh stiker macem2. Motornya udah ga orisinil juga, udah diganti spion gaul, knalpot berisik dll..

Yang pasti, motor ini spesies murahmeriahdah hehehe..

Out of curiosity, dulu tanki motor ini pernah saya isi pakai alkohol, kan kata Bu Guru alkohol burnable liquid juga tuh, eh taunya mesinnya malah mati total n akhirnya harus ke bengkel.. hahaha

Dulu pas saya masih SMP, Papa kalau jemput saya ya pakai motor aneh ini. Tapi saya nyantai aja walaupun temen2 saya pada dijemput pakai sedan.

Motor ini entah kenapa akhirnya dijual sama Papa.. pas lagi bokek kali ya.. hehe

Kawasaki Binter Joy (gambar dari internet)

Kawasaki Binter Joy (gambar dari internet)

Saya mulai naik motor ke jalan raya pas kelas 1 SMA. Motornya bukan motor Papa, tapi motornya tante saya.. loh??

Iya waktu itu tante saya sekolah ke Jakarta, dan motornya ditinggal di Bandung, nah daripada malah rusak ditinggal lama, tante bilang ya pake aja. Jadilah saya pakai motor itu ke sekolah, tanpa SIM! hahaha

Motornya merek Honda Astrea, saya lupa tepatnya, apa Astrea 800, Astrea Star, atau Astrea Dream ya?? hmm ga inget lagi.. Warnanya hitam dengan wind shield warna putih.

Mungkin sekitar setahun saya pakai motor ini. Pas tante udah balik ke Bandung ya motornya dibalikin dong.

Honda Astrea (gambar dari internet)

Honda Astrea (gambar dari internet)

Akhirnya Papa beliin saya motor, sebuah Yamaha F1ZR! Yuhuu! Motornya lumayan keren, mesin 2-tak 100an cc, dan kopling manual juga! Motor balap dah haha.. harganya klo ga salah sekitar 12jt.

Tadinya saya ingin yang warna merah nyala.. kynya keren.. eeh Papa beda selera.. beliau prefer yang (lagi2) warna hitam.. yah namanya juga dibeliin.. ya saya nurut aja dah, masih sukur dibeliin motor juga.

Di SMA saya punya *genk* yang terdiri dari 5 orang yang semuanya tinggal di Bandung Selatan, jadi klo naik angkot kan bareng tuh. Nah yang akhirnya punya motor cuma 2 orang, saya dan temen yang tinggal di Sukamenak, tapi motor dia mocin sih.. wkwkwk

Akhirnya saya jadi korban mode, tuh F1ZR saya modif, velg saya ganti yang racing palang tiga warna hitam, handle saya ganti warna pink, tutup oli mesin saya tambahin cooler warna merah ngejreng, knalpot saya ganti yang berisikkk, dan bagian depan saya ganti dengan lampu ayam jago (yg mirip satria F150 tuh), sayang saya ga punya foto motor saya ini..

Helmnya saya beli yang full face keren dengan kaca warna silver, eh helm ini akhirnya raib digondol maling pas saya parkir di ITB (saya pakai motor ini sampai kuliah). Sedih dan ‘terpukul’ bgt rasanya tuh.. wkwkwk soalnya tu helm kind of unique, ya karena kacanya yang warna silver itu jarang bgt. Pas saya mau beli lagi yang kaca silver, dimana2 udh ga ada yg jual…

Yamaha F1ZR (gambar dari internet)

Yamaha F1ZR (gambar dari internet)

Waktu itu Papa taunya beli motor kedua, mungkin untuk dipakai sendiri, beli yang Honda Supra XX, warna silver-violet, kopling manual. Jadinya pas kuliah saya gonta-ganti motor, tergantung mood.. hehe.. kadang pakai F1ZR yang 2-tak dan kadang pakai Supra X yang 4-tak.

Akhirnya motor yang F1ZR dibeli oleh adiknya Papa, dan saya kuliah pakai yang Supra XX.

Honda Supra XX (gambar dari internet)

Honda Supra XX (gambar dari internet)

Dulu ingin bgt punya Honda Tiger atau Kawasaki Ninja, kynya keren abis gt, harganya klo ga salah waktu itu sektar 17jt, tapi karena satu dan lain hal.. sampai sekarang saya blm pernah punya dua motor keren itu.. aku rapopo.. hehe

Dan akhirnya saya merantau sekolah ke Jepang.. motor Supra XX dijual pas saya di Jepang..

And now here I am back in Bandung.. trus motor apa yang saya pakai sekarang?? Well, it is the most uniquely-designed bike ever built: Honda Scoopy!!! hahaha..

Nah kalau yang ini saya punya fotonya..

Honda Scoopy (gambar dari internet)

My Honda Scoopy

Asik juga pake motor matic ky gini, tinggal gas rem gas rem.. jadi ga ribet. Plus juga anti macet, tinggal meliuk2 aja diantara mobil2 yang kejebak macet, bisa lewat jalan2 kecil juga, sipp dah pokoknya.

Hanya kalau terpaksa bgt aja sy pakai mobil, bahkan pas hujan pun tetep lebih asik pake motor, ya karena itu tadi, bisa nembus jalan macet..

Well, itu sedikit cerita tentang Biker Me, selesai πŸ™‚

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Makassar

Posted by Syeilendra Pramuditya on December 31, 2014

Bulan Agustus lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Makassar di provinsi Sulawesi Selatan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya datang ke pulau Sulawesi.

Saya berada di Makassar selama seminggu penuh dari tanggal 25 (Senin) sampai 29 Agustus (Jumat). Saya datang ke Makassar dalam rangka menjadi juri di Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat nasional. KSM ini adalah event yang amat sangat mirip dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN), perbedaannya hanya terletak pada pesertanya saja, dimana peserta OSN berasal dari sekolah2 konvensional, sedangkat peserta KSM berasal dari madrasah2 baik negeri maupun swasta. Semua jenjang pendidikan madrasah berpartisipasi dalam KSM ini, yaitu Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), Tsanawiyah (setingkat SMP), dan Aliyah (setingkat SMA). Setiap provinsi mengirimkan satu kontingennya, dengan demikian ada 33 kontingen yang datang. Saya sendiri kebetulan sudah terlibat sebagai perumus soal (bersama rekan2 lain) sejak tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan sampai akhirnya nasional.

Saya berangkat dari Bandung hari Senin (25/8), dan kebetulan saya mendapat penerbangan siang. Saya berangkat bersama beberapa rekan. Beberapa rekan lain mendapat penerbangan dari Soetta, penerbangan jam 2 dini hari! Walah.. Untunglah saya mendapat yang penerbangan Bandung, dengan waktu penerbangan yang “normal” juga.. hehe.. πŸ˜€

Dari Bandung kami menggunakan maskapai Garuda Indonesia sampai Denpasar, transit selama sekitar 3 jam, kemudian kami lanjutkan dengan penerbangan dari Denpasar ke Makassar menggunakan maskapai Lion Air. Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat dan lancar di bandara Sultan Hasanuddin Makassar sekitar waktu Isya kalau tidak salah. Bandara Hasanuddin ternyata bagus (jauh lebih bagus dari bandara Husein, tentu saja) dan terlihat modern.

Oh iya, by the way, saya sudah pernah melihat beberapa bandara di Indonesia, diantaranya bandara Soetta (Tangerang), Husein (Bandung), Juanda (Sidoarjo), Ngurah Rai (Denpasar), Sepinggan (Balikpapan), Hasanuddin (Makassar), Adi Sucipto (Yogyakarta), dan Sultan Mahmud Badarudin II (Palembang). Kesimpulannya? Well, bandara Husein adalah yang paling tidak bagus, Soetta juga sama tidak bagusnya, dan Juanda, Sepinggan, Ngurah Rai, Hasanuddin sama bagusnya, nyaman dan modern. Husein dan Soetta sangat jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan keempat bandara yang saya sebutkan belakangan. Kalau ditanya yang paling saya sukai, saya akan jawab bandara Juanda, menurut saya kualitasnya sudah mendekati bandara2 kelas internasional di Jepang ataupun Korea Selatan. Hanya masih kurang satu hal saja: interkoneksi dengan rail-based transport menuju downtown Surabaya, karena ternyata jaraknya cukup jauh, sekitar 20 km dari pusat kota. Saya dengar baru bandara Kualanamu di Medan yang sudah dilengkapi fasilitas seperti ini.

Sesampainya di bandara, kami dijemput oleh panitia lokal, dan kami diangkut menggunakan sebuah bis butut mirip metromini menuju hotel.. asli rasa metromini.. wkwkwk πŸ˜€

Acara KSM tersebut berlangsung di Hotel Grand Clarion, dan kami pun menginap di hotel tersebut. Saya kebagian kamar di lantai 16, shared room bersama seorang rekan, lumayan jadi dapat view kota Makassar..

Hotel Grand Clarion

Hotel Grand Clarion

Acara hari Senin itu hanyalah pembukaan saja, hadir Wakil Menteri Agama dan juga Rektor ITB untuk memberi sambutan dan pembukaan. Saya sendiri tidak mengikuti acara pembukaan karena baru sampai di hotel malam hari.

Pada hari Selasa, acara kompetisi/ujian tertulis dilaksanakan pada pagi hari. Siang harinya setelah para siswa selesai ujian, kami para juri segera bekerja memeriksa seluruh berkas jawaban para siswa. Kegiatan memeriksa jawaban harus selesai hari itu juga. Secara bersamaan, di ruang lain diadakan juga apa yang dinamakan “Marking Scheme”, yaitu penjelasan ke para guru pendamping tentang skor tiap soal ujian dan poin2 apa saja yang akan dinilai. Oh iya, para siswa/siswi datang dengan didampingi oleh guru pendamping, ada juga yang datang ditemani orang tuanya.

Acara makannya lumayan juga, untuk lunch dan dinner kami para juri disediakan tempat di restoran VVIP yang memang sudah di-book oleh panitia KSM.. wkwkwk vvip bo! πŸ˜€ Menunya enak2, setiap hari (breakfast, lunch, dinner) disediakan macam2 soto daging khas Makassar yang maknyusss bangets! hehehe.. ada coto Makassar, Pallubasa, Sop Daging Saudara, dll yang potongan dagingnya besar2, empuukk, sedaaap dan gurriihh nian… sedap dan mantap pokoknya soto2 khas Makassar ini… Untuk desert, saya paling suka pisang ijo, yang dimakan dengan semacam krim santan kental, es serut, dan juga sirup merah, rasanya manis-gurih-segar… πŸ™‚

Hari Rabu acaranya adalah lomba eksperimen. Tema eksperimen yang kami siapkan adalah kromatografi sederhana menggunakan buah naga merah (pewarna alami) dan pewarna tekstil (pewarna artifisial).

Hari Kamis tidak ada kegiatan formal, karena kerjaan memang kami kejar diselesaikan malam sebelumnya. Seperti biasa, kalau saya datang ke suatu kota, tempat yang ingin saya kunjungi adalah museum dan situs2 bersejarah, jadi target saya di kita Makassar ini sudah pasti Fort Rotterdam! Hhfff ternyata teman2 ga ada yg tertarik ke museum, malah pada mau ke pantai Losari. Well, the show go on, jadilah saya berangkat sendiri naik taksi! wkwkwk biarin dah daripada nanti nyesel..

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Barulah saya tahu kalau Fort Rotterdam itu ternyata deket bgt sama pantai Losari! Tau gitu tadi saya berangkat sama yg lain aja, hemat ongkos! wkwkwk

Masuk ke Fort Rotterdam sebenarnya tidak perlu bayar, tapi saya kena pungli di gerbang oleh petugas2 berseragam, well biasa lah di negeri ini mah.. akhirnya saya ikhlas sedekah 10rb wkwkwk

Kompleksnya cukup menarik, suasananya memang jadi berasa di koloni Belanda jaman baheula, cuma ya ga ada Meneer n Noni Belanda nya aja. Di dalam ternyata ada kejutan, ternyata ada museum! Yuhuu! hehe.. Namanya museum La Galigo, tiketnya murah ga smp 10rb. Koleksinya lumayan, macam2 artefak peninggalan manusia mulai dari jaman batu sampai jaman kolonial ditampilkan di museum ini. Saran saya, jangan datang ke museum ini sore2.. apalagi sendirian.. krn lumayan angker suasananya! wkwkwk

La Galigo Museum – Gini kali ya wajah nenek moyang kita πŸ˜€

Pulangnya saya berjalan kaki santai menuju pantai Losari yang jaraknya hanya sekitar 1-2 km dari Fort Rotterdam. Sesaat kemudian saya sudah berdiri di bibir pantai.. hamparan laut luas terhampar di depan mata saya..

Siang itu matahari bersinar terik dan terasa panas sekali.. di ujung sana terlihat sebuah masjid.. saya terus berjalan menyusuri tepi pantai yang terlihat sekali memang sudah disiapkan untuk menyambut wisatawan. Ada semacam area luas sepanjang pantai, lengkap dengan berbagai patung, mulai dari miniatur rumah adat, tarian tradisional, dll. Juga ada teks merah besaaar bertuliskan “City of Makassar”, “Pantai Losari”, dll.. pas banget dah untuk para penggemar selfie, tinggal bawa tongsis aja hahaha..

Pantai Losari

Pantai Losari

Akhirnya saya sampai di masjidnya, yang ternyata bernama Masjid Amirul Mukminin. Masjid yang indah.. seolah2 mengambang di tepi laut.. interiornya juga indah.. dengan jendela besaaar ber-view lautan..

Saya menunaikan shalat Ashar di masjid itu.. dan kemudian beristirahat sejenak.. alhamdulillah.. kemudian saya kembali ke hotel dengan menggunakan taxi..

Masjid Amirul Mukminin

Masjid Amirul Mukminin

Oh iya, taxi yang saya gunakan bertuliskan “BSW” alias milik Bosowa Group, jadi pasti punya Oom Jusuf Kalla tuh ya hehe..

Hari Jumat adalah jadwal kami untuk kembali ke Bandung. Kami berangkat subuh dari hotel, lagi2 pakai tuh bis metromini.. wkwkwk gpp yg penting hepi.. Dari Makassar kami menggunakan maskapai Lion Air dan transit di bandara Juanda, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Lion Air lagi ke Bandung.

Alhamdulillah, sore itu kami mendarat di Bandung dengan selamat.. saya bawa oleh2 sirup markisa, macam2 kacang aneh2, dan panganan otak2 satu dus (50 pcs).

Fin πŸ™‚

Foto2 lengkap bisa dilihat di album2 foto saya di Google.

Album2 Foto Saya di Google

Album2 Foto Saya di Google

Posted in just a story | Leave a Comment »