Category: just a story

Dua Tahun Sepuluh Bulan di Wisma ITB Purnawarman

ITB memiliki sejumlah “rumah transit” yang tersebar di beberapa lokasi di Bandung. Lalu kenapa dinamai “rumah transit”? Karena rumah2 tsb diperuntukan bagi dosen2 muda yang baru menyelesaikan pendidikan di luar negeri dan memerlukan tempat tinggal sementara, jadilah ada kata “transit” di situ. Maksud ITB tentu saja baik, yaitu meringankan kerepotan dosen baru dalam hal mendapatkan tempat tinggal, ya walaupun untuk sementara saja sih. Maklum lah soalnya biasanya dosen2 junior ini belum kuat kalau baru pulang harus langsung membeli rumah seharga ratusan juta rupiah.. hehehe..

Saya kembali ke Indonesia tahun 2013 dan langsung mendaftar untuk mendapatkan rumah transit, mendaftarnya di Direktorat Sarana dan Prasarana (DitSP) yang saat itu berlokasi di gedung Campus Center Barat. Ternyata… demand jauh melebihi supply.. ada antrian yang panjaangg untuk bisa mendapatkan rumah transit.. ya mau bagaimana lagi saya pun harus menunggu..

Tampak depan, Wisma Purnawarman

Menunggu.. menunggu.. dan menunggu…

Penantian lamaaa pun akhirnya berakhir.. dua tahun kemudian (2015) saya dikontak oleh DitSP dan ditawari rumah transit yang berlokasi di jalan Purnawarman nomor 45. Saya dipersilahkan untuk survey lokasi dulu dan akan didampingi oleh orang DitSP. Dan saya pun survey, lokasinya ada di belakang hotel Holiday Inn Dago, dan dekat sekali dengan mall BIP dan BEC! Pokoknya lokasinya top bgt luar biasa strategis dah!

Unit saya yang lantai 2 paling pojok itu.

Hmm.. sebenarnya itu bukan “rumah” juga sih, jadi di lokasi tsb ada 3 rumah di bagian depan, yang katanya ditempati oleh 3 dosen senior ITB dan keluarganya. Dan di bagian belakang ada gedung 2 lantai (semacam flat lah kalau di luar negeri) yang terdiri dari 8 unit. Jadi daripada “rumah”, saya lebih suka menyebutnya “wisma”, Wisma Purnawarman. Bagian dalam gedungnya katanya baru saja selesai di-renov, ganti lantai dan cat ulang, sehingga terlihat baru dan bersih.

Tanpa lama2 berfikir, saya pun langsung deal oke dgn rumah transit tsb. Awalnya saya ditawari unit di lantai 1, tp setelah nego akhirnya saya bisa mendapat unit di lantai 2, di unit pojok paling jauh dari tangga. Kebetulan sebelumnya unit tsb ditempati oleh senior saya yg dosen Fisika juga, teh Fatimah.

Akses tangga ke lantai 2 ada di ujung sana.

Saya menandatangani kontrak dengan DitSP ITB untuk menggunakan wisma tsb selama 2 tahun, terhitung sejak Juni 2015 sampai Mei 2017, dengan biaya perawatan hanya Rp. 300 ribu/bulan saja, murah bgt dah! Waktu saya pertama datang, hanya ada 2 unit yg sudah ditempati, di lantai 1 ada Mas Angga (Dosen SITH), dan tepat di sebelah unit saya di lantai 2 ada Mas Chandra (Dosen FSRD).

Unitnya dalam kondisi benar2 kosong blong tidak ada apapun juga, untungnya seluruh lampu2 sudah terpasang. Layout unitnya agak unik sih, terdiri dari 2 lantai. Di bawah berlantai keramik, dan di atas berlantai kayu. Ada dapurnya, kamar mandi, tapi tidak ada kamarnya. Jadi di lantai atas ya ngeblong gitu saja tanpa ada pintu. Luas bagian bawah adalah 5×8 = 40 m2, dan luas bagian atas adalah 5×4 = 20 m2, jadi luas totalnya 60 m2, lumayan luas juga sih.

Koridor menuju pintu masuk di lantai 2.

Hal pertama yang saya lakukan saat persiapan pindah ke wisma adalah mengisi wisma dgn barang2 keperluan hidup, jadilah saya mulai mencari2 tempat tidur, kulkas, mesin cuci, TV, karpet, kompor, dll dll.. Saya cicil beberapa minggu sih untuk membeli barang2 tsb. Sekitar bulan Agustus 2015 saya akhirnya full tinggal di wisma. Seluruh 8 unit di wisma pun akhirnya ditempati semua.

Di lantai 1 (urut dari unit dekat tangga):

  • Mba Finny (Dosen Matematika FMIPA)
  • Mas Angga (Dosen SITH)
  • Nina (Dosen Fisika FMIPA)
  • Mas Hilal (Dosen Planologi SAPPK)

Di lantai 2 (urut dari unit dekat tangga):

  • Mas Yusuf (Dosen SITH)
  • Mba Lenny (Ga tau dosen apa, ga pernah ngobrol)
  • Mas Chandra (Dosen FSRD)
  • Saya
Bagian dalam wisma, ada lantai bawah dan lantai atas.

Lalu apakah saya betah tinggal di wisma? Wah betah bgt dah! Hahaha… Yang paling asyik adalah lokasinya yg deket bgt dgn kampus ITB, kalau pake motor palingan 5 menit juga udh sampe, jadinya ga banyak waktu dan tenaga terbuang sia2 di jalan. Cari makanan juga ga susah2 amat sih, kalau pagi-siang di depan ada beberapa tukang makanan (bubur ayam, soto, lontong kari, gorengan, baso tahu, dll). Kalau malam tinggal jalan ke arah UNISBA, ada nasi uduk, nasi goreng, martabak, sate padang, baso malang, roti bakar, dll. Atau bahkan tinggal ke BIP atau BEC aja jalan kaki, food court nya lumayan asyik jg kok. Oh iya, di belokan BEC ada warung bakso yg enak bgt, dan di belokan UNISBA ada nasi uduk yg enak bgt, harganya sama2 sekitar 20rb aja. Yang saya suka lagi adalah lokasinya cenderung tenang, tidak bising, mungkin juga karena jalan di depan relatif sepi.

Kongkow with friends…

Dua tahun kemudian saya minta perpanjangan tinggal, akhirnya saya menempati wisma tsb sampai Maret 2018, atau total selama 2 tahun 10 bulan. Tanggal 1 April 2018 saya kembalikan kunci unit saya ke kantor DitSP (Ibu Dini). Saya haturkan terimakasih banyak kepada Direktur DitSP, pak Wahyu Srigutomo, yang kebetulan dosen Fisika FMIPA juga.

Dan saat ini saya sudah tinggal di “tempat yang baru”.

Kucing Fisika

Kalau tidak salah hampir setahun lalu (?) ada kucing kecil yang suka mondar-mandir di dekat ruangan saya, entah dr mana asalnya, krn lucu kadang suka sy beri sisa makanan. Lama2 sy beri makanan rutin, malah jadi beli makanan kucing instan yg bungkusan itu. Jadilah dia tiap hari main ke ruangan saya deh, ngeong2 lucu.

Bbrp waktu lalu dia beranak, ada 4 anak kucingnya lucu2 semua. Jadilah kolong lemari tua di depan ruangan sy jd rumah baru mereka.

Kemarin sy dapat kabar bahwa mahluk2 lucu ini (termasuk induknya) akan dibuang keluar kampus pada Sabtu besok (pakai apa? mobil sampah?), entah mau dibuang kemana. Katanya krn kehadiran mereka selama ini sudah “mengganggu” …

Jangankan anak2 kucingnya, induknya aj dr kecil ga pernah keluar dr area gedung fisika, banyak yg suka kasih makan dia. Apa mereka bisa bertahan kalau tiba2 dibuang gt aj di jalanan liar ya.. kasian bgt…

Berarti Senin nanti mereka udh ga akan ada lg di fisika..

Sedih sih, tp mau gmn lagi, sy memang ga berhak jg melihara mereka di situ krn itu area umum…

Bye bye kucing2 lucu…

Catatan Perjalanan: Salzburg, Austria

Di artikel sebelumnya saya menulis catatan perjalanan saya ke Hallstatt. Dari Hallstatt saya lanjutkan petualangan ke Salzburg, masih di Austria.

Kata Wikipedia: Salzburg is the fourth-largest city in Austria and the capital of the federal state of Salzburg. Salzburg’s “Old Town” (Altstadt) is internationally renowned for its baroque architecture and is one of the best-preserved city centers north of the Alps. It was listed as a UNESCO World Heritage Site in 1997. The city has three universities and a large population of students. Tourists also frequent the city to tour the city’s historic center, many palaces, and the scenic Alpine surroundings. Salzburg was the birthplace of 18th-century composer Wolfgang Amadeus Mozart.

Suasana Kota Bad Ischl
Suasana Kota Bad Ischl

Dari Hallstatt saya naik kereta yang sekitar jam 14.30, dan sampai di kota Bad Ischl sekitar jam 15.30. Saya menyempatkan diri untuk jalan2 sebentar di Bad Ischl, sebuah kota yang tidak terlalu besar. Stasiunnya ternyata dekat sekali dengan downtown nya, paling jalan kaki hanya 10 menit. Saya melewati semacam shopping street yang penuh deretan toko. Suasananya lumayan ramai, banyak orang yang beraktifitas di luar, entah makan atau hanya ngobrol2 saja.

Salzburg Hauptbahnhof
Salzburg Hauptbahnhof

Sekitar satu jam kemudian saya kembali ke stasiun dan naik bis yang jam 16.30an menuju Salzburg. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Salzburg ini ternyata sangat indah dan menarik, bis kami melewati pedesaan Austria lengkap dengan rumah2 khas Austria yang berlantai dua dan besar. Rumah2nya seperti terbuat dari campuran dinding semen (lantai 1) dan kayu (lantai 2), dan di lantai atasnya ada teras besar dari kayu dengan banyak bunga2 berwarna merah di bagian depannya. Setiap rumah punya halaman yang luaaas sekali berupa hamparan rumput hijau bersih seperti karpet lembut. Bis melalui jalan yang berkelok2 melalui bukit dan lembah, pemandangannya dijamin ga akan bikin bosen deh. Tapi di dalam bis saya rasanya ngantuuuk bgt, mungkin karena capek juga seharian jalan kaki.

Hostel Eduard Heinrich Haus
Hostel Eduard Heinrich Haus

Sekitar jam 6 sore saya akhirnya sampai di Salzburg Hauptbahnhof. Stasiun ini besar megah bgt dan super modern, seperti bandara internasional aja. Saya muter2 dulu di sekitar stasiun, cari makanan, laper euy hehehe.. Akhirnya saya beli roti dan minuman aja minimarket di dalam stasiun. Setelah itu saya langsung naik bis nomor 3 menuju hostel yang sudah saya book online, hostel lho ya, bukan hotel :D. Hostelnya namanya Eduard Heinrich Haus, dgn rate 25 euro/night. Bisnya ada tepat di depan stasiun, yang bener ya memang begini, di depan stasiun langsung ada terminal bis. Tiketnya beli langsung ke abang sopirnya, harganya flat 2.5 euro. Saya harus turun di bus stop yang namanya Polizeidirektion, repotnya di bis tidak ada keterangan nama bus stop. Kita harus susah payah melihat namanya di halte, tulisannya keciiil dan susah sekali dibaca, apalagi malem2 ky gt. Mana bisnya hanya berhenti sebentar sekali di tiap halte, ga sampe semenit. Jadinya saya sering tanya ke abang sopirnya aja.

Menyusuri Sungai Salzach
Menyusuri Sungai Salzach

Saya turun di halte Polizeidirektion sekitar jam 7an malam, dan mulai mencari lokasi hostelnya. Hostelnya ada di sisi seberang jalan tapi katanya agak masuk (bukan pinggir jalan). Ternyata harus jalan lumayan jauh, walaupun cukup mudah dicari karena ada cukup petunjuk tanda panah bertuliskan “Eduard Heinrich Haus”. Jalannya gelap, sepi, dan melewati pepohonan segala, jadinya agak tidak nyaman kalau malam2 gini. Akhirnya jam 8.30an saya sampai di hostel, check in dan langsung ke kamarnya. Di dalam kamar ada 6 tempat tidur, set meja kursi, lemari loker, toilet, dan bath room. Tapi sama sekali tidak ada handuk dan sabun mandi! Walah.. yah namanya juga hostel. Secara umum hostelnya rapih dan bersih bgt sih. Malam itu total ada 5 orang yang menginap di kamar itu, 3 sepertinya dari Pakistan/Bangladesh, seorang bule, dan saya, semuanya kelihatannya backpackers.

Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan
Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan

Besok paginya saya bangun sekitar jam 5.30, shalat subuh dan siap2 check out. Jam 7 saya sarapan di cafetaria, menunya ya itu2 lagi, roti, sereal, keju, dll. Kangen bubur ayam or lontong kari euy.. hehehe.. Jam 8an saya check out dari hostel.

Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik
Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik

Saya sudah merencanakan jalur tur dari peta turis yang saya punya. Di Salzburg ada banyak tourist attractions, lebih dari 30. Jalur tur saya dimulai dari Festungs Hohensalzburg (sebuah benteng kuno raksasa berusia hampir 1000 tahun), menyeberangi sungai Salzach yang membelah kota, dan berakhir di Schloss Mirabell & Mirabellgarten (istana dan taman) yang letaknya dekat dengan stasiun Salzburg.

Patung Mozart
Patung Mozart

Jam 8an saya berangkat dari hostel, saya berjalan menyusuri sungai Salzach, pagi hari itu dingin sekali, jalanan juga masih sepi, mungkin karena hari Minggu. Sekitar 20an menit kemudian saya sudah melihat bentengnya merdiri megah diatas bukit. Saya masuk melalui Mozart Square dan ketemu “Mozart” disana. Disekelilingnya berderet restoran dan toko suvenir, tapi semuanya masih tutup. Hari masih agak gelap dan mendung juga, saya duduk dulu saja di salah satu bangku menunggu hari agak terang. Turis2 sudah berdatangan juga, yang saya lihat ada yang dari RRC, Korea, dan Jepang (dari bahasanya).

Fountain yang rumit di depan katedral
Fountain yang rumit di samping katedral

Untuk sampai ke bentengnya bisa pakai kereta bernama “Festungsbahn” dengan biaya 11.3 euro (3.3 euro utk kereta + 8 euro utk masuk benteng). Atau bisa juga jalan kaki ke atas bukit. Mana yang saya pilih? Yang gratisan dong hehehe.. Tangga2nya sangat terjal tapi cukup nyaman dilalui, 10an menit kemudian saya sudah sampai di gerbang bentengnya. Karena waktu terbatas, saya putuskan tidak akan masuk, karena masih banyak sudut kota yang saya ingin lihat.

Deretan kereta kuda yang bisa disewa
Deretan kereta kuda yang bisa disewa

Setelah turun dari benteng, saya menyusuri sudut2 kota lainnya. Di jalan saya lihat ada banyak sekali turis dari Asia, ya memang kota ini salah satu tujuan wisata utama di Austria. Akhirnya hampir jam 4 sore saya menyeberangi sungai dan sampai di Schloss Mirabell, sebuah istana dengan taman bunga yang indah di depannya. Istana yang cukup tua, dibangun tahun 1600an. Melepas lelah saya duduk2 dulu saja di sana. Turisnya ramai sekali. Saya lihat ada beberapa dari Malaysia, tapi tidak ada satupun dari Indonesia.

Sebuah square di sekitar Residenzplatz
Sebuah square di sekitar Residenzplatz

Sekitar jam 6 sore saya sampai di stasiun, dan langsung turun hujan lumayan deras, alhamdulillah saya tidak kehujanan. Tiket bisa dibeli di mesin2 otomatis, tapi saya pilih beli di loket saja. Di ticket office ada dua counter, di sebelah kiri ada Deutsche Bahn (Jerman), dan di kanan ada OBB (Austria). Saya beli tiket dari counter OBB, harganya 57 euro, transfer satu kali di Udine (Salzburg-Udine-Trieste). Masalahnya adalah.. keretanya berangkat jam 1.30 dini hari! Walah… ya sudah mau gimana lagi dong..

Kios Suvenir
Kios Suvenir

Saya jalan2 sebentar di area stasiun, saya lihat banyak sekali polisi yang lalu-lalang, berbaju hitam bertuliskan “Polizei”. Rasanya aneh juga ko stasiun saja sampai harus dijaga banyak sekali polisi. Tapi saya segera mengerti sebabnya: banyaaak sekali pengungsi dari timur tengah yang terus menerus berdatangan pakai kereta. Sebenarnya mereka hanya transit saja di Salzburg, mereka langsung lanjut ke Muenchen (Jerman). Setiap kali rombongan ini datang, mereka selalu “digiring” oleh polisi2 tsb.

Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng
Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng

Di stasiun hanya ada satu waiting room ber-heater, jadinya selalu penuh karena banyak penumpang yang menunggu. Alhamdulillah akhirnya saya bisa dapat satu kursi. Kalau menunggu di luar sangat ga nyaman, dingin bgt!

Gerbang Benteng
Gerbang Benteng

Capek jg lho nunggu berjam2 gt. Akhirnya kereta saya datang sekitar jam 00.30. Saya cari cabin saya, daan.. ternyata penuh dengan pemuda2 berwajah timur tengah/Afrika utara yang sudah nyenyak tidur! Bahkan ada yang tidur di lantai segala! Kabinnya juga bau bgt, ky campuran bau badan dan rokok.. Waduh repot nih…

Suasana Sungai Salzach
Suasana Sungai Salzach

Akhirnya saya pilih cari tempat kosong di kabin lain saja.. ngeri ah kalau harus semaleman dgn mereka di kabin yg bau itu.. hmpff.. Alhamdulillah akhirnya dapat kursi di kabin yg isinya turis RRC dan seorang bule.

Schloss Mirabell
Schloss Mirabell

Kalau saya bandingkan dengan Florence, pesona Salzburg memang berbeda. Gaya arsitektur gedung2nya tidak seglamor dan seheboh Florence. Salzburg bisa dibilang bergaya anggun dan kalem, mungkin secara umum style-nya lebih dekat dengan Eropa timur.

Alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚

-Fin

From Trieste to Hallstatt (or Salzburg) by Night Train

From Trieste to Attnang-Puchheim

  • Train ticket is around 60 euro (Trieste-Udine-AttnangPuchheim), there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Trieste at around 8.30pm and arrives in Udine at around 10pm
  • In Udine transfer to other train
  • Train departs from Udine at around 11pm and arrives in Attnang-Puchheim at around 5am
  • The train stops in Salzburg at around 4am, so you can get off there also

From Attnang-Puchheim to Hallstatt Station

  • Train ticket is around 12 euro, there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Attnang-Puchheim at around 6am (there is also another one at around 7am)
  • Train arrives in Hallstatt station at around 7.30am

From Hallstatt station to Hallstatt Village

  • Ferry ticket is 2.5 euro
  • First ferry departs at around 8am, and then every 20 minutes
  • Crossing the lake only takes less then 10 minutes

Ask me if you have questions.

Catatan Perjalanan: Hallstatt, Austria

Weekend kemarin kami punya 2 hari penuh (Sabtu-Minggu) jika mau jalan2. Kemana pilihan jalan2 saya kali ini? Austria. Tepatnya ke tempat bernama Hallstatt, yang juga dikenal sebagai “The Jewel of Salzkammergut” karena kecantikannya. Salzkammergut adalah sebuah lake district di Austria.

Kata Wikipedia:Β Hallstatt, is a village in the Salzkammergut, a region in Austria. It is located near the HallstΓ€tter See (a lake). At the 2001 census, it had 946 inhabitants. Hallstatt is known for its production of salt, dating back to prehistoric times, and gave its name to the Hallstatt culture, a culture often linked to Celtic, Proto-Celtic, and pre-Illyrian peoples in Early Iron Age Europe, c.800–450 BC. Some of the earliest archaeological evidence for the Celts was found in Hallstatt. Salt was a valuable resource, so the region was historically very wealthy. It is possible to tour the world’s first known salt mine, located above downtown Hallstatt. The village also gave its name to the early Iron Age Hallstatt culture and is a World Heritage Site for Cultural Heritage. Hallstatt is a popular tourist attraction owing to its small-town appeal.

Biar aman, saya beli tiket kereta sehari sebelumnya (Kamis) di stasiun Trieste Centrale. Memang tiket bisa dibeli online di http://www.trenitalia.it, tapi saya beli di loket stasiun saja lah, biar lebih “pasti”. Tiket saya beli seharga 60 euro, dengan tujuan Attnang-Puchhein Bahnhof di Austria, dengan satu kali ganti kereta di Udine (Italia). Ini adalah kereta malam yang dikenal dengan nama Euronight Train. Hari jumat malam saya berangkat dari Adriatico naik bis no. 6 yang jam 19.50 dan sampai stasiun jam 20.10. Saya mampir dulu di minimarket di dalam stasiun untuk beli roti dan minuman, harga roti sekitar 2-3 euro, dan minuman sekitar 1 euro.

Stasiun Hallstatt
Stasiun Hallstatt

Di kereta saya bertemu teman satu course dari Bangladesh, katanya dia mau jalan2 ke Roma. Gerbongnya terdiri dari beberapa kabin berpintu, dimana di masing2 kabin ada 6 kursi (3-3 berhadapan). Sebenarnya saya tidak suka model kursi berhadapan seperti ini karena jadi tidak santai, meluruskan kaki juga jadi repot. Kursinya sebenarnya bisa diatur menjadi tempat tidur, tapi itu kalau kabinnya hanya berisi maksimal 3 orang. Ternyata saya sendirian di kabin itu, sip deh. Kereta berangkat jam 20.40, dan saya sampai di Udine hampir jam 10 malam. Saya turun dan pindah kereta yang berangkat sekitar jam 11 malam.

Kapal Ferry "Stefanie"
Kapal Ferry “Stefanie”

Kalau dari Trieste tadi saya pakai Trenitalia, dari Udine ini saya pakai kereta OBB milik Austria. Di departure board tertulis “Wien Hauptbahnhof”, yup kereta ini adalah jurusan Venice-Vienna via Udine. Lagi2 keretanya tipe kabin 6 kursi. Saya carilah nomor kursi saya, kabin tampak gelap dan pas saya buka pintunya, di dalam ada 2 bule sedang tidur, walah.. Mau gimana lagi, terpaksa saya bangunkan mereka deh, mereka bangun dgn agak kaget dan saya tunjukkan tiket saya. Mereka bilang mungkin saya bisa pakai kabin lain saja, lalu mereka mondar-mandir di gerbong cari kabin yg kosong. Ketemu kabin yang kosong, dan dia bilang “you pakai kabin ini saja, bebas kok ini mah”. Wah kok aneh gini ya, di tiket ada nomor kabin dan kursi, tapi di kereta malah harus milih kabin sendiri. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Ternyata dari Venice kereta ini cukup kosong, saya sendirian di kabin itu, sip bgt karena keenam kursinya bisa saya sulap jadi king size bed! Haha asyik bgt naik kereta malem dan bisa tidur beneran di “tempat tidur”!

Hallstatt Panorama
Hallstatt Panorama

Sekitar jam 5 subuh saya sampai di Attnang-Puchheim, hari masih gelap dan dingin sekali. Di sini saya bertemu 4 anak muda turis dari RRC yang keliatan bingung celingukan, dan salah satu dari mereka tiba2 menyapa saya, “excuse me, are you chinese?” Whaaat.. wajah jelas2 bule gini masa disangka chinese sih πŸ˜€ wkwkwk.. Saya bilang “nope, I’m Indonesian”. Mereka bilang salah naik kereta, tujuan mereka sama dengan saya, Hallstatt. Dan mereka bilang “we follow you!” hee??? lah saya juga kan baru pertama ini ke Austria, ya sudah lah, akhirnya dengan gagah dan penuh wibawa saya bilang aja “follow me!” πŸ˜€ wkwkwk

Hallstatt Panorama
Hallstatt Panorama

Disini saya beli tiket local train ke Hallstatt seharga 12 euro. Mesin tiketnya ada menu English, jadi memudahkan. Kereta berangkat sekitar 6 pagi, dan sampai di Hallstatt sekitar jam 7.30. Matahari baru saja terbit ketika kami sampai di Hallstatt.

Hallstatt Town Square
Hallstatt Town Square

Stasiun terletak di pinggir danau, dan turun dari kereta langsung terhampar pemandangan yang luar biasa indaaah sekali bgt.. Hallstatt ini adalah kota kecil (atau desa?) tradisional Austria yang cantik sekali, terletak di pingir danau, dikelilingi gunung2 dengan puncak putih bersalju.. bener2 indah sekali.. subhanallah…

Hallstatt Panorama
Hallstatt Panorama

Seperti mimpi rasanya saya akhirnya bisa benar2 datang ke kota kecil yang indah ini.. ga pernah nyangka.. alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Saya berjalan2 sebentar menyusuri jalan setapak di tepian danau, sambil menikmati udara pagi yang dingin sekali tapi segar..

Toko Suvenir
Toko Suvenir

Kotanya terletak di seberang danau, sekitar jam 8.15 saya naik kapal ferry menyeberangi danau Hallstatt dengan biaya 2.5 euro (one way). Kapal ferrynya mungkin seukuran bis, dan dia punya nama: Stefanie.Β  Waktu tempuhnya hanya kurang dari 10 menit, tapi pemandangannya luar biasa…

Rumah2 Unik
Rumah2 Unik

Sesampainya diseberang, saya susuri jalan2nya yang kecil dan diapit rumah2 yang unik. Karena kota kecil ini terletak di sisi gunung, maka jalan2nya naik menanjak, bahkan beberapa rumah terlihat tinggi sekali di atas seperti menggantung.

Kota kecil yang cantik sekali...
Kota kecil yang cantik sekali…

Travelling memang perlu stamina yang bagus, karena kita akan jalan kaki lumayan jauh, di Hallstatt saya jalan kaki selama lebih dari 5 jam. Sekitar jam 2 siang saya sudah kembali ke dock ferry, dan sekitar jam 2.30 sore saya naik kereta di stasiun Hallstatt.

Well, that’s all for now πŸ™‚

Kecelakaan Motor :-(

Astaghfirullah…

Hari ini jam 7.30 pagi saya mengalami kecelakaan motor di bunderan Cimahi di perjalanan menuju kampus.

Ada orang yang menerobos lampu merah dan tiba2 menabrak motor yg saya kendarai. Saya sudah coba rem tapi tidak sempat karena orang itu ngebut sekali, dan saya pun jatuh di jalanan. Bodi motor rusak lumayan parah, hampir setengah bagian depan motor hancur/hilang, setang juga sampai agak bengkok. Saya sendiri cedera pada kaki kanan, ada luka dan juga memar, saat ini bengkak dan jadi sulit jalan 😦

Tadi dibantu polisi yang langsung datang dan diselesaikan secara kekeluargaan, saya minta semua kerugian saya diganti, dan saya tahan e-KTP orang yang menabrak saya.

Yah.. semoga kaki saya bisa segera sembuh.. amiinn

Ya Allah sepertinya saya tahu kenapa kejadian ini bisa terjadi tepat pada hari Rabu ini.. saya mengerti.. pelajarannya sudah saya dapat ya Allah.. I learned it the hard way.. saya janji akan berusaha tidak mengulanginya lagi.. saya tahu dan mengerti..

Alhamdulillah saya selamat..

Foto 1
Foto 1
Foto 2
Foto 2

“Ternyata Tuhan memberikan semua yang saya inginkan…”

Salah seorang dosen saya memasuki masa pensiun pada tahun ini. Dan tadi hari ini ada acara Appreciation Day untuk beliau, dimana beliau memberikan sebuah speech. Beliau adalah Pak Dr.-Ing Suparno Satira. Saya pertama kali mengenal beliau sebagai dosen pengajar mata kuliah Fisika Moderen ketika saya di tingkat 2. Saya mengingat beliau sebagai dosen yang sabar dan tidak pernah marah.

Beliau memberikan speech yang sangat menarik, yaitu ide beliau mengenai yang namanya “Momentum Field”, konsep yang baru kali ini saya dengar. Beliau menggunakan analogi dari gravity field, electric field, dan magnetic field. Beliau bahkan mem-propose satu set persamaan yang setara dengan persamaan elektromagnetik Maxwell yang indah itu, beliau namakan “Suparno Equations”, lengkap dengan Suparno constant, yang setara dengan konstanta gravitasi, atau konstanta 1/4*pi*e0 di kelistrikan.

Tapi yang tak kalah menarik adalah ketika beliau bercerita mengenai jalan kehidupan beliau sejak masa awal kuliah S1 sampai menjadi dosen senior di jurusan Fisika. Salah satunya beliau bercerita bahwa sebenarnya dulu beneran cita2 ingin sekali masuk jurusan Kimia, pada saat itu, untuk masuk ke suatu jurusan, mahasiswa harus mengikuti semacam tes/wawancara yang harinya berbeda2 untuk tiap jurusan. Saat itu beliau sudah mengikuti tes/wawancara untuk jurusan Fisika, tapi apa mau dikata, ketika besoknya akan mengikuti yang untuk jurusan Kimia, tiba2 beliau harus pulang kampung untuk suatu urusan keluarga yang sangat penting. Jadilah beliau “terpaksa” terdampar di Fisika. Udah beneran cita2 bgt eh kandas, kebayang dong kecewanya kaya apa. Beliau juga cerita beberapa kisah dan pengalaman lainnya yang juga menarik.

Setelah bercerita berbagai hal itu, beliau diam sejenak, dan kemudian berkata kira2 seperti ini, “Setelah saya renungkan dan pikirkan, semua kejadian yang saya alami memang ada hikmahnya… dan… ternyata Tuhan memberikan semua yang saya inginkan…” Kata2 ini yang membuat saya jadi merinding.. beliau kemudian diam lagi agak lama dan terlihat menahan luapan emosinya…

Hal ini sih yang bikin saya jadi agak kepikiran..

Well, morale behind the story? Ya bahwa kita sendiri juga seringkali tidak paham mengenai hal2 yang kita pikir kita inginkan, dan ketika tidak tercapai, merasa kecewa..

Hmm.. terus terang saya juga sering merasa kecewa, bahkan sangat kecewa, ketika tidak bisa mendapatkan hal2 yang saya pikir saya inginkan…

Orang2 tua kita memang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, beruntunglah orang2 tua yang mampu mengerti hikmah dari jalan kehidupan yang dilalui. Dan jauh lebih beruntung lagi orang2 muda yang mampu menyerap dan memahami hikmah dan wisdom dari orang2 yang lebih tua…

Terimakasih Pak Suparno, atas semua ilmu yang telah diberikan, dan juga atas speech nya hari ini.

Selesai.

[Januari 2015, Syeilendra Pramuditya]