Hey, what's going on?

Archive for the ‘economics’ Category

New Post

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 6, 2014

Posted in economics | Leave a Comment »

Rumah sebagai investasi?

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 15, 2013

Investasi rumah?

Investasi rumah?

Dulu saya tidak terlalu mengerti kenapa harga rumah terus saja “naik” dengan sangat cepat.

Kemudian saya agak mengerti bahwa hal tersebut adalah akibat devaluasi mata uang (selain memang ada juga efek ketakseimbangan supply-demand).

Tapi ternyata ada sebab lain yang mungkin saja jauh lebih signifikan dari devaluasi mata uang: ulah para spekulan rumah.

Karena itu belakangan ini saya selalu mengernyitkan kening sambil tersenyum simpul kalau ada orang yang bilang/cerita/menawarkan “investasi properti” dengan koar2 semangat 45 dan mata berbinar2, seolah2 keuntungan ratusan juta sudah didepan mata.

Ada baiknya anda mencari tahu definisi “investasi” terlebih dahulu, seperti saya tulis di post ini.

Jadi sama seperti kegiatan membeli emas, kegiatan membeli rumah bukanlah sebuah aksi investasi, tapi merupakan aksi spekulasi. Karena dalam prosesnya, sama sekali tidak ada barang atau jasa apapun yang diproduksi! Dan seperti semua aksi spekulasi lainnya, spekulasi rumah memang bisa saja memberikan keuntungan yang besar (memang hal inilah yang selama ini terjadi).

BI juga menyatakan bahwa 31 trilyun kredit properti diduga untuk spekulasi.

Spekulasi bagaimana? Yaitu membeli rumah semata2 hanya untuk segera dijual lagi. Mendapat untung tanpa melakukan kerja apapun! Sedap kan.

Lalu kenapa harus gusar? Karena akibat dari kegiatan spekulasi ini adalah harga rumah menjadi terus saja naik secara eksponensial tanpa sebab yang jelas. Konsumen menjadi sangat overpaying. Dan semakin banyak orang yang tidak mampu membeli rumah. Yang rumahnya banyak semakin banyak, dan yang belum mampu membeli rumah menjadi benar2 tidak mampu membelinya.

Jadi jika anda kebetulan punya uang lebih, terus bersyukurlah dan ucapkan Alhamdulillah dan jangan lupa zakat dan sodaqoh, daan.. jangan dipakai untuk membeli rumah hanya untuk dijual lagi, lebih baik gunakanlah untuk membuat bisnis yang benar, misalnya membuat restoran, toko, atau bahkan rumah kost. Selain mendapat untung dan membuka lapangan kerja baru, anda juga memutar perekonomian dengan cara memproduksi barang dan jasa secara nyata.

Belilah rumah hanya jika anda benar2 akan menempatinya.

So please! Berhentilah mengatakan bahwa rumah itu adalah investasi! Terimakasih.

Posted in economics | Leave a Comment »

Deliberate yen devaluation is coming: is it time to escape? but to where?

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 3, 2013

Ada berita menarik tentang policy keuangan yang akan diambil PM Jepang yang baru saja terpilih, Mr. Shinzo Abe [1,2,3]. Intinya adalah bahwa pak PM akan berusaha sekuat tenaga untuk menurunkan nilai tukar Yen terhadap mata uang lainnya, alasannya ya sederhana: agar produk2 ekspor Jepang terasa murah di pasar dunia, yang pada akhirnya diharapkan akan menggerakan kembali ekonomi Jepang yang bermasalah selama beberapa tahun belakangan.

The new PM, Mr. Shinzo Abe.

The new PM, Mr. Shinzo Abe.

Currency war pada dasarnya adalah usaha memanipulasi mata uang masing2 demi kepentingan masing2 negara, dalam hal ini mereka berusaha menurunkan nilai tukar mata uang mereka. Salah satu instrumen untuk mengontrol manipulasi ini adalah interest rate yang dikeluarkan bank sentral, logikanya simpel [4,6]:

  • interest rate tinggi > orang malas berhutang > supply uang menjadi terbatas > nilai tukar tinggi > produk ekspor terasa mahal di pasar dunia sehingga tidak laku
  • interest rate rendah > orang semangat berhutang > supply uang melimpah > nilai tukar rendah > produk ekspor terasa murah di pasar dunia sehingga bisa laku

Saat ini bank2 sentral di dunia ramai2 saling menurunkan interest rate nya sampai hampir 0% [4,5], sehingga semua orang sedang saling menyandra. Metode lainnya untuk menurunkan nilai tukar mata uang adalah salah satunya dengan cara meng-inflate volume uang yang beredar melalui mekanisme “pembelian” government bonds (Surat Utang Negara/SUN) [7,8]. Triknya simpel, pemerintah mengeluarkan bonds, dan bank sentral mem-print uang, kemudian saling ditukar. Uang yang baru di-print ini kemudian dipakai sebagai “stimulus penggerak ekonomi”.

Bahkan sangking semangatnya pak PM Jepang untuk meng-encourage orang2 untuk berhutang yen, beliau sampai2 menyarankan agar interest rate Bank of Japan diturunkan sampai minus! [10] Yang berarti bank akan membayar orang2 yang mau berhutang! walah!

Trik2 manipulasi uang ini mungkin saja diam2 sudah diterapkan oleh otoritas moneter Jepang (?), karena kalau diamati, ternyata dalam 3 bulan terakhir nilai yen turun hampir 10% relatif terhadap USD (setelah selama 5 tahun trend nya yen selalu menguat terhadap USD) [9]:

Menurunnya nilai yen terhadap USD selama Oktober-Desember 2012

Nilai yen terhadap USD turun hampir 10% selama Oktober-Desember 2012

Demikian juga dengan nilai tukar yen terhadap rupiah yang turun hampir 10% dalam 3 bulan terakhir [9]:

Nilai yen terhadap rupiah turun hampir 10% selama Oktober-Desember 2012

Nilai yen terhadap rupiah turun hampir 10% selama Oktober-Desember 2012

Bahkan relatif terhadap emas, nilai tukar yen sudah turun hampir 15% dalam 6 bulan terakhir:

Nilai yen terhadap emas turun hampir 15% selama Juli-Desember 2012

Nilai yen terhadap emas turun hampir 15% selama Juli-Desember 2012

So selamat kepada anda yang memiliki saving dalam bentuk yen, karena dalam 3 bulan terakhir purchasing power anda dalam rupiah sudah hilang entah kemana sebanyak ~10% (dan ~15% jika diukur dalam emas).

Maka mari kita sama2 mendoakan pak PM, agar beliau selalu semangat dan bisa berhasil dalam usahanya untuk menurunkan nilai tukar yen (termasuk terhadap rupiah), sehingga Jepang bisa kembali mengekspor produk2 industrinya ke pasar dunia dan ekonomi Jepang bisa pulih dan menggeliat kembali. šŸ˜‰

Tapi ya konsekuensinya, anda2 yang saat ini memiliki saving dalam yen dan berniat mengkonversi ke rupiah tahun depan, ya siap2 saja kehilangan purchasing power sampai beberapa puluh persen. Agar anda2 tidak terlalu kaget nanti, berikut ini adalah ilustrasi hitung2an sederhananya:

Misal 3 bulan yang lalu anda punya tabungan 5 juta yen, maka dalam rupiah:

3 bulan lalu: JPY 5 juta dikalikan 123 rupiah/yen = Rp. 615 juta

Hari ini: JPY 5 juta dikalikan 112 rupiah/yen = Rp. 560 juta

Anda sudah kehilangan Rp. 55 juta dalam 3 bulan terakhir.

Misalnya pak PM berhasil menurunkan nilai tukar yen sebesar 20% dalam 6 bulan kedepan, maka:

Hari ini (anda sudah kehilangan Rp. 55 juta): Rp. 560 juta

Juni 2013: Rp. 5 juta dikalikan 90 rupiah/yen = Rp. 450 juta

So anda mungkin saja bisa kehilangan Rp. 110 juta dalam 6 bulan kedepan.

***

Atau anda ingin menyelamatkan diri dengan mengkonversi saving anda ke mata uang lain yang aman? tapi ke mata uang apa?

Jawabannya adalah tidak ada mata uang yang “aman”. Karena nilai mata uang apapun selalu bisa dimanipulasi dengan trik2 yang biasanya disebut “monetary policy” masing2 negara. Dunia saat ini beroperasi berdasarkan sistem keuangan yang sama. Anda tidak bisa lari kemanapun!

– There is always somebody out there who decides what your “money” can buy –

Di titik ini seharusnya anda bertanya dengan marah: saving yang saya miliki sekarang saya peroleh dari hasil bekerja selama bertahun2, kenapa nilainya bisa seenaknya diturunkan oleh orang lain tanpa saya bisa mencegahnya?!

Adil? tentu saja tidak.

Ada banyak alasan2 lainnya mengapa sistem keuangan yang digunakan saat ini amat sangat tidak adil dan inherently corrupt, dimana beberapa efek yang notoriously paling merusak adalah inflasi dan reversed wealth transfer. Insya Allah lain kali mungkin bisa kita bahas di artikel terpisah.

*Ouw btw, saya belum bilang ya, kalau saya pendukung gerakan kembali ke real money.

Presiden Rusia pada pertemuan G8 tahun 2009 menyerukan dunia untuk kembali ke real money yang bebas manipulasi: emas.

Presiden Rusia pada pertemuan G8 tahun 2009 menyerukan dunia untuk kembali ke real money yang bebas manipulasi: emas.

Referensi:

  1. Japan pushes world closer to currency wars
  2. Japan to join currency wars as exports slump
  3. Japan may fire first in any currency war
  4. BBC: What’s the currency war about?
  5. US Federal Reserve: Why are interest rates being kept at a low level?
  6. CBS News: Global Currency War: What It Means, And What To Do About It
  7. MIT: The Federal Reserve and Money Supply
  8. PennState lecture on monetary policy
  9. http://finance.yahoo.com
  10. Japan Daily Press: LDPā€™s Abe calls on Bank of Japan to issue interest rates below zero

Beberapa artikel terkait yang menarik:

Posted in economics | Tagged: , , , | 2 Comments »

The Omnipotent Central Bank: Bank Indonesia (BI)

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 3, 2013

Komplek Gedung Bank Indonesia di Jakarta

Komplek Gedung Bank Indonesia di Jakarta

Ketika saya membaca Pasal-pasal 7, 8, 9 dan 48 UU No.23 Tahun 1999 itu, instinct saya mendorong saya untuk berkesimpulan negatif: ā€œIni negara di dalam negara!ā€ Hal ini berdasar keraguan saya tentang bagaimana mungkin bisa menjadi sangat ekslusif, bahwa Bank Indonesia sekaligus menetapkan dan melaksanakan kebijaksaan moneter (secara independen). Ibaratnya pemerintah menjadi terbungkam, disisihkan peran aktifnya untuk mengatur kebijaksanaan ekonomi yang pasti selalu mengandung kebijaksanaan moneter sebagai derivatnya. Entah dari mana datangnya naskah undang- undang Bank Indonesia semacam itu.” – Prof. Sri Edi Swasono, Guru Besar FEUI [5]

***

Gara-gara global economic mess yang masih saja melanda dunia sejak 2008, sejak setahun lalu (2011) saya jadi tertarik dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang “ekonomi”, pemicu minat saya ini mungkin adalah banyaknya pemberitaan yang membahas masalah ini, sehingga mau tidak mau saya jadi tahu perihal ekonomi juga. Ternyata cabangnya banyak juga kalau didalami, mulai dari prinsip2 kapitalisme, central banking, fiat money, monetary inflation-deflation, economic expansion-contraction, business cycle, loan mechanisms, government bonds & securities, pasar modal, saham, dan banyak lagi..

Belakangan ini saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang central banking, sampai2 saya sempat juga baca2 “Modern Money Mechanics” keluaran The Federal Reserve Bank of Chicago [6], yang konon merupakan “the Bible of banking magic”. Menarik juga lho manual trik money game ini, saya merekomendasikan anda2 yang benar2 ingin mengerti bagaimana sebenarnya sistem perbankan itu “bekerja” untuk membacanya juga.

Saya juga jadi tahu kalau ternyata sesaat setelah krismon 1998 yang membuat semua orang panik, bank sentral RI dibuat menjadi sebuah superbody yang fully independent, saya juga jadi tahu kalau pihak asing diperbolehkan untuk memiliki saham di “industri” (sebenarnya apa “produk” mereka ya? hutang?) perbankan nasional sampai 99%, batas ini adalah yangĀ  tertinggi di jagad raya.

Nah.. sampai akhirnya saya membaca UU yang berkaitan dengan bank sentral “milik pemerintah kita”: Bank Indonesia. Jadilah saya tahu kalau ternyata BI itu serupa tapi tak sama dengan bank sentral Amerika, The Fed. Ada beberapa perbedaan mendasar yang menurut saya baik, maksud saya konsep bank sentral di Indonesia itu lebih baik dari konsep serupa yang dipakai Amerika.

Berkaitan dengan posisi BI yang konon independen, ternyata BI tidak main2 lho, beberapa pasal2 UU dibawah ini adalah excerpt dari UU tentang BI yang menegaskan “kemerdekaanya”. Untuk lebih lengkapnya silahkan anda baca sendiri UU nya secara keseluruhan.

***

Beberapa Pasal dalam Undang-Undang tentang Bank Indonesia

“Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.” – [1, pasal 4(2)]

“Dilhat dari sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, kedudukan BI sebagai lembaga negara yang independen tidak sejajar dengan lembaga tinggi negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung. Kedudukan BI juga tidak sama dengan Departemen karena kedudukan BI berada di luar pemerintahan. Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar BI dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai Otoritas Moneter secara lebih efektif dan efisien.” – [4]

“Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.”- [1, pasal 20]

“Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan Pengeluaran, Pengedaran, dan/atau Pencabutan dan Penarikan Rupiah.”- [2, pasal 11(3)]

“Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang mengedarkan Rupiah kepada masyarakat.”- [2, pasal 16(1)]

“Dewan Gubernur adalah pimpinan Bank Indonesia” – [1, pasal 1(1)]

“Anggota Dewan Gubernur tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatannya kecuali karena yang bersangkutan mengundurkan diri, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, atau berhalangan tetap.” – [1, pasal 48]

“Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak dapat diberhentikan oleh Presiden, kecuali bila mengundurkan diri, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, tidak dapat hadir secara fisik dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dinyatakan pailit atau tidak mampu memenuhi kewajiban kepada kreditur, atau berhalangan tetap.” – [3]

“Rapat Dewan Gubernur diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter yang dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara;” – [1, pasal 43(1a)]

“Pemerintah wajib meminta pendapat Bank Indonesia dan/atau mengundang Bank Indonesia dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi, perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas Bank Indonesia atau masalah lain yang termasuk kewenangan Bank Indonesia.”- [1, pasal 54(1)]

“Dalam hal Pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara, Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia.” – [1, pasal 55(1)]

“Gubernur, Deputi Gubernur Senior, Deputi Gubernur, dan/atau pejabat Bank Indonesia tidak dapat dihukum karena telah mengambil keputusan atau kebijakan yang sejalan dengan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini sepanjang dilakukan dengan iktikad baik.” – [1, pasal 45]

“Dewan Gubernur mengangkat dan memberhentikan pegawai Bank Indonesia.”- [1, pasal 44(1)]

“Dewan Gubernur menetapkan peraturan kepegawaian, sistem penggajian, penghargaan, pensiun, dan tunjangan hari tua serta penghasilan lainnya bagi pegawai Bank Indonesia.”- [1, pasal 44(2)]

“Gaji, penghasilan lainnya, dan fasilitas bagi Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur ditetapkan oleh Dewan Gubernur.”- [1, pasal 51(1)]

***

Hmm.. siapa mau menjadi “orang BI“?


Referensi:

  1. UU nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia
  2. UU nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang
  3. http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Dewan+Gubernur/
  4. http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Hubungan+Kelembagaan/Lembaga+Negara/
  5. Independensi Bank Indonesia Yang Terbukti Runyam, Sri Edi Swasono (FEUI)
  6. Modern Money Mechanics, The Federal Reserve Bank of Chicago [here or here]

Posted in economics | Tagged: , , | Leave a Comment »

Apakah mata uang Rupiah sesuai dengan konstitusi?

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 2, 2013

Disclaimer: saya bukanlah praktisi hukum profesional, artikel ini saya tulis berdasarkan pengetahuan yang mostly saya dapat melalui internet. Namun demikian saya tetap berusaha seakurat mungkin dan juga mencantumkan sumber2 yang se-reliable mungkin. Jika ternyata anda menemukan informasi yang kurang akurat, atau anda memiliki informasi tambahan, maka silahkan beritahu saya dengan menuliskan komentar anda. Terimakasih.

Bundel2 uang rupiah yang baru di-print dan siap diedarkan.

Bundel2 uang rupiah yang baru di-print dan siap diedarkan.

UUD 1945, sebagai supreme law of the land, merupakan sumber hukum tertinggi di Republik Indonesia, dan sebagai konsekuensinya, segala sumber hukum turunan yang tidak sesuai dengan UUD 1945 tidak bisa diberlakukan.

Menyangkut perihal mata uang, UUD 1945 (amandemen keempat) mengaturnya pada pasal 23b, yang berbunyi [1]:

Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.

Perhatikan kata2 harga mata uang, lho mata uang ko ada harganya? bukankah mata uang lah yang mengukur harga barang2 lainya? Pasal ini sama persis dengan yang tertulis di naskah asli UUD 1945, hanya cara penomorannya saja yang diubah, dari pasal 23(3) menjadi 23b. Menurut saya pasal ini memang kurang eksplisit.

Anda mungkin masih ingat kalau UUD 1945 itu terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan, dimana pasal2 yang kurang jelas dijelaskan pada bagian Penjelasan. Nah celakanya ternyata setelah amandemen, Penjelasan UUD 1945 dihapuskan! [2]. Mungkin alasannya karena sudah ada MK yang memiliki otoritas untuk memberi tafsir atas Batang Tubuh UUD 1945 yang dianggap kurang jelas.

Namun demikian, penjelasan naskah asli UUD 1945 atas pasal 23 tersebut ternyata cukup menarik [3]:

Juga tentang hal macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. Ini penting karena kedudukan uang itu besar pengaruhnya atas masyarakat. Uang terutama adalah alat penukar dan pengukur harga. Sebagai alat penukar untuk memudahkan pertukaran jual-beli dalam masyarakat. Berhubung dengan itu perlu ada macam dan rupa uang yang diperlukan oleh rakyat sebagai pengukur harga untuk dasar menetapkan harga masing-masing barang yang dipertukarkan. Barang yang menjadi pengukur harga itu, mestilah tetap harganya, jangan naik turun karena keadaan uang yang tidak teratur. Oleh karena itu, keadaan uang itu harus ditetapkan dengan undang-undang.

Kalimat2 pada paragraf diatas memang bisa dibilang agak sedikit sulit dimengerti. Namun demikian, siapapun ahli keuangan saat itu yang menyusun paragraf penjelasan tersebut, ia mengerti bahwa barang yang digunakan sebagai pengukur harga haruslah tetap harganya. Mengenai hal ini, guru besar UI yang juga ketua MK pertama, Prof. Jimly Asshiddiqie, dalam salah satu artikelnya [4] menyatakan pendapat yang serupa, berikut petikannya:

Dari penjelasan itu dapat dipahami bahwa dalam konsep ā€œthe framersā€™ of the constitutionā€, yang dimaksud dengan harga mata uang dalam rumusan Pasal 23 ayat (3) UUD 1945 asli itu kurang lebih terkait dengan pengertian kurs rupiah terhadap mata uang asing. Penetapan oleh negara melalui undang-undang dimaksudkan agar nilai mata uang rupiah itu tidak diserahkan kepada mekanisme pasar bebas secara mengambang atau ā€˜floatingā€™. Kurs rupiah haruslah ā€˜fixed rateā€™, bukan ā€˜floating rateā€™.” – Jimly Asshiddiqie

Sedangkan mengenai penjelasan UUD 1945 yang ditiadakan sejak amandemen keempat, beliau berpendapat bahwa secara normatif penjelasan atas pasal 23 tidaklah berubah [4].

Saya sendiri kurang sependapat dengan pendapat beliau yang menyatakan bahwa harga mata uang Rupiah itu terkait dengan kurs fixed rate terhadap mata uang asing. Karena saat ini semua mata uang di dunia menggunakan sistem floating rate, tidak terkecuali US Dollar. Bagaimana bisa membuat sesuatu yang fixed dengan cara mengaitkan terhadap sesuatu yang floating? Tidak bisa.

Ternyata hal ini sudah dijelaskan dalam pasal 1 UU No. 19/1946 [5]:

Dengan tidak mengurangi peraturan yang akan ditetapkan selanjutnya dalam Undang-undang tentang Uang Republik Indonesia, maka sebagai dasar nilai ditentukan sepuluh rupiah uang Republik Indonesia sama dengan emas murni seberat lima Gram.

Berdasarkan UU ini, dasar nilai mata uang kita adalah 0,5 gram emas/rupiah.

Saya kebetulan menemukan beberapa catatan menarik berkaitan kondisi Indonesia pada masa itu [6]:

  • Gaji minimum pegawai negeri dan buruh adalah 30 rupiah yang berarti 15 gram emas. Jika menggunakan ukuran hari ini (harga tengah = Rp. 544600/gram [7]), maka nilai 15 gram emas adalah sekitar Rp. 8,17 juta. Jelas jauh lebih tinggi dari standar gaji terendah PNS dan buruh saat ini.
  • Harga padi (=gabah?) adalah 6,9 rupiah/kwintal, yang berarti 3,45 gram emas. Dalam ukuran hari ini berarti adalah sekitar Rp. 1,88 juta/kwintal. Angka ini juga jauh lebih tinggi dari harga rata2 gabah hari ini yang hanya sekitar Rp. 0,34 juta saja [8]. Turunnya harga produk2 pertanian memang bisa dijelaskan sebagai akibat dari semakin berkembangnya IPTEK bidang pertanian yang memungkinkan produktifitas dan efisiensi pertanian menjadi berlipat2, sehingga jumlahnya melimpah ruah dan harganya menjadi turun di pasaran.

Dari angka2 diatas, kita patut bertanya:

– Apakah kondisi dan struktur ekonomi & keuangan saat itu lebih baik dari saat ini?

– Apakah distribusi kemakmuran (wealth distribution) saat itu lebih adil dibanding saat ini?

– Mengapa saat ini petani2 Indonesia yang bekerja keras menggarap lahannya, secara umum hidupnya tidaklah makmur? sedangkan orang2 di Jakarta yang bekerja di “dunia hiburan” menjadi demikian luar biasa kayanya?

Hey, what’s going on? šŸ˜€

Saya tidak bisa memastikan apakah UU ini masih berlaku atau tidak, saya sudah coba cari kalau2 ada UU yang lebih baru mengenai pencabutan/pembatalan UU ini, tapi saya tidak bisa menemukan peraturan semacam itu.

Undang-undang terbaru tentang mata uang yang bisa saya temukan adalah UU nomor 7 tahun 2011 [9], dimana dalam pasal 3(1) dinyatakan:

Harga Rupiah merupakan nilai nominal yang tercantum pada setiap pecahan Rupiah.

Undang2 baru ini sama sekali tidak menyebut apapun tentang emas. Dasar nilai rupiah adalah semata2 hanyalah jumlah nol yang di print pada lembaran2 uang, nothing more (eh?!).

Disinilah kemudian pertanyaan saya muncul: Pasal 23b tentang mata uang dalam UUD 1945 amandemen keempat adalah 100% sama persis dengan pasal 23(3) UUD 1945 naskah asli. Penjelasan UUD 1945 naskah asli tentang pasal ini menyebutkan bahwa harga mata uang itu harus tetap harganya. Hal ini kemudian diperjelas lagi oleh UU no. 19/1946 (masih perlu dikonfirmasi apakah UU ini masih berlaku atau sudah dicabut) bahwa harga mata uang kita adalah 0,5 gram emas untuk tiap 1 rupiah. Lalu kenapa saat ini (berdasarkan UU no. 7/2011) harga rupiah didefinisikan hanya sebagai nilai nominal yang tercantum? apa barang bersifat fixed yang dijadikan dasar harga/nilai rupiah? seperti dinyatakan pada bagian Penjelasan dari UUD 1945 yang asli?

~ Apakah mata uang Rupiah sesuai dengan konstitusi? ~

*Saya pribadi setuju jika emas digunakan (kembali) sebagai dasar penentuan harga/nilai rupiah.

Referensi

  1. Website BAPPENAS: UUD 1945
  2. Website Depkumham: Perubahan Undang-Undang Dasar Antara Harapan dan Kenyataan
  3. Penjelasan UUD 1945 – Naskah Asli
  4. Prof. Jimly Asshiddiqie: Redenominasi Konstitusional Mata Uang Rupiah
  5. Undang-undang nomor 19 tahun 1946
  6. Masalah tanggal Mulai Beredarnya ORI dan Hari Keuangan
  7. Daily gold spot price – PT. Logam Mulia
  8. Harga gabah dan beras naik (Okt. 2012)
  9. UU nomor 7 tahun 2011

Posted in economics | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Uang kertas, inflasi, redenominasi, dan kebingungan

Posted by Syeilendra Pramuditya on December 21, 2011

Berita menarik bulan ini: BI berencana melakukan redenominasi mata uang rupiah 1:1000 dengan time frame 10 tahun, ini berarti kita akan memasuki masa sosialisasi dan transisi moneter, yang juga berarti orang2 akan mencari tahu dan berfikir (lebih dari biasanya) tentang mata uang.

Orang2 akan memiliki kesadaran Ā moneter lebih tinggi dari biasanya, di saat seperti ini bukan hanya BI yang bisa sosialisasi, tiap2 kita juga harus melakukan sosialisasi tentang sistem keuangan & moneter aneh yang entah kenapa terus-menerus diterapkan selama puluhan tahun, so teman2, di waktu2 luang, mari kita semua pelajari tentang inflasi dan redenominasi, mari pelajari betapa hal ini sudah terjadi puluhan kali di banyak negara, dan akan selamanya terjadi selama banknote digunakan sebagai currency, mari juga pelajari bagaimana inflasi dan spekulasi & manipulasi keuangan (krismon 97/98 adalah salah satu contohnya) telah merusak purchasing power semua orang.

Inflasi di Jerman tahun 1920an

Di waktu2 senggang, mari jelaskan pada orang2 sekitar kita tentang inflasi uang kertas dan semua kebingungan yang menyertainya, saat2 seperti ini, ketika perubahan moneter yang cukup signifikan akan terjadi, adalah momentum yang sangat bagus sekali bagi kita semua untuk mempelajari, mendiskusikan, dan mensosialisasikan kembalinya sistem moneter berbasis real money: koin emas dan perak.

Satu negara bagian Malaysia, Kelantan, sudah memulai gerakan kembali ke real money emas dan perak. Dan salah satu agenda utama capres 2012 Amerika, congressman Ron Paul juga adalah kembali ke real money. Gerakan kembali ke real money sudah dimulai di berbagai belahan dunia sejak bbrp tahun lalu, termasuk pendirian World Islamic Mint. Kalau perubahan politik di Mesir (katanya) bisa terjadi karena facebook dan twitter, mengapa tidak perubahan moneter di Republik Indonesia juga bisa terjadi karena facebook dan twitter.

Terimakasih telah membaca artikel singkat ini, dan saya meng-encourage anda semua untuk menulis artikel semacam ini, siapa tahu perubahan yang sebenarnya akhirnya bisa benar2 terjadi.

Silahkan baca juga:

*Saya merekomendasikan anda membaca artikel2 dan buku2 congressman Ron Paul tentang sistem moneter berbasis real money.

http://us.finance.detik.com/read/2011/12/06/074028/1783497/5/rp-1000-segera-berganti-menjadi-rp-1Ā [arsip]

Posted in economics | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Emas sebagai investasi?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 19, 2011

Sebenarnya apa sih artinya kata2 ā€œinvestasiā€ itu? beberapa definisi ā€investasiā€ menurut google define adalah sebagai berikut:

  1. The action or process of investing money for profit or material result
  2. A thing that is worth buying because it may be profitable or useful in the future
  3. An act of devoting time, effort, or energy to a particular undertaking with the expectation of a worthwhile result
  4. Laying out money or capital in an enterprise with the expectation of profit
  5. The commitment of something other than money (time, energy, or effort) to a project with the expectation of some worthwhile result
  6. To put your money into CDs, money market accounts, mutual funds, savings accounts, bonds, stocks or objects that you hope will grow in value and earn a profit
  7. Investment is the commitment of money or capital to purchase financial instruments or other assets in order to gain profitable returns in the form of interest, income (dividend), or appreciation of the value of the instrument

Apakah terminologi ā€investasi emasā€ memenuhi definisi diatas? Secara sederhana, saya sendiri memahami kata2 “investasi” sebagai kegiatan mengalokasikan sumber daya (biasanya diartikan sebagai uang) yang kita miliki, dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan.

Kita sering mendengar bahwa harga emas terus saja naik dari waktu ke waktu, sehingga setelah sekian waktu, kita bisa menjual kembali emas kita dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya dulu, sehingga dikatakan kita mendapat keuntungan/profit. Apa benar?

Secara umum, menurut saya jawabannya adalah tidak benar.

Kegiatan membeli dan menyimpan emas bukanlah investasi.

Penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa uang kertas lah yang mengalami devaluasi atau penurunan purchasing power. Kita kaum Muslim tentu pernah mendengar bahwa di zaman Rasulullah dulu, harga seekor kambing yang baik (kelas 40 kg) adalah sekitar 1 Dinar, dan hari ini pun ternyata harga seekor kambing tetap sekitar 1 Dinar. Jadi kalau 1400 tahun yang lalu kita punya 1 Dinar, maka 1 Dinar tersebut hari ini memiliki purchasing power yang praktis tetap dan sama sekali tidak bertambah. Dalam kasus ini, setelah disimpan selama 1400 tahun, profit yang kita dapat adalah 0%.

Beberapa dari kita mungkin pernah melihat grafik yang menggambarkan ā€harga emasā€ dari waktu ke waktu, grafik semacam ini:

Harga emas selama 10 tahun terakhir dalam US Dollar

Grafik semacam saya katakan agak misleading, karena kita jadi dapat kesan bahwa harga emas terus saja naik dalam 10 tahun terakhir. Padahal grafik tersebut lebih menggambarkan purchasing power uang kertas yang terus menurun dalam 10 tahun terakhir.

Lalu bagaimana dengan Yen? well, secara umum trend nya hampir sama dengan Dollar, berikut ini adalah grafik harga emas selama 2 tahun terakhir dalam Yen:

Harga emas selama 2 tahun terakhir dalam Yen

Baru sekarang saya aware terhadap hal ini.. dan saya lumayan menyesal. Dengan menyimpan uang kertas, purchasing power saya telah berkurang 36% dalam 2 tahun. Kalau –let say– 2 tahun yang lalu saya punya uang 10 juta Yen, maka saat itu saya bisa membeli 111 oz emas. Dengan jumlah uang yang sama, hari ini saya hanya akan mendapat 73 oz saja.

Devaluasi mata uang Yen telah dengan paksa merampas 36% real value dari purchasing power yang saya miliki 2 tahun yang lalu… ahh.. betapa ignorant nya saya dulu…

Sedangkan trend harga emas terhadap Yen selama 10 tahun terakhir bisa dilihat di grafik berikut:

Harga emas selama 10 tahun terakhir dalam Yen

Penurunan purchasing power Yen relatif terhadap emas dapat lebih mudah dipahami dengan menggunakan grafik yang menunjukan perubahan jumlah emas yang dapat dibeli dengan sejumlah uang Yen dari tahun ke tahun. Grafik berikut ini adalah hasil rekonstruksi kasar dari grafik diatas, menunjukan jumlah emas yang dapat dibeli (dalam satuan oz) dengan menggunakan uang sejumlah 100,000 Yen:

Jumlah emas yang dapat dibeli dengan 100,000 Yen

Dalam 10 tahun, harga emas relatif terhadap Yen telah naik sebesar 216%, atau dengan kata lain Yen telah kehilangan purchasing power nya sebesar 68% dalam 10 tahun. Dengan demikian tingkat devaluasi rata2 Yen per tahunnya adalah sekitar -11%/tahun. Jadi kalau kita menyimpan sumber daya yang kita miliki dalam bentuk tabungan uang kertas di bank, kita memerlukan bunga bank (interest) minimal 11%/tahun, hanya untuk mencegah menurunnya purchasing power kita dari tahun ke tahun. Tapi apa ada bank yang memberi bunga setinggi itu? sepertinya tidak ada, apalagi bank2 di Jepang.

Dalam beberapa situasi sangat khusus yang relatif jarang terjadi, purchasing power emas memang bisa saja meningkat, dengan demikian kegiatan menyimpan emas bisa saja memberi keuntungan real. Tapi dalam kondisi normal, memiliki emas sama sekali tidak memberi keuntungan dan tidak membuat kita jadi lebih kaya. Emas hanya menjaga purchasing power kita, dan dengan demikian membuat kita tetap kaya.

Konsep dasarnya sebenarnya amatlah sederhana: kegiatan investasi yang membuat kita menjadi lebih kaya haruslah mengandung proses produksi, baik itu berupa produksi barang maupun jasa, dan kegiatan menyimpan emas jelas sama sekali tidak mengandung kegiatan produksi apapun. Menyimpan emas lebih merupakan kegiatan spekulasi (untung2an) ketimbang investasi.

Kalau kita ingin menjadi lebih kaya, jauh lebih baik berinvestasi di hal2 yang riil, seperti memiliki aset berupa perkebunan, peternakan, sawah, pabrik, restoran, rumah kontrakan, minimarket, dlsb.

Posted in economics | Tagged: , , , | 1 Comment »

Emas sebagai media penyimpan nilai?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 16, 2011

Gara2 beberapa hari ini secara tidak sengaja menyimak berita2 ekonomi dunia, terutama tentang kondisi ekonomi Amerika yang konon sedang dalam kondisi tidak menentu, dan juga tentang US Dollar yang nasibnya juga tidak menentu, saya jadi sempat membaca beberapa artikel yang menyarankan penggunaan emas -instead of paper money- sebagai media penyimpan nilai, lengkap dengan seabrek argumen yang mereka paparkan. Dan jadilah saya menulis artikel ini

Ketika seseorang memutuskan untuk menggunakan emas sebagai media penyimpan nilai, salah satu pertanyaan natural yang muncul adalah: emas dalam bentuk apa yang sebaiknya saya beli? Berdasarkan bentuknya, emas dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok: emas batangan (gold bar), koin emas (gold coin), dan perhiasan & karya seni (gold jewelry & artwork).

Dulu saya kira yang namanya emas batangan itu harus berupa balok emas yang besar2, yang beratnya 1 kg, ternyata ini tidak benar. Gold bar ternyata tersedia dari mulai ukuran yang sangat kecil, 1 gram. Gold bar ini hampir pasti selalu tersedia di toko2 emas, dimana disain nya bisa berbeda2, biasanya yang tertulis di permukaannya adalah nama toko/pencetak emasnya, kemurniannya, dan tentu saja beratnya. Salah satu gold bar kelas 24 karat yang paling populer di dunia adalah Credit Suisse produksi Swiss, tersedia dari ukuran 1 gram sampai 1 kg. Emas dalam bentuk gold bar biasanya disain nya sangat sederhana dan tidak artistik.

Credit Suisse gold bar dalam berbagai ukuran

Berbeda dengan gold bar yang biasanya menggunakan ukuran gram, gold coin hampir selalu menggunakan ukuran troy ounce (oz atau ozt), dimana 1 troy ounce = 31,1 gram. Gold coin ini hanya tersedia di sedikit toko2 emas tertentu, karenanya relatif lebih sulit didapat dibanding gold bar. Perbedaan lainnya adalah bahwa gold coin biasanya diasosiasikan dengan negara pembuatnya, dan menjadi semacam simbol nasional dari negara tersebut. Beberapa gold coin yang paling populer di dunia saat ini adalah:

Kelas 24 Karat (kemurnian 99,99%): Canadian Mapple Leaf, Austrian Philharmonic, dan American Buffalo

Kelas 22 Karat (kemurnian 91,67%): South African Krugerrand dan American Eagle

Koin2 tersebut tersedia dalam 4 ukuran: 1 ozt, 1/2 ozt, 1/4 ozt, dan 1/10 ozt. Walaupun memiliki berat yang sama persis, tiap jenis koin terkadang dijual dengan harga yang berbeda, karena tiap koin memiliki nilai premium yang berbeda2. Premium adalah biaya tambahan terhadap spot price, yang merupakan biaya2 diluar harga bahan dasar, seperti biaya pencetakan dan transport. Tampilan fisik gold coin jelas lebih menarik dibanding gold bar, dan karena itu harga per gram nya selalu lebih mahal dari gold bar, yaitu karena biaya pencetakannya yang lebih tinggi.

Austrian Philharmonic dalam 4 ukuran

Perhiasan & karya seni emas (jewelry & artwork) tersedia dalam berbagai bentuk, yang paling sering kita lihat tentu anting2, kalung, gelang, dan cincin. Beberapa toko emas juga menjual karya seni emas dalam bentuk patung, gelas, sendok, kipas, dan hiasan2 lainnya. Emas kategori ini adalah yang paling indah dan artistik, dan memiliki harga per gram yang paling mahal, karena kita juga harus membayar elemen seni di dalamnya, yang seringkali sulit diukur secara kuantitatif.

Jadi emas dalam bentuk apa yang sebaiknya dibeli? itu tergantung situasi, kondisi, dan alasan anda membeli emas. Kalau anda seorang yang sangat kaya, maka pertanyaan ini jadi tidak relevan karena anda bisa membeli semuanya tanpa perlu banyak berfikir. Tapi kalau anda seorang middle class yang dengan hati2 membeli emas sebagai media penyimpan nilai yang bebas inflasi dan sewaktu2 dengan mudah dapat dicairkan, maka jawabannya jelas: belilah gold bar.

Gold bar dan gold coin dapat dibeli secara online di berbagai website, diantaranya sebagai berikut:

Ada banyak juga perusahaan yang melayani jual-beli sekaligus penitipan emas, beberapa diantaranya sebagai berikut:

Sebenarnya masih lumayan banyak yang ingin saya tulis mengenai emas ini, terutama tentang kemungkinanĀ  penggunaannya dalam daily transactions dan juga tentang interaksinya dengan paper money, so hopefully artikel ini akan disambung di lain waktu..

Some related links:

Posted in economics | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »