Hey, what's going on?

Archive for October, 2015

Catatan Perjalanan: Salzburg, Austria

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 22, 2015

Di artikel sebelumnya saya menulis catatan perjalanan saya ke Hallstatt. Dari Hallstatt saya lanjutkan petualangan ke Salzburg, masih di Austria.

Kata Wikipedia: Salzburg is the fourth-largest city in Austria and the capital of the federal state of Salzburg. Salzburg’s “Old Town” (Altstadt) is internationally renowned for its baroque architecture and is one of the best-preserved city centers north of the Alps. It was listed as a UNESCO World Heritage Site in 1997. The city has three universities and a large population of students. Tourists also frequent the city to tour the city’s historic center, many palaces, and the scenic Alpine surroundings. Salzburg was the birthplace of 18th-century composer Wolfgang Amadeus Mozart.

Suasana Kota Bad Ischl

Suasana Kota Bad Ischl

Dari Hallstatt saya naik kereta yang sekitar jam 14.30, dan sampai di kota Bad Ischl sekitar jam 15.30. Saya menyempatkan diri untuk jalan2 sebentar di Bad Ischl, sebuah kota yang tidak terlalu besar. Stasiunnya ternyata dekat sekali dengan downtown nya, paling jalan kaki hanya 10 menit. Saya melewati semacam shopping street yang penuh deretan toko. Suasananya lumayan ramai, banyak orang yang beraktifitas di luar, entah makan atau hanya ngobrol2 saja.

Salzburg Hauptbahnhof

Salzburg Hauptbahnhof

Sekitar satu jam kemudian saya kembali ke stasiun dan naik bis yang jam 16.30an menuju Salzburg. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Salzburg ini ternyata sangat indah dan menarik, bis kami melewati pedesaan Austria lengkap dengan rumah2 khas Austria yang berlantai dua dan besar. Rumah2nya seperti terbuat dari campuran dinding semen (lantai 1) dan kayu (lantai 2), dan di lantai atasnya ada teras besar dari kayu dengan banyak bunga2 berwarna merah di bagian depannya. Setiap rumah punya halaman yang luaaas sekali berupa hamparan rumput hijau bersih seperti karpet lembut. Bis melalui jalan yang berkelok2 melalui bukit dan lembah, pemandangannya dijamin ga akan bikin bosen deh. Tapi di dalam bis saya rasanya ngantuuuk bgt, mungkin karena capek juga seharian jalan kaki.

Hostel Eduard Heinrich Haus

Hostel Eduard Heinrich Haus

Sekitar jam 6 sore saya akhirnya sampai di Salzburg Hauptbahnhof. Stasiun ini besar megah bgt dan super modern, seperti bandara internasional aja. Saya muter2 dulu di sekitar stasiun, cari makanan, laper euy hehehe.. Akhirnya saya beli roti dan minuman aja minimarket di dalam stasiun. Setelah itu saya langsung naik bis nomor 3 menuju hostel yang sudah saya book online, hostel lho ya, bukan hotel :D. Hostelnya namanya Eduard Heinrich Haus, dgn rate 25 euro/night. Bisnya ada tepat di depan stasiun, yang bener ya memang begini, di depan stasiun langsung ada terminal bis. Tiketnya beli langsung ke abang sopirnya, harganya flat 2.5 euro. Saya harus turun di bus stop yang namanya Polizeidirektion, repotnya di bis tidak ada keterangan nama bus stop. Kita harus susah payah melihat namanya di halte, tulisannya keciiil dan susah sekali dibaca, apalagi malem2 ky gt. Mana bisnya hanya berhenti sebentar sekali di tiap halte, ga sampe semenit. Jadinya saya sering tanya ke abang sopirnya aja.

Menyusuri Sungai Salzach

Menyusuri Sungai Salzach

Saya turun di halte Polizeidirektion sekitar jam 7an malam, dan mulai mencari lokasi hostelnya. Hostelnya ada di sisi seberang jalan tapi katanya agak masuk (bukan pinggir jalan). Ternyata harus jalan lumayan jauh, walaupun cukup mudah dicari karena ada cukup petunjuk tanda panah bertuliskan “Eduard Heinrich Haus”. Jalannya gelap, sepi, dan melewati pepohonan segala, jadinya agak tidak nyaman kalau malam2 gini. Akhirnya jam 8.30an saya sampai di hostel, check in dan langsung ke kamarnya. Di dalam kamar ada 6 tempat tidur, set meja kursi, lemari loker, toilet, dan bath room. Tapi sama sekali tidak ada handuk dan sabun mandi! Walah.. yah namanya juga hostel. Secara umum hostelnya rapih dan bersih bgt sih. Malam itu total ada 5 orang yang menginap di kamar itu, 3 sepertinya dari Pakistan/Bangladesh, seorang bule, dan saya, semuanya kelihatannya backpackers.

Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan

Festung Hohensalzburg dilihat dari kejauhan

Besok paginya saya bangun sekitar jam 5.30, shalat subuh dan siap2 check out. Jam 7 saya sarapan di cafetaria, menunya ya itu2 lagi, roti, sereal, keju, dll. Kangen bubur ayam or lontong kari euy.. hehehe.. Jam 8an saya check out dari hostel.

Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik

Bangunan kecil yang terlihat sangat tua dan unik

Saya sudah merencanakan jalur tur dari peta turis yang saya punya. Di Salzburg ada banyak tourist attractions, lebih dari 30. Jalur tur saya dimulai dari Festungs Hohensalzburg (sebuah benteng kuno raksasa berusia hampir 1000 tahun), menyeberangi sungai Salzach yang membelah kota, dan berakhir di Schloss Mirabell & Mirabellgarten (istana dan taman) yang letaknya dekat dengan stasiun Salzburg.

Patung Mozart

Patung Mozart

Jam 8an saya berangkat dari hostel, saya berjalan menyusuri sungai Salzach, pagi hari itu dingin sekali, jalanan juga masih sepi, mungkin karena hari Minggu. Sekitar 20an menit kemudian saya sudah melihat bentengnya merdiri megah diatas bukit. Saya masuk melalui Mozart Square dan ketemu “Mozart” disana. Disekelilingnya berderet restoran dan toko suvenir, tapi semuanya masih tutup. Hari masih agak gelap dan mendung juga, saya duduk dulu saja di salah satu bangku menunggu hari agak terang. Turis2 sudah berdatangan juga, yang saya lihat ada yang dari RRC, Korea, dan Jepang (dari bahasanya).

Fountain yang rumit di depan katedral

Fountain yang rumit di samping katedral

Untuk sampai ke bentengnya bisa pakai kereta bernama “Festungsbahn” dengan biaya 11.3 euro (3.3 euro utk kereta + 8 euro utk masuk benteng). Atau bisa juga jalan kaki ke atas bukit. Mana yang saya pilih? Yang gratisan dong hehehe.. Tangga2nya sangat terjal tapi cukup nyaman dilalui, 10an menit kemudian saya sudah sampai di gerbang bentengnya. Karena waktu terbatas, saya putuskan tidak akan masuk, karena masih banyak sudut kota yang saya ingin lihat.

Deretan kereta kuda yang bisa disewa

Deretan kereta kuda yang bisa disewa

Setelah turun dari benteng, saya menyusuri sudut2 kota lainnya. Di jalan saya lihat ada banyak sekali turis dari Asia, ya memang kota ini salah satu tujuan wisata utama di Austria. Akhirnya hampir jam 4 sore saya menyeberangi sungai dan sampai di Schloss Mirabell, sebuah istana dengan taman bunga yang indah di depannya. Istana yang cukup tua, dibangun tahun 1600an. Melepas lelah saya duduk2 dulu saja di sana. Turisnya ramai sekali. Saya lihat ada beberapa dari Malaysia, tapi tidak ada satupun dari Indonesia.

Sebuah square di sekitar Residenzplatz

Sebuah square di sekitar Residenzplatz

Sekitar jam 6 sore saya sampai di stasiun, dan langsung turun hujan lumayan deras, alhamdulillah saya tidak kehujanan. Tiket bisa dibeli di mesin2 otomatis, tapi saya pilih beli di loket saja. Di ticket office ada dua counter, di sebelah kiri ada Deutsche Bahn (Jerman), dan di kanan ada OBB (Austria). Saya beli tiket dari counter OBB, harganya 57 euro, transfer satu kali di Udine (Salzburg-Udine-Trieste). Masalahnya adalah.. keretanya berangkat jam 1.30 dini hari! Walah… ya sudah mau gimana lagi dong..

Kios Suvenir

Kios Suvenir

Saya jalan2 sebentar di area stasiun, saya lihat banyak sekali polisi yang lalu-lalang, berbaju hitam bertuliskan “Polizei”. Rasanya aneh juga ko stasiun saja sampai harus dijaga banyak sekali polisi. Tapi saya segera mengerti sebabnya: banyaaak sekali pengungsi dari timur tengah yang terus menerus berdatangan pakai kereta. Sebenarnya mereka hanya transit saja di Salzburg, mereka langsung lanjut ke Muenchen (Jerman). Setiap kali rombongan ini datang, mereka selalu “digiring” oleh polisi2 tsb.

Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng

Festungsbahn, kereta untuk naik ke benteng

Di stasiun hanya ada satu waiting room ber-heater, jadinya selalu penuh karena banyak penumpang yang menunggu. Alhamdulillah akhirnya saya bisa dapat satu kursi. Kalau menunggu di luar sangat ga nyaman, dingin bgt!

Gerbang Benteng

Gerbang Benteng

Capek jg lho nunggu berjam2 gt. Akhirnya kereta saya datang sekitar jam 00.30. Saya cari cabin saya, daan.. ternyata penuh dengan pemuda2 berwajah timur tengah/Afrika utara yang sudah nyenyak tidur! Bahkan ada yang tidur di lantai segala! Kabinnya juga bau bgt, ky campuran bau badan dan rokok.. Waduh repot nih…

Suasana Sungai Salzach

Suasana Sungai Salzach

Akhirnya saya pilih cari tempat kosong di kabin lain saja.. ngeri ah kalau harus semaleman dgn mereka di kabin yg bau itu.. hmpff.. Alhamdulillah akhirnya dapat kursi di kabin yg isinya turis RRC dan seorang bule.

Schloss Mirabell

Schloss Mirabell

Kalau saya bandingkan dengan Florence, pesona Salzburg memang berbeda. Gaya arsitektur gedung2nya tidak seglamor dan seheboh Florence. Salzburg bisa dibilang bergaya anggun dan kalem, mungkin secara umum style-nya lebih dekat dengan Eropa timur.

Alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚

-Fin

Posted in just a story | Leave a Comment »

From Trieste to Hallstatt (or Salzburg) by Night Train

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 21, 2015

From Trieste to Attnang-Puchheim

  • Train ticket is around 60 euro (Trieste-Udine-AttnangPuchheim), there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Trieste at around 8.30pm and arrives in Udine at around 10pm
  • In Udine transfer to other train
  • Train departs from Udine at around 11pm and arrives in Attnang-Puchheim at around 5am
  • The train stops in Salzburg at around 4am, so you can get off there also

From Attnang-Puchheim to Hallstatt Station

  • Train ticket is around 12 euro, there are 6 seats in each cabin
  • Train departs from Attnang-Puchheim at around 6am (there is also another one at around 7am)
  • Train arrives in Hallstatt station at around 7.30am

From Hallstatt station to Hallstatt Village

  • Ferry ticket is 2.5 euro
  • First ferry departs at around 8am, and then every 20 minutes
  • Crossing the lake only takes less then 10 minutes

Ask me if you have questions.

Posted in just a story | Tagged: , , | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Hallstatt, Austria

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 19, 2015

Weekend kemarin kami punya 2 hari penuh (Sabtu-Minggu) jika mau jalan2. Kemana pilihan jalan2 saya kali ini? Austria. Tepatnya ke tempat bernama Hallstatt, yang juga dikenal sebagai “The Jewel of Salzkammergut” karena kecantikannya. Salzkammergut adalah sebuah lake district di Austria.

Kata Wikipedia:Β Hallstatt, is a village in the Salzkammergut, a region in Austria. It is located near the HallstΓ€tter See (a lake). At the 2001 census, it had 946 inhabitants. Hallstatt is known for its production of salt, dating back to prehistoric times, and gave its name to the Hallstatt culture, a culture often linked to Celtic, Proto-Celtic, and pre-Illyrian peoples in Early Iron Age Europe, c.800–450 BC. Some of the earliest archaeological evidence for the Celts was found in Hallstatt. Salt was a valuable resource, so the region was historically very wealthy. It is possible to tour the world’s first known salt mine, located above downtown Hallstatt. The village also gave its name to the early Iron Age Hallstatt culture and is a World Heritage Site for Cultural Heritage. Hallstatt is a popular tourist attraction owing to its small-town appeal.

Biar aman, saya beli tiket kereta sehari sebelumnya (Kamis) di stasiun Trieste Centrale. Memang tiket bisa dibeli online di http://www.trenitalia.it, tapi saya beli di loket stasiun saja lah, biar lebih “pasti”. Tiket saya beli seharga 60 euro, dengan tujuan Attnang-Puchhein Bahnhof di Austria, dengan satu kali ganti kereta di Udine (Italia). Ini adalah kereta malam yang dikenal dengan nama Euronight Train. Hari jumat malam saya berangkat dari Adriatico naik bis no. 6 yang jam 19.50 dan sampai stasiun jam 20.10. Saya mampir dulu di minimarket di dalam stasiun untuk beli roti dan minuman, harga roti sekitar 2-3 euro, dan minuman sekitar 1 euro.

Stasiun Hallstatt

Stasiun Hallstatt

Di kereta saya bertemu teman satu course dari Bangladesh, katanya dia mau jalan2 ke Roma. Gerbongnya terdiri dari beberapa kabin berpintu, dimana di masing2 kabin ada 6 kursi (3-3 berhadapan). Sebenarnya saya tidak suka model kursi berhadapan seperti ini karena jadi tidak santai, meluruskan kaki juga jadi repot. Kursinya sebenarnya bisa diatur menjadi tempat tidur, tapi itu kalau kabinnya hanya berisi maksimal 3 orang. Ternyata saya sendirian di kabin itu, sip deh. Kereta berangkat jam 20.40, dan saya sampai di Udine hampir jam 10 malam. Saya turun dan pindah kereta yang berangkat sekitar jam 11 malam.

Kapal Ferry "Stefanie"

Kapal Ferry “Stefanie”

Kalau dari Trieste tadi saya pakai Trenitalia, dari Udine ini saya pakai kereta OBB milik Austria. Di departure board tertulis “Wien Hauptbahnhof”, yup kereta ini adalah jurusan Venice-Vienna via Udine. Lagi2 keretanya tipe kabin 6 kursi. Saya carilah nomor kursi saya, kabin tampak gelap dan pas saya buka pintunya, di dalam ada 2 bule sedang tidur, walah.. Mau gimana lagi, terpaksa saya bangunkan mereka deh, mereka bangun dgn agak kaget dan saya tunjukkan tiket saya. Mereka bilang mungkin saya bisa pakai kabin lain saja, lalu mereka mondar-mandir di gerbong cari kabin yg kosong. Ketemu kabin yang kosong, dan dia bilang “you pakai kabin ini saja, bebas kok ini mah”. Wah kok aneh gini ya, di tiket ada nomor kabin dan kursi, tapi di kereta malah harus milih kabin sendiri. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Ternyata dari Venice kereta ini cukup kosong, saya sendirian di kabin itu, sip bgt karena keenam kursinya bisa saya sulap jadi king size bed! Haha asyik bgt naik kereta malem dan bisa tidur beneran di “tempat tidur”!

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Sekitar jam 5 subuh saya sampai di Attnang-Puchheim, hari masih gelap dan dingin sekali. Di sini saya bertemu 4 anak muda turis dari RRC yang keliatan bingung celingukan, dan salah satu dari mereka tiba2 menyapa saya, “excuse me, are you chinese?” Whaaat.. wajah jelas2 bule gini masa disangka chinese sih πŸ˜€ wkwkwk.. Saya bilang “nope, I’m Indonesian”. Mereka bilang salah naik kereta, tujuan mereka sama dengan saya, Hallstatt. Dan mereka bilang “we follow you!” hee??? lah saya juga kan baru pertama ini ke Austria, ya sudah lah, akhirnya dengan gagah dan penuh wibawa saya bilang aja “follow me!” πŸ˜€ wkwkwk

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Disini saya beli tiket local train ke Hallstatt seharga 12 euro. Mesin tiketnya ada menu English, jadi memudahkan. Kereta berangkat sekitar 6 pagi, dan sampai di Hallstatt sekitar jam 7.30. Matahari baru saja terbit ketika kami sampai di Hallstatt.

Hallstatt Town Square

Hallstatt Town Square

Stasiun terletak di pinggir danau, dan turun dari kereta langsung terhampar pemandangan yang luar biasa indaaah sekali bgt.. Hallstatt ini adalah kota kecil (atau desa?) tradisional Austria yang cantik sekali, terletak di pingir danau, dikelilingi gunung2 dengan puncak putih bersalju.. bener2 indah sekali.. subhanallah…

Hallstatt Panorama

Hallstatt Panorama

Seperti mimpi rasanya saya akhirnya bisa benar2 datang ke kota kecil yang indah ini.. ga pernah nyangka.. alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Saya berjalan2 sebentar menyusuri jalan setapak di tepian danau, sambil menikmati udara pagi yang dingin sekali tapi segar..

Toko Suvenir

Toko Suvenir

Kotanya terletak di seberang danau, sekitar jam 8.15 saya naik kapal ferry menyeberangi danau Hallstatt dengan biaya 2.5 euro (one way). Kapal ferrynya mungkin seukuran bis, dan dia punya nama: Stefanie.Β  Waktu tempuhnya hanya kurang dari 10 menit, tapi pemandangannya luar biasa…

Rumah2 Unik

Rumah2 Unik

Sesampainya diseberang, saya susuri jalan2nya yang kecil dan diapit rumah2 yang unik. Karena kota kecil ini terletak di sisi gunung, maka jalan2nya naik menanjak, bahkan beberapa rumah terlihat tinggi sekali di atas seperti menggantung.

Kota kecil yang cantik sekali...

Kota kecil yang cantik sekali…

Travelling memang perlu stamina yang bagus, karena kita akan jalan kaki lumayan jauh, di Hallstatt saya jalan kaki selama lebih dari 5 jam. Sekitar jam 2 siang saya sudah kembali ke dock ferry, dan sekitar jam 2.30 sore saya naik kereta di stasiun Hallstatt.

Well, that’s all for now πŸ™‚

Posted in just a story | 2 Comments »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (lagi)

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 14, 2015

Ga nyangka juga, setelah awal tahun ini saya dapat funding untuk ke ICTP di Italia, ternyata Oktober ini saya dapat funding lagi dari ICTP untuk berpartisipasi di salah satu workshopnya, alhamdulillah.. πŸ™‚

Workshopnya tentu saja berkaitan dengan nuklir, tepatnya berjudul: β€œEssential Knowledge Workshop on Deterministic Safety Assessment and Engineering Aspects Important to Safety”, yang berlangsung selama 2 minggu mulai 12 Oktober. Instrukturnya hampir semua dari IAEA dan topiknya bener2 fokus ke nuclear safety. Saya mendapat undangan via email dua bulan sebelum acara tsb dimulai (11 Agustus). Setelah ICTP mengirim dokumen2 yang diperlukan, saya segera mengurus VISA ke Kedubes Italia di Jakarta, alhamdulillah kali ini pun prosesnya mudah dan cepat, yaitu hanya seminggu saja dan tanpa wawancara, gratis pula.

Toko Suvenir di Bandara Istanbul

Toko Suvenir di Bandara Istanbul

Kali ini saya mendapatkan rute perjalanan yang berbeda dari sebelumnya, yaitu menggunakan maskapai Turkish Air dan transit di Istanbul. Saya berangkat dari Bandung menggunakan bis Primajasa jam 10.30, dan sampai di Bandara sekitar jam 2 siang. Biasalah konservatif, soalnya hawatir macet kalau terlalu siang. Nunggu agak lama juga di bandara, tapi lumayan lah di Soetta ada wifi gratisan. Sampai akhirnya sekitar jam 6 sore baru bisa check in. Seperti biasa pesawatnya jumbo jet yang kursinya 8 kolom, dan jam 8.30 pm pesawatnya berangkat. Entertainment system nya ga sebagus Etihad, layarnya kadang nyala kadang mati.. duh.. Perjalanan ke Istanbul lamaaa bgt, 12.5 jam, alhamdulillah penerbangan kami relatif smooth. Kami mendarat jam 5 subuh waktu Istambul, waktu transit selama sekitar 3 jam saya gunakan untuk jalan2 aja di duty free shops. Souvenirs nya bagus2, tapi mahal euy.. decorative plates/glasses sekitar 10 euro..

Venice dilihat dari udara

Venice dilihat dari udara

Sekitar jam 8.30 am waktu setempat saya terbang lagi lanjut ke Venice. Kali ini pesawatnya lebih kecil, yang kursinya 6 kolom saja. Menurut info sang pilot, kami akan terbang di ketinggian kurang dari 10.000 feet, jadinya selama perjalanan pesawat sering sekali vibrasi akibat menembus awan, kebetulan saat itu cuaca memang sangat berawan, dari jendela juga sering tidak terlihat apapun. Penerbangan memakan waktu hampir 3 jam, dan kami mendarat di Venice sekitar jam 10an waktu setempat. Perjalanan ke ICTP masih cukup panjang. Dari bandara Venice saya naik bis β€œATVO” ke stasiun kereta Venezia-Mestre, tiketnya dibeli di vending machine seharga 8 euro. Sampai di stasiun sekitar jam 11, kemudian saya beli tiket di vending machine dengan tujuan stasiun Trieste Centrale seharga 13 euro, saya dapat kereta yang jam 1 siang. Sekitar jam 3 sore saya sampai di stasiun Trieste, kemudian saya beli tiket bis ke ICTP di sebuah toko kecil di dalam stasiun. Bis nomor 6 dengan tiket seharga 1.35 euro. Akhirnya saya sampai di ICTP hampir jam 4 sore.. alhamdulillah..

Bandara Venice

Bandara Venice

Perjalanan yang panjang dan melelahkan, door-to-door dari rumah ke ICTP memakan waktu sekitar 34 jam dengan berganti2 moda transportasi bis-pesawat-bis-kereta-bis..

Kalau boleh memilih, sepertinya lebih nyaman mendarat di bandara Ronchi daripada Venice, karena kalau dari Ronchi kita tinggal naik bis sekali saja dan langsung sampai ICTP dalam 45 menit. Dan lagi, di bandara Istanbul dan Venice tidak ada wifi gratisan! Kalau di Abu Dhabi, Rome, dan Ronchi semua ada wifi gratis, bahkan di Soetta aja ada.

Pemandangan dari teras kamar

Pemandangan dari teras kamar

Sampai ICTP saya langsung registrasi, ternyata saya mendapat kamar 502 di Adriatico Guest House, di lantai 5 dan menghadap ke laut! πŸ˜€ Room mate saya berasal dari Nigeria, namanya Akpanowo Mbet Amos dan dia katanya staf di badan nuklir Nigeria.

Di ICTP kami dapat uang saku dan penggantian local transport, total saya mendapat 235 euro (~IDR 3.7jt), lumayan.. alhamdulillah πŸ™‚

Bismillah.. semoga semuanya lancar disini.. amiin

Posted in just a story | Leave a Comment »