Hey, what's going on?

Archive for February, 2015

Catatan Perjalanan: Firenze, Italia

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 24, 2015

Hari Senin kemarin (23 Feb) saya ber-solotravelling ke ibukota dunia renaissance: Firenze (atau Florence).

Saya sebenarnya ingin ke Firenze pada hari Minggu, cuma ramalan cuaca bilang bahwa akan hujan baik di Trieste maupun di Firenze, jadi saya membatalkan rencana itu. Ramalan cuaca bilang pada hari Senin Firenze akan agak cerah (tidak hujan), jadilah saya berangkat hari Senin. Teman2 yang lain tidak ada yang minat ke Firenze, katanya terlalu jauh, so saya pergi sendirian deh.

I know.. I know.. hari Senin memang bukan hari libur, tapi mau gimana lagi.. masa saya ke Italia tapi ga ke Firenze. Yup, saya skip kelas satu hari, gapapa lah sekali2 agak nakal πŸ˜› pokoknya janji besok2 ga bolos lagi deh hehehe..

Kereta yang saya gunakan

Firenze adalah kota yang sangat istimewa, ia adalah pusat sains dan ekonomi Eropa pada abad pertengahan, ibukota dunia Renaissance, dan bahkan juga disebut “Athens of the Middle Ages”. Intinya, Firenze adalah kota yang sangat penting dan kuat di masa lalu, dan juga punya sejarah yang sangat kaya. A must visit city! πŸ˜€

Florence Tourist Map

Florence Tourist Map

Saya berangkat dari Adriatico pagi2 sekali, naik bus yang jam 5.40 menuju stasiun Trieste Centrale. Sampai stasiun saya beli tiket seharga sekitar eur 55, dan kemudian ke minimarket beli sarapan. Jarak Firenze dari Trieste adalah sekitar 400 km, hampir 3 kali jarak Trieste-Venezia, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Harga tiketnya agak mahal, karena jenis keretanya bukan Regionale seperti ketika ke Venezia, tapi jenis High-speed Train. Keretanya jelas lebih nyaman dari Regionale, bentuknya mirip Shinkansen, di dalamnya ada monitor yang menampilkan peta GPS perjalanan, informasi jalur, dan tentu saja iklan. Bahkan ada wifi juga, tapi harus register menggunakan credit card sih. Berbeda dengan kereta ke Venezia yang tanpa seat number, kali ini di tiket tertulis seat number, jadi hati2 jangan asal pilih tempat duduk karena nanti bisa diusir kondektur. Tergantung waktu keberangkatan dari stasiun Trieste Centrale, ada dua jenis tiket/jalur, yaitu direct menuju Firenze, atau harus ganti kereta di stasiun Venezia Mestre. Kereta yang saya gunakan adalah yang direct dan berangkat jam 6.45. Jangan lupa juga untuk mem-validasi tiket di mesin hijau di stasiun, kalau tidak mau kena denda eur 5 di dalam kereta.

Florence Cathedral (Santa Maria del Fiore)

Florence Cathedral (Santa Maria del Fiore)

Di Firenze ada beberapa stasiun kereta, pilih stasiun Firenze Santa Maria Novella ketika membeli tiket, hati2 jangan sampai salah stasiun. Di perjalanan, kereta berhenti di beberapa stasiun, seperti Venezia Mestre, Padova, dan Bologna. Pemandangan selama perjalanan lumayan menarik, melewati pedesaan2 Italia dan ladang2 pertanian, tapi ini hanya sampai Bologna saja. Perjalanan dari Bologna ke Firenze hampir tidak ada pemandangan, karena kereta melewati banyak terowongan yang panjaaaaang, rasanya seperti naik subway saja.

Trieste-Florence (~400 km, 4 hours)

Trieste-Florence (~400 km, 4 hours)

Sekitar jam 10.30 akhirnya saya sampai di stasiun Firenze Santa Maria Novella. Alhamdulillah cuaca cerah, langit biru dengan matahari bersinar :), tapi suhunya dingin juga, sekitar 6 C menurut info di kereta tadi. Di stasiun Firenze, biar aman saya langsung membeli tiket pulang, karena loket pembelian tiket biasanya selalu ada antrian, takut nanti jadi terlalu buru2. Saya membeli tiket untukΒ keberangkatan jam 15.30 seharga sekitar eur 55, jadi saya hanya punya waktu sekitar 4 jam saja untuk menikmati Firenze, sebenarnya terlalu pendek sih. Di depan stasiun ada Tourism Office, saya membeli peta disana seharga eur 1 (bandingkan dengan peta di Venezia yang harganya eur 3).

Deretan toko perhiasan emas di Ponte Vecchio

Kalau di Venezia hanya ada 2 main tourist attractions, yaitu Basilica di San Marco dan Ponte di Rialto, di Firenze ada banyaaaaak tourist attractions! πŸ˜€ Saya pilih jalur utara-selatan, yaitu start dari stasiun, kemudian menuju:

  • Basilica di Santa Maria Novella
  • lanjut ke Capelle Medicee
  • lanjut ke Piazza dell Unita d’Italia Firenze
  • lanjut ke Basilica di San Lorenzo
  • lanjut ke Cattedrale di Santa Maria del Fiore (Florence Cathedral)
  • lanjut ke Palazzo Vecchio
  • lanjut ke Piazza della Signoria
  • menyeberangi sungai Arno melalui Ponte Vecchio
  • lanjut ke Piazza Michelangelo
  • lanjut ke Galleria degli Uffizi
  • dan akhirnya kembali ke stasiun

Jarak dari stasiun sampai ke Piazza Michelangelo sekitar 3-4 km (tergantung jalur), jadi jarak PP sekitar 6-8 km berjalan kaki πŸ™‚ ga tau juga apa 4 jam cukup ya..

Suasana modern hanya terasa di sekitaran stasiun saja, terutama jalan2 utama yang lebar dan diaspal. Tapi sedikit saja dari stasiun, saya seperti masuk ke mesin waktu ke zaman dahulu, suasana kota abad pertengahan langsung terasa πŸ™‚ luar biasa.. Jalanan sempit yang terbuat dari susunan batu dan diapit gedung2 bergaya klasik setinggi 3-4 lantai, benar2 sangat mengasyikan untuk ditelusuri.. Jalan kaki 6-8 km pasti tidak akan terasa terlalu melelahkan.. πŸ™‚

Palazzo Vecchio (sebelah kanan)

Salah satu sudut kota Florence

Di sana juga ada banyak museum yang pasti menyimpan koleksi yang luar biasa, cuma saya tidak mampir karena terbatasnya waktu. Di jalan lagi2 saya melihat banyak turis group tour dari RRC, saya juga melihat banyak turis dari Jepang. Turis RRC sebagian besar adalah grup besar (30-50 orang) yang terdiri dari banyak keluarga, sedangkan turis Jepang sebagian besar adalah anak2 muda yang pergi dalam grup kecil 2-5 orang.

Di mana2 ada banyak toko fashion, restoran, dan juga kios suvenir. Juga ada banyaaak sekali vespa yang terparkir di pinggiran jalan. Di kota ini juga lagi2 ada banyak pengemis, ibu2 tua yang meminta2 uang ke para turis. Seperti halnya kota2 tua Eropa lainnya, jalanan di Firenze sangat tidak terstruktur, jalannya tidak lurus dan ada banyak sekali perempatan, jadi harus hati2 juga jangan sampai tersesat, untungnya ada cukup banyak peta yang tersebar di penjuru kota.

Kurang dari setengah jam kemudian saya akhirnya sampai di Florence Cathedral, sebenarnya inilah tujuan wisata utama dan paling terkenal di Florence. Mulai dibangun pada 1296, butuh waktu 140 tahun (!) untuk menyelesaikan mahakarya ini (bayangkan total biayanya). Bangunannya memang sangat luar biasa, baik dari segi kemegahan dan tentu saja keindahan. Kompleksnya terdiri dari 3 bangunan utama, yaitu katedralnya, menara di sebelah kirinya, dan St. John Baptistery di depannya. Seluruhnya terbuat dari marmer, paduan harmonis dari marmer putih (sebagian besar), merah, dan hijau. Diatas katedral ada kubah merah yang besaaar sekali, yang memang merupakan kubah bata terbesar di dunia.. wow.. Katedralnya terlihat memang dibuat dengan detail yang luar biasa, ada banyak patung marmer yang menghiasinya, juga relief marmer di sekitaran pintu2 masuknya. Belum lagi ukiran2 hias di bawah kubah yang juga sangat indah. Pintu2nya juga sangat indah, penuh dengan ukiran2 relief. Menaranya juga tak kalah luar biasa, terbuat dari marmer 3-warna juga dan dihiasi patung2 marmer, tingginya sekitar 85 m (!) dan ada sebuah bell di bagian atasnya. Sayangnya saya tak bisa melihatΒ St. John Baptistery karena tampaknya saat itu sedang di renovasi karena seluruhnya ditutupi papan/kain. Cukup lama saya berada di Florence Cathedral ini, saya juga mengelilingi bangunan ini beberapa kali dari dekat, benar2 mahakarya arsitektur yang sangat luar biasa..

Interior Palazzo Vecchio

Interior Palazzo Vecchio

Kemudian saya lanjutkan perjalanan melalui jalan2 sempit lagi. Dan kemudian saya sampai di Piazza della Signoria. Tempat ini semacam public square yang cukup luas, dikelilingi gedung2 bergaya klasik dan juga abad pertengahan. Di satu sudutnya terdapat Palazzo Vecchio, bangunan seperti benteng yang merupakan salah satu landmark kota Firenze. Di sampingnya ada Loggia dei Lanzi, semacam paviliun yang di dalamnya ada cukup banyak patung2 marmer klasik. Di sisi lainnya ada patung Fountain of Neptune, dan beberapa patung lainnya. Di sisi lainnya ada juga beberapa restoran.

Kemudian saya lanjutkan perjalanan menuju Ponte Vecchio, sebuah jembatan tua yang unik. Jembatannya cukup lebar, di sisi kanan dan kirinya penuh dengan toko2, yang ternyata seluruhnya adalah toko perhiasan emas dan batu2 mulia. Perhiasannya bagus2.. pengen beli rasanya, tapi apa daya euro di kantong tak memadai πŸ˜› hehehe

Arno River, Florence

Arno River, Florence

Saat itu sudah sekitar jam 2 lebih ketika saya menyeberangi Ponte Vecchio. Saya berjalan menyusuri sungai Arno menuju Piazza Michelangelo, hmm.. ternyata tempatnya lumayan jauh juga. Setelah jam saya menunjukkan pukul 14.30, saya memutuskan untuk kembali saja ke stasiun, karena khawatir ketinggalan kereta.

Di perjalanan menuju stasiun, saya melewati Galleria degli Uffizi dan melihat patung orang2 terkenal di abad pertengahan, seperti Niccolo Machiavelli, Amerigo Vespucci, Galileo Galilei, Donatello, Lorenzo de Medicee, dan yang lainnya.

saya mampir lagi di Santa Maria del Fiore. Saya kelilingi lagi bangunan indah itu. Sejenak saya pandangi lagi bangunan marmer itu.. kagum.. itu yang saya rasakan.. betapa orang2 700an tahun lalu mampu membuat mahakarya seperti ini.. luar biasa..

Fountain of Neptune, Florence

Fountain of Neptune, Florence

Saya sampai stasiun jam 3 lebih sedikit. Setelah istirahat sejenak, saya naik kereta dan berangkat jam 15.30. Sekitar 2 jam kemudian saya sampai di stasiun Venezia Mestre dan berganti kereta. Sekitar jam 6 sore kereta berangkat menuju Trieste. Di dekat Monfalcone kereta sempat delay 20an menit karena masalah teknis katanya. Sekitar jam 20.15 saya sampai di stasiun Trieste Centrale, mampir sebentar di minimarket untuk membeli makan malam, dan naik bis terakhir menuju Grignano/ICTP jam 20.40. Saya sampai di Adriatico hampir jam 9 malam. Agak lelah memang (iya dong total 8 jam di kereta dan habis jalan ~7 km!), tapi puas bangettt!! Alhamdulillah ya Allah.. πŸ™‚

Foto2 lainnya bisa dilihat di album picasa saya.

Firenze

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Venezia, Italia

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 22, 2015

Kota Trieste terletak di kawasan utara Italia, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Venezia, hanya sekitar 150 km. Jadi Sabtu kemarin saya dan 3 teman jalan2 bersama ke Venezia.

Trieste-Venezia by Train (~150 km, 2 hours)

Trieste-Venezia by Train (~150 km, 2 hours)

Saya pergi dengan Bogdan dari Romania, Okan dari Turki, dan Hai dari Vietnam. Kami berempat pergi pagi2 sekali dari Adriatico, naik bis yang jam 6 pagi dan hari masih gelap karena matahari terbit jam 7. Sampai stasiun Trieste Centrale 20 menit kemudian, beli snack dan minuman di minimarket, dan langsung membeli tiket. Jadwal kereta bisa dilihat di http://www.trenitalia.it , ada versi English nya juga. Sebenarnya tiket bisa dibeli melalui mesin otomatis di dalam stasiun, cuma mesinnya hanya bisa menerima uang pas, jadi saya beli dari loket saja. Tinggal bilang mau ke Venezia Santa Lucia, jangan lupa juga bilang Regionale Train, karena ada dua jenis kereta, dan Regionale adalah yang lebih murah. Kemudian bisa pilih mau 1st Class (~eur 20) atau 2nd Class (~eur 13). Terpaksa kami memilih 2nd Class (karena ga ada 3rd Class :D). Kami dapat yang jam 7.15, dan tidak ada seat number, jadi bisa bebas pilih tempat duduk. PENTING: Jangan lupa untuk memvalidasi tiketnya di mesin berwarna hijau yang ada di platform kereta, nanti mesin itu akan mem-print tanggal di tiket kita. Kalau sampai lupa, kondektur akan mengenakan denda sebesar eur 5 di dalam kereta nanti.

Kereta yang kami gunakan

Pilih tempat duduk di sisi kiri, karena pemandangannya lebih bagus dari sisi kanan :). Juga jangan memakai baju hangat berlebihan, karena di dalam kereta sangat hangat dan cenderung panas, selama perjalanan saya hanya memakai kaos saja tanpa sweater. Keretanya lumayan nyaman, kursinya saling berhadap2an, dan juga ada toilet di tiap gerbong. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, dan sekitar jam 9an kami sampai di stasiun Venezia Santa Lucia. Hati2 jangan sampai salah turun di stasiun Venezia Mastre, yang adalah stasiun sebelum Santa Lucia.

Pagi itu langit agak mendung di Venezia, tapi setidaknya tidak sampai hujan. Di stasiun kami tidak menemukan peta, jadi kami masuk ke Info Point yang terletak di luar stasiun sebelah kanan. Ternyata peta tidak gratis, tapi harus beli seharga 3 euro, aneh juga, biasanya tempat wisata selalu ada peta gratis utk pengunjung. Satu hal lagi, kalau perlu sebaiknya ke toilet dulu di stasiun, karena toilet di Venezia tidaklah gratis (kayak di Bandung aja :P), tapi harus bayar sekitar eur 1-1,5.

Langit mendung di Venezia

Sejak keluar pintu stasiun, pemandangannya sudah luar biasa.. πŸ™‚ Stasiun terletak di area Canal Grande, gedung2 dengan arsitektur unik dan indah berjejer di sekelilingnya, termasuk di seberang kanal. Kami langsung menuju tujuan wisata utama di Venezia: Basilica di San Marco, yang terletak di sisi selatan pulau, sekitar 2 km dari stasiun.

Venice Tourist Map

Venice Tourist Map

Sepanjang perjalanan kami melalui gang2 sempit dan menyebrangi banyak sekali kanal2 kecil. Macam2 toko suvenir dan restoran berjejer sepanjang jalan. Satu hal yang saya perhatikan adalah bahwa sebagian besar penjaga toko tampaknya bukanlah orang Venezia/Italia, mereka mirip orang2 dari Asia selatan seperti Srilangka, Bangladesh, atau Nepal. Saya sempat tanya beberapa dari mereka, mereka bilang berasal dari Bangladesh. Beberapa penjaga toko dan restoran saya lihat ada juga yang berwajah Chinese. Sebagian dari mereka tentu ada juga yang berwajah bule. Polisi dengan seragam khas italia juga terlihat di beberapa sudut kota. Ketika sedang melihat2, beberapa kali para penjual bertanya pada saya, “from Malaysia?” 😦 duh emangnya ga mungkin bgt ya orang Indonesia bisa jalan2 ke Venezia..

Deretan toko suvenir

Di sana saya juga melihat cukup banyak turis dari RRC, berupa tour group sebanyak sekitar mungkin 30an orang tiap grup, lengkap dengan group leader yang membawa bendera, dan memberi penjelasan dalam bahasa Cina dengan suara keras. Ekonomi RRC mungkin memang dalam kondisi baik, jadi banyak warganya bisa jalan2 ke Eropa. Dan sepanjang jalan tentu saja banyak orang2 yang menawarkan untuk naik gondola.

Mau coba naik gondola?

Kami berjalan santai karena sambil melihat2 toko suvenir dan beberapa gereja tua yang kami temui sepanjang jalan. Agar tidak tersesat, pokoknya ikuti saja petunjuk anak panah bertuliskan “St. Marco” yang ada di sepanjang jalan. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di jembatan Rialto yang terkenal itu. Jembatannya cukup lebar, suasananya ramai dan crowded sekali, di bagian tengah berjejer toko2 suvenir, dan di sisi jembatan orang2 berebut ingin berfoto. Oh iya, di sepanjang jalan ada banyak sekali pemuda2 yang menawarkan sewa tongsis (tau dong tongsis? :D), mereka bukan bule, tapi kelihatannya adalah orang2 Gypsi berkulit gelap dari Romania.

Setelah sekitar satu jam berjalan dari Rialto, akhirnya kami sampai di St. Marco, yeay! πŸ˜€

St. Marco Square and St. Marco Basilica

St. Marco Square and St. Marco Basilica

St. Marco.. tempat yang luar biasa.. Basilicanya benar2 sangat indah sekali bgt! hehehe.. Terbuat dari marmer berbagai warna, basilica itu juga dipenuhi dengan mosaic dan patung2 klasik yang benar2 indah.. Bangunannya lebih mirip karya seni ketimbang gedung.. bagus sekali.. Di atas gerbang depan, ada 4 patung kuda yang terbuat dari perunggu, orang2 Venezia membawa (mengambil?) patung2 tsb dari Konstantinople beberapa abad lalu. Tapi patung2 itu hanya replika, yang aslinya tersimpan di gedung museum di Venezia.

Suvenir khas Venezia: Venetian Festival Masks

Di depan basilica ada menara merah yang besar, tinggi, dan tentu saja artistik. Dan di samping basilica ada Palazzo Ducale, atau The Doge’s Palace, bangunan yang tak kalah indah yang merupakan istana penguasa Venezia pada zaman dulu. Dan di sisi Palazzo yang menghadap ke laut, ada sebuah tiang yang diatasnya terdapat lambang kota Venezia: Singa Bersayap. Di sekeliling St. Mark Square, ada gedung berwarna putih yang di dalamnya berjejer banyak sekali toko2 dan restoran. Yang membuat sedikit tidak nyaman adalah ada cukup banyak pengemis di St. Marco yang kerap meminta uang, dan lagi2 mereka tampaknya adalah para Gypsi. Banyak juga yang menawarkan bunga mawar dan sewa tongsis, semuanya terlihat seperti orang2 Gypsi dan bukan bule.

Canal Grande

Hari sudah siang dan kami berkeliling mencari makanan. Harga makanan restoran di sana berkisar eur 7 – 15 per porsi. Karena kami adalah para petualang ekonomis :D, kami memutuskan untuk membeli sepotong pizza saja seharga eur 2,50. Setelah makan pizza, sekitar jam 2 kami berpencar masing2 dan sepakat untuk bertemu di stasiun jam 5 sore. Saya kembali ke basilica untuk menikmati keindahan arsitekturnya, saya duduk di depan basilica dan memandangi dengan kagum bangunan indah itu utk beberapa lama.. Alhamdulillah ya Allah.. rasanya seperti mimpi saja saya bisa berlama2 berada di tempat itu…

Kota yang indah..

Kota yang indah..

Setelah itu saya lanjutkan perjalanan menyusuri lorong2 kota yang penuh dengan orang2 yang berlalu lalang, semuanya terlihat sangat unik dan menarik bagi saya.. sangking asyiknya, saya sampai lupa waktu dan terlambat sampai di stasiun :D. Agar tidak tersesat ketika menuju stasiun, ikuti saja anak panah bertuliskan “Piazzale Roma”. Sampai sore hari pun masih banyak sekali turis yang lalu-lalang. Saya sampai sekitar jam 6 sore dan langsung membeli tiket, haha ternyata di situ saya bertemu Bogdan dan Okan yang juga baru saja sampai. Jadilah akhirnya kami pulang bersama, kami dapat kereta yang jam 18.41. Hai tampaknya sudah pulang duluan. Harus hati2 juga jangan sampai salah naik kereta, karena ada kereta yang langsung menuju Trieste (~2 jam perjalanan), dan ada yang melalui Udine sebelum ke Trieste (~3 jam perjalanan).

Kami sampai di stasiun Trieste Centrale sekitar jam 9 malam, dan naik bis terakhir menuju ICTP. Kami sampai di Adriatico sekitar jam 11 malam. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Foto2 lainnya bisa dilihat di album picasa saya.

Venezia

Posted in just a story | Leave a Comment »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (2)

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 17, 2015

Alhandulillah.. hari Minggu siang tanggal 15 Feb saya sudah sampai di ICTP.. πŸ™‚

Dua minggu lalu saya sebenarnya sakit, hari Selasa 3 Feb saya kena panas sampai 39 C. Tiga hari kemudian, Kamis sore 5 Feb, saya periksa darah dan ternyata trombositnya sudah turun ke 166rb.. astaghfirullah.. deg2an juga takut kena demam berdarah atau typhus. Malam itu saya langsung diopname di RS Borromeus..

Kalau demam berdarah, seminggu sejak mulai panas insya Allah bisa pulang dari RS, yang gawat kalau typhus, di RS bisa 2 minggu dan juga harus istirahat di rumah 2 minggu lagi.. wah hawatir juga.. bisa2 ga jadi ke Italia nih..

Setelah hasil lab keluar, ternyata saya kena demam berdarah dan bukan typhus, alhamdulillah.. lho sakit kok alhamdulillah??? πŸ˜€

Hari Senin 9 Feb saya sudah diperbolehkan pulang.. alhamdulillah..

Hari Sabtu 14 Feb saya berangkat ke bandara Soetta menggunakan bis Primajasa, berangkat dari rumah jam 7 pagi dan naik bis yang jam 8.30 pagi. Jam 11 saya sudah sampai di terminal 2 Soetta (hanya 2.5 jam!). Makan siang di Hokben, lalu muter2 di bandara sambil menunggu waktu check in. Sekitar jam 15.30 saya check in, dan jam 16.30 saya boarding. Pesawat berangkat hampir tepat waktu, yaitu sekitar jam 17.30. ICTP sudah mengatur tiket pesawat saya, dan mereka memberi saya maskapai Etihad Airways. Saya transit dua kali dalam perjalanan ini, yaitu di Abu Dhabi dan Roma.

Penerbangan dari Soetta ke Abu Dhabi memakan waktu 8 jam. Pesawatnya jumbo jet besar, deretan kursinya ada 10 kolom (3-4-3). Saya dapat seat number 18J. Sekitar pukul 22.30 waktu setempat (15, Jan, 1.30 WIB) saya alhamdulillah mendarat di Abu Dhabi. Di pesawat yang saya naiki ada banyak sekali jamaah umrah dari Indonesia, demikian juga di bandara Abu Dhabi, saya melihat banyak sekali jamaah umrah dengan seragam yang berbeda2. Bandaranya terlihat bagus dan sangat modern, juga terlihat sangat besar. Seragam polisinya terlihat berbeda, mereka hanya memakai baju khas Arab warna putih yang mirip daster ibu2 itu, kemudian memakai rompi warna candy green bertuliskan Airport Police, tentu lengkap dengan sorban di kepala.

Rombongan Umrah asal Indonesia di Abu Dhabi Airport

Rombongan Umrah asal Indonesia di Abu Dhabi Airport

Setelah menunggu sekitar 4 jam, saya melanjutkan penerbangan jam 3.00 waktu setempat (6.00 WIB). Berangkatnya agak delayed, jadwalnya sebenarnya jam 2.40. Pesawatnya tidak sebesar yang sebelumnya, kursinya ada 8 kolom (2-4-2) dan saya mendapat seat number 26D. Perjalanan memakan waktu sekitar 6.5 jam. Sekitar pukul 6.30 waktu setempat (15 Jan, 12.30 WIB) saya alhamdulillah mendarat di Roma. Bandaranya bagus, bahkan mungkin lebih bagus dari Abu Dhabi. Terutama toiletnya yang terlihat bagus, bersih, rapih, dan modern.

Transit 3 jam di Rome Airport

Transit 3 jam di Rome Airport

Setelah menunggu hampir 3 jam di Roma, saya melanjutkan penerbangan jam 9.20 waktu setempat (15.20 WIB). Pesawatnya lebih kecil lagi, kursinya hanya 6 kolom (3-3) dan saya mendapat seat number 10B. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja. Pukul 10.30 waktu setempat saya alhamdulillah mendarat di Trieste. Bandaranya tidak terlalu besar, tapi bersih, rapih, dan nyaman. Suhu udara di Trieste sedang lumayan dingin, sekitar 10 C.

Information Counter di Trieste Airport

Information Counter di Trieste Airport

Kemudian saya membeli tiket bis di information counter yang terletak di dalam bandara, harganya 3.30 euro. Bis nomor 51 dan berangkat dari depan bandara jam 12.05. Harus agak hati2 jangan sampai salah naik bis, karena bis 51 ini ternyata ada 2 rute, satu ke Trieste dan satu lagi ke Udine, dan waktu datangnya bersamaan juga. Naik bis yang berhenti di tempat parkir bertuliskan “Trieste” (di sebelahnya persis adalah tempat parkir bertuliskan “Udine”). Bis nya datang tepat waktu dan segera berangkat. Perjalanan memakan waktu sekitar 50 menit, dan sekitar jam 1 siang saya sampai di bus stop Grignano-Miramare (tepat sebelum terowongan). Ternyata ada satu orang lagi yang turun di situ, saya tanya ternyata dia juga menuju ICTP. Orang Vietnam, namanya Hai Hong Vo dari Ho Chi Minh University. Kami ternyata akan mengikuti workshop yang sama, dan juga tinggal di asrama yang sama, Adriatico Guest House (AGH). Dari bus stop, jalan menuju AGH agak tidak normal, bukan berupa jalan besar, tapi jalan kecil menurun mirip gang, terdiri dari tangga2 yang lumayan terjal, jadinya agak repot juga harus angkat2 koper gede saya.

Gang ga jelas menuju ICTP Adriatico Guest House

Gang ga jelas menuju ICTP Adriatico Guest House

Kalau dihitung2, saya berangkat dari rumah tanggal 14 Feb jam 7.00 WIB, dan sampai di Adriatico tanggal 15 Feb jam 13.00 (19.00 WIB), total perjalanan memakan waktu 36 jam! Kalau flight+transit nya memakan waktu sekitar 22 jam.. Walah.. pantes rasanya capek bgt pas sampe asrama..

ICTP Adriatico Guest House

ICTP Adriatico Guest House

Kamarnya tipe shared room, saya kebagian sekamar dengan anak Argentina, dia sampai di AGH satu jam sebelum saya, namanya Agustin Baceyro Ferra, katanya pegawai Komisi Nuklir Argentina. Kamarnya lumayan juga, twin bed, twin desk, dan kamar mandi dengan fasilitas lengkap, dan juga air keran siap minum. Window view nya? Wah jangan ditanya dah, mantappp abisss! Pemandangan langsung ke laut Adriatik! ICTP punya dua asrama, Adriatico dan Galileo, kalau Galileo tempatnya agak ke atas, jadi ga bisa liat laut. Alhamdulillah saya dapat di Adriatico.. πŸ™‚

Window view dari kamar saya: laut Adriatik yang mantap abis

Window view dari kamar saya: laut Adriatik yang mantap abis

Walaupun capek bgt, setelah menaruh koper di kamar, saya sempatkan untuk jalan2 sebentar di sekitar AGH. Tepat di sebelah AGH ada taman yang luas dan indah, namanya Parco di Miramare, dan di dalamnya ada sebuah kastil yang juga indah, namanya Castello di Miramare. Lumayan ramai juga di situ, banyak orang2 lokal dan juga turis yang sedang jalan2.

Castello di Miramare

Castello di Miramare

Setelah itu saya kembali ke asrama, capek dan ngantuknya udah bener2 ga ketahan, akhirnya langsung tidur deh sore itu.. hehe..

(Bersambung..)

Posted in just a story, nuclear engineering | 2 Comments »

Catatan Perjalanan: Trieste, Italia (1)

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 16, 2015

Kali ini saya insya Allah mengunjungi kota Trieste di Italia. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Saya terpilih sebagai salah satu peserta untuk mengikuti sebuah workshop saintifik di Centro Internazionale di Fisica Teorica Abdus Salam (CIFT), atau juga dikenal sebagai The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP).

Nama kegiatannya adalah “Joint ICTP-IAEA Training Course on Physics and Technology of Water Cooled Reactors through the Use of PC-based Simulators“. Yup, jadi ini adalah kerjasama antara ICTP dan International Atomic Energy Agency (IAEA). Acara akan berlangsung selama 2 minggu full, dari tanggal 16 (Senin) sampai 27 (Jumat) Februari 2015.

The Invitation

The Invitation

Kalau bepergian keluar negeri, apalagi yang harus segera diurus kalau bukan paspor dan visa. Paspor saya kebetulan masih lama masa berlakunya, jadi saya hanya tinggal mengurus visa saja. Setelah saya menerima berbagai e-documents dari ICTP, saya langsung mengurus visa. Visa yang saya ajukan adalah visa Schengen, berjenis Study visa. Sebagai catatan, ada berbagai macam visa Schengen yang bisa diajukan di Kedubes Italia. Untuk visa selain study, visa harus diurus di sebuah agen visa yang bernama VFS Global, dan bukan langsung di Kedubes. Biaya pembuatan visa juga ternyata lumayan mahal, antara 1,2 – 1,5 juta. Nah hanya kalau kita apply Study visa kita bisa datang langsung ke Kedubes Italia. Berapa biayanya? Gratis total! πŸ™‚

Oh iya Kedubes Italia beralamat di Jalan Diponegoro 45, Jakarta (6Β°12’2″SΒ 106Β°50’23″E). Dekat dengan taman Suropati (~1 km). Saya tidak foto gedungnya, karena takut ditangkap polisi yang berjaga di luar.. hehe

Submission time adalah jam 11 – 12 siang, jadi saya naik kereta yang jam 6.35 dari Bandung, dan sampai di Gambir sekitar jam 10. Dari Gambir tinggal naik taksi dan bayar sekitar 25rb. Waktu tempuhnya kurang dari 30mnt. Ketika masuk Kedubes, kita harus meninggalkan KTP dan HP di pos keamanan. Yang antri sedikit sekali, klo ga salah ga sampe 5 orang aja, ga banyak orang kita yang main ke Italia kali ya. Beda banget dengan Kedubes Jepang yang selalu crowded. Dokumen2 yang diperlukan bisa dilihat disini atau disini.

Setelah kita submit dokumen2nya, kita akan diberi sebuah kartu untuk nanti ketika pengambilan visa dan paspor kita. Saya datang ke Kedubes Italia pada hari Selasa (20 Jan), dan diminta datang lagi hari Jumat (23 Jan) untuk pengambilan. Waktu pengambilan adalah jam 12 – 13 siang. Katanya mbak nya ga perlu nelfon dulu, langsung datang aja, optimis bgt mbak nya.

Kartu Pengambilan Visa

Kartu Pengambilan Visa

Oh iya, harus diperhatikan juga detail perjalanan kita. Dari info yang diberikan ICTP, saya akan transit di Abu Dhabi dan Roma. Lalu apa perlu visa transit UAE? Untuk transit sampai dengan 8 jam, tidak perlu visa transit UAE. Jadi saya tidak perlu mengurus visa transit.

Hari Jumat (23 Jan) saya datang lagi ke Kedubes Italia. Saya sampai di Gambir jam 10, dan sampai di Kedubes jam 10.30. Kecepetan sih.. kan katanya loket buka jam 12. Tapi ya sudah saya tunggu aja di dalam. Di dalam cuma ada 1 orang (mba2) yang menunggu, beneran jarang banget orang Indonesia yang ke Italia berarti ya. Mba2 ini juga sama2 apply visa studi, jadi katanya dia udah 3 taun sekolah di Florence, tapi karena sekarang pindah sekolah, harus apply visa lagi katanya. Nah tapi mba2 ini dapet panggilan interview dulu, aneh juga padahal dia udah lama di Italia. Saya yang belum pernah ke Italia malah ga dipanggil interview.

Jam 11 loket dibuka, daaan.. nomor saya yang dipanggil pertama! haha..

Alhamdulillah.. proses permohonan visa saya bisa selesai hanya dalam 3 hari, dan dikabulkan. πŸ™‚

I got my very first Schengen Visa! Terimakasih Pak Federico πŸ™‚

Posted in just a story, nuclear engineering | 3 Comments »