Hey, what's going on?

Archive for May, 2014

Catatan Perjalanan: Kutai Kartanegara

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 19, 2014

Bulan Oktober tahun lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi pulau Kalimantan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya berkunjung ke pulau besar tersebut. Saya berangkat ke sana bersama seorang rekan, Dr. Sparisoma Viridi, dalam rangka menjadi nara sumber/instruktur workshop Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), di provinsi Kalimantan Timur.

Kami berangkat dari Bandung pada hari Rabu, 2 Oktober, dengan menggunakan maskapai Lion Air. Kami dapat penerbangan yang tidak direct, tetapi transit dulu selama 3 jam di bandara Juanda Surabaya. Bandara Juanda ternyata sangat nyaman, menurut saya malah lebih baik dari bandara Soekarno-Hatta, dan jelas jauh lebih baik dari Bandara Husein. Penampakannya sudah seperti bandara2 di luar negeri: nyaman, tidak sempit, dan bersih-rapi. Dari Surabaya penerbangan dilanjutkan ke Balikpapan. Kami mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan sekitar jam 1 siang.

Sebagai informasi, kabupaten Kukar yang kami kunjungi itu adalah kabupaten terkaya di Indonesia, dengan sumber penghasilan utama berasal dari pertambangan. Tapi sayangnya Kukar belum memiliki bandara sendiri, sehingga kami harus mendarat di Balikpapan.

Bandara Sepinggan

Bandara Sepinggan

Di bandara kami dijemput oleh salah seorang panitia workshop, pak Jumhardi namanya. Kami menggunakan sebuah Toyota Innova yang disupiri oleh pak Deli. Pak Jum mengundang kami untuk makan siang dulu, dan ternyata kami dibawa ke sebuah restoran Sunda di dekat bandara. Hahaha sudah jauh2 ke Kalimantan, eeh ternyata makannya makanan Sunda lagi..

Sehabis makan siang, kami langsung berangkat menuju Tenggarong. Perjalanan ternyata cukup lama juga, sekitar 4 jam. Infrastruktur jalan menuju Tenggarong lumayan bagus. Kami melewati bukit Suharto dan juga menyusuri sungai mahakam. Di sekitar sungai Mahakam ini yang jalannya jelek sekali, hancur berlubang2. Pak Deli dan pak Jum bilang, jalan ini jelek karena ini jalan provinsi, sehingga Kukar tidak berwenang untuk memperbaiki. Hampir semua mobil yang saya lihat disana tipenya sama: Mitsubishi Pajero Sport, mungkin karena nyaman dipakai di medan pertambangan. Di sepanjang sungai Mahakam saya juga melihat kapal2 pengangkut batu bara, juga pabrik2 pengolahan batu bara di pinggiran sungai. Batu bara yang siap dikirim (entah kemana) itu bentuknya sudah berupa serbuk halus seperti tumpukan pasir hitam.

Kami menginap di hotel tempat acara workshop dilangsungkan, saya lupa namanya, tapi lokasinya di sebelah pulau kumala. Hotelnya lumayan nyaman, tapi ya jangan dibandingkan dengan hotel2 di Bali hehehe… Untuk sarapan dan makan siang, kami makan bersama2 dengan para peserta, sedangkan untuk makan malam, Pak Jum selalu mengajak kami makan di sebuah rumah makan padang di samping hotel. Padahal sebenarnya saya ingin mencicipi hidangan seafood yang ada di pinggiran sungai.

Workshopnya berlangsung dari hari Rabu sampai Jumat, sedangkan hari Sabtu hanya ada acara penutupan saja. Setelah acara penutupan, kami sempatkan mengunjungi museum Mulawarman yang letaknya dekat sekali dengan hotel kami, tiketnya murah hanya Rp. 3500 saja.

Museum Mulawarman

Museum Mulawarman

Setelah itu kami langsung berangkat menuju Balikpapan melalui Samarinda. Untuk menuju Samarinda kami harus menyebrangi sungai Mahakam menggunakan perahu, karena jembatan Tenggarong runtuh beberapa tahun lalu. Karena tidak terbiasa menyeberangi sungai, saya agak deg2an juga.. apalagi kata Pak Deli sehari sebelumnya ada kecelakaan tabrakan perahu…

Menyebrangi Sungai Mahakam

Menyebrangi Sungai Mahakam

Di Samarinda kami sholat di Masjid Raya Samarinda. Masjidnya bagus dan megah.

Masjid Agung Samarinda

Masjid Agung Samarinda

Akhirnya kami sampai di Balikpapan pada magrib menjelang malam. Kami menginap di rumah kerabat Pak Sparisoma di Balikpapan. Besok harinya pagi2 sekali kami berangkat ke bandara Sepinggan diantar oleh kerabat Pak Sparisoma.Ternyata penerbangannya ada satu kali transit di Banjarmasin. Alhamdulillah penerbangan lancar sampai kami mendarat di Bandung.

Foto2 lengkap dapat dilihat album2 Picasa saya:

-Fin

Advertisements

Posted in just a story | Leave a Comment »

“Revolusi Mental” Jokowi

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 4, 2014

http://nasional.kompas.com/read/2014/04/24/2104492/Visi.dan.Misi.Jokowi.Revolusi.Mental

Saya setuju dengan gagasan Jokowi bahwa bangsa ini perlu sebuah revolusi mental.
Baik itu rakyatnya, dan lebih2 para pejabatnya.

Lalu mental macam apa yang perlu di-revolusi?

Mental ingkar janji, contohnya gubernur yang berjanji pada rakyatnya bahwa ia akan bekerja melakukan pembenahan selama 5 tahun dan tidak akan meninggalkan jabatannya, tapi ternyata diingkari setelah ia terpilih. Sekali ingkar janji, akan lebih ringan untuk melakukan ingkar2 berikutnya.

Mental lebih mengutamakan dan mematuhi mandat dari atasan ketimbang mandat langsung dari rakyat. Meskipun berarti mengingkari janji pada rakyat yang memilihnya. Apa jadinya kalau seorang pemimpin terpilih, menganggap enteng mandat rakyat yang memilihnya.

Mental tidak punya pendirian. Contohnya gubernur yang dari dulu kalau ditanya mau nyapres apa tidak, jawabnya muter2 dan tidak pernah memberi jawaban pasti. Ternyata karena ia menyerahkan semuanya ke atasannya, meski ia sudah berjanji pada rakyat yang memilihnya untuk tidak nyapres. Tidak ada pendirian pribadi. Apa jadinya kalau seorang pemimpin harus mengambil keputusan, tapi ternyata malah menyerahkan ke atasannya.

Mental2 seperti ini yang harus di-revolusi. Dan jangan sampai seorang capres memiliki karakteristik mental seperti ini.

Mari kita dukung “revolusi mental Jokowi” 🙂

Link2 yang mungkin saja terkait:
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/07/1629274/Jokowi.Enggan.Tonton.Video.Janji.5.Tahun.Pimpin.Jakarta
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/03/15/n2fxct-maju-capres-jokowi-ingkari-janji-kampanyedi-pilkada-dki
http://nasional.kompas.com/read/2014/03/14/2127336/Dikritik.Ingkari.Janji.Pilgub.DKI.Ini.Komentar.Jokowi

Komentar:

barangkali pak Jokow mikirnya bila dia RI1 kan mimpin rakyat jkt juge…. bahkan > 5 th ……. jd nggak ingkar janji …. hehehehe.

Tanggapan saya:

Pertama2, karakteristik tugas, wewenang, dan tanggungjawab jabatan presiden itu sangat berbeda dengan jabatan gubernur. Presiden itu tugas2nya lebih bersifat makro dan holistik utk seluruh Indonesia. Akan aneh sekali kalau presiden mengurusi banjir dan macet Jakarta.

Kedua, hal itu berbahaya dong, saat ini saja daerah2 lain sudah cemburu dengan ketimpangan pembangunan antara ibu kota dengan daerah, apalagi kalau presiden sampai menunjukan perhatian yg berlebihan utk Jakarta saja, bagaimana dengan daerah lainnya?

Ketiga, dan yang paling mendasar, Jokowi sudah berjanji bahwa ia “Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014.” (http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/03/15/n2h8sz-ingat-inilah-19-janji-jokowi-saat-pilgub-dki-2012). Janji ini yang kita soroti, janji ini yang sudah ia ingkari. Mengingkari janji publik seperti ini, menurut saya terlalu kasar secara etika politik. Apalagi ini karena ia lebih mematuhi mandat satu orang ketimbang mandat jutaan rakyat Jakarta yang sudah memilihnya. Siapa sebenarnya “tuan” yang ia patuhi?

Saya juga dulu sangat mendukung Jokowi di pilgub DKI, saya juga ikut mendoakan beliau agar bisa menang dan membenahi ibu kota kita. Tapi ternyata kenapa Jokowi jadi begini? Saya kaget dan kecewa berat mendapati Jokowi dengan mudahnya mengingkari janji publiknya. Ini terlalu kasar.

🙂

Posted in social & politics | 1 Comment »