Hey, what's going on?

Akselerasi.. deselerasi.. dan inersia.. (finansial)

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 3, 2014

Di kuliah fisika dasar mungkin kita masih ingat bahwa tubuh manusia itu pada dasarnya hanya merasakan “perubahan”, perubahan kecepatan misalnya.

Ketika naik angkot, kita hanya merasakan ketika si angkot nge-gas atau nge-rem, kita tidak merasakan apa2 ketika si angkot melaju stabil. Okey hal ini mungkin lebih terasa ketika kita naik pesawat. Kita hanya merasakan ketika pesawat take off dan landing, sedangkan ketika sedang menjelajah dengan kecepatan tetap, kita tidak merasakan apa2.

Hal ini ternyata saya rasakan terjadi juga di aspek kehidupan sehari2 lainnya, perubahan income misalnya😀 .

Dulu ketika pertama kali datang ke Tokyo, bisa dibilang saya mengalami akselerasi. Dari asalnya seorang mahasiswa di Bandung yg ga ngemodal, tiba2 jadi mahasiswa di Tokyo yg padat modal!😀 hahaha..

Bayangkan saja, dari terbiasa dengan uang saku yang pas2an, tiba2 saja saya jadi berpenghasilan 170 ribu yen per bulan! Atau 20,4 juta rupiah dengan kurs saat ini yg 120 rupiah/yen! Efeknya amat sangat terasa sekali! Hahaha..

Sangking kagetnya, berat badan saya sampai turun 7 kg di 3 bulan pertama.

Tapi saat awal2 kedatangan di Tokyo saya masih mengalami inersia, tiap mau beli apa2, saya selalu konversikan ke rupiah dan membandingkan harganya dengan di Bandung! Misalnya saya mau beli makan siang yang harganya 800 yen, saya saat itu pasti berfikir, waah makan siang kaya gitu harganya 80 ribu rupiah lebih.. padahal di deket ITB palingan hanya 8000 rupiah jg dapet.. (saat itu lho ya)

Jadinya kadang2 saya mencari yang lebih murah, atau kadang tetap membeli makanan tsb tapi entah kenapa rasanya jadi kurang sedap.. hahaha..

Hal ini saya rasakan mungkin sekitar 3 bulan pertama..

Perlahan, akselerasi finansial ini mulai tidak terasa lagi.. inersia nya juga mulai hilang.. dan saya mulai melaju dengan kecepatan tetap..

Makanan seharga 800 yen mulai terasa biasa saja, bahkan kadang saya membeli yang 1500 yen, dengan tenang.🙂

Makanan ala Prancis yg sempat saya cicipi di Tokyo. Oishii desu! :)

Makanan ala Prancis yg sempat saya cicipi di Tokyo. Oishii desu!🙂

. . . . .

. . . Waktu pun berlalu.. dan tiba saatnya bagi saya untuk kembali ke Bandung . . .

. . . . .

Ketika kembali ke Bandung, saya mengalami inersia sekaligus deselerasi juga.

Ketika membeli makanan seharga 100 ribu rupiah seporsi, saya otomatis berfikir, ooh cuma 1000 yen, normal lah harganya..

Lagi2 ini terjadi sekitar 3 bulan pertama..

Segera, saya mulai merasakan deselerasi finansial, yang asalnya berpenghasilan 20 juta lebih sebulan, tiba2 jadi [censored] rupiah per bulan! Alhamdulillah..🙂

Saya mulai merasakan bahwa makanan 100 ribu seporsi itu mahal.

Perlahan, saya melaju dengan kecepatan tetap.. deselerasi dan inersia finansial mulai memudar..

Saya mulai terbiasa dengan penghasilan yg [censored] rupiah per bulan itu.. dan terbiasa membeli makanan seharga [censored] rupiah seporsi..

Hmm.. apa saya akan merasakan akselerasi lagi..?

Fin

One Response to “Akselerasi.. deselerasi.. dan inersia.. (finansial)”

  1. your fans said

    Next time, allow me to treat you..ok

    Syeilendra said..
    Well, if you insist, okay then😛 hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: