Hey, what's going on?

Hari ini satu tahun yang lalu: The SuperQuake I’ll never forget

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 11, 2012

Hari ini tepat satu tahun sejak gempa besar itu mengguncang Jepang.

Hari itu saya baru saja kembali ke lab sehabis melaksanakan shalat Jumat di SRIT Meguro. Saya tiba di lab sekitar jam 2 siang, shalat Jumat di SRIT selesai sekitar jam 1.30pm dan perjalan dengan menggunakan sepeda dari SRIT ke kampus saya (~5 km) memakan waktu sekitar 25 menit. Di ruangan saya sebenarnya ada 5 mahasiswa, Rui, Marco, Yumi-chan, pak Aziz, dan saya; tapi saat itu hanya ada Rui dan Marco di lab. Pak Aziz ada di luar lab, dan Yumi sedang liburan musim semi ke Israel. Sensei kebetulan sedang tidak datang ke lab, beliau sedang berada di rumahnya di kota Mito, jadi di ruangan beliau hanya ada sekertarisnya, Iida-san.

Lab saya berada di lantai 4 gedung North1 (N1) TokyoTech Ookayama campus. Gedung ini lumayan tua, dan beberapa waktu yang lalu baru saja ditambah struktur penahan gempa di bagian depan dan belakangnya (thank God they finished it just in time!).

Saat itu keadaan di lab ya biasa2 saja, sama sekali tidak ada yang spesial, saya dengan santai makan bento saya, and Rui n Marco were busy with whatever they were doing at that time..

Tentu saja tidak seorangpun dari kami pernah membayangkan bahwa the largest earthquake in Japan’s recorded history akan segera terjadi dalam beberapa menit..

Beberapa saat kemudian (tepatnya jam 14.46), tiba2 kami merasakan guncangan, Saya dan Marco terkejut dan hanya saling pandang tanpa berkata apa2, Rui yang kemudian berteriak “Earthquake!!!

Saya lupa siapa yang kemudian berteriak “go to under your desk!!“, dan kami bertiga pun segera berlindung di bawah meja kami masing2…..

….. 1 detik.. 2 detik.. 10 detik … awalnya saya kira gempa ini akan segera berhenti, but it didn’t….. dan semakin lama rasanya guncangannya semakin keras saja…. panik.. takut.. tentu saja….. in fact, for a second all my life flashed before my eyes.. no joke!

Ternyata gempanya memang terjadi cukup lama, sekitar 6 menit.

Ketika akhirnya guncangannya berakhir, kami segera keluar dari lab. Di lorong lantai 4, orang2 juga keluar dari lab nya masing2. Kami mengikuti saja arus orang2 yang turun ke lantai 1 dan keluar dari gedung, akhirnya kami berkumpul/dikumpulkan di depan gedung N1, kemudian seorang profesor memberi pengarahan dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti. Saat itu tepat di depan gedung N1, ternyata ada kereta (metro) yang terhenti, mungkin memang begitu prosedurnya, kereta secara otomatis akan berhenti kalau ada gempa. Beberapa teman mencoba menghubungi keluarganya di rumah, tapi ternyata jaringan telfon tidak berfungsi. Melalui siaran TV yang saya akses dari ponsel saya, tahulah saya bahwa tsunami (akan) menghantam beberapa daerah di pantai timur Honshu..

Beberapa saat kemudian, kamipun kembali ke lab kami masing2. Saya sendiri sebenarnya saat itu sangat enggan untuk kembali ke lantai 4, hawatir akan ada gempa susulan, tapi akhirnya saya ya naik juga ke lantai 4. Saya kembali ke meja saya dan duduk di kursi saya, tapi ya jelas ga bisa back to work, pikiran msh ga keruan, masih coba memahami kondisi yang sedang terjadi..

Ternyata koneksi internet tidak terganggu dan tetap aktif, melalui facebook saya segera mengirim kabar ke kakak saya. Tentu saja, facebook segera dipenuhi dengan live news dari semua orang tentang gempa yang baru saja terjadi. Malam itu rasanya saya tidak pulang ke apato, tp saya lupa dimana saya tidur ya?? hmm.. dimana ya..?

Malam itu gempa Tohoku segera saja menjadi headline di media2 internasional. Barulah saya sadar ttg the true scale of the catastrophe.. portal2 berita dunia segera menayangkan video2 tsunami yang menghantam bbrp daerah di prefektur Miyagi, Iwate, dan Fukushima di sebelah utara pantai timur pulau Honshu. Ngeri saya melihatnya.. mobil2, truk, kapal, dan rumah2 yang dihempas tsunami layaknya mainan plastik, jalan & jembatan2 yang hancur lebur, orang2 yang berlarian berusaha menyelamatkan diri.. alhamdulillah ya Allah.. saya baik2 saja..

Baru besoknya saya ke apato untuk melihat keadaan, apato saya berantakan sekali, ya memang setiap hari juga berantakan hehe..😀. Apato baik2 saja, hanya ada panci dan beberapa barang yang jatuh.

Setelah gempa utama tanggal 11 Maret, kami di Tokyo juga merasakan beberapa aftershocks. Entah saat itu aftershock memang sering terjadi atau saya saja yang kelewat sensitif, rasanya sering sekali terjadi gempa2 kecil susulan. Di apato, kalau tetangga sebelah membuat sedikit saja suara, rasanya sudah seperti gempa, mungkin karena kejadian 11 Maret masih terbayang2 di benak saya.

Hari2 itu memang menjadi hari2 yang panjang. Berita gempa disusul berita tsunami, dan berita tsunami segera disusul berita lainnya: Fukushima Daiichi. NHK memberitakan bahwa PLTN Fukushima Daiichi mengalami masalah berkaitan dengan decay heat removal, karena backup power system nya tidak aktif akibat dibanjiri air laut ketika tsunami menerjang.

Beberapa hari kemudian (saya lupa tanggal persisnya, mungkin 15 atau 16 Maret), kami anak2 nuklir Tokodai dihubungi Teddy, dia meminta kami untuk berkumpul di KBRI untuk sebisanya membantu kedutaan berkaitan dengan krisis nuklir Fukushima. Kami (Dwi, Topan, Asril, Reynold, Deby, pak Aziz, dan saya), segera berangkat dari kampus menuju KBRI di Meguro.

Sesampainya di KBRI, kami langsung menuju ruang kerja pak Dubes M. Lutfi. Di sana sudah ada mas Kunta dan Teddy, pak Dubes sendiri sedang berdiskusi via Skype dengan pak Liem dan pak Sidik, dua alumni nuklir Tokodai yang (sedang) bekerja di Jepang. Di ruangan itu semua orang terlihat serius sekali.

Keputusan yang harus diambil pak Dubes memang tidak main2: Apakah perlu untuk mengevakuasi seluruh WNI yang yang berada di Jepang?

Kalau jawabannya ‘ya’, maka bisa dibayangkan kerumitan proses mobilisasi ribuan orang dari seantero Jepang. Dan kalau jawabannya ‘tidak/belum’, maka beliau harus menjamin bahwa keadaan memang masih aman terkendali.

Di tengah rapat, tiba2 pak Dubes menyuruh agar salah seorang dari kami untuk mengikuti briefing di MOFA. Ternyata sejak krisis Fukushima mencuat, setiap hari MOFA mengadakan briefing untuk menjelaskan keadaan pada seluruh perwakilan diplomatik negara2 sahabat. Entah bagaimana akhirnya saya yang ditugaskan ke MOFA, bersama beberapa orang dari kedutaan tentu. Karena sebelumnya tidak tahu, saat itu saya jelas tidak memakai pakaian resmi, ya sudah saya pinjam saja atasan jas. Kemeja kotak2 tanpa dasi+atasan jas+celana jeans+sepatu casual, berangkatlah saya untuk mengikuti briefing di Kemenlu Jepang, dengan menggunakan mobil Mercy hitam ber-plat nomor diplomatik😛. Memang aneh rasanya, tapi mau bagaimana lagi.

Di MOFA, briefing dimulai tepat waktu, jam 16.30 kalau tidak salah. Di depan ada 5 atau 6 orang yang akan memberi penjelasan, perwakilan dari beberapa institusi, seperti MOFA, TEPCO, NISA, dll. Tapi sepertinya mereka bukan orang2 teknis, sehingga penjelasannya pun bukan penjelasan teknis, lebih seperti penjelasan politis. Briefing nya tidak terlalu lama juga, paling sekitar 40 menit, intinya mereka bilang keadaan masih terkendali, walaupun ada beberapa aspek yang mereka belum bisa (belum mau?) pastikan statusnya.

Maka mulai hari itu, setiap hari kami membantu kedutaan untuk semampu kami memberi pertimbangan dan masukan2 teknis mengenai status Fukushima. Kami juga menghubungi anak2 nuklir lainnya dari Todai dan Tokai Univ.

Dengan demikian, secara tidak resmi terbentuklah “Tim Nuklir KBRI”.

Pak Dubes mempersilahkan kami untuk menggunakan ruangan di lantai 7 sebagai markas kami, lengkap dengan banyak makanan dan minuman tentu🙂. Jadilah sejak hari itu, pagi hari kami bekerja di lab kami masing2, dan sore menjelang malam kami bekerja di lantai 7 KBRI. Kalau sudah kemalaman, maka kami menginap saja di ruangan itu, karena ada matras2 yang lumayan nyaman juga.

Bersambung lain waktu, rasanya masih lumayan banyak yang belum sy ceritakan…🙂

5 Responses to “Hari ini satu tahun yang lalu: The SuperQuake I’ll never forget”

  1. intan said

    here, and I quote: “apato saya berantakan sekali, ya memang setiap hari juga berantakan hehe..”

    hahha, nice post. ^^ I am glad that you’re okay..

    I will try to reply soon..😀

    Syeilendra said..
    huehuehue iya apato sy memang ‘sedikit’ berantakan:mrgreen:
    yoi alhamdulillah we’re ok in Tokyo..
    seepp doumo2..🙂

  2. erywijaya said

    Setelah membaca dengan seksama, saya jadi curiga, malam habis gempa tidur dimana hayooo…ditempat siapa?? hehehe😀

    Syeilendra said..
    huehuehue.. dmn coba..?:mrgreen:
    hmm.. mungkin malam itu sy stay d lab sm rui n marco kali ya, soalnya kami sepakat kalau gedung lab lebih tahan gempa dibanding bangunan apato kami yg murah meriah hahaha..😀 (just in case ada gempa susulan)

  3. msholihulh said

    ikut merasakan ketegangan waktu itu habis baca posting ini, saya waktu itu sedang di Indonesia untuk wawancara beasiswa. Dapat berita gempa di tv jam setengah 2 siang WIB. padahal jadwal balik ke jepang esok harinya. Akhirnya dicancel dua minggu kemudian karena gak boleh balik ke jepang sama ortu hehe. pas balik ke jepang dua minggu kemudian, narita airport masih sepiii… 🙂
    oya blog saya sudah pindah mas syei…

    Syeilendra said..
    Maksudnya terminal kedatangan yg suepi ya mas Sholihul? klo terminal keberangkatan pasti ruame tenan wkt itu🙂
    huehuehue ya iya lah, people were escaping this wonderful country back then, sepertinya hanya orang2 Indonesia yg ga ikut2an kabur:mrgreen:

  4. ant said

    uwooo udah setahun yak Mas gempa tsunami Jepang kemaren hehe..
    saya suka kata-katanya yang ini “in fact, for a second all my life flashed before my eyes.. no joke!”
    Mugi2 diparingi keselametan lan ke berkahan, amiin….

    salam,
    ant

  5. Teddy said

    Wah, jadi teringat masa-masa waktu jadi nuclear boys. Semoga kita nanti bisa berkumpul kembali sama-sama.

    Syeilendra said..
    Iya Ted, insya Allah nanti nuclear boys kumpul2 lg.
    Btw kisah situ selama zaman Fukushima kynya yg paling menarik deh, mbok ditulis Ted, berbagi inspirasi hahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: