Hey, what's going on?

Archive for August, 2011

Selamat hari raya Idul Fitri

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 31, 2011

Syeilendra Pramuditya mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H (31 Agustus 2011 AD)

Taqobbalallohu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum

Minal aidin wal faidzin

Mohon maaf lahir dan batin

=)

Advertisements

Posted in whatever | Leave a Comment »

Water Thermodynamic Properties

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 20, 2011

Update+Fortran code Click here

Please cite as:
Syeilendra Pramuditya, Water Thermodynamic Properties, ITB Physics Department – Technical Document, http://portal.fi.itb.ac.id/tecdoc/waterprop

This post has been cited in these scientific articles:

  1. Numerical investigation of heat transfer in extended surface microchannels, published in International Journal of Heat and Mass Transfer (2016)
  2. Dual-pulse nonlinear photoacoustic technique: a practical investigation, published in Biomedical Optics Express (2015)
  3. Quantification of cooling channel heat transfer in low pressure die casting, Master Thesis at the University of British Columbia (2014)
  4. Stanford University Mechanical Engineering Design Proposal
  5. Investigating a New Approach for Harvesting Low-grade Thermal Energy Using an Electrochemical System, Research Poster, The Ohio State University
  6. DESARROLLO DE UN PRODUCTO INNOVADOR PARA LA PRODUCCIÓN DE HIELO EN EL REFRIGERADOR DOMÉSTICO, THESIS, UNIVERSIDAD NACIONAL AUTÓNOMA DE MÉXICO

There are many empirical and analytical correlations have been developed for thermodynamic properties of water. These correlations generally can be found from scientific papers as well as text books.

Correlations presented in this article are polynomial fit to data obtained from XSteam library for Matlab. XSteam itself is a kind of digital library of water properties based on the International Association for Properties of Water and Steam Industrial Formulation 1997 (IAPWS IF-97). These polynomial correlations are meant to be used in computer codes, and they are valid under the following conditions:

p=\textrm{1 bar}

5\;C \leq T \leq 95\;C

or equivalently:

278.15\;K \leq T \leq 368.15\;K


Water density as a function of temperature (p = 1 bar)

Polynomial fit:

\rho(T)={1001.1-0.0867T-0.0035T^2} (T in Celcius, unit is kg/m3)

\rho(T)={765.33+1.8142T-0.0035T^2} (T in Kelvin, unit is kg/m3)


Water specific heat capacity as a function of temperature (p = 1 bar)

Polynomial fit:

C_p(T)={4.214-2.286\times10^{-3}T+4.991\times10^{-5}T^2-4.519\times10^{-7}T^3+1.857\times10^{-9}T^4} (T in Celcius, unit is kJ/kg.C)

C_p(T)={28.07-0.2817T+1.25\times10^{-3}T^2-2.48\times10^{-6}T^3+1.857\times10^{-9}T^4} (T in Kelvin, unit is kJ/kg.K)


Water thermal conductivity as a function of temperature (p = 1 bar)

Polynomial fit:

k(T)={0.5636+1.946\times10^{-3}T-8.151\times10^{-6}T^2} (T in Celcius, unit is W/m.C)

k(T)={-0.5752+6.397\times10^{-3}T-8.151\times10^{-6}T^2} (T in Kelvin, unit is W/m.K)


Water dynamic viscosity as a function of temperature (p = 1 bar)

Polynomial fit:

\mu(T)={1.684\times10^{-3}-4.264\times10^{-5}T+5.062\times10^{-7}T^2-2.244\times10^{-9}T^3} (T in Celcius, unit is Pa.s)

\mu(T)={9.67\times10^{-2}-8.207\times10^{-4}T+2.344\times10^{-6}T^2-2.244\times10^{-9}T^3} (T in Kelvin, unit is Pa.s)


Water volumetric thermal expansion coefficient as a function of temperature (p = 1 bar)

The volumetric thermal expansion coefficient is evaluated from the density equation, as described in this article.

Polynomial fit:

\beta(T)=7.957\times10^{-5}+7.315\times10^{-6}T (T in Celcius, unit is /C)

\beta(T)=-1.908\times10^{-3}+7.318\times10^{-6}T (T in Kelvin, unit is /K)


Related links:

Posted in nuclear engineering | Tagged: , , , , , , | 10 Comments »

Tips & Tricks Series: Microsoft Excel 2003

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 20, 2011

I wrote this post as a reminder for my self :).

Q: How do I change measurement units from US/British to metric in Excel?

A: Go to Windows control panel (mine is Windows XP), select “Regional and Language Options”. Under “Regional Options” tab, select “English (United States)” from the drop down menu, and then click the “Customize” button next to it. Then under “Numbers” tab, set “Measurement system” to Metric. By now, Excel will work under metric system.

Q: I need to specify the size of my chart in centimeter, so how do I precisely set chart size in Excel?

A: Press the CTRL button and then click on your chart. With your chart selected, then right click on it, and select “Format Object…” from the popup menu.

Posted in whatever | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Emas sebagai investasi?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 19, 2011

Sebenarnya apa sih artinya kata2 “investasi” itu? beberapa definisi ”investasi” menurut google define adalah sebagai berikut:

  1. The action or process of investing money for profit or material result
  2. A thing that is worth buying because it may be profitable or useful in the future
  3. An act of devoting time, effort, or energy to a particular undertaking with the expectation of a worthwhile result
  4. Laying out money or capital in an enterprise with the expectation of profit
  5. The commitment of something other than money (time, energy, or effort) to a project with the expectation of some worthwhile result
  6. To put your money into CDs, money market accounts, mutual funds, savings accounts, bonds, stocks or objects that you hope will grow in value and earn a profit
  7. Investment is the commitment of money or capital to purchase financial instruments or other assets in order to gain profitable returns in the form of interest, income (dividend), or appreciation of the value of the instrument

Apakah terminologi ”investasi emas” memenuhi definisi diatas? Secara sederhana, saya sendiri memahami kata2 “investasi” sebagai kegiatan mengalokasikan sumber daya (biasanya diartikan sebagai uang) yang kita miliki, dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan.

Kita sering mendengar bahwa harga emas terus saja naik dari waktu ke waktu, sehingga setelah sekian waktu, kita bisa menjual kembali emas kita dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya dulu, sehingga dikatakan kita mendapat keuntungan/profit. Apa benar?

Secara umum, menurut saya jawabannya adalah tidak benar.

Kegiatan membeli dan menyimpan emas bukanlah investasi.

Penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa uang kertas lah yang mengalami devaluasi atau penurunan purchasing power. Kita kaum Muslim tentu pernah mendengar bahwa di zaman Rasulullah dulu, harga seekor kambing yang baik (kelas 40 kg) adalah sekitar 1 Dinar, dan hari ini pun ternyata harga seekor kambing tetap sekitar 1 Dinar. Jadi kalau 1400 tahun yang lalu kita punya 1 Dinar, maka 1 Dinar tersebut hari ini memiliki purchasing power yang praktis tetap dan sama sekali tidak bertambah. Dalam kasus ini, setelah disimpan selama 1400 tahun, profit yang kita dapat adalah 0%.

Beberapa dari kita mungkin pernah melihat grafik yang menggambarkan ”harga emas” dari waktu ke waktu, grafik semacam ini:

Harga emas selama 10 tahun terakhir dalam US Dollar

Grafik semacam saya katakan agak misleading, karena kita jadi dapat kesan bahwa harga emas terus saja naik dalam 10 tahun terakhir. Padahal grafik tersebut lebih menggambarkan purchasing power uang kertas yang terus menurun dalam 10 tahun terakhir.

Lalu bagaimana dengan Yen? well, secara umum trend nya hampir sama dengan Dollar, berikut ini adalah grafik harga emas selama 2 tahun terakhir dalam Yen:

Harga emas selama 2 tahun terakhir dalam Yen

Baru sekarang saya aware terhadap hal ini.. dan saya lumayan menyesal. Dengan menyimpan uang kertas, purchasing power saya telah berkurang 36% dalam 2 tahun. Kalau –let say– 2 tahun yang lalu saya punya uang 10 juta Yen, maka saat itu saya bisa membeli 111 oz emas. Dengan jumlah uang yang sama, hari ini saya hanya akan mendapat 73 oz saja.

Devaluasi mata uang Yen telah dengan paksa merampas 36% real value dari purchasing power yang saya miliki 2 tahun yang lalu… ahh.. betapa ignorant nya saya dulu…

Sedangkan trend harga emas terhadap Yen selama 10 tahun terakhir bisa dilihat di grafik berikut:

Harga emas selama 10 tahun terakhir dalam Yen

Penurunan purchasing power Yen relatif terhadap emas dapat lebih mudah dipahami dengan menggunakan grafik yang menunjukan perubahan jumlah emas yang dapat dibeli dengan sejumlah uang Yen dari tahun ke tahun. Grafik berikut ini adalah hasil rekonstruksi kasar dari grafik diatas, menunjukan jumlah emas yang dapat dibeli (dalam satuan oz) dengan menggunakan uang sejumlah 100,000 Yen:

Jumlah emas yang dapat dibeli dengan 100,000 Yen

Dalam 10 tahun, harga emas relatif terhadap Yen telah naik sebesar 216%, atau dengan kata lain Yen telah kehilangan purchasing power nya sebesar 68% dalam 10 tahun. Dengan demikian tingkat devaluasi rata2 Yen per tahunnya adalah sekitar -11%/tahun. Jadi kalau kita menyimpan sumber daya yang kita miliki dalam bentuk tabungan uang kertas di bank, kita memerlukan bunga bank (interest) minimal 11%/tahun, hanya untuk mencegah menurunnya purchasing power kita dari tahun ke tahun. Tapi apa ada bank yang memberi bunga setinggi itu? sepertinya tidak ada, apalagi bank2 di Jepang.

Dalam beberapa situasi sangat khusus yang relatif jarang terjadi, purchasing power emas memang bisa saja meningkat, dengan demikian kegiatan menyimpan emas bisa saja memberi keuntungan real. Tapi dalam kondisi normal, memiliki emas sama sekali tidak memberi keuntungan dan tidak membuat kita jadi lebih kaya. Emas hanya menjaga purchasing power kita, dan dengan demikian membuat kita tetap kaya.

Konsep dasarnya sebenarnya amatlah sederhana: kegiatan investasi yang membuat kita menjadi lebih kaya haruslah mengandung proses produksi, baik itu berupa produksi barang maupun jasa, dan kegiatan menyimpan emas jelas sama sekali tidak mengandung kegiatan produksi apapun. Menyimpan emas lebih merupakan kegiatan spekulasi (untung2an) ketimbang investasi.

Kalau kita ingin menjadi lebih kaya, jauh lebih baik berinvestasi di hal2 yang riil, seperti memiliki aset berupa perkebunan, peternakan, sawah, pabrik, restoran, rumah kontrakan, minimarket, dlsb.

Posted in economics | Tagged: , , , | 1 Comment »

Emas sebagai media penyimpan nilai?

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 16, 2011

Gara2 beberapa hari ini secara tidak sengaja menyimak berita2 ekonomi dunia, terutama tentang kondisi ekonomi Amerika yang konon sedang dalam kondisi tidak menentu, dan juga tentang US Dollar yang nasibnya juga tidak menentu, saya jadi sempat membaca beberapa artikel yang menyarankan penggunaan emas -instead of paper money- sebagai media penyimpan nilai, lengkap dengan seabrek argumen yang mereka paparkan. Dan jadilah saya menulis artikel ini

Ketika seseorang memutuskan untuk menggunakan emas sebagai media penyimpan nilai, salah satu pertanyaan natural yang muncul adalah: emas dalam bentuk apa yang sebaiknya saya beli? Berdasarkan bentuknya, emas dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok: emas batangan (gold bar), koin emas (gold coin), dan perhiasan & karya seni (gold jewelry & artwork).

Dulu saya kira yang namanya emas batangan itu harus berupa balok emas yang besar2, yang beratnya 1 kg, ternyata ini tidak benar. Gold bar ternyata tersedia dari mulai ukuran yang sangat kecil, 1 gram. Gold bar ini hampir pasti selalu tersedia di toko2 emas, dimana disain nya bisa berbeda2, biasanya yang tertulis di permukaannya adalah nama toko/pencetak emasnya, kemurniannya, dan tentu saja beratnya. Salah satu gold bar kelas 24 karat yang paling populer di dunia adalah Credit Suisse produksi Swiss, tersedia dari ukuran 1 gram sampai 1 kg. Emas dalam bentuk gold bar biasanya disain nya sangat sederhana dan tidak artistik.

Credit Suisse gold bar dalam berbagai ukuran

Berbeda dengan gold bar yang biasanya menggunakan ukuran gram, gold coin hampir selalu menggunakan ukuran troy ounce (oz atau ozt), dimana 1 troy ounce = 31,1 gram. Gold coin ini hanya tersedia di sedikit toko2 emas tertentu, karenanya relatif lebih sulit didapat dibanding gold bar. Perbedaan lainnya adalah bahwa gold coin biasanya diasosiasikan dengan negara pembuatnya, dan menjadi semacam simbol nasional dari negara tersebut. Beberapa gold coin yang paling populer di dunia saat ini adalah:

Kelas 24 Karat (kemurnian 99,99%): Canadian Mapple Leaf, Austrian Philharmonic, dan American Buffalo

Kelas 22 Karat (kemurnian 91,67%): South African Krugerrand dan American Eagle

Koin2 tersebut tersedia dalam 4 ukuran: 1 ozt, 1/2 ozt, 1/4 ozt, dan 1/10 ozt. Walaupun memiliki berat yang sama persis, tiap jenis koin terkadang dijual dengan harga yang berbeda, karena tiap koin memiliki nilai premium yang berbeda2. Premium adalah biaya tambahan terhadap spot price, yang merupakan biaya2 diluar harga bahan dasar, seperti biaya pencetakan dan transport. Tampilan fisik gold coin jelas lebih menarik dibanding gold bar, dan karena itu harga per gram nya selalu lebih mahal dari gold bar, yaitu karena biaya pencetakannya yang lebih tinggi.

Austrian Philharmonic dalam 4 ukuran

Perhiasan & karya seni emas (jewelry & artwork) tersedia dalam berbagai bentuk, yang paling sering kita lihat tentu anting2, kalung, gelang, dan cincin. Beberapa toko emas juga menjual karya seni emas dalam bentuk patung, gelas, sendok, kipas, dan hiasan2 lainnya. Emas kategori ini adalah yang paling indah dan artistik, dan memiliki harga per gram yang paling mahal, karena kita juga harus membayar elemen seni di dalamnya, yang seringkali sulit diukur secara kuantitatif.

Jadi emas dalam bentuk apa yang sebaiknya dibeli? itu tergantung situasi, kondisi, dan alasan anda membeli emas. Kalau anda seorang yang sangat kaya, maka pertanyaan ini jadi tidak relevan karena anda bisa membeli semuanya tanpa perlu banyak berfikir. Tapi kalau anda seorang middle class yang dengan hati2 membeli emas sebagai media penyimpan nilai yang bebas inflasi dan sewaktu2 dengan mudah dapat dicairkan, maka jawabannya jelas: belilah gold bar.

Gold bar dan gold coin dapat dibeli secara online di berbagai website, diantaranya sebagai berikut:

Ada banyak juga perusahaan yang melayani jual-beli sekaligus penitipan emas, beberapa diantaranya sebagai berikut:

Sebenarnya masih lumayan banyak yang ingin saya tulis mengenai emas ini, terutama tentang kemungkinan  penggunaannya dalam daily transactions dan juga tentang interaksinya dengan paper money, so hopefully artikel ini akan disambung di lain waktu..

Some related links:

Posted in economics | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Protected: Study on Power Uprating of Integral Primary System PWR

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 16, 2011

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in nuclear engineering | Tagged: , , , , | Enter your password to view comments.

Catatan perjalanan: The AJK-SME Conference 2011

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 12, 2011

Bulan kemarin, selama 5 hari (24 – 28 Juli) saya berada di kota Hamamatsu, prefektur Shizuoka (~200 km barat daya Tokyo), untuk menghadiri sebuah konferens, The ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011.

Konferens nya dimulai hari Senin pagi (25 Juli), saya berangkat hari Minggu sore (24 Juli) naik Shinkansen Hikari dari stasiun Shinagawa, perjalanan ke Hamamatsu tidak terlalu lama juga, hanya sekitar 1,5 jam. Saya sampai di stasiun Hamamatsu sekitar jam 4.30 sore, dan langsung menuju tempat konferens untuk registrasi. Tempatnya terletak tepat di sebelah stasiun, namanya ACT City Hamamatsu, sebuah convention center yang megah. Sedangkan Sensei saya katanya akan tiba hari Senin sore.

Stasiun Hamamatsu, tempat konferensnya di kompleks gedung yang tinggi itu

Selesai melakukan registrasi, saya langsung menuju hotel tempat saya akan menginap, namanya Comfort Hotel Hamamatsu, tempatnya hanya sekitar 10 menit on foot dari stasiun, dengan tarif 4500 Yen/malam. Yah namanya juga hotel kelas mahasiswa, kamarnya tidak terlalu besar, tapi lengkap dan nyaman, ada digital TV, kulkas mini, AC, internet connection (ini yang paling penting :)), dan tentu saja kamar mandi yang nyaman dan toilet canggih dengan berbagai tombol. Di hotel saya hanya istirahat sebentar, solat, dan ganti baju, dan sekitar jam 6 sore kembali lagi ke tempat konferens untuk menghadiri welcome reception, alias free dinner :mrgreen:. Lumayan banyak juga yang datang ke welcome reception, beberapa partisipan dari Amerika terlihat hadir juga, saya juga bertemu seorang exchange student dari Teknik Fisika ITB yang kebetulan menjadi panitia, kalau tidak salah namanya Erman.

Hari senin pagi acaranya secara resmi dibuka dengan sebuah opening ceremony oleh beberapa orang penting di bidang fluid engineering, dan kemudian dilanjutkan dengan plenary session oleh 3 pembicara utama. Presentasi yang cukup menarik disampaikan oleh seorang businessman asal Australia, Jayden Harman, ia berbicara mengenai Biomimicry, sebuah konsep yang sepertinya cukup baru tentang nature-inspired technology yang berhubungan dengan fluid. Ia memaparkan bagaimana hardware yang di desain oleh perusahaannya berdasarkan konsep biomimicry dapat beroperasi lebih efektif dan efisien dibanding produk2 sejenis lainnya. Ia bahkan sempat berbicara sedikit mengenai sebuah proyek kerjasama dengan US DOE dan Pentagon mengenai atmospheric engineering.

Suasana Opening Ceremony

Plenary session selesai jam 12 siang, dan kemudian dilanjutkan dengan luncheon lecture: makan siang sambil mendengarkan lecture, hmm.. asik juga :). Makan siang yang disediakan panitia adalah bento khas Jepang, terdiri dari beberapa kotak kecil2 yang isinya hampir semuanya hidangan laut: ikan, udang, cumi2, dll. Juga ada belut (unagi) panggang dengan saus manis, yang katanya memang khas Hamamatsu, beuh.. guriiih banget rasanya :). Kemudian acara dilanjutkan dengan parallel technical sessions sampai jam 6 sore, nah.. ini baru mulai serius.. :mrgreen:.

Saya pergi ke Hamamatsu ini bersama 2 teman lab, Marco dan Rui. Kebetulan former advisor nya Marco di Itali datang juga, namanya Prof. Fabio Inzoli. Mungkin dalam rangka menyambut beliau, malam itu kami dinner bersama, saya, Sensei, Marco, Rui, dan beberapa orang lainnya. Malam itu kami makan sushi, sashimi, dan tempura di sebuah restoran di kompleks stasiun Hamamatsu. Selesai dinner, kami menuju lantai 30 ACT Tower, untuk minum2 sambil menikmati pemandangan malam, tentu saja saya tidak ikut minum alkohol, saya hanya minum Canadian ginger ale.

Saya kebagian presentasi pada hari ketiga, jadilah hari Senin dan Selasa saya menjadi partisipan yang baik, saya selalu hadir dari pagi sampai sore, selain karena pikiran tidak tenang (karena belum presentasi), juga untuk mencuri sebanyak2nya teknik presentasi dari peserta lain :mrgreen:. Beberapa presenter benar2 sangat keren, sempat agak terintimidasi juga, tapi mau bagaimana lagi, life must go on (!). Jadilah hari Senin dan Selasa saya tidak jalan2 kemana2, paling hanya ke kombini beli onigiri dan beberapa makanan kecil untuk light dinner.

Salah satu sudut kota Hamamatsu

Akhirnya tiba juga hari Rabu, saya kebagian presentasi pertama di second morning session, dan hal yang menurut saya lumayan aneh adalah bahwa chairman session nya Sensei saya sendiri (!). Agak dagdigdug juga sih, apalagi chairman itu salah satu tugasnya kan ngasih pertanyaan ke presenter, terutama kalau ga ada pertanyaan dari penonton, lah apa jadinya kalo Sensei sampai nanya2 ttg kerjaan/riset saya?? :mrgreen:, masa pembimbing nanya ke yang dibimbing di depan semua orang? pasti bakalan awkward kan..

Setelah di introduce oleh chairman (yang adalah Sensei saya sendiri), saya malah kelepasan bilang thank you chairman (!), harusnya kan saya bilang thank you professor, beberapa hadirin tampak tersenyum, ya sudah lah.. namanya juga kelepasan..

Saat itu audiens nya tidak terlalu banyak, padahal ruangannya lumayan besar (entah saya harus bersyukur atau menyesal :)), dan beberapa dari mereka memberi pertanyaan pada presentasi saya, jadinya chairman tidak perlu memberi pertanyaan, fiuhh.. lega juga rasanya.. 🙂 Setelah presentasi, pikiran jadi jauh lebih tenang, tapi hari itu saya tetap jadi partisipan yang baik, saya hadiri session2nya sampai sore. Acara kemudian dilanjutkan dengan Conference Banquet, yang berupa standing party, dan diisi hiburan live music oleh “ibu2 pkk” Hamamatsu yang memainkan Koto, alat musik tradisional Jepang yang mirip kecapi. Hmm it was quite entertaining :).

"Ibu2 pkk" Hamamatsu memainkan alat musik Koto

Malamnya saya mulai melihat2 peta wisata Hamamatsu, rencananya besoknya ingin jalan2 juga :). Karena saya suka arkeologi, yang pertama saya cari adalah museum! Ternyata ada museum yang sepertinya cukup menarik di Hamamatsu, namanya Hamamatsu City Museum, menurut brosur, koleksi museum ini adalah benda2 kuno yang ditemukan di sekitar Hamamatsu, termasuk beberapa artefak dari Jomon Culture! Menarik sekali! Cuma museum ini lumayan jauh dari tempat konferens, harus naik bis segala. Saya tidak jadi mengunjungi museum ini, karena rencana saya hanya jalan2 ke tempat2 disekitaran tempat konferens, on foot.

Hari kamis saya check out dari hotel dan langsung menuju stasiun, bukan untuk pulang, tapi untuk menaruh koper saya di stasiun :). Ini salah satu hal yang paling saya suka dari stasiun kereta di negara2 maju: ada coin locker yang aman untuk menyimpan koper kita, cukup dengan 500 Yen, saya tidak usah lagi membawa2 koper besar saya, sesuatu yang sepertinya di Indonesia (lagi2) belum ada. Memang sebenarnya saya bisa saja menitipkan koper saya di hotel atau di tempat konferens, but for some reason, saya lebih suka coin locker, rasanya lebih bebas :).

Kemudian saya datang ke morning technical sessions dan mendengarkan beberapa presentasi. Dan ketika coffee break jam 10.30, saya menyelinap keluar, tujuan saya: Hamamatsu Castle! Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat konferens, hanya sekitar setengah jam berjalan kaki. Ternyata kastil nya relatif kecil, jauh lebih kecil dari Osaka castle, dan harga tiket masuknya 150 Yen.

Hamamatsu Castle

Yang istimewa dari kastil ini adalah bahwa shogun pertama dari keluarga Tokugawa, Tokugawa Ieyasu (memegang jabatan shogun dari 1603-1605), pernah tinggal disini semasa mudanya, karena itu ga heran kalau di sebelah kastil ini ada patung perunggu Tokugawa Ieyasu. Menurut saya patungnya terlalu sederhana untuk seorang figur sejarah besar yang berhasil mendirikan sebuah dinasti/rezim militer yang bertahan selama lebih dari 250 tahun.

Patung Shogun Tokugawa Ieyasu

Kastil ini terdiri dari 3 lantai dan sebuah ruangan bawah tanah kecil, dimana terdapat sebuah sumur. Lantai satu dan dua berisi beberapa benda2 bersejarah, terutama yang berhubungan dengan sang shogun, seperti baju besi, senjata2, patung, dll. Ada juga beberapa lukisan dan foto2. Sedangkan lantai tiga hanya berfungsi sebagai menara pengamat.

Rekonstruksi pakaian perang sang Shogun

Setelah selesai dengan Hamamatsu castle, saya kemudian jalan2 mengelilingi castle park. Taman ini lumayan luas juga, dan seperti biasa, amat sangat bersih dan asri. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan taman2 di Tokyo: para lansia yang sedang kongkow dan ibu2 yang bermain2 dengan anak2 balitanya. Hari itu di taman kebetulan ada anak2 sekolah yang sepertinya sedang bersiap2 mau olah raga. Dari taman saya kembali ke tempat konferens untuk makan siang, lumayan lapar juga setelah lebih dari 2 jam berjalan kaki :).

Setelah makan siang, saya datang ke plenary session terakhir, sampai sekitar jam 3 sore. Setelah itu saya langsung menuju tujuan jalan2 kedua: The Hamamatsu Museum of Musical Instruments. Saya mengunjungi tempat ini lebih karena lokasinya yang dekat dengan stasiun, maklum hari sudah sore juga. Bangunan museum nya bergaya modern, dan ruang eksebisinya hanya terdiri dari dua lantai, tiket masuknya seharga 400 Yen.

Alat2 musik asal India, suaranya lumayan unik juga

Sesuai namanya, museum ini isinya alat2 musik dari hampir seluruh dunia, termasuk dari Indonesia! Yang mewakili Indonesia adalah gamelan Jawa dan Bali, yang menempati space luas di tengah museum. Yang menarik dari tempat ini adalah kita bukan hanya bisa melihat alat2 musik tersebut, tapi juga bisa mendengarkan suaranya melalui headphone yang tersedia di depan setiap instrumen yang dipajang.

Salah satu sudut museum, tersedia headphone untuk setiap alat musik

Selesai dari museum musik, saya langsung menuju stasiun Hamamatsu untuk pulang ke Tokyo, saya kembali naik Shinkansen Hikari dan berangkat jam 5.10 sore. Alhamdulillah perjalanan lancar dan saya tiba kembali di rumah sekitar jam 8 malam. Fiuhh.. lumayan lelah juga.. anyway it was a quite interesting trip, alhamdulillah, although the place is just 200 km from Tokyo! :mrgreen:

Fin

*Beberapa foto bisa dilihat di album2 berikut:

ASME-JSME-KSME Joint Fluids Engineering Conference 2011
Hamamatsu Castle
Hamamatsu Museum of Musical Instruments

Posted in study & live in japan | Tagged: , , , , , , , , | 1 Comment »