Hey, what's going on?

Archive for March, 2011

Petani, pedagang, dan kapten industri

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 29, 2011

Pernahkah anda memproduksi makanan anda sendiri? entah itu dengan cara bertani ataupun beternak? saya sendiri belum pernah melakukannya.

Hmm.. ko bisa ya?? bagaimana mungkin kebutuhan pangan saya selalu terpenuhi tanpa saya pernah sekalipun bertani ataupun beternak??

Bagaimana semua ini berawal?

Hmm.. mungkin ceritanya begini..

Pada awalnya kehidupan manusia sangatlah sederhana, hari2nya dihabiskan hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Hidupnya sudah bahagia dengan memiliki tempat untuk berteduh, sesuatu untuk dikenakan sebagai pakaian, dan makanannya terpenuhi setiap hari. Saat itu setiap keluarga harus bekerja masing2 untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.

Kemudian somehow mereka mengetahui ilmu bertani, dan merekapun mampu memproduksi makanan dengan sangat efisien. Jika sebelumnya mereka harus bekerja rata2 10 jam per hari untuk mencukupi kebutuhan pangan, dengan ilmu bertani, untuk menghasilkan jumlah bahan makanan yang sama, jam kerja rata2nya turun menjadi hanya 1 jam saja per hari. Bahan makanan hasil bertani ini juga tidak mudah rusak, sehingga bisa disimpan sebagai cadangan. Dengan demikian jumlah bahan makanan menjadi berlebih.

Setelah selang beberapa waktu, keluarga2 yang (karena satu dan lain hal) tidak bertani, menawarkan diri untuk bekerja pada keluarga2 petani yang memiliki bahan pangan berlebih. Dengan demikian, dalam suatu desa terdapat keluarga2 petani yang makmur, dan keluarga2 lain yang tidak bertani yang bekerja pada keluarga2 petani tersebut. Dengan demikian bisa dibilang bahwa keluarga2 petani ini “berkuasa” atas keluarga2 lainnya. Keluarga2 kelas pekerja ini mengerjakan berbagai hal, mulai dari memasak, merawat rumah, membuat kerajinan, sampai membuat senjata (panah, pedang, tombak, dll).

Kemudian struktur masyarakat menjadi semakin besar, luas dan rumit, dan akhirnya mencapai critical mass of a society, dimana specialized professions menjadi punya tempat untuk berkembang.  Contohnya adalah ahli membuat gerabah, ahli membuat pedang, ahli membangun rumah, dan banyak ahli2 lainnya. Mereka hidup dengan menjual jasa (keahliannya) pada orang2 yang membutuhkan.

Namun demikian, kaum petani tetap menjadi kelompok yang berkuasa, karena merekalah yang memiliki bahan makanan, kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup.

. . .

Hmm.. sepertinya ceritanya bakal jadi panjang kalau diteruskan.. awalnya saya menulis tulisan ini untuk menjawab satu pertanyaan:

Mengapa petani zaman sekarang (setidaknya di Indonesia) menjadi begitu tidak berdaya?

Dan satu pertanyaan lain yang tampaknya sedikit lebih rumit:

Bagaimana bisa kelompok yang sama sekali tidak pernah bertani, saat ini malah menjadi begitu berkuasa?

Ada yang menjawab pertanyaan pertama secara ringkas: karena mereka tidak punya tanah. Well, saya kurang puas dengan jawaban ini, saya ingin tau cerita lengkapnya..

Untuk pertanyaan kedua, saya tidak tahu apakah ada jawaban ringkasnya atau tidak..

Hff.. tampaknya ceritanya memang masih panjang, terutama tentang zaman pelayaran & penjelajahan, yang melahirkan kaum pedagang dan saudagar; dan juga tentang Revolusi Industri,  yang melahirkan para kapten industri. Dua episode sejarah yang bisa dibilang menjungkir balikan struktur sosial yang lama…

(Semoga) disambung lain waktu..

Posted in my thought | Tagged: , , , | 1 Comment »

Status kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi di Jepang

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 24, 2011

Artikel ini bertujuan memberi gambaran singkat mengenai status reaktor2 nuklir di PLTN Fukushima Daiichi. Penjelasan mengenai kronologi kecelakaan Fukushima, atau mengenai tingkat dan dampak radiasi dapat ditemukan pada beberapa artikel lain diluar blog ini.

3C: Control, Cool, Contain

Teknologi nuklir dikembangkan berdasarkan konsep 3C, yaitu Control, Cool, dan Contain. Reaktor nuklir tidak akan memberi dampak negatif ke lingkungan sekitar selama konsep 3C ini terpenuhi:

  1. Control: reaksi fisi nuklir di dalam reaktor harus selalu terkendali
  2. Cool: bahan bakar nuklir harus selalu terdinginkan
  3. Contain: material radioaktif tidak boleh lepas ke lingkungan

Pada kasus Fukushima Daiichi, konsep Control sudah terpenuhi, dimana seluruh unit secara otomatis mati (shutdown) sesaat setelah gempa, dengan demikian tidak ada lagi reaksi fisi nuklir di dalam reaktor. Konsep Cool juga sebenarnya sempat terpenuhi, sampai tsunami datang dan merusak sumber daya listrik sistem pendingin. Dengan hilangnya fungsi Cool, fungsi Contain menjadi tidak berjalan dengan baik, sehingga sebagian material radioaktif lepas ke lingkungan.

Status PLTN saat ini

PLTN Fukushima Daiichi termasuk jenis Boiling Water Reactor (BWR), dimana di dalam gedung reaktor jenis ini, pada umumnya material radioaktif terdapat pada 2 struktur, yaitu di dalam Reactor Pressure Vessel (RPV), dan di dalam Spent Fuel Pool (SFP).

http://www.gereports.com/deconstructing-the-new-york-times/

Berkaitan dengan fungsi Contain, reaktor nuklir jenis ini dirancang memiliki 5 level “pertahanan” (defense) untuk mencegah keluarnya material radioaktif dari RPV, dan 3 level pertahanan untuk SFP.

5-level pertahanan material radioaktif di dalam RPV:

  1. Fuel pellet
  2. Cladding
  3. Reactor Pressure Vessel
  4. Containment Vessel
  5. Reactor Building

3-level pertahanan material radioaktif di dalam SFP:

  1. Fuel pellet
  2. Cladding
  3. Reactor Building

Material radioaktif akan lepas ke lingkungan apabila terdapat kerusakan pada tiap level pertahanan, dimana jumlah radioaktif yang lepas bergantung pada tingkat kerusakan di tiap level pertahanan.

Status sistem pertahanan PLTN Fukushima Daiichi dapat dilihat pada tabel2 berikut (per 25 Maret, 10 am).

5-level pertahanan material radioaktif di dalam RPV:

Defense level Unit 1 Unit 2 Unit 3 Unit 4 Unit 5 Unit 6
1st (Fuel pellet) Damaged Damaged Damaged None Safe Safe
2nd (Cladding) Damaged Damaged Damaged None Safe Safe
3rd (RPV) Unknown Unknown Unknown Safe Safe Safe
4th (Containment Vessel) Safe Damaged (suspected) Safe Safe Safe Safe
5th (Reactor Building) Damaged (severe) Damaged (slightly) Damaged (severe) Damaged (severe) Safe Safe

 

3-level pertahanan material radioaktif di dalam SFP:

Defense level Unit 1 Unit 2 Unit 3 Unit 4 Unit 5 Unit 6
1st (Fuel pellet) Unknown Unknown Damaged (possibly) Damaged (possibly) Safe Safe
2nd (Cladding) Unknown Unknown Damaged (possibly) Damaged (possibly) Safe Safe
3rd (Reactor Building) Damaged (severe) Damaged (slightly) Damaged (severe) Damaged (severe) Safe Safe

 

Strategi penanganan kecelakaan

Tujuan utama dari usaha2 penanganan kecelakaan reaktor nuklir Fukushima adalah mengaktifkan kembali sistem pendingin (sirkulasi air) pada Reactor Pressure Vessel  dan Spent Fuel Pool. Karena reaktor2 tua ini masih menggunakan sistem pendingin aktif (memerlukan listrik untuk dapat bekerja), maka ketika seluruh sumber daya listrik terputus akibat gempa dan tsunami, praktis seluruh sistem pendingin menjadi tidak berfungsi.

Hambatan terbesar untuk memperbaiki sistem pendingin adalah bahwa beberapa bagian reaktor terlanjur mengalami kerusakan, sehingga material radioaktif lepas ke luar gedung reaktor, mengakibatkan tingkat radiasi yang tinggi di sekitar gedung reaktor. Tingkat radiasi yang tinggi inilah yang berpotensi mengancam kesehatan para pekerja yang akan memperbaiki sistem pendingin reaktor.

Dengan demikian, hal pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan tingkat radiasi di sekitar reaktor. Hal ini dilakukan salah satunya dengan cara mencegah bertambah parahnya kerusakan bahan bakar nuklir, yaitu dengan cara didinginkan, memasukan air secara terus-menerus ke dalam reaktor. Ketika tingkat radiasi sudah tidak terlalu tinggi dan keadaan reaktor menjadi stabil, maka para pekerja dapat mendekati reaktor untuk memperbaiki sistem pendingin reaktor.

Dengan demikian, secara sederhana langkah2nya adalah sebagai berikut:

  1. Memperbaiki jaringan listrik menuju komplek reaktor
  2. Menghubungkan reaktor dengan jaringan listrik eksternal
  3. Memeriksa komponen2 sistem pendingin, dan memastikan bahwa komponen2 tersebut masih bisa bekerja
  4. Menyalakan sistem pendingin (sirkulasi air)
  5. Memastikan bahwa bahan bakar nuklir dalam kondisi dingin dan stabil

Status usaha2 yang dilakukan untuk memperbaiki sistem pendingin reaktor dapat dilihat pada tabel berikut (per 25 Maret, 10 am):

AC Power Power Connection Integrity Checks Cooling Systems Activation Cool & Stable
Unit 1
YES
YES
ON GOING
NO
NO
Unit 2
YES
YES
ON GOING
NO
NO
Unit 3
YES
YES
ON GOING
NO
NO
Unit 4
YES
YES
ON GOING
NO
NO
Unit 5
YES
YES
YES
YES
YES
Unit 6
YES
YES
YES
YES
YES

Dengan demikian kita menunggu berita dari TEPCO bahwa seluruh unit dalam kondisi dingin dan stabil.

Sumber data:

Beberapa artikel terkait kecelakaan nuklir Fukushima Daiichi:

Posted in nuclear engineering | Tagged: , , , | 4 Comments »

Gempa besar Hoei tahun 1707 memicu meletusnya gunung Fuji?

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 12, 2011

Gempa Sendai yang terjadi kemarin, dengan kekuatan 8,9 [1], tercatat sebagai gempa terbesar yang pernah terjadi di Jepang [1,5]. Gempa terbesar kedua yang tercatat adalah yang terjadi 304 tahun sebelumnya, di sekitar daerah Chobu [1], dengan kekuatan 8,6 [3].

Seperti gempa Sendai kemarin, gempa Hoei juga memicu gelombang Tsunami di beberapa area sekitar pusat gempa, dengan ketinggian rata-rata 7,7 meter [3].

Fakta yang sepertinya cukup menghawatirkan tentang gempa Hoei ini —berkaitan dengan gempa Sendai kemarin— adalah bahwa [1,3] 49 hari kemudian, gunung Fuji meletus… letusan ini berlangsung selama sekitar 2 minggu.. [4]

Lalu apa benar meletusnya gunung Fuji saat itu memang dipicu oleh gempa Hoei?

Copy-paste dari link [1]:

That quake generated a 33-foot (10-meter) tsunami wave, and some scientists believe the quake may have triggered the eruption of Mount Fuji 49 days later

dan dari link [3]:

There is evidence that changes in stress caused by large earthquakes may be sufficient to trigger volcanic eruptions, assuming that the magma system involved is close to a critical state. The great earthquake in 1707 may have caused changes in pressure in the magma chamber beneath Mount Fuji through a static stress change.

Daerah yang terkena dampak letusan ini adalah provinsi Izu, Kai, Sagami, dan Musashi, abu vulkanik juga sampai ke Tokyo, yang berjarak sekitar 100 km dari gunung Fuji [4].

Peta ketebalan abu vulkanik (letusan tahun 1707)

Namun demikian, untungnya catatan menunjukan bahwa tidak selalu gempa bumi di Jepang memicu meletusnya gunung Fuji, gempa besar Kanto tahun 1923 (yang pusat gempanya sangat dekat dengan gunung Fuji) dan gempa besar Kobe tahun 1995 juga tidak memicu meletusnya gunung Fuji. Adakah pakar geologi yang bisa membantu menjelaskan hal ini?

Beberapa gempa besar di Jepang

Gempa bumi Pusat gempa Jarak pusat gempa ke gunung Fuji
Hoei, 1707 33.0°N 136.0°E [3] ~ 360 km
Kanto, 1923 Izu Oshima [5] ~ 90 km
Kobe, 1995 Awaji island [5] ~ 370 km
Sendai, 2011 38.322°N 142.369°E [2] ~ 460 km

Mari kita sama-sama berdoa, semoga bencana gempa Sendai ini memang sudah benar-benar selesai, dan semoga tidak ada lagi bencana alam lainnya.. amiiin…

Sumber:

  1. Sendai earthquake 2011, CNN News
  2. Sendai earthquake 2011, Wikipedia
  3. 1707 Hoei earthquake, Wikipedia
  4. Hoei eruption of Mount Fuji, Wikipedia
  5. List of earthquakes in Japan, Wikipedia

Posted in whatever | 1 Comment »