Hey, what's going on?

Archive for April, 2010

Spring break at TokyoTech (video)

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Gallery on Picasa

TokyoTech, March/April 2010

Advertisements

Posted in study & live in japan | Leave a Comment »

Jemuran siapa ini??

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Komentar seorang teman jepang tentang tagihan ‘rumah tangga’ saya cukup mengganggu saya selama beberapa hari kemarin. Saya cerita padanya bahwa tagihan listrik, air, dan gas bbrp bulan ini lumayan mahal, masing2 hampir mencapai 4000 yen, atau kalau ditotal lebih dari 10000 yen, dia bilang “loe tinggal sendiri kan?” saya bilang iya, dia jawab kynya itu trlu mahal, harusnya sekitar 2000an. Hmm.. penasaran sy tanya seorang teman Indonesia yg tinggal tidak jauh dari tempat saya dan juga tinggal di single room, dia jg bilang masing2 sekitar 2000 yen! hmm.. seems something is wrong…

Nah pagi ini, ketika saya membuka jendela, saya mendapati pemandangan ini: (!)

celana kolor, kaos kaki, dll.. d balkon gw

Seingat saya, saya tidak mencuci baju tadi malam.. saya amati lagi ternyata jemuran di balkon kamar saya itu bukan jemuran saya! Celana kolor, kaos kaki, dll itu 100% bukan punya saya! lah what’s goin on?!?

Prasangka buruk segera menyergap, “ooo.. jd selama ini tetangga2 kamar sebelah suka pake mesin cuci saya untuk nyuci baju mereka too!! kan mesin cuci ada d luar n klo siang sy seharian ngampus!! pantesan tagihan2 gw bengkak!! pasti mereka nyucinya pake air panas pula!! HHHH!!!! kurang uajjjiaaarrrr!!!!”

Saya pun segera mengontak calo kos2an sy utk komplain, dan dia pun segera menghubungi si empunya kos2an, kata dia si owner menjelaskan bahwa kemarin bagian luar kamar di sebelah kamar saya di reparasi oleh tukang, karena itu sementara jemuran si tetangga sebelah dititipkan dulu di balkon jemuran saya, nah si tukang lupa mengembalikan jemuran2 itu ke tempat semula.. simpel toh..

Fiuhh.. jadi tenang deh.. ternyata tetangga2 sebelah gw emang seperti yg gw duga, orang2 baek.. =)

*hmm.. tp pertanyaan gw blm terjawab, knapa tagihan2 gw mahal..?

Posted in just a story, study & live in japan | 3 Comments »

Passive vs inherent safety in nuclear reactors

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Untuk meningkatkan safety pada desain reaktor nuklir, trend saat ini adalah dengan mengurangi divais aktif (mekanis), dan lebih mengandalkan natural phenomena yang tidak tergantung pada external power (tenaga listrik) dan tindakan operator reaktor nuklir. Tentu dengan tujuan meningkatkan reliabilitas safety system dari reaktor nuklir, dan juga mengurangi pengaruh human error. Ada dua terminologi yang secara umum digunakan berhubungan dengan hal diatas:

  • Passive safety
  • Inherent safety

Sebenarnya saya sudah sering mendengar kedua terminologi tersebut sejak beberapa waktu yang lalu, tapi terus terang masih belum terlalu mengerti apa perbedaannya. Hari ini kebetulan ada lecture dari seorang expert dari CRIEPI, dengan tema nuclear reactor safety. Saya bertanya what are the differences between passive and inherent? Dan beliau menjelaskan berdasarkan definisi yang bersumber dari IAEA (weh berarti sebenernya penjelasannya ada di iaea.org dong yah, gue aja yang males baca :mrgreen:), beliau menunjukan tabel berikut:

No Phenomena
Driving force
Movement
Trigger
1 Structural expansion
Thermal
Yes
No
2 Passive coolant injection
Pressure
Yes
Yes
3 Fuel expansion
Thermal
No
No
4 Natural circulation
Thermal
Yes
No
5 Doppler effect
No (thermal?)
No
No

Beliau bilang bahwa secara umum, passive safety memanfaatkan fenomena2 alami dimana macroscopic movement nya bisa diamati, sedangkan inherent safety memanfaatkan fenomena2 alami dimana macroscopic movement nya tidak bisa diamati. Jadi item nomor 1,2, dan 4 pada tabel diatas dikategorikan sebagai passive, dan item nomor 3 dan 5 dikategorikan sebagai inherent. Berikut ini penjelasan singkat mengenai kelima fenomena diatas:

  1. Structural expansion: Seiring naiknya temperatur, material di dalam reactor core akan mengalami ekspansi, yang berakibat menambah neutron leakage.
  2. Passive coolant injection: reactor core dihubungkan dengan sebuah pump-less injection system (air bertekanan tinggi), sehingga apabila suatu event/accident terjadi, katup yang menghubungkan keduanya tinggal dibuka saja, tidak perlu pompa.
  3. Fuel expansion: densitas fuel pellet berkurang akibat ekspansi termal, yang berakibat menurunnya reaction rate.
  4. Natural circulation: tanpa pompa, aliran coolant mampu mendinginkan reactor core.
  5. Doppler effect: mmm.. silahkan baca sendiri di buku Duderstadt :mrgreen:

Pada tabel diatas, driving force bisa diartikan sebagai penyebab terjadinya fenomena tersebut, movement berarti ada efek makroskopik yang secara praktis bisa di-sense. Untuk kasus passive coolant injection, seperti dijelaskan diatas, katup yang menghubungkan reactor core dan pump-less injection system harus dibuka untuk mengaktifkan sistem ini, atau dengan kata lain ia perlu trigger.

Posted in nuclear engineering | Tagged: , | Leave a Comment »

Kwik Kian Gie: negarawan teladan

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Photo courtesy of kompas.com

Ahh.. tak pernah habis rasa kagumku pada pak Kwik..

Cerdas dan lurus..

Sosok negarawan nasionalis yang benar2 patut diteladani..

Satu prinsipnya: tidak pernah sudi negeri nya dibodohi dan dibuat merugi!

Kwik tidak pernah sudi dibodohi bangsa lain, begitupun memang tidak ada ‘orang luar’ yang mampu membodohinya, tragis ia malah dibodohi orang sebangsanya sendiri..

Kutunggu sosok sepertimu menjadi panglima tertinggi pembenahan ekonomi negeriku tercinta.. orang lurus saja tidak cukup, orang cerdas saja tidak cukup, cerdas dan lurus baru cukup.. ups masih kurang satu hal: kuasa, ya.. siapa pun yang ingin mengubah tentu harus punya kuasa..

Teruslah berjuang pak Kwik.. biar aku, kami, dan mereka terinspirasi olehmu..

Terima kasih Kwik Kian Gie..

*oia satu hal lagi, I like his style, dia itu kalau berbicara tenang, logis, intelek, tajam, ber-substansi, tapi ngga njelimet n mampu bikin orang jadi ngerti, karena dia itu berbicara bukan untuk biar dibilang keren, pinter, dll, but simply biar yang denger jadi ngerti, luar biasa..

Posted in social & politics | Tagged: | Leave a Comment »

Note-tagging di Facebook: aneh ga sih??

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Tulisan berikut ini mungkin saja bisa membuat anda para Facebook note-taggers merasa tidak nyaman, karena itu saya sebelumnya minta maaf, mungkin saja anda sebaiknya jangan membaca tulisan saya ini.

Satu fitur di Facebook yang tampaknya sengaja di desain untuk menyaingi blog adalah Note. Dan karena Facebook ini katanya sih “jejaring sosial”, fitur Note ini tentu dilengkapi fasilitas “sosial”, fasilitas ini adalah tagging. Nah tagging ini yang jadi pertanyaan saya: etis ga sih??

Entah anda setuju atau tidak, tapi menurut saya tagging itu kurang etis, loh kenapa? karena menurut saya, dengan men-tag orang2 di note anda, anda sama saja bilang “ooy orang2, gue bikin tulisan bagus nii, loe pade baca yaah, n jangan lupa kasih komentar yang banyak yaah“, whatsss???

Orang2 yang di-tag juga somehow mungkin saja jd ngerasa ga enak kalo diem aja, jadilah dia merasa harus kasih komentar di note itu, yaah.. nulis apa kek ala kadarnya, misalnya wow nice note!, or thanks for tagging me!, or inspiring note!, or komen2 aneh lainnya.. entah yah.. kalo saya sih kurang suka hal2 palsu kaya gitu..

Saya bukan sedang menyerang fitur Facebook note lo ya, tp yang saya kritisi itu note-tagging nya, Facebook note nya sendiri fine for me.. btw ada seorang teman SMA saya yang kadang2 nulis Facebook note, yaa ga sering sih, dia ga pernah men-tag seorang pun di note2 nya, tapi dasar tulisan dia memang menarik, buanyak orang2 yg ingin mengomentari, termasuk saya, 100% sukarela loo..

Saya juga tentu happy klo tulisan saya dibaca orang, apalagi kalo orang itu sampai mau meluangkan waktu utk nulis komentar dengan sukarela, karena itu saya nge-blog kalee.. hehe..

Ini hanya pendapat saya loo.. mohon maaf kalo ada yang tersinggung..

My God.. I really love Facebook.. :mrgreen:

Posted in whatever | Tagged: | Leave a Comment »

Wakil jabatan eksekutif: perlukah?

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 19, 2010

Saya baru saja membaca sebuah post di sebuah portal berita, mengenai pernyataan mantan wapres Jusuf Kalla bahwa wapres kalah dari camat (dlm hal wewenang dan kekuasaan). Sebenarnya sudah bbrp lama sy sering bertanya pd diri sendiri tentang keberadaan wakil sebuah jabatan eksekutif, apa benar perlu ada?

Maksud sy dengan istilah wakil eksekutif disini adalah wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati, dlsb. Saya sendiri adalah termasuk orang yang menyukai struktur organisasi yang rigid dan jelas, jelas siapa atasan, jelas siapa bawahan, jelas siapa harus nurut sama siapa, jelas siapa berhak memerintah siapa, intinya struktur komando yang jelas, yeap.. seperti di militer. Saya tidak percaya bahwa dua jabatan yang dipegang dua orang yang berbeda, bisa memiliki wewenang yang benar2 setara. Bahkan dua jenis jabatan dengan hierarki yg -secara de facto– kurang jelas, bisa berbahaya bagi keseluruhan struktur organisasi.

Sekarang ambil contoh kasus wakil presiden: wapres itu apanya presiden ya?

Apa wapres itu bawahan presiden kah? kalau benar bawahan, lalu siapa bawahan wapres? dan bagaimana posisi wapres relatif terhadap para menteri, panglima militer, kapolri, dlsb? apakah diatas mereka? ataukah sejajar? atau bagaimana??? bisakah wapres memerintah menteri?? oke jawabannya jelas bisa, tapi haruskah para menteri nurut apa kata wapres?

Atau wapres itu adalah pemain cadangan terhadap posisi presiden? kalau benar cadangan, lalu apa kerjanya selama presiden baik2 saja? masa seharian main facebook? Jabatan wakil presiden itu 100% dibiayai oleh rakyat lo, dan kita bukan hanya membiayai makan dan tempat tinggal seorang wapres saja lo, tp juga ngebayarin uang bensin, pembantu2, bodyguard, perawatan istana wapres, mobil wapres, dll dll…

Atau wapres itu bertugas memberi masukan kepada presiden? hmm.. lalu apa bedanya dengan jabatan penasihat presiden? kan sama2 ngasih masukan ke presiden?

Dan sebaliknya, presiden itu apanya wapres? apa presiden punya hak utk mengganti wapresnya?

Jaman jenderal Suharto dulu mungkin ga ada masalah ttg jabatan wapres ini, kalau dilihat dari sisi kejelasan struktur komando, istilahnya anak TK juga tau siapa boss nya. Tapi perihal wapres ini jadi sedikit lebih ruwet pas jaman jenderal Yudhoyono, terutama pas Kalla yg jadi wapres.

Pasangan SBY-JK bisa dibilang lahir dari prinsip suka-sama-suka, dimana masing2 saling menyadari kelebihan dan kelemahan masing2, dan kemudian memutuskan untuk ber-kolaborasi. Jadi suka atau tidak, harus diakui bahwa sebagian dukungan yg mengalir utk SBY sebenarnya ditujukan sebagai dukungan untuk JK, atau dengan kata lain JK somehow punya hak utk meng-klaim sebagian kekuasaan presidensial yg secara de jure berada di tangan SBY, kalau sudah begini, lalu siapa boss nya dong???

Lebih dari apapun, setiap organisasi itu harus dibangun berdasarkan kemampuan orang2 didalamnya utk bekerjasama. Dan harus diingat bahwa pada umumnya manusia itu -seperti persamaan transport neutron- adalah fungsi ruang dan waktu, ia berubah seiring berubahnya posisi dan berlalunya waktu. Bayangkan jika suatu saat presiden dan wapres kehilangan kemampuan utk saling bekerjasama, tetapi mereka terpaksa harus bersama, apa jadinya??

Saya harus akui bahwa saya termasuk awam tentang konsep ketatanegaraan, jadi harap maklum kalau tulisan ini terlihat awam. :mrgreen:

Mungkin jawaban atas pertanyaan2 sy sebenarnya ada di buku2 ketatanegaraan sih, sy saja yg blm sempat baca.  Huu.. makanya baca dulu, baru nulis.. :mrgreen:

Related links:

Posted in my thought, social & politics | Tagged: , , , | Leave a Comment »