Hey, what's going on?

John Sahabatku

Posted by Syeilendra Pramuditya on January 23, 2010

DISCLAIMER: Cerita berikut ini hanyalah fiktif belaka, dan tidak merepresentasikan kejadian yang benar2 terjadi, apabila ada kemiripan nama dan/atau peristiwa, hal itu semata2 hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.

“Kalau saja kau mengubah kelakuanmu itu John, sungguh, mungkin aku tak akan pernah membuat tulisan ini, maafkan aku John..”

Kesempatan sekolah di luar negeri membuat saya mau tidak mau harus berinteraksi dengan orang2 dari berbagai negara. Beberapa bulan belakangan kebetulan ada seorang teman dari Eropa yang cukup sering ngobrol dengan saya, jadinya kami punya kesempatan untuk ngobrol tentang hal2 lain yg lebih umum di luar riset.

Teman saya ini boleh dibilang menarik, setidaknya untuk saya yang sebelumnya bisa dibilang belum pernah berinteraksi dengan orang barat. Ok harus saya bilang bahwa tulisan saya ini “terinspirasi” dari teman saya ini, dan secara umum tidak bisa di-generalisir ke scope yg lebih luas. Kita sebut saja teman saya ini si John, so tulisan ini hanya tentang si John, bukan tentang orang barat secara umum.

Lalu apa menariknya si John ini? sederhana saja: dia SOMBONG. Tentu saya pernah bertemu orang sombong sebelumnya, tapi belum pernah yang seperti ini, sombongnya si John ini konsisten dan 100%. Si John ini juga bukan main seringnya menghina ISLAM dan kaum Muslim, tapi untuk hal yang satu ini, karena satu dan lain hal, saya memilih untuk tidak menceritakannya, setidaknya untuk saat ini.

Kaya apa sih sombongnya? hmmh.. repot kayanya klo diceritain satu2…

Saya hanya ingin menulis satu surat untuk John, siapa tahu suatu saat dia akan membacanya..

——————————————————————–

Sahabatku John, bagaimana kabarmu, kuharap kau baik2 saja.

Aku menulis surat ini karena aku tak sampai hati mengatakannya secara lisan kepadamu. Kalau kau tak keberatan, aku ingin bertanya padamu, mengapa kau begitu sombong? mengapa kau merasa lebih baik dari orang lain? mengapa kau selalu menganggap rendah orang lain?

Dulu awalnya kukira kau hanya bercanda John, dan akupun tak keberatan, tapi kenapa semakin lama kelakuanmu semakin menjadi2 saja John? setelah kau melakukannya berulang2 dan terus-menerus, sungguh itu tidak lucu lagi John, lama2 aku lelah juga melihat kelakuanmu itu.

Mungkin kau memang akan menjadi lebih hebat dengan selalu berkata bahwa kau lebih hebat dari orang lain, tapi sungguh John, aku tak akan menjadi kekurangan sesuatu apapun dengan kau menghinaku setiap hari, bahkan didepan teman2 kita. Benar yang selalu kau katakan, bahwa kau tidak membutuhkan aku, kau populer, pandai bergaul dan punya banyak teman, tapi demikian juga denganku John, akupun tak membutuhkanmu.

Dengar John, aku tahu kau memang pandai, aku tahu profesor2 disini sering memuji performa studi mu, aku tahu banyak mahasiswa disini yang minta diajari padamu, aku tahu nilai PR2 mu selalu yang tertinggi di kelas, tapi apa itu bisa menjadi pembenaran atas kelakuanmu itu? yang selalu merasa lebih baik dari semua orang? yang selalu merendahkan orang lain?

Aku tidak bermaksud mengubah sikapmu itu John, karena kupikir itu akan sia2 saja, tapi aku memang berharap suatu saat kau bisa berubah dengan sendirinya. Sayang sekali kalau kau hanya belajar engineering di negeri ini, dan tidak belajar tentang hal2 lainnya. Seperti aku, sebenarnya disini kau punya kesempatan yang luas untuk belajar tentang budaya bangsa2 lain, belajar menghargai perbedaan, atau lebih luas lagi belajar tentang manusia, sayang tampaknya kau terlalu sibuk memuja dirimu sendiri. Punya sahabat sepertimu, aku pun bisa belajar tentang manusia, sayang bukan kesan baik yang kudapat darimu John.

Di masa yang akan datang, mungkin kita akan pergi ke tempat yang berbeda, dan entah kita akan bertemu lagi atau tidak, aku yakin orang berbakat sepertimu pasti akan menjadi orang sukses seperti yang selalu kau katakan, selamat John, aku ikut senang.

Aku tak tahu apa reaksimu setelah kau membaca suratku ini John, kuharap kau sadar dan memperbaiki kelakuanmu, aku akan sedih jika kau malah menjadi marah, tapi jikapun itu yang terjadi, maaf John, aku tak perduli.

John sahabatku, semoga kita bisa bertemu lagi nanti, sungguh aku akan merindukan kesombonganmu itu John.

Dari sahabatmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: