Hey, what's going on?

Archive for March, 2009

Suka duka tinggal di asrama (Umegaoka Dormitory)…

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 18, 2009

Umegaoka Dormitory

SUKA

  • Super duper murah, cuma sekitar 18,000 – 20,000 yen sebulan
  • Deket dari stasiun, cuma 1 km, paling 15 menit kalo jalan kaki
  • Internet gratis, highspeed via LAN cable
  • Ada kulkas mini di dalem kamar
  • Ada westafel di dalem kamar
  • Air keran bisa langsung diminum
  • Ada AC/heater
  • Deket dari FeedCare Depot n HyakuEng Shop, tempat2 belanja yg terkenal murah, cuma sekitar 1 km doang
  • and.. guess what guys.. ini tu satu2nya asrama TokyoTech yg cowo n cewe digabung lho.. maksud loe??? (ehem.. cihuy! hihihi.. ;P)

BIASA AJA

  • Luas kamar 12.5 sq.m, yaa pas lah
  • Tempat tidur, meja belajar, lemari baju, lemari rupa2, n lemari sepatu udah disediain

DUKA

  • Tetangga di kamar sebelah GILA (dari negeri gajah putih), suka nelfon tengah malem keras2, pernah beberapa kali dia nelfon dari jam 11 malem sampe jam 6 pagi nonstop, sambil ketawa2 keras banget, GILA pokonya..
  • Tetangga di kamar atas (kamar saya lantai 1) kadang2 tengah malem suka rese, di atas ada suara “bum.. bum.. bum.. …”, kayanya dia lagi main spintrong (lompat tali), jadi susah tidur..
  • Ga ada dapur di kamar, adanya public kitchen: 1 kulkas, 1 kompor (2 api), 1 microwave, 1 termos, 1 toaster, 1 tmpt cuci piring. Kadang2 kalo pas lagi laper n pengen masak, eh public kitchen nya lagi dipake sama grup anak2 RRC yang lagi masak, makan, n ngobrol2 berjam2, kan kagok juga kalo kita masuk situ sendirian, nunggu dalam ketidakpastian deh.. kruyuk kruyuk.. bunyi perutku.. belum lagi klo mlm minggu anak2 RRC ini suka ngadain party di dapur smp tengah malem.. mentang2 mayoritas jd ngerasa berkuasa..
  • Anak2 yang lain kalo nyuci baju suka ga tau diri, kadang2 baju mereka ada di mesin cuci atau mesin pengering, sampe seharian penuh, padahal itu baju sebenernya udah beres, cuma yang punyanya males ngambil, dikiranya itu ruang cuci punya nenek moyang nya kali..
  • Ga ada WC di kamar, adanya public toilet. Kadang2 kalo pas lagi kebelet, eh WC nya lagi dibersihin sama the cleaning lady, en dia bilang “sana keluar dulu, lagi dibersiin ni!!“, yah jadi “hasrat terpendam” deh..
  • Ga ada kamar mandi di dalem kamar, adanya public bathroom. Modelnya tanpa pintu, ada 3 ruang mandi yang hanya ditutup pake kain (horden) doang, kena angin dikit juga kebuka tu kain, ga bisa konsen deh mandinya..

First floor residents (September 2008 – September 2009):

  1. Room 106: Zhuang Dongtian (Tsinghua University, China)
  2. Room 107: Cai Wupeng (Tsinghua University, China)
  3. Room 108: Syeilendra Pramuditya (Bandung Kogyo Daigaku/BAKODAI :mrgreen:)
  4. Room 109: Chativit Prayoonsri (Thailand)
  5. Room 110: Li Jialin (Tsinghua University, China)
  6. Room 111: Liu Sicheng (Shanghai University, China)

Image gallery on Picasa:

TokyoTech Umegaoka Dormitory

Posted in study & live in japan | Tagged: , , | 26 Comments »

Catatan perjalanan: Monju Nuclear Power Station

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 12, 2009

Hari kamis, 11 maret 2009, saya pergi ke Monju bersama teman2 RLNR, 3 dari Indonesia, 1 dari RRC, 1 dari Italia,  1 dari Mongolia, 1 dari Jepang, dan juga Prof. Ninokata. Monju ini termasuk reaktor nuklir yang sangat penting, karena ia adalah satu dari sangat sedikit Fast Breeder Reactor (FBR) di dunia, FBR terkenal lainnya adalah Superphenix FBR di Prancis.

Monju FBR, Japan

Monju FBR, Japan

Saya berangkat bersama sempai saya, pak Aziz, menggunakan Tokaido- Shinkansen sekitar jam 9 pagi, lumayan mahal juga, 11.400 yen one way. Perjalan Shinkansen sekitar 2 jam dari stasiun Shin-Yokohama sampai Maibara, kemudian dilanjutkan dengan kereta biasa sekitar 30 menit sampai stasiun Tsuruga. Kami sampai di Tsuruga sekitar jam 11.30, sambil menunggu orang dari JAEA yang akan menjemput kami, saya sempat jalan2 sebentar di sekitar stasiun. Akhirnya sekitar jam 12.30 mobil JAEA datang menjemput kami, butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke Monju, suasana di perjalanan terlihat sangat terpencil, karena menurut keterangan orang JAEA tsb, Monju memang dibangun di daerah taman nasional, sehingga lumayan jauh dari perumahan penduduk.

Superphenix FBR, France

Superphenix FBR, France

Akhirnya kami sampai juga di kompleks JAEA Tsuruga sekitar jam 13.00. Saat masuk mereka meminta passport kami, kemudian kami dibawa ke sebuah ruangan mirip bioskop mini dan disambut oleh pimpinan Monju, diteruskan dengan menonton 2 film pendek tentang Monju. Setelah itu kami dibawa untuk facility tour ke sebuah gedung yang mirip museum mini, isinya berbagai hal mengenai Monju, ada miniatur system, ada komponen2, ada engineering model, dll, semuanya dijelaskan panjang lebar oleh orang JAEA. Di bagian plant layout, kami disambut oleh “Prof. Monju”, holographic 3D object berbentuk manusia mini yang bergerak2 dan berbicara di dalam miniatur Monju tersebut, kereeeenn bangettt!!

Facility tour ini benar2 sangat menarik! rasanya benar2 beda dengan hanya melihat gambar2 FBR di buku2 atau internet. Saya bisa melihat dengan sangat jelas yg namanya fuel pellet, fuel pin, dan fuel assembly (FA), dimana Monju menggunakan wire-wrapped cylindrical fuel pin, yang kemudian disusun dalam hexagonal FA, saya baru tau kalau susunan fuel pin FBR di dalam FA itu se-tight itu, hanya menyisakan celah yang sangat sempit sebagai flow channel untuk sodium coolant. Yang kami lihat selama facility tour itu adalah:

  • Monju plant layout
  • Monju engineering model
  • Monju simulator/modeled control room
  • Monju actual control room
  • Replica of intermediate heat exchanger (IHX)
  • Replica of steam generator (SG)
  • Replica of primary sodium pump (mechanical pump)
  • Replica of electro magnetic pump
  • Fuel pellet, pin, and assembly
  • Control rods, and its driving mechanism (CRDM)
  • Model of fuel handling mechanism
  • Model of reactor core
  • Sodium testing & handling facilities, kami sempat mencoba memotong dan membakar sodium
  • Miniature of liquid sodium flow inside the core
  • dll.. rada lupa juga uy.. 😀

Setelah melihat hal2 tersebut, saya sekarang tau bahwa Joseph Stalin memang melakukan hal yang tepat ketika ia menarik orang2 pedesaan untuk membangun industri baja di kota2 Soviet, dalam rangka mencapai industrialisasi Soviet saat itu. Saya melihat bahwa bangunan dan komponen2 utama reaktor nuklir terbuat dari logam. Beberapa komponen tersebut – terutama IHX, SG, & mechanical primary pump – terlihat rumit dan high-tech, mustahil bisa dibuat tanpa terlebih dahulu membangun industri logam yang sophisticated. Menyadari bahwa industri logam amat-amat penting untuk mencapai industrialisasi, lalu mengapa pemerintah kita justru mau menjual Krakatau Steel ya..?!? another stupidity of our government?!? I don’t know…

Dan tibalah saat yang ditunggu-tungu.. we are going to the very heart of Monju, to the interior of the primary containment!! Prof. Ninokata bilang bener2 aneh banget orang luar bisa masuk ke primary containment Monju, apalagi kami ini bukan orang Jepang!! biasanya orang luar ya hanya jalan2 disekitaran gedung reaktor aja, bener2 beruntung banget.. 🙂

Kami menggunkan bis JAEA untuk pergi ke lokasi gedung reaktor Monju, pengamanannya extra ketat! kayanya malah jauh lebih ketat dibanding prosedur masuk ke Mabes TNI kita! atau bahkan Istana Negara! Hanya ada satu jalan untuk masuk ke gedung reaktor, itu pun berupa terowongan kecil sepanjang 900 m, disini atmosfer “top secret” nya mulai terasa! Saat mau masuk gerbang 1, petugas keamanan masuk ke bis kami dan memeriksa satu-persatu ID card kami, setelah itu di gerbang 2 petugas keamanan mengawasi kami dari semacam kendaraan militer anti peluru!

Kemudian kami diberi semacam tracker/identifier dan sebuah alat dosimeter. Setelah berada di dalam gedung reaktor, kami melewati 2 gerbang yang sangat kokoh (sepertinya terbuat dari beton dan baja) yang terdiri dari beberapa pintu kecil yang berjejeran, untuk melewati pintu tersebut kami harus menggunakan tracker kami dan memasukan kode PIN 4 digit, bener2 top secret pokonya! pengamanannya berlapis-lapis! Setelah itu kami menuju lantai 5 ke daerah reactor vessel (RV), kami harus menggunakan helm dan menganti baju, kaus kaki, kaus tangan, dan sepatu yang disediakan oleh JAEA, baju khusus itu lumayan aneh juga, berwarna biru dan terbuat dari semacam kertas. Untuk masuk ke lantai 5 tsb kami harus melewati semacam ruangan transfer yang memiliki 2 pintu, pintu2 tsb terbuat dari logam tebal, modelnya mirip pintu di dalam kapal selam, yg membukanya menggunakan semcam roda putar itu. Sayang sekali kami dilarang membawa kamera… 😦

Akhirnya kami sampai di lantai 5, tepat diatas RV! Wow dari dalam, kubahnya terlihat besar sekali, dengan diamter 50 meter. Di dalam sini orang JAEA itu menjelaskan dengan lebih rinci tentang fuel handling system, sayang saat itu RV sedang ditutup rapat sehingga kami tidak bisa melihat reactor core-nya.. kalau di BATAN Bandung dulu saya pernah melihat reactor core di dalam RV.

Setelah puas melihat2 dan mendengarkan penjelasan dari staf JAEA, kami pun keluar dari gedung reaktor, kami menuju sebuah meeting room, dan kemudian ada diskusi singkat dengan orang2 JAEA. Sekitar jam 17.00 kami pun meninggalkan kompleks JAEA menuju stasiun Tsuruga untuk kembali ke Tokyo. Setelah melihat Monju, di perjalanan saya bergumam pada diri sendiri, “those all stuffs in Monju look damn cool, apa bisa Indonesia punya yang kaya gitu ya..? hmm…”

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di asrama jam 22.00 lebih sedikit.. fiuh lumayan cape cuga… anyway, what an exciting trip! 😀

My bussiness trip report to Monju [PDF]

Posted in nuclear engineering, study & live in japan | Tagged: , , , | 2 Comments »