Hey, what's going on?

Archive for September, 2008

Tokyo – Day 1

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 27, 2008

Syeilendra thanks (a lot!) to : dwi irwanto, karlisa priandana, asril pramutadi, and azizul khakim, arigato gozaimasu…

Alhamdulillah… saya tiba dengan selamat di bandara Narita pada kamis pagi, 25 sept 2008, saya berangkat ke Jepang ini insya Allah untuk melanjutkan studi di Tokyo Institute of Technology. Ketika saya akan berangkat dari bandara soe-tta, saya diantar oleh mama dan papa, dan juga beberapa om dan tante saya.. saya ingat mama memeluk saya dan menangis ketika saya akan boarding, mungkin beliau merasa sedih harus berpisah sementara dengan saya.. pesawat yg saya tumpangi adalah JumboJet Boeing 777 milik maskapai JAL, dengan nomor penerbangan JL726, saya boarding sekitar 21.45, dan take off sekitar 22.30.

di narita..

di narita..

Ketika berjalan sendirian menuju pepsawat, perasaan saya benar2 campur aduk, terutama mungkin karena ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat (dasar wong ndeso!), ehh.. malah langsung ke luar negeri pula! di pesawat saya mendapat nomor kursi B25, tepat di sayap kiri pesawat,  tadinya saya berharap dapat kursi yg dekat jendela, agar bisa lihat pemandangan (maklum wong katrok!) yah.. tp ternyata tidak dapat.. saya duduk di tengah, di sisi kanan saya ada seorang bapa2 jepang, dan di kiri saya seorang perempuan indonesia.

b7772jal

Perjalanan sebenarnya kurang menarik, karena ga ada pemandangan.. yg jelas saat ini saya cukup was2 juga, sepanjarng perjalanan saya terus saja berdoa agar lancar dan selamat. Ketika sudah hampir landing, baru saya tahu bahwa perempuan di kiri saya juga mahasiswa tokodai, alumni elektro itb,  namanya karlisa, dan dia pernah di jepang selama 1 tahun, ahh.. alhamdulillah ada teman.. jadi lumayan tidak bingung di narita. Karlisa ini yg membantu saya melalui semua prosedur entry di narita, mengisi beberapa form, alhamdulillah jadinya tidak ada hambatan berarti…

di narita..

di narita..

Ternyata di customs narita saya bertemu seorang teman lagi, dulu kami sama2 ngambil kelas nihongo di UPT bahasa ITB, namanya liza, tp dia hanya transit saja di narita. Di narita saya dijemput oleh senior saya di fisika itb, namanya dwi irwanto, saya benar2 sangat berterimakasih, entah apa jadinya kalau dwi tidak menjemput saya, lalu kami langsung menuju asrama saya di yokohama menggunakan kereta mirip KRL jabotabek, perjalanan lumayan lama, sekitar 3 jam lebih, gonta-ganti kereta lagi, lagi2 saya sangat berterimakasih karena dwi sudah mau repot2 menjemput saya sejauh itu! selain itu dwi juga membantu membawa satu koper saya, juga membayar ongkosnya sendiri! padahal itu mirip dengan perjalanan soe-tta ke bandung, lumayan kan?! bener2 baik banget dwi ini…

Akhirnya kami sampai di stasiun fujigaoka, trus naik taksi ke asrama umegaoka, ibu asramanya namanya Keiko Hachisuka, n tutornya namanya Keiichi Nagai, repotnya ibu asrama trnyata ga bisa bhs inggris! lagi2 dwi turun tangan, beres deh.. sy kebagian di first floor, kamarnya ga trlalu besar, sekitar 12sq-m. Abis naro barang di asrama, kami langsung ke kampus naik kereta lagi, sy baru balik ke asrama pas udah rada malem, dianter sama asril, thanks brow…

Advertisements

Posted in study & live in japan | Tagged: | 15 Comments »

BATAN tidak boleh ragu bicara tentang PLTN

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 13, 2008

Dr. Hudi Hastowo

Dr. Hudi Hastowo

Pada hari Kamis, 11 September 2008, saya menghadiri seminar tentang nuklir yang disampaikan oleh pak kepala BATAN, Dr. Hudi Hastowo. Seminar ini diadakan di Campus Center ITB, dari jam 9 sampai 10 pagi, dengan moderator pak Rektor ITB, Prof. Dr. Djoko Santoso. Pada seminar ini pak kepala BATAN menjelaskan tentang aplikasi nuklir pada berbagai bidang, seperti kesehatan & pengobatan, pangan & pertanian, dan tentu saja PLTN. Yang membuat saya heran, dari 60 menit waktu yang disediakan, pak kepala batan menggunakan sekitar 55 menit untuk memaparkan pemanfaatan nuklir di bidang2 non energi (alias non PLTN), dan hanya menggunakan sekitar 5 menit terakhir saja untuk berbicara mengenai PLTN! ada apa ini? mengapa BATAN tampak ragu (takut?) bicara mengenai PLTN? padahal kita semua tahu bahwa untuk bidang2 non PLTN, seperti pertanian, pengobatan, dsb, tidak ada seorang-pun yang keberatan, hal2 seperti ini buat apa disosialisasikan lagi?

nppJustru yang mendapat banyak tantangan adalah tentang PLTN, adakah diantara kita yang pernah mendengar Greenpeace berdemo menentang pengobatan kanker dengan menggunakan nuklir? atau demo menolak penggunaan radiasi nuklir untuk merekayasa bibit pertanian varietas unggul? TIDAK! mereka berdemo (baca : menghasut massa) untuk menolak PLTN, tapi mereka tidak pernah berdemo menolak aplikasi nuklir non PLTN bukan? dengan demikian menurut saya yang harus menjadi fokus sosialisasi dan kampanye nuklir adalah tentang PLTN, sedangkan aplikasi nuklir non PLTN hanya sebagai tambahan saja, bukan malah sebaliknya! spesifik mengenai seminar nuklir kemarin di CC-ITB, pak kepala BATAN tidak perlu khawatir bahwa audiens tidak akan mengerti bila anda menjelaskan tentang, misalnya safety system PLTN, audiens anda kemarin itu terdiri dari para mahasiswa S1, S2, S3, dan juga dosen, jadi Insya Allah mereka akan cukup mengerti bila anda menjelaskan sedikit teknis tentang PLTN.

coreMenurut saya, yang akan membawa perubahan besar bagi bangsa kita adalah aplikasi nuklir pada PLTN, PLTN-lah yang akan mengawal perjalanan pembangunan bangsa kita menuju era industri yang sebenarnya, misalnya melalui penyediaan supply listrik murah dan stabil, yang akan mendukung industri manufaktur dan perdagangan internasional di negara kita. Hal2 seperti inilah yang menurut saya harus disampaikan secara intensif kepada masyarakat, yaitu mengenai outline analisis keselamatan PLTN, dan alasan2 logis tentang mengapa kita harus ber-PLTN bila tidak ingin tertinggal dari negara2 lain. Kesimpulannya, kalau BATAN saja, yang jelas2 memang expert nuklir, ragu bicara tentang PLTN, bagaimana orang lain bisa tidak ragu?

Posted in my thought | Tagged: , , , , , | 4 Comments »

Terjemahan artikel tentang nuklir : Nuclear Re-Think, by Patrick Moore (co-founder of Greenpeace)

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 4, 2008

Diterjemahkan dari naskah asli:
Moore. Patrick, Nuclear Re-Think, IAEA Bulletin, Volume 48/1, September 2006 (PDF)

Terjemahan asli: http://kamase.org/2007/08/12/pemikiran-ulang-tentang-nuklir

Pandangan saya telah berubah, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil, guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah” (Patrick Moore)

Dr. Patrick Moore adalah seorang pakar ekologi dan lingkungan. Ia memulai kariernya sebagai seorang aktivis dan pendiri Greenpeace, di mana ia menempati jabatan puncak selama 15 tahun. Dr. Moore dahulu mendirikan perusahaan asalnya Greenspirit Enterprises dan sekarang adalah Ketua dan Pakar Utama dari Greenspirit Strategies Ltd, yang berbasis di Vancouver dan Winter Harbour, Canada.

Di awal tahun 1970-an sewaktu saya membantu mendirikan Greenpeace, saya percaya bahwa energi nuklir itu sinonim dengan bencana nuklir, sama seperti pendapat rekan-rekan seperjuangan saya. Keyakinan itu telah mengilhami perjalananGreenpeace yang pertama ke pantai karang Barat-Laut untuk memprotes percobaan bom hidrogen di Kepulauan Aleutian di Alaska.

Tiga puluh tahun berlalu, pandangan saya telah berubah, dan seluruh gerakan pro-lingkungan kiranya perlu memutakhirkan pendapatnya juga, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah.

Marilah kita kaji pemancar gas rumah-kaca yang terbesar di dunia: batubara. Biarpun batubara memberikan listrik murah, tetapi pembakaran batubara di seluruh dunia menciptakan sekitar 9 milyar ton CO2 per tahun, yang sebagian besar akibat dari pembangkitan listrik. Pembangkitan listrik yang membakar batubara menyebabkan hujan asam, kabut-asap (smog), penyakit pernafasan, kontaminasi merkuri, dan memberi kontribusi utama pada peningkatan konsentrasi gas rumah-kaca dunia.

Di lain pihak, sebanyak 441 PLTN yang kini beroperasi di seluruh dunia telah menghindari emisi hampir 3 milyar ton CO2 per tahun – yang setara dengan gas-buang yang berasal lebih dari 428 juta mobil.

Untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap batubara, kita harus bekerja bersama mengembangkan infrastruktur energi nuklir secara global. Energi nuklir itu bersih, sepadan dalam hal ongkos (cost effective), dapat diandalkan dan aman.

Di tahun 1979 Jane Fonda dan Jack Lemmon keduanya telah memenangkan piala Oscar untuk perannya dalam “The China Syndrome“. Di dalam film tersebut, sebuah reaktor nuklir mengalami pelelehan yang mengancam kehidupan seluruh kota.

Duapuluh hari setelah film dahsyat itu diputar-perdanakan, sebuah pelelehan reaktor di Three Mile Island benar-benar telah menggetarkan seluruh negara.

Pada waktu itu tidak seorangpun memperhatikan bahwa Three Mile Island itu sebenarnya adalah sebuah kisah sukses. Struktur beton yang membentuk sungkup reaktor (kontenmen, containment) telah menunaikan tugasnya dengan baik: bangunan sungkup telah menghalangi keluarnya radiasi ke lingkungan. Biarpun reaktor menjadi tidak berfungsi, tetapi tidak ada korban luka atau meninggal di antara publik maupun pekerja nuklir.

Di Amerika Serikat, hari ini terdapat 103 reaktor nuklir yang diam-diam menyajikan 20% kebutuhan listriknya. Sekitar 80% penduduk di sekitar PLTN sampai jarak 10 km menyetujui kehadiran PLTN-mereka. Tingkat persetujuan yang tinggi itu tentulah tidak termasuk pekerja PLTN yang memiliki kepentingan dalam mendukung pekerjaan mereka yang aman, dan bergaji tinggi. Biarpun saya tidak hidup dekat dengan PLTN, tetapi sekarang saya praktis berada di pihaknya.

Saya bukanlah sendirian di antara aktivis dan pemikir lingkungan kawakan yang telah dan tengah berubah pikiran dalam subyek ini.

  • James Lovelock, bapak dalam teori Gaia dan ilmuwan atmosfir terkemuka, percaya bahwa energi nuklir adalah satu-satunya energi yang menghindari perubahan iklim yang mendatangkan bencana.
  • Steward Brand, pendiri dari The Whole Earth Catalogue dan pemikir ekologi holistik, mengatakan bahwa gerakan lingkungan haruslah merangkum energi nuklir untuk mengurangi ketergantungannya terhadap bahan bakar fosil.
  • Almarhum Bishop Hugh Montefiore, pendiri dan direktur Friends of the Earth Inggris, dipaksa mengundurkan diri sewaktu dia menyajikan sebuah artikel pro-nuklir dalam sebuah lembaran-berita gereja. Pendapat seperti itu telah ditanggapi sebagai semacam inquisition (hukuman karena menyalahi paham ajaran gereja) dari kelompok kepadrian yang anti-nuklir.

Namun terdapat tanda-tanda bahwa sikap itu sedang berubah, bahkan sikap di antara para pelaksana kampanye yang paling getol. Saya menghadiri Pertemuan Iklim Kyoto di Montreal pada bulan Desember 2005, di situ saya berbicara di depan hadirin yang memenuhi ruangan tentang pertanyaan masa depan energi yang berkelanjutan. Saya memberi argumen bahwa satu-satunya jalan untuk mengurangi emisi bahan-bakar fosil dari pembangkitan listrik adalah melalui program yang agresif dalam penggunaan energi terbarukan (hidro, geotermal, pompa-panas dan angin) plus nuklir. Juru bicaraGreenpeace adalah orang pertama yang mengambil mikrofon pada saat acara tanya-jawab dan saya mengira akan mendengar kata-kata keras darinya. Tetapi sebaliknya, ia mulai dengan mengatakan bahwa ia menyetujui banyak hal yang saya sampaikan, kecuali tentu saja, potongan plus nuklir itu. Biarpun demikian, saya telah dapat merasakan bahwa pijakan bersama sangatlah mungkin dicapai.

Energi angin dan matahari mempunyai tempat di sini, tetapi karena tidak selalu kontinu dan tidak dapat diprediksi, maka kedua jenis energi itu tentu tidak dapat mengganti pembangkit listrik beban-basis yang besar seperti pembangkit listrik: batubara, nuklir dan listrik-hidro. Gas-alam kini sudah terlalu mahal, dan harganya begitu mudah berubah sehingga sangat berisiko apabila digunakan sebagai pembangkit listrik beban-basis yang besar. Kalau sumber listrik-hidro biasanya dibangun untuk kapasitas besar, maka nuklir digunakan sebagai ganti eliminasi batubara, merupakan satu-satunya substitusi yang dapat diperoleh dalam skala besar, sepadan dalam ongkos (cost effective) dan aman. Begitu sederhana!

Memang, bukan tidak ada tantangan nyata, juga bukan tidak ada berbagai mitos yang berkaitan dengan energi nuklir. Masing-masing mitos itu perlu dipertimbangkan:

  • Mitos 1: Energi nuklir itu mahal
    Fakta: Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak-mahal. Di tahun 2004, rata-rata ongkos produksi listrik di Amerika Serikat adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batubara dan listrik-hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa mendatang.
  • Mitos 2: PLTN itu tidak aman
    Fakta: Kalau dapat dikatakan bahwa kecelakaan Three Mile Island itu suatu kisah sukses, maka kecelakaan di Chernobyl itu tidak dapat dikatakan demikian. Kecelakaan Chernobyl itu sepertinya menunggu akan terjadi. Model awal dari reaktor Uni Soviet tidak menggunakan bejana kontenmen (sungkup, containment vessel), dalam hal desain dikatakan sebagai tidak-aman melekat, sedang operatornya kemudian meledakkannya.
    Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa hanya 56 kematian dapat dikaitkan dengan kecelakaan itu, sebagian besar korban adalah akibat radiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api. Memang tragis sekali korban kematian itu, namun angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kecelakaan di tambang batubara sebanyak 5000 jiwa seluruh dunia setiap tahun. Atau jika dibandingkan dengan 1,2 juta jiwa yang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan mobil. Tidak seorangpun meninggal dalam sejarah program nuklir untuk sipil di Amerika Serikat. (Disayangkan, bahwa ratusan pekerja tambang uranium meninggal pada tahun-tahun awal industri ini. Hal itu telah sejak lama diperbaiki).
  • Mitos 3: Sampah nuklir itu akan berbahaya selama ribuan tahun
    Fakta: Dalam 40 tahun, bahan bakar yang telah digunakan hanya akan memancarkan seperseribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahan bakar itu dikeluarkan dari reaktor. Dan sebenarnya sangatlah tidak benar jika dikatakan itu sebagai sampah (atau limbah), karena 95% potensi energinya masih tersimpan di dalam bahan bakar bekas pada siklus pertama.
    Sekarang Amerika Serikat telah mencabut larangan daur-ulang bahan bakar nuklir bekas, dengan demikian akan dimungkinkan pemanfaatan energi itu serta akan banyak mengurangi jumlah sampah yang harus diolah atau disimpan. Bulan lalu, Jepang telah bergabung dengan Perancis, Inggris dan Rusia dalam kegiatan daur-ulang bahan bakar nuklir ini.
  • Mitos 4: Reaktor nuklir itu rawan terhadap serangan teroris
    Fakta: Beton bertulang yang tebalnya satu-setengah meter melindungi isi bangunan kontenmen dari luar maupun dari dalam. Bahkan kalau sebuah jumbo jet menabrak reaktor dan merusak kontenmen, reaktor tidak akan meledak. Ada banyak jenis fasilitas yang lebih rawan termasuk pabrik pencairan gas alam, pabrik kimia dan sejumlah sasaran politik.
  • Mitos 5: Bahan-bakar nuklir itu dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir
    Fakta: Senjata nuklir sudah tidak lagi harus tak-terpisahkan dengan PLTN. Teknologi centrifuge (teknologi pengkayaan uranium-235) kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Iran misalnya, tidak memiliki reaktor yang menghasilkan listrik, padahal negara ini telah memiliki kemampuan membuat bom nuklir. Ancaman senjata nuklir Iran sama sekali dapat dibedakan dari pembangkit energi nuklir untuk maksud damai.
    Selama 20 tahun, satu di antara alat yang paling sederhana “perang” telah dipakai membunuh jutaan manusia di Afrika, jauh lebih banyak dari pada korban yang meninggal di Hiroshima dan Nagasaki (digabungkan). Tetapi toh tidak seorangpun yang mengusulkan untuk melarang perang, karena perang adalah alat yang sangat berharga di negara berkembang.
    Satu-satunya pendekatan pada isu penyebaran senjata nuklir adalah menempatkan isu itu pada agenda internasional yang lebih tinggi dan menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan, untuk menghalangi pemerintahan atau teroris dari pemakaian bahan nuklir untuk tujuan perusakan. Teknologi baru, seperti misalnya sistem proses-ulang yang akhir-akhir ini diperkenalkan di Jepang (yang tanpa proses pemisahan plutonium dari uranium) akan membuat pembuatan senjata nuklir dengan menggunakan bahan nuklir keperluan sipil, menjadi lebih sulit.

Lebih Bersih dan Lebih Hijau

Sebagai bonus (tambahan) dalam mengurangi emisi gas rumah-kaca serta menggeser pengandalan bahan bakar fosil, energi nuklir menawarkan dua manfaat yang ramah-lingkungan sekaligus.

  1. Listrik nuklir menawarkan jalan yang penting dan praktis ke arah “keekonomian hidrogen“. Hidrogen sebagai sumber yang menghasilkan listrik menawarkan janji untuk energi yang bersih dan hijau. Berbagai perusahaan mobil melanjutkan pengembangan sel bahan bakar hidrogen (fuel cell) dan diproyeksikan teknologi ini, dalam waktu yang tidak terlalu jauh di masa depan, akan menjadi produsen sumber energi. Dengan menggunakan kelebihan energi panas dari reaktor nuklir untuk menghasilkan hidrogen, maka dapat diciptakan produksi hidrogen dengan harga terjangkau, efisien, serta bebas dari emisi gas rumah-kaca. Dengan demikian produksi hidrogen ini dapat dikembangkan untuk menciptakan ekonomi energi hijau di masa depan.
  2. Di seluruh dunia, energi nuklir dapat menjadi solusi terhadap krisis lain yang tengah berkembang: kekurangan air bersih yang harus tersedia bagi konsumsi manusia dan irigasi bagi tanaman dasar (crop). Secara global, proses desalinasi air-laut telah dan tengah dipakai guna membuat air bersih. Dengan menggunakan kelebihan panas dari reaktor nuklir, air laut dapat ditawarkan, sehingga permintaan terhadap air bersih yang selalu bertambah akan dapat dipenuhi.

Kombinasi energi nuklir, energi angin, geotermal dan hidro adalah cara yang aman dan ramah-lingkungan dalam memenuhi permintaan energi yang selalu bertambah. Dengan berbagi informasi, jaringan konsumen, pakar lingkungan, akademisi, organisai buruh, kelompok bisnis, pemimpin masyarakat dan pemerintah kini telah disadari manfaat dari energi nuklir.

Energi nuklir adalah jalan terbaik untuk menghasilkan listrik beban-dasar yang aman, bersih, dapat diandalkan, serta akan memainkan peranan kunci dalam pencapaian keamanan (penyediaan) energi global. Dengan perubahan iklim sebagai puncak agenda internasional, kita semua harus mengerjakan bagian kita untuk mendorong renaisans (kebangkitan kembali) energi nuklir.

Website: www.greenspiritstrategies.com
E-mail: pmoore@greenspirit.com

Posted in nuclear engineering | Tagged: , , , , | Leave a Comment »