Hey, what's going on?

Dua Tahun Sepuluh Bulan di Wisma ITB Purnawarman

Posted by Syeilendra Pramuditya on November 15, 2018

ITB memiliki sejumlah “rumah transit” yang tersebar di beberapa lokasi di Bandung. Lalu kenapa dinamai “rumah transit”? Karena rumah2 tsb diperuntukan bagi dosen2 muda yang baru menyelesaikan pendidikan di luar negeri dan memerlukan tempat tinggal sementara, jadilah ada kata “transit” di situ. Maksud ITB tentu saja baik, yaitu meringankan kerepotan dosen baru dalam hal mendapatkan tempat tinggal, ya walaupun untuk sementara saja sih. Maklum lah soalnya biasanya dosen2 junior ini belum kuat kalau baru pulang harus langsung membeli rumah seharga ratusan juta rupiah.. hehehe..

Saya kembali ke Indonesia tahun 2013 dan langsung mendaftar untuk mendapatkan rumah transit, mendaftarnya di Direktorat Sarana dan Prasarana (DitSP) yang saat itu berlokasi di gedung Campus Center Barat. Ternyata… demand jauh melebihi supply.. ada antrian yang panjaangg untuk bisa mendapatkan rumah transit.. ya mau bagaimana lagi saya pun harus menunggu..

Tampak depan, Wisma Purnawarman

Menunggu.. menunggu.. dan menunggu…

Penantian lamaaa pun akhirnya berakhir.. dua tahun kemudian (2015) saya dikontak oleh DitSP dan ditawari rumah transit yang berlokasi di jalan Purnawarman nomor 45. Saya dipersilahkan untuk survey lokasi dulu dan akan didampingi oleh orang DitSP. Dan saya pun survey, lokasinya ada di belakang hotel Holiday Inn Dago, dan dekat sekali dengan mall BIP dan BEC! Pokoknya lokasinya top bgt luar biasa strategis dah!

Unit saya yang lantai 2 paling pojok itu.

Hmm.. sebenarnya itu bukan “rumah” juga sih, jadi di lokasi tsb ada 3 rumah di bagian depan, yang katanya ditempati oleh 3 dosen senior ITB dan keluarganya. Dan di bagian belakang ada gedung 2 lantai (semacam flat lah kalau di luar negeri) yang terdiri dari 8 unit. Jadi daripada “rumah”, saya lebih suka menyebutnya “wisma”, Wisma Purnawarman. Bagian dalam gedungnya katanya baru saja selesai di-renov, ganti lantai dan cat ulang, sehingga terlihat baru dan bersih.

Tanpa lama2 berfikir, saya pun langsung deal oke dgn rumah transit tsb. Awalnya saya ditawari unit di lantai 1, tp setelah nego akhirnya saya bisa mendapat unit di lantai 2, di unit pojok paling jauh dari tangga. Kebetulan sebelumnya unit tsb ditempati oleh senior saya yg dosen Fisika juga, teh Fatimah.

Akses tangga ke lantai 2 ada di ujung sana.

Saya menandatangani kontrak dengan DitSP ITB untuk menggunakan wisma tsb selama 2 tahun, terhitung sejak Juni 2015 sampai Mei 2017, dengan biaya perawatan hanya Rp. 300 ribu/bulan saja, murah bgt dah! Waktu saya pertama datang, hanya ada 2 unit yg sudah ditempati, di lantai 1 ada Mas Angga (Dosen SITH), dan tepat di sebelah unit saya di lantai 2 ada Mas Chandra (Dosen FSRD).

Unitnya dalam kondisi benar2 kosong blong tidak ada apapun juga, untungnya seluruh lampu2 sudah terpasang. Layout unitnya agak unik sih, terdiri dari 2 lantai. Di bawah berlantai keramik, dan di atas berlantai kayu. Ada dapurnya, kamar mandi, tapi tidak ada kamarnya. Jadi di lantai atas ya ngeblong gitu saja tanpa ada pintu. Luas bagian bawah adalah 5×8 = 40 m2, dan luas bagian atas adalah 5×4 = 20 m2, jadi luas totalnya 60 m2, lumayan luas juga sih.

Koridor menuju pintu masuk di lantai 2.

Hal pertama yang saya lakukan saat persiapan pindah ke wisma adalah mengisi wisma dgn barang2 keperluan hidup, jadilah saya mulai mencari2 tempat tidur, kulkas, mesin cuci, TV, karpet, kompor, dll dll.. Saya cicil beberapa minggu sih untuk membeli barang2 tsb. Sekitar bulan Agustus 2015 saya akhirnya full tinggal di wisma. Seluruh 8 unit di wisma pun akhirnya ditempati semua.

Di lantai 1 (urut dari unit dekat tangga):

  • Mba Finny (Dosen Matematika FMIPA)
  • Mas Angga (Dosen SITH)
  • Nina (Dosen Fisika FMIPA)
  • Mas Hilal (Dosen Planologi SAPPK)

Di lantai 2 (urut dari unit dekat tangga):

  • Mas Yusuf (Dosen SITH)
  • Mba Lenny (Ga tau dosen apa, ga pernah ngobrol)
  • Mas Chandra (Dosen FSRD)
  • Saya

Bagian dalam wisma, ada lantai bawah dan lantai atas.

Lalu apakah saya betah tinggal di wisma? Wah betah bgt dah! Hahaha… Yang paling asyik adalah lokasinya yg deket bgt dgn kampus ITB, kalau pake motor palingan 5 menit juga udh sampe, jadinya ga banyak waktu dan tenaga terbuang sia2 di jalan. Cari makanan juga ga susah2 amat sih, kalau pagi-siang di depan ada beberapa tukang makanan (bubur ayam, soto, lontong kari, gorengan, baso tahu, dll). Kalau malam tinggal jalan ke arah UNISBA, ada nasi uduk, nasi goreng, martabak, sate padang, baso malang, roti bakar, dll. Atau bahkan tinggal ke BIP atau BEC aja jalan kaki, food court nya lumayan asyik jg kok. Oh iya, di belokan BEC ada warung bakso yg enak bgt, dan di belokan UNISBA ada nasi uduk yg enak bgt, harganya sama2 sekitar 20rb aja. Yang saya suka lagi adalah lokasinya cenderung tenang, tidak bising, mungkin juga karena jalan di depan relatif sepi.

Kongkow with friends…

Dua tahun kemudian saya minta perpanjangan tinggal, akhirnya saya menempati wisma tsb sampai Maret 2018, atau total selama 2 tahun 10 bulan. Tanggal 1 April 2018 saya kembalikan kunci unit saya ke kantor DitSP (Ibu Dini). Saya haturkan terimakasih banyak kepada Direktur DitSP, pak Wahyu Srigutomo, yang kebetulan dosen Fisika FMIPA juga.

Dan saat ini saya sudah tinggal di “tempat yang baru”.

Posted in just a story | 1 Comment »

Harga Benelli Motobi 200 Evo OTR Bandung

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 19, 2018

Jalan2 ke dealer Benelli Bandung

 

Jalan2 ke dealer Benelli Bandung

 

Lets Ride!! Huhuy!!

Posted in whatever | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Quite secure PHP form input with POST (and also GET) method

Posted by Syeilendra Pramuditya on October 19, 2018

<?php
print '
<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.01 Transitional//EN">
<html>
<head>
<title>PHP Form Input</title>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1">
</head>

<body>
<form name="form1" method="post" action="'.$_SERVER['PHP_SELF'].'">
  <input name="text1" type="text" id="text1" size="50">
  <input name="submit" type="submit" id="submit" value="Submit">
</form>
</body>
</html>
';

function test_input($data){
  $data = trim($data);
  $data=str_replace("'","^",$data);
  $data=str_replace("`","^",$data);
  $data=str_replace('"','^',$data);
  $data=str_replace('$','^',$data);
  $data=str_replace(';','^',$data);
  $data = htmlspecialchars($data);
  $data = addslashes($data);
  return $data;
}

if ($_SERVER["REQUEST_METHOD"] == "POST") {
$text1 = test_input($_POST['text1']);
print '<h1>'.$text1.'</h1>';
}
?>

Posted in programming | Leave a Comment »

Dasar Lidah Desa

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 26, 2018

Jadi ceritanya tadi malam kami diajak Boss utk welcoming dinner dgn seorang prof Jepang. Dipilihlah sebuah resto rada elit di daerah Dago, dimulai jam 7 malam. Sampai sana kami langsung pilih2 menu. Ada sih menu2 “biasa” seperti nasgor, nasi ayam, iga bakar, sop, dll, tp tentu dgn harga yg tak biasa. Tp ko kynya orang2 ga ada yg pesen menu2 “biasa” tsb, waduw jd gengsi mau pesen nasi dah wkwk. Ah drpd bingung sy cari aj makanan yg paling mahal, entah namanya apa sy lupa, pokonya harga 180rb before tax. Minumnya blueberry smoothies.

Daaan akhirnya datanglah makanan termahal itu.. jreng jreengg taunya ky begini dongs:

Ga kuat nahan ktawa wkwkwk.. jd isinya ada gorengan ky bala2, atasnya ada daging seuprit ky steak tp kering tanpa saus tanpa rasa, ikan dan udang yg ky stengah mateng, tanpa rasa jg, buncis n ubi parut.. ya Tuhan ga ada rasa ga ada enak2nya sama skalii wkwkwk, akhirnya sy kasih sambel aj yg buanyak dan paksain kunyah n telen krn gengsii wkwk. Next time sy pesen nasgor telor ceplok sm es jeruk aj dah, dasar lidah desa ga paham western food elit wkwkwk

Posted in whatever | Leave a Comment »

New Post

Posted by Syeilendra Pramuditya on September 25, 2018

New Post

Posted in just a story | Leave a Comment »

Test Post

Posted by Syeilendra Pramuditya on August 31, 2018

Test Post

Posted in whatever | Leave a Comment »

Dream Bike: Honda CB1000R

Posted by Syeilendra Pramuditya on July 26, 2018

This exotic beast will be in my garage one day, Insya Allah.

Posted in whatever | Leave a Comment »

Floating point (decimal) random numbers between two values in C++

Posted by Syeilendra Pramuditya on March 1, 2018

/* Floating point (decimal) random numbers between two values in C++
   Generate decimal random numbers between lim1 and lim2
   Created   : 1 March 2018
   Programmer: Syeilendra Pramuditya 
   URL       : https://wp.me/p61TQ-17R */
   
#include <iostream>
#include <cmath>
#include <ctime>
using namespace std;

int main(){
int i,rand_int,imax;
double sum,avrg_num,avrg_exc,rand_float,lim1,lim2;

srand (time(NULL)); //random seed

lim1 = 3.2; //lower limit
lim2 = 5.7; //upper limit

sum=0;
imax=100; //number of sampling
for(i=1;i<=imax;i++){
rand_int = rand();
rand_float = lim1+(lim2-lim1)*float(rand_int)/RAND_MAX;
sum = sum + rand_float;
cout << "Random number = "<<rand_float<<"\n";	
}
avrg_exc = 0.5*(lim1 + lim2);
avrg_num = sum/imax;
cout << "\nAvrg value, exact = "<<avrg_exc<<"\n";
cout << "Avrg value, numeric = "<<avrg_num<<"\n";
cout << "Max value = "<<RAND_MAX<<"\n\n";
return 0;
}

Posted in programming | Leave a Comment »

Revised Cheng-Todreas Correlations – Improvements of Flow Split Prediction in the Transition Flow Region

Posted by Syeilendra Pramuditya on February 12, 2018

Curently Cheng et al. have improved their correlations again. Publication process is still on going for their new journal article.

A computer code implementing the original correlations was developed and described in my previous post. Another computer code implementing the first revision is available in my other post.

In the current post, I provide a modified code, in which the second revision has been incorporated by Yu Min Chen (NTHU Taiwan). Please note that as per Feb 2018, the paper describing the second revision has not been published yet by Cheng et al.

Posted in nuclear engineering | Leave a Comment »

Sama kucing kok tega bgt sih :(

Posted by Syeilendra Pramuditya on December 8, 2017

Posted in whatever | Leave a Comment »

Kucing Fisika

Posted by Syeilendra Pramuditya on November 30, 2017

Kalau tidak salah hampir setahun lalu (?) ada kucing kecil yang suka mondar-mandir di dekat ruangan saya, entah dr mana asalnya, krn lucu kadang suka sy beri sisa makanan. Lama2 sy beri makanan rutin, malah jadi beli makanan kucing instan yg bungkusan itu. Jadilah dia tiap hari main ke ruangan saya deh, ngeong2 lucu.

Bbrp waktu lalu dia beranak, ada 4 anak kucingnya lucu2 semua. Jadilah kolong lemari tua di depan ruangan sy jd rumah baru mereka.

Kemarin sy dapat kabar bahwa mahluk2 lucu ini (termasuk induknya) akan dibuang keluar kampus pada Sabtu besok (pakai apa? mobil sampah?), entah mau dibuang kemana. Katanya krn kehadiran mereka selama ini sudah “mengganggu” …

Jangankan anak2 kucingnya, induknya aj dr kecil ga pernah keluar dr area gedung fisika, banyak yg suka kasih makan dia. Apa mereka bisa bertahan kalau tiba2 dibuang gt aj di jalanan liar ya.. kasian bgt…

Berarti Senin nanti mereka udh ga akan ada lg di fisika..

Sedih sih, tp mau gmn lagi, sy memang ga berhak jg melihara mereka di situ krn itu area umum…

Bye bye kucing2 lucu…

Posted in just a story | 1 Comment »

Lebaran, Marginalized :-)

Posted by Syeilendra Pramuditya on June 27, 2017

“Lebaran Online”, mungkin itu terminologi yang cukup pas untuk menggambarkan fenomena saling mengucap selamat lebaran via WA, email, facebook, instagram, dan semacamnya. Di hari pertama lebaran, WA saya berdering terus-menerus. Saya perhatikan ada 2 metode yang paling umum digunakan pengguna WA untuk mengucap selamat lebaran:

  1. Mengucap lebaran via grup
  2. Mengucap lebaran dgn broadcast

Ada yang dengan kalimat simpel, ada yg dengan pantun dan puisi, ada yg dgn tulisan dan bahasa Arab, ada yang mengirim gambar, bahkan juga video.

Mengirim ucapan selamat via grup atau broadcast memang sangat efisien, tapi sama sekali tidak efektif. Malah kalau saya pikir2, hal  tsb cukup aneh lho. Ucapan selamat via grup atau broadcast itu seperti ngomong sendiri di lapangan, tdk ditujukan spesifik ke siapapun itu kan. Jadinya ya jarang yang menanggapi juga, paling2 ada yg lain kemudian mengirimkan ucapan serupa juga, jadinya grupnya terasa ramai tapi sebenarnya tdk ada komunikasi real itu lho. Jadinya hanya seperti formalitas saja, apalagi dibumbui dgn pantun/puisi yg panjang2.. hadeuh…

Makanya judul artikel ini “Lebaran, Marginalized”, karena berasa jadi marginalized people..

Saya sendiri tidak pernah merespon ucapan selamat yang seperti itu, saya hanya respon msg yang memang ditujukan untuk saya, cirinya adalah dengan menyebut nama saya.

Saya mengirim ucapan selamat lebaran juga ga banyak2 amat, hanya ke beberapa orang saja, tapi spesifik dan tentu saja dengan menyebut nama mereka. Memang kurang efisien, tapi sangat efektif dan ada komunikasi real.

Posted in whatever | Leave a Comment »

Set a New MySQL Root Password

Posted by Syeilendra Pramuditya on June 6, 2017

  • Login as root
  • root# mysql -u root
  • mysql> use mysql;
  • mysql> update user set password=PASSWORD(“mynewpassword”) where User=’root’;
  • mysql> flush privileges;
  • mysql> quit

Posted in whatever | Leave a Comment »

Terimakasih dan hormat saya untuk anda, Pak Ahok

Posted by Syeilendra Pramuditya on May 24, 2017

Posted in my thought, social & politics | 1 Comment »

Me and Barudak FTI ITB 2016

Posted by Syeilendra Pramuditya on April 25, 2017

FTI ITB 2016 – K31

Semester ini kebagian ngajar Fisika untuk barudak FTI

Posted in whatever | Leave a Comment »